7:56 pm - Wednesday May 8, 2013

Itulah Rifai’yah ?

Tuesday, 26 May 2009 15:15 | Rifaiyah | 18 Comments | Read 1546 Times

Aku adalah orang yang berkelana ke seluruh negeri, dengan lidah yang berduri, bertanya kepada setiap orang yang kutemui (Walt Whitman).

saidInterupsi, usul, keluguan dan canda tawa mewarnai sidang Pleno satu ke Pleno lainnya pada saat Mukernas Rifaiyah di Temanggung (tempat yang dingin sehingga membuat saya masuk angin ha…ha…). Sungguh menarik, walaupun kebanyakan peserta belum dibekali dengan teknik-teknik sidang yang benar, sehingga banyak pelangaran terhadap asas-asas sidang, namun bukan itu penilaiannya. Penulis mengacungi jempol 10 terhadap peserta(hi…hiii), peserta tampak memperlihatkan kekritisannya. Dengan selalu bertanya dan bertanya.

Munculnya sebuah pertanyaan itulah yang penulis idamkan, karena dari pertanyaan akan muncul sebuah pendidikan, baik itu pendidikan politik, ilmu pengetahuan dan ilmu yang lainnya. Pertanyaan “Apa”, “bagaimana”, dan “mengapa” merupakan sumber ilmu pengetahuan yang kelak akan mendobrak faham yang mebelenggu umat seperti tahayul dan mitos. Tuhfatul Muskilat I, karangan Jamaah Rifaiyah Manggung Jimbaran Bawen tahun 2001, juga menuliskan  bahwa perjuangan  pertama kali yang melandasi Ahmad Rifa’i adalah mengadakan musyawarah-musyawarah kecil demi membebaskan masyarakat Kendal oleh hal yang namanya Tahayul, Khurafat dan mistis.

Sungguh sangat melegenda dari pertanyaan “apa”, yang diajarakan oleh filosof besar Socrates. Sebuah pertanyaan dengan satu kalimat yang singkat mempunyai dampak besar terhadap kehidupan dipemerintahan Yunani kuno. Masyarakat mulai memberontak kepada pemerintah yang diktator. Sehingga Socrates dibunuh dengan disuruh meminum racun yang mematikan oleh penguasa setempat.

Begitu pula dengan Muhammad Iqbal (Filosof Muslim dari Pakistan) Dengan landasan pertanyaan “apa”, beliau bisa mempengaruhi Umat muslim Pakistan dan Banglades untuk hidup merdeka dari penguasa Hindu  (India).

Sebuah hal yang ajaib dari diskusi-diskusi kecil yang dilakukan oleh tokoh-tokoh diatas bisa membuat perubahan yang hebat di masyarakat. Memang, kekuatan terbesar sesungguhnya berasal dari epistemic – epistemic atau diskusi-diskusi kecil yang dilakukan oleh sebuah komunitas yang berada diluar sistem (Antonio Gramcy).

Namun kebanyakan masyarakat Jamaah Rifaiyah selanjutnya akan disebut dengan JR, masih membatasi ruang gerak pemuda untuk berfikir luas dan keluar. Pembatasan memang sangat diperlukan namun sebaiknya hanya sekedar untuk mengarahkan bukan mengharamkan atau bahkan menghakimi. Biarkan pemuda belajar, belajar dan terus belajar walaupun itu belajar ilmu barat. Ilmu barat nantinya bisa dijadikan sebuah Antitesis dalam sebuah ilmu pengetahuan.

Penulis mencoba membayangkan , jika ajaran Ahmad Rifa’i dijadikan sintesis kemudian ilmu pengetahuan lain (baik itu ilmu pengetahuan barat, timur, tengara, maupun utara) diposisikan sebagai analisis Antitesis. Dan bisa dibayangkan dari Sintesis dan antitesis tersebut akan bisa melahirkan sebuah ilmu pengetahuan yang maha besar(sintesa). Selanjutnya bisa diamalkan dan berguna bagi nusa dan bangsa umumnya dan khususnya bagi kaum JR itu sendiri. Dan itulah Jama’ah Rifaiyah, belajar ilmu-ilmu lain juga tidak melupakan ilmu yang diajarkan oleh Maha Guru Ahmad Rifai. Sedangankan menurut penulis semua itu sah-sah saja.

Bukankah kebenaran didunia ini selamanya akan menjadi kebenaran sementara, karena kebenaran saat ini akan terfalsifikasi oleh kebenaran yang akan datang itu dikarenakan budaya yang mempengaruhi sebuah kebenaran dimata masyarakat akan selalu berubah dan kebenaran hanya bisa dicari lewat ilmu pengetahuan. Dari Fathul Qorib yang dipandang kebanyakan orang kaku dan saklek sekarang muncullah Fiqih Progresif. Dan perlu di garis bawahi kebenaran hakiki hanyalah berada di akherat kelak.

Muhtar Said(Pagiembun@gmail.com)

simpatisan Rifaiyah dari Kota Semarang, dan

Kebetulan Juga dipercaya sebagai Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Cabang Semarang

Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

tambihun,Rifai yah

Anda mungkin juga menyukaiclose