Tanbihun Online

JEJAK MASUKNYA SANTRI RIFAIYAH KE TANAH MALAYSIA

JEJAK MASUKNYA SANTRI RIFAIYAH KE TANAH MALAYSIA

JEJAK MASUKNYA SANTRI RIFAIYAH KE TANAH MALAYSIA
January 05
11:10 2011

 

jamaah Rifaiyah di Singapura 2010

Tanbihun.com – Suatu hari pada medio 1960 –an guru saya KH. Bajuri bin Abdul Mutholib bercerita, bahwa beliaulah yang mengurusi dan menyediakan segala kebutuhan Siti Fatimah istrinya KH. Maufura Keranggongan Limpung Batang. Siti Fatimah, yang kemudian dikenal sebagai Nyai Umroh adalah putri bungsu KH. Ahmad Rifai. Sekarang nama beliau diabadikan sebagai nama organisasi otonom untuk para wanita Rifaiyah.

KH. Ahmad Badjuri bercerita bahwa KH. Imam Maufuro bin Nawawi meninggal di Selat Malaka. Ceritanya pasca pembuangan KH. Ahmad Rifai ke Ambon Maluku, Sang Mursyid ini masih mengadakan kontak surat kepada menantunya Kiai Maufura. Setiap kiriman pakaian dan bahan makanan dari Kiai Maufura di dalamnya terdapat surat. Kemudian surat itu dibalas oleh guru melalui para pedagang dari Jawa. Surat berisi tentang pesan-pesan guru, agar jaringan muridnya selalu istiqomah dalam menjalankan perintah-perintah agama, dan menjauhi larangannya, dan keras pendirian untuk ingkar kepada kolonial Belanda, dan para pribumi yang menjadi cecunguk Belanda. Juga pesan-pesan yang bersifat pribadi seorang Bapak kepada anak dan menantunya.

Rangkaian surat menyurat itu, salah satu suratnya dinamakan sebagai surat tanbihun. Dalam ‘Surat Tanbihun’ KH. Ahmad Rifai memperingatkan kepada menantunya Kiai Maufura agar berhati-hati dalam mengirimkan surat, karena pemerintah kompeni sangat ketat dalam menyeleksi keluar masuk kiriman dari Jawa untuk ulama-ulama korban pembuangan di Ambon. Walaupun K. Maufura sudah menjalankan saran beliau, tetap saja pada suatu hari suratnya ditemukan dalam bingkisan kirimannya oleh pihak Belanda.

Kemudian segera langkah yang diambil oleh pihak Belanda adalah mengirim instruksi kepada pemerintah di Jawa agar Kiai Maufura diawasi, atau bahkan ditangkap hidup-hidup. Karena tetap saja KH. Ahmad Rifai mengadakan kontak dengan murid-muridnya, dan dianggap masih sebagai agitator, maka Belanda melanjutkan pembuangannya ke Ternate, kemudian menyusul ke Jawa Tondano Minahasa Sulawesi Utara.

Entah siapa yang memberitahu, Kiai Maufura sepertinya menangkap firasat buruk keamanan dirinya, kemudian beliau bergegas pamitan kepada keluarga untuk berdagang ke tanah Malaka. Selain berdagang beliau bermaksud mengerjakan ibadah haji. Rencana beribadah haji dirahasiakan beliau demi untuk kelancaran perjalanan menuju Malaka. Beliau bermaksud berangkat haji melalui malaka, agar tidak dipersulit dan pembiayaannya lebih murah.

Dugaan penulis mengapa Kiai Maufura mengambil alasan dagang, karena beliau tak ingin istri dan keluarganya khawatir atas keselamatan dirinya, atau memang beliau berniat berdagang kesana, tanpa mengetahui lebih dulu tentang nasib dirinya yang sedang di buru pemerintah Hindia Belanda.

Selepas pulang dari Makkah beliau dagang di Malaysia dan diduga turut menyebarkan ajaran islam ala Rifaiyah disana, sebelum pulang ke Jawa dia telah meninggal lebih dulu di negeri jiran. Nah cerita itu yang kemudian menjadi versi pertama, kenapa ajaran Rifaiyah sampai melesat hidup di tanah sebrang. Selain versi yang diceritakan KH. Ahmnad Bajuri, juga ada salah satu versi yang bersumber dari KH. Muhammad Asiri Cirebon. Yang menceritakan awalmula Rifaiyah di Malaysia. Berikut ceritanya.

Abu Ilham salah satu murid angkatan pertama pesantren Kalisalak. Yang juga kemudian sebagai tokoh penyebar Islam ala Rifaiyah di daerah Batang dan sekitarnya mempunyai anak diantaranya Ilham, Imam Basyari, Sukhaemi, Idris, dan Nurul Hadi. Masing-masing anaknya seperti mendapatkan tugas untuk nguri-uri ajaran Islam yang disampaikan ala KH. Ahmad Rifai itu.

Anaknya yang bernama Ilham, Imam Basyari, dan Nurul Hadi ditugasi untuk melanjutkan pesantren ayahnya yang ada di Watesalit Beran Batang, kemudian anaknya yang bernama Idris di utus ayahnya agar menyebarkan ajaran Islam Rifaiyah ke arah barat, diantaranya ke daerah Tegal, Brebes Cirebon, dan sampailah menetap di Sukawera Inderamayu pada sekitar tahun 1870-an.

Disana K. Idris mendirikan pondok pesantren. K. Ahmad Idris mempunyai murid bernama K. Muharor yang ikut menyebarkan ajaran Islam Rifaiyah di Sentigi Indramayu. Kemudian Kiai Muharor mempunyai murid bernama Raden Ahmad Misbah bin Sulton Abu Bakar beliau diduga masih ada keturunan dengan kasultanan Cirebon. Hubungan guru murid tersebut sebagai salah satu faktor hubungan harmoni antara warga Rifaiyah Batang dan Indramayu.

Kiai Misbah yang pekerjaannya dagang ke Malaysia dan Singapura pada awalnya dikenal di daerah sana karena kelihaiannya dalam berulahkanuragan. Suatu hari, di salah satu Pelabuhan di Malaysia belaiu memperkenalkan diri, sudah menjadi adat disana seandainya memperkenalkan diri, juga memperkenalkan kanuragan kepada orang-orang setempat. Singkat cerita Kiai Misbah adu kedigdayaan dengan Qosim yang dikenal sebagai bos bajak laut. Waktu itu Kiai Misbah mampu mengalahkan Qosim yang mempunyai banyak anak buah itu. Kemudian Qosim tunduk kepada Kiai Misbah, dan menganggap beliau sebagai guru. Secara otomatis beberapa anak buah Qosim juga tunduk kepada beliau. Untuk selanjutnya mereka mendapatkan tempaan ilmu agama dan kanuragan. Disinilah cikal-bakal ajaran Islam Syaikh Ahmad Rifai di semaikan.

Versi kedua ini yang didapatkan jejaknya disana, karena beberapa keturunan Kiai Misbah masih hidup hingga sekarang dan sempat penulis temui, waktu rihlah ke Malaysia dan Singapura. Diantara nasab keturunan maupun muridnya bernama K. Ahmad Hamdan, KH. Ismail, KH. Syariat Muslim, Hamdun. Yang pertama adalah cucu dari Kiai Misbah, dan selanjutnya adalah anak dari murid Kiai Misbah.

Kiai Misbah di Malaysia dikenal dengan panggilan Pak Raden, karena memang depan nama Kiai Misbah terdapat sebutan Raden. Guru Pencak Sunan Kalijaga ini menyebarkan ajaran Rifaiyah tidak langsung dengan menyodorkan kitab-kitab karangan KH. Ahmad Rifai. Karena ada beberapa hal yang harus dikreatifi oleh beliau agar ajaran-ajaran yang disampaikan dapat mudah dipahami, dan diamalkan. Kiai Misbah mengusahakan untuk menerjemahkan beberapa kitab karangan KH. Ahmad Rifai ke dalam bahasa melayu dengan masih tetap memakai metode nadzam dan syair.

Rifaiyah menjadi eksis sampai sekarang dan mempunyai banyak pengikut di Malaysia karena memakai strategi inklusif yakni bekerjesama dalam muamalah dan ibadah dengan golongan Islam lainnya, diantaranya golongan putih (golput). yang dimaksud dengan golongan putih, bukan tak berpartisipasi dalam kepartaian dan pemilihan presiden sebagaimana di Indonesia, tetapi golput disana adalah mereka selalu memakai pakaian putih dalam setiap akan melaksanakan segala macam ibadah.

Memang kami temukan beberapa kitab seperti Abyanal Khawaij, Bayan, dan lainnya disana. Kitab-kitab itu masih asli tulisan tangan dengan bahasa Jawa biasanya.

Diantara murid-murid Kiai Misbah ada yang dari Singapura, diantara yang bisa kami temui adalah Bapak Isnaini. Beliau anak dari murid Kiai Misbah, kemudian juga ada Bapak Isnaini lainnya yang rajin berdakwah ke daerah Batam. Isnaeni berdakwah dengan strategi selalu memberikan hadiah sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Misalnya Isneni akan memberikan jaring, dan peralatan nelayan.

Kiai Misbah mengehembuskan nafas terakhir pada bulan ramadhan tahun 1995 dalam usia lanjut.

Wawancara dengan:

KH. Ahmad Syadzirin Amin

Paesan Tengan, 5 Januari 2011

Ahmad Saifullah

Tags
Share

About Author

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Tugas kita mengabdi, sifat kita taslim wal inqiyad, istiqomah menjadi manusia biasa.

Related Articles

Hubungi Kami:

Admin1:
Admin2:
Admin3:
Admin4:
Admin5:
Admin6:

Home Office :
Jl.Napak Tilas No.2 Cepokomulyo Gemuh
Kendal Jawa Tengah 51356
Email: admin@tanbihun.com
Phone: +62 85781738844

Who's Online

48 visitors online now
Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site