Tanbihun – KH. Ahmad Rifa’i adalah seorang ulama yang membawa misi perubahan. Ajaran Islam yang berkembang di Pulau Jawa pada waktu itu sudah mengalami pendangkalan. Sinkretisme ajaran Islam dengan tradisi-tradisi kuno berujung pada praktek ibadah yang salah kaprah dan jauh dari ajaran kanjeng Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itulah, semenjak kepulangan beliau dari menuntut ilmu di Timur Tengah, beliau senantiasa menggelorakan semangat untuk kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Berbagai aral dan rintangan beliau hadapi dengan tabah, sehingga berpuluh-puluh karya ilmiah beliau sebagai pedoman para santrinya untuk menghidupkan kembali ajaran Islam berhasil beliau rampungkan.
Hanya saja, jeda waktu yang begitu panjang antara zaman syaikhina dengan zaman kita sekarang, sangat memungkinkan terjadinya proses akulturasi dan pendistorsian ajaran beliau. Kitab-kitab karangan beliau mulai dijadikan buku pegangan sekunder oleh para santrinya, sehingga berdampak pada aspek amaliah ubudiyah yang lambat laun juga mengalami pergeseran dengan apa yang dikehendaki oleh Syaikhina.
Berawal dari keprihatinan inilah maka sekelompok anak muda pengkaji ajaran KH Ahmad Rifa’i berupaya untuk memurnikan ajaran KH Ahmad Rifa’i dari ajaran lain yang mengotorinya. Semangat dan cita-cita luhur kaum muda Rifaiyyah sepatutnya mendapat apresiasi serta dukungan dari semua pihak, bukan malah mematikan kreativitas mereka dengan labelisasi fasiq, penentang pakem atau yang lebih ekstrim lagi SESAT.
Pengawasan dan pembinaan kaum sepuh akan upaya pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’i ini mutlak diperlukan, sebab jika tidak, yang terjadi bukan pemurnian ajaran Kh Ahmad Rifa’I namun lebih jauh lagi yaitu perubahan ajaran KH Ahmad Rifa’i. sepanjang pengetahuan penulis, jargon pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’I ini sudah mulai berbelok dari tujuan semula. Jika tujuan awalnya adalah mengembalikan ajaran KH Ahmad Rifa’I sesuai dengan apa yang beliau kehendaki dalam kitab karangannya, maka sekarang tujuan itu malah terjadi penggerusan ajaran beliau dengan fatwa-fatwa ulama WAHABI.
KH Ahmad Rifa’I dalam beberapa kitab karangannya dengan jelas menyebutkan bahwa dalam bidang Ushuliddin beliau berkiblat pada Abu Hasan Al Asy’ari dan Abu Manshur Al Ma’turidi. Dalam urusan fiqih beliau bertaklid kepada Al Imam Asy Syafii. Sementara dalam bidang tasawwufnya beliau mengikuti Abu Qosim Junaid Al Baghdadi. Pengakuan beliau ini bisa dilihat adalam kitab Riayah al Himmah, Asnal Maqoshid, Husnul Matholib, Abyanal Hawaij dan sebagainya.
Seharusnya pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’i tetap berpijak pada koridor tersebut, baik dalam ushuliddinnya, fiqih ataupun tasawwufnya. Adalah sangat tidak wajar kalau memurnikan ajaran KH Ahmad Rifa’i tapi barometer yang digunakan adalah Kitab-kitab Ibnu Taimiyyah yang Hanbali, Asy Syathibi yang Maliki ataupun al Albani yang tidak bermadzhab. Paham Ahlu Sunnah ala Asy’ari yang di usung oleh KH Ahmad Rifa’I tentu tidak akan sejalan dengan paham Ahlu Sunnah ala Imam Ahmad. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Adz Dzahabi : “Ketika al-Asy`ari datang ke Baghdad, dia mendatangi Abu Muhammad al-Barbahari (ketua mazhab Hanbali) dan berkata : Aku telah membantah al-Jubba’i. Aku telah membantah Majusi. Aku telah membantah Kristen. Abu Muhammad menjawab, Aku tidak mengerti maksud perkataanmu dan aku tidak mengenal kecuali apa yang dikatakan oleh al-Imam Ahmad. Kemudian al-Asy`ari pergi dan menulis kitab al-Ibanah. Ternyata al-Barbahari tetap tidak menerima al-Asy`ari”. ( Lihat Siyar A’lam An Nubala’ karangan Adz Dzahabi, Juz 12 Hal 82 ). Lebih fatal lagi bila yang digunakan untuk mengukurnya adalah kitab-kitab WAHABI yang dengan sangat tegas mengatakan bahwa Asya’iroh adalah paham sesat, masuk dalam cabang jahmiyyah (Lihat bagaimana Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa Asya’iroh termasuk dalam bid’ah jahmiyah dalam Syarah Al aqidah al Washitiyyah karangan Ibnu Utsaimin, hal 18). Bahkan penyesatan paham Asya’iroh dan ma’turidiyyah ini tersebar dalam berbagai karangan ulama’ Wahabi semisal Bin Baz, Utsaimin, Al Albani dan lainnya. Jika paham Wahabi ini yang dipakai untuk memurnikan Ajaran KH Ahmad Rifa’i, maka bukan pemurnian yang akan di hasilkan tapi perubahan konsep ushuliddin atau tauhid yang akan terjadi, sebab secara tidak langsung paham Wahabi telah menghukumi KH Ahmad Rifa’I sebagai orang sesat , bid’ah jahmiyyah yang melakukan ta’thil, karena KH Ahmad Rifa’I termasuk ulama Asyairoh. Sikap kebablasan juga ditunjukkan oleh kaum muda rifalyah dalam aspek fiqih. Pertanyaan-pertanyaan sering dilontarkan untuk menghujat legalitas amaliyah warga Rifaiyyah yang Syafiiyah, seperti, manakah dalilnya dalam kitab KH Ahmad Rifa’I yang menyebutkan sunnahnya qunut Subuh ?. jika KH Ahmad Rifa’i di setiap muqodimah kitabnya selalu mengatakan Syafi’I Madzhabe, maka seluruh amaliah fiqih dalam madzhab syafi’I pun menjadi amaliah KH Ahmad Rifa’i, termasuk Qunut Subuh, apalagi seluruh ulama syafiiyah mengamalkan qunut subuh ini.
Yang lebih unik lagi, ketika upaya pemahaman teks kitab tarjamah yang menyangkut masalah bid’ah, kaum muda Rifaiyyah menggunakan kitab Al I’tishom karangan Imam Syathibi yang bermadzhab maliki sebagai pijakannya. Beliau berpendapat bahwa semua bid’ah adalah sesat dan menolak adanya bid’ah hasanah, pemikiran semacam ini pernah dikemukakan pula oleh ibnu Taimiyah dalam Kitab Iqtidho Shirothil mustaqimnya. Berdasarkan acuan tersebut, maka pemikiran KH Ahmad Rifa’i pun digiring kearah pemikiran asy Syathibi atau Ibnu Taimiyyah. Sehingga teks-teks tentang bid’ah yang tersebar dalam Abyanal Hawaij dipahami sebagaimana asy Syathibi memahami bid’ah, KH Ahmad Rifa’i digambarkan seolah sebagai ulama’ yang berpemikiran seperti Syathibi yang menghukumi semua bid’ah adalah sesat dan menolak adanya bid’ah hasanah. Pemahaman dan pemikiran seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi, jika kita sekali lagi mau mengakui bahwa KH Ahmad Rifa’i adalah ulama yang sangat konsisten terhadap Madzhab Imam Syafi’i, sebagaimana yang telah beliau akui sendiri dalam kitab karangannya. Ketika Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah yang bertentangan dengan qur’an, hadits, ijma’ adalah bid’ah dholalah, sementara bid’ah yang tidak bertentangan atau sesuai dengan qur’an, hadits dan ijma adalah bid’ah mahmudah / hasanah ( lihat Manaqib Asy Syafi’i karangan Imam Baihaqi, juz 1 hal 469 ), maka Syaikhina Ahmad Rifa’i sebagai pengikutnya pun akan berpendapat yang sama dengan Imam Syafi’i. Hal ini bisa dibuktikan dalam salah satu karya Syaikhina asnal Maqoshid beliau berkata :
Aran wong BID’AH SASAR ketoro,
Iku nyebal saking dalil patang perkoro
Qur’an hadits Ijma’ qiyas wicoro
Wus ono wicarane ngarep kapikiro
Yang dinamakan pelaku bid’ah sesat
Yaitu yang menyimpang dari dalil yang empat
Qur’an hadits ijma’ qiyas
seperti yang telah dibicarakan dengan jelas
uraian singkat ini menunjukkan bagaimana KH Ahmad Rifa’i mendefinisikan bid’ah dholalah atau dalam bahasa Kh Ahmad Rifa’i disebut Bid’ah sasar yaitu segala sesuatu yang menyimpang dari Al Qur’an, Hadits, ijma dan qiyas. Definisi ini sama persis dengan apa yang disampaikan oleh imam Syafi’Iidi atas. Dalam Abyanal Hawaij beliau lebih jauh membicarakan tentang praktik-praktik bid’ah dholalah yang terjadi di masyarakat, oleh sebab itu beliau selalu menggandeng kata bid’ah dengan kata sasar, maksiyatan, kadosan, gede dosane dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa yang sedang beliau bicarakan secara panjang lebar adalah bid’ah dholalah, atau bid’ah sayyi’ah. Adapun terhadap praktik bid’ah hasanah beliau tidak menentangnya asal tidak bercampur dengan perbuatan maksiyat lainnya seperti munkar majelis atau ikhtilath. Dalam kitab Riayah al Himmah beliau berkata :
Lan ing hale siro kabeh moho kadosan
Podho weruh siro kabeh ing kesalahan
Weruh ing sabenere syara’ nejo ingumpetan
Penggawe becik harom ginawe woworan
Podho rame dzikiran kerono dunyane
Dicampuri harom ing dalem majlisane
Dzikir tahlil lan maulud gede dosane
Podho ringan akeh mungkar becampurane
Akeh alim wajib amar naha katinggal
Sabenere ilmu syara’ tan di amal
Podho mburu sunah tinggal wajib asal
Syahadat ibadat nyengojo digawe bathal.
Untaian kalimat ini beliau paparkan saat beliau menafsirkan ayat Al Qur’an yang berbunyi ولا تلبسوا الحق بالباطل , lihat kalimat yang di tebali, makna terjemahan bebasnya adalah perbuatan baik dan haram dicampur aduk, melaksanakan dzikir dicampuri dengan majelis haram. Dzikir tahlil dan maulid berubah jadi dosa besar sebab banyak tercampur oleh perbuatan munkar. dari perkataan beliau ini dapat dipahami bahwa :
- Dzikir, tahlil dan maulid adalah perkara yang baik ( becik) atau hasanah.
- Dzikir, tahlil dan maulid bisa jadi haram jika dicampur dengan munkar majelis atau munkar yang lainnya.
Kepahaman yang dapat diambil adalah syaikhina Ahmad Rifa’i menganggap bahwa maulid dan tahlil adalah bid’ah hasanah. Sangat tidak mungkin beliau menganggap bahwa maulid itu perbuatan baik jika beliau berpendapat bahwa setiap bid’ah adalah sesat dan menolak adanya bid’ah hasanah. Bukankah Asy Syatibi, ulama’ yang menolak adanya bid’ah hasanah ini mengatakan bahwa maulid adalah perbuatan bid’ah?.
Pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’i terkait dengan masalah bid’ah ini akan lebih tepat dan bijaksana apabila dalil rujukannya diambil dari karya ulama’-ulama’ besar Syafi’iyyah seperti Ibnu hajjar Al asqolaniy, Imam Nawawi, Abu Syamah Al Maqdisi, Al Qostholaniy dan lainnya, sehingga akan didapati pemahaman teks yang valid dan sesuai dengan apa yang dikendaki oleh Saikhina KH Ahmad Rifa’i.
Kesimpulannya, upaya pemurnian ajaran KH Ahmad Rifa’i harus terus dilakukan supaya tidak terkotori oleh paham-paham bathil, namun tetap pada koridor pemahaman serta madzhab yang beliau ikuti. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan supaya tidak terjadi penisbatan ajaran-ajaran lain seperti WAHABI ke dalam ajaran KH Ahmad Rifa’i.
Wallohu a’lam



Keterbelengguan terhadap tradisi adalah wujud lain dari jahiliyah. Pakem-pakem warisan nenek moyang menjadi sandaran penolakan terhadap ajakan menuju perbaikan kondisi. Bagaikan air menggenang yang tak mau terusik riak. Umat yang dijiwa persepsi ini akan MEMBUSUK. Ia menjadi medium perkembangbiakan penyakit PERAADABAN. Sungguh lestari nilai-nilai JAHILIYAH dalam atmosfir ini, atmosfir yang penuh dengan romantisme masa lalu yang basi.
gk jelas banget nih orang ?!.. semoga ini bukan pengakuan ente “masa lalu telah basi”,itu sebabnya ente koar2 bak zorro yang memberantas peradaban yang coba di bangun Ulama’ di negeri ini. alih2 ingin memperbaiki kondisi justru menebar kebencian.laksana riak yang mengotori ketenangan umat, jahil bener tabiat ente!..atas nama kebenarankah?..ma’af bung, anda kesiangan!!!
benar kang, kalau mau memahami ya harus merujuk pada sourche yang sama.
satu pertanyaan saya yg awam ini, untuk masalh aqidah rifaiyah berkiblat pada asy’ari dan alma’tyuridi, apa sih konsep dasar asyari itu, dan tentunya refensi kitab karya asyari dan alma’turidi, selama ini saya sering banget mendengar tentang asyari, tapi saya belum pernah dengar ada satu kitab induk karya asy ari, juga tentunya dalam bidang tasawuf menginduk pada abu qosim al baghdadi, pertanyaan saya ya sama apa konsep dasar tasawuf abu qosim al baghdadi serta kitab induk karya beliau. kalau asy syafii kitab2 induknya dah jelas seperti al Umm. lha kalu yang asy ari (dalm aqidah) serta abu qosim (tasawuf) adakah kitab sebagi refensi dasarnya?
matur nuwun
Kitab2 Asya’iroh…silahkan baca Al Ibanah ‘an ushuliddiyanah karya Imam Asy’ari, Ar Roddu ala ahlilziagh wal bid’ah karya Imam Asy’ari….atau al irsyad karya Imam Haromain.. Ummul Barohin Imam Sanusi dan banyak lagi….tasawwufnya syaikh juned adalah tasawwuf akhlaqi, artinya mengedepankan perbaikan akhlak dan hati, kitab rujukannya Ihya’, al hikam dsb. wallohu a’lam
Assalamualaikum Pak Rifai…
saya mau nanya pak…
pertama: bagaimana anda menyikapi (memahami/menafsirkan) sabda rosul bahwa setiap kebid’ahan adalah sesat dan setiap kesesatan maka masuk neraka ?
kedua: dari mulai zaman nabi kemuadian masa para sahabat, tabiin dan tabiuttabiin apakah ada istilah dan pemahaman bahwa bid’ah dibagi2 menjadi dolalah, hasanah ?
ketiga: bagaimana definisi dan batasan bid’ah ? saya pernah membaca bhwa dikatakan bid’ah krn menambahkan sesuatu yg baru dalam hal ibadah kpd Allah. bagaimana menurut anda?
terimakasih sebelumnya atas jawabannya…
1.Sabda Kullu Bid’atin Dholalah ( setiap bid’ah adalah sesat itu di takhsis oleh hadis shahih muslim yg berbunyi man sanna fil islami sunnatan hasanatan ….jadi tdk semua itu dholalah.
2. mbak bisa lihat dlm hadits bukhori ketika sayyidina Umar mengatakan Ni’matil bid’atu hadzihi ( sebaik2nya bid’ah adalah ini ) terkait dg pengadaan sholat tarawih berjamaah. terus lagi dlm bukhori dan muslim juga…pernah ada sahabat yang setiap sholat dia membaca surat al ikhlas sbg penutup bacaannya. ketika diadukan kpd nabi, nabi ternyata ridho….apa ini bukan indikasi bid’ah hasanah ?
3. definisi bid’ah amat banyak mbak…..al hafidz as suyuthi mengatakan bid’ah adalah sesuatu yg tidak ada contohnya pada masa lalu…
yang saya heran..orang begitu alergi dg pembagian bid’ah menjadi dua hasanah dan sayyiah tapi legowo dg pembagian bid’ah syar’i dan lughowi………
Sabda Kullu Bid’atin Dholalah ( setiap bid’ah adalah sesat itu di takhsis oleh hadis shahih muslim yg berbunyi man sanna fil islami sunnatan hasanatan????
SEBUAH PERTANYAAN…
wah..pk software ini mondar mandir nanya mulu..ksian deh..kakakaka…
usaha dkit napa?!..
kalo antum tdk percaya ya dibuka aja syarah nawawi juz 7 .selamat menikmati mas software.itupun kalo anda melek
aneh……. bener2 aneh orang ini!! mungkin krn tidak adanya sifat jujur dalam ber-ilmiah…
kalau sodara hidup di jaman Rosul mungkin anda orang yang pertama kali akan ditegur.
karena beliau sungguh tidak pernah memberi tauladan bagaimana ketika para sahabat berbeda pendapat, harus saling menjatuhkan satu sama lain….
coba baca kembali etika berdebat/beda pendapat menurut sunnah Rosululloh
@hud..mungkin otak ente kali yg aneh..udah trkotori virus wahabi..orang sekelas as syafii, izzuddin, suyuthi dan ibna hajjar ente anggap ga jujur jg hanya krn berpendapat adanya bid’ah hasanah?
Pesan Dewan Syuro sebagai “Ahlul Halli Wal Aqdi” Jama’ah Rifa’iyah pada acara penutupan “Muszakaroh Jama’ah Rifa’iyah” tgl 23 April 2011 di Pemalang:
” Ayo kembali kepada maksud teks awal setiap kitab- kitab Syekh Ahmad Ar rifa’i, yakni:
“Syafi’iyyah Madzhabe- Ahli Sunnah (Sunni) Thoriqote”
= (Aku Menulis Kitab- Kitab ini atas dasar) Madzhab Syafi’i dengan Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah).
Kita sebagai ummat berpedoman pada hadist Nabi: “Alal mar’il muslimi As- Sam’u wat Tho’atu fiima Ahabba au kariha” (H.R. Bukhori), mari kita ikuti arahan beliau Dewan Syuro agar tidak :Khoroja ‘Anil Jama’ah”, atau memang ada yang menghendaki “khuruj ‘Anil Jama’ah”?.
ikut nyimak ajah gann…
lumayan!