Aku adalah orang yang berkelana ke seluruh negeri, dengan lidah yang berduri, bertanya kepada setiap orang yang kutemui (Walt Whitman).
Interupsi, usul, keluguan dan canda tawa mewarnai sidang Pleno satu ke Pleno lainnya pada saat Mukernas Rifaiyah di Temanggung (tempat yang dingin sehingga membuat saya masuk angin ha…ha…). Sungguh menarik, walaupun kebanyakan peserta belum dibekali dengan teknik-teknik sidang yang benar, sehingga banyak pelangaran terhadap asas-asas sidang, namun bukan itu penilaiannya. Penulis mengacungi jempol 10 terhadap peserta(hi…hiii), peserta tampak memperlihatkan kekritisannya. Dengan selalu bertanya dan bertanya.
Munculnya sebuah pertanyaan itulah yang penulis idamkan, karena dari pertanyaan akan muncul sebuah pendidikan, baik itu pendidikan politik, ilmu pengetahuan dan ilmu yang lainnya. Pertanyaan “Apa”, “bagaimana”, dan “mengapa” merupakan sumber ilmu pengetahuan yang kelak akan mendobrak faham yang mebelenggu umat seperti tahayul dan mitos. Tuhfatul Muskilat I, karangan Jamaah Rifaiyah Manggung Jimbaran Bawen tahun 2001, juga menuliskan bahwa perjuangan pertama kali yang melandasi Ahmad Rifa’i adalah mengadakan musyawarah-musyawarah kecil demi membebaskan masyarakat Kendal oleh hal yang namanya Tahayul, Khurafat dan mistis.
Sungguh sangat melegenda dari pertanyaan “apa”, yang diajarakan oleh filosof besar Socrates. Sebuah pertanyaan dengan satu kalimat yang singkat mempunyai dampak besar terhadap kehidupan dipemerintahan Yunani kuno. Masyarakat mulai memberontak kepada pemerintah yang diktator. Sehingga Socrates dibunuh dengan disuruh meminum racun yang mematikan oleh penguasa setempat.
Begitu pula dengan Muhammad Iqbal (Filosof Muslim dari Pakistan) Dengan landasan pertanyaan “apa”, beliau bisa mempengaruhi Umat muslim Pakistan dan Banglades untuk hidup merdeka dari penguasa Hindu (India).
Sebuah hal yang ajaib dari diskusi-diskusi kecil yang dilakukan oleh tokoh-tokoh diatas bisa membuat perubahan yang hebat di masyarakat. Memang, kekuatan terbesar sesungguhnya berasal dari epistemic – epistemic atau diskusi-diskusi kecil yang dilakukan oleh sebuah komunitas yang berada diluar sistem (Antonio Gramcy).
Namun kebanyakan masyarakat Jamaah Rifaiyah selanjutnya akan disebut dengan JR, masih membatasi ruang gerak pemuda untuk berfikir luas dan keluar. Pembatasan memang sangat diperlukan namun sebaiknya hanya sekedar untuk mengarahkan bukan mengharamkan atau bahkan menghakimi. Biarkan pemuda belajar, belajar dan terus belajar walaupun itu belajar ilmu barat. Ilmu barat nantinya bisa dijadikan sebuah Antitesis dalam sebuah ilmu pengetahuan.
Penulis mencoba membayangkan , jika ajaran Ahmad Rifa’i dijadikan sintesis kemudian ilmu pengetahuan lain (baik itu ilmu pengetahuan barat, timur, tengara, maupun utara) diposisikan sebagai analisis Antitesis. Dan bisa dibayangkan dari Sintesis dan antitesis tersebut akan bisa melahirkan sebuah ilmu pengetahuan yang maha besar(sintesa). Selanjutnya bisa diamalkan dan berguna bagi nusa dan bangsa umumnya dan khususnya bagi kaum JR itu sendiri. Dan itulah Jama’ah Rifaiyah, belajar ilmu-ilmu lain juga tidak melupakan ilmu yang diajarkan oleh Maha Guru Ahmad Rifai. Sedangankan menurut penulis semua itu sah-sah saja.
Bukankah kebenaran didunia ini selamanya akan menjadi kebenaran sementara, karena kebenaran saat ini akan terfalsifikasi oleh kebenaran yang akan datang itu dikarenakan budaya yang mempengaruhi sebuah kebenaran dimata masyarakat akan selalu berubah dan kebenaran hanya bisa dicari lewat ilmu pengetahuan. Dari Fathul Qorib yang dipandang kebanyakan orang kaku dan saklek sekarang muncullah Fiqih Progresif. Dan perlu di garis bawahi kebenaran hakiki hanyalah berada di akherat kelak.
Muhtar Said(Pagiembun@gmail.com)
simpatisan Rifaiyah dari Kota Semarang, dan
Kebetulan Juga dipercaya sebagai Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Cabang Semarang



Ikut Nimbrung,
Mungkin kita juga harus berangkat dari kata “apa”?
Untuk menentukan program kerja seharusnya pula dimulai dari ‘
- Apa Yang sangat dibutuhkan Ummat?
- Apa Bentuk nyata dalam rangka mencapai tujuan itu?
- Apa kemampuan sudah mendukung?
Tapi, apapun yang dihasilkan dari Mukernas di temanggung, itulah kita……… jika masih ada kekurangan, itu wajar, sebab kita semua masih belajar…….. belajar untuk menjadi lebih baik……..
Selamat datang Mas Said Sedulurku…piye kabare
ana blm lihat tuh yg di bahas di mukernas…
mungkin ikhwan2 akan jawab, ya klo mo tahu , dateng dong..
tulisan2 yang ana baca hanya cerita narasi yg panjang,
ada tulisan ringkes yg gampang di mengerti?
syukron
Ak pun mau mulai dr kata2 APA?
-Apa sj hasil mukernas di temanggung kmrin?
liyane opo hudu sedulur????
kok said thok sg sopo…
pakne asa melu mukernas?
mungkin an cuma mo ngajukan usul tuk staf (user) tambihun.com agar meng uploud hasil mukernas kemaren….kan bisa minta ke panitia or PP
Dan perlu di garis bawahi kebenaran hakiki hanyalah berada di akherat kelak………….. setuju..!
Selamat datang Mas Said Sedulurku…piye kabare?(Rifai)
Im Fine. ya lagi mau kegiatan sosialisasi di Kabupaten Batang. membawa bendera Permahi.
NADYA says:
May 26, 2009 at 9:41 pm
Ak pun mau mulai dr kata2 APA?
-Apa sj hasil mukernas di temanggung kmrin?
Hasilnya ya kebanyakan Program-program yang tidak jelas juntrungnya.
aslinya kegiatan tidak harus dengan uang. misal Ngirim tulisan dan ide disini juga merupakan program tapi entahlah. ha…ha… setahu saya di Perhimpunan Mahasiswa hukum indonesia-pun ga ada dana. namun kita tetep jalan. misalnya mengadvokasi masyarakat yang membutuhkan.
Untuk menentukan program kerja seharusnya pula dimulai dari ‘
- Apa Yang sangat dibutuhkan Ummat?
- Apa Bentuk nyata dalam rangka mencapai tujuan itu?
- Apa kemampuan sudah mendukung?
saya kira semua dibutuhkan, dari kasih sayang,cinta dan kehangatan sesama umat
bentuk nyata dalam tujuannya bukan even-evennya yang dinilai namun proses menuju even tersebut itulah sesungguhnya yang dinamakan perjuangan. bukan di kota temangung-nya kita nilai.namun perjalanan ke kota temanggung-nya itulah yang kita nilai…mungkin….he,,,he
asaamualaikum rifai’yah
tesis antitesa sintesis,relefankah bila digunakan untuk dogma agama
kalo sintesis-anntitesis-sintesis digunakan sebagai alat pengkajian agama maka seluruh umat beragama akan menghujat anda.
bagaimana anda bisa membuktikan tuhan dengan tesis anda,kemmudian dianti tuhankan(antitesis),trus mencari tuhan dalam wujud lain(sintesis)
penalaran ini tidak cocok,bagaimana bisa anda menerapkan filsafat Heggel dalam kerangka berfikir anda.hegel sll mengatakan bukan tuhan menciptakan manusia tapi realitas pikiran(OTAK)yang menciptkan tuhan di dalam angan2 manuusia.
demikian sumbangsih saya terhadap kemajuan rifai’yah
wassallamualaikum
Kayat,SE
Tahunan-Putatsari
Grobogan 58152
kayaknya jenegan perlu baca-baca lagiiii tentang kegunaan pikiran….pernah mendengar kata teologi islam…disitu adalah temapat untuk mencari tuhan…
Terus dilanjut diskusinya, saya sebagai orang awam akan belajar dari diskusi ini,dengan diskusi semua akan tercerahkan.
beda pendapat tidak masalah,malah akan memperkaya wawasan, semakin banyak pendapat, semakin beragam dan banyak pilihan, selanjutnya serahkan kepada masing-masing. bukan begitu?
mas …yazid yang imut….jadi moderator z…
@Said PERMAHI, koq tahu imut,lihat dulu disini profilku http://www.rifaimovic.wordpress.com/.
hehehehe…. karena belum ada yang mau ikut ngopeni, sementara ini aku sama rifai yang stan by, ada yang mau gabung???
Di tunggu lagi artikelnya lho…..lama ga’ kirim lagi???
lagi ujian bro…..n lagi membentuk komunitas aslinya banyak tulisan tapi filsafat barat semua..ntar giliran filsafat islam……setiap malam rabo..kita selalu diskusi filsafat….ntar malam membahas pandangan politik la socrates….
bro…gabung ke fasbook. yuk…
mau tanya pada pak imam makalah pkd di pekalongan kok delum ada trims