Tanbihun Online

PERSEBARAN AJARAN RIFA’IYAH DI KABUPATEN KENDAL

PERSEBARAN AJARAN RIFA’IYAH DI KABUPATEN KENDAL

PERSEBARAN AJARAN RIFA’IYAH DI KABUPATEN KENDAL
November 23
08:40 2010

Oleh :

Sokhib Mahfudzin, Ahmad Yaenuri, Ikhtifazudin Abadi Bowo

SMA Rifa’iyah Rowosari Kendal


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rifaiyah adalah suatu nama organisasi Islam yang di ambil dari nama seorang ulama’ sekaligus pahlawan nasional Indonesia pada abad ke-19, yaitu Syaikh Ahmad Rifa’i.  Syaikh Ahmad Rifa’i lahir pada Kamis, 9 Muharam 1200 H /1786 M dari pasangan KH. Muhammad Marhum bin Abu Sujak dengan Siti Rahmah di Desa Tempuran. Tempuran Merupakan nama sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Dilihat dari sejarahnya, Rifaiyah merupakan gerakan keagamaan yang cukup tua. di Indonesia. Ia muncul sejak zaman kolonial Belanda, bahkan sang pendiri juga ikut melakukan perlawanan terhadap kekuasaan penjajah. Akibat dari sikap anti penjajahanya, Syakh Ahmad Rifa’i dibuang ke Manado dan Ambon. Di tempat pengasingannya yang kedua inilah ia meninggal pada Kamis 25 Rabi’ul Awal 1286 H / 1870 M. Dia dimakamkan di makam pahlawan Kyai Mojo yang terletak di Bukit Tondata, Kampung Jawa Tondano, Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara (Manado).

Sekarang ini, ajaran Rifa’iyah atau lazim disebut Tarajumah sudah menyebar di berbagai daerah di Indonesia. Penyebaran Rifa’iyah dilakukan sejak masa Syaikh Ahmad Rifa’i dan diteruskan oleh pengikut-pengikutnya secara lintas generasi. Dari prosas ini terbentuklah komunitas Rifa’iyah. Komunitas Rifa’iyah terbanyak berada di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah.  Di Kendal misalnya, banyak pengikut Syaikh Ahmad Rifa’i yang menjadi ulama lokal dan berperan penting dalam proses penyebaran ajaran hingga saat ini.  Di kabupaten ini sudah berdiri sekitar empat pondok pesantren yang menjadi basis Rifa’iyah dan masih eksis dalam menyebarkan ajaran. Sebagai salah satu basis komunitas Rifa’iyah, Kendal tentu saja memiliki proses sejarah tersendiri dan layak untuk ditelusuri lebih jauh.

B. Permasalahan

Ada dua permasalahan utama yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu (1) bagaimana gambaran dari proses penyebaran ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i di wilayah Kendal dan siapa aktor-aktor yang terlibat di dalamnya dan (2) bagaimana sesungguhnya ajaran Rifaiyah itu?

C. Ruang Lingkup

Apa yang dikaji dalam makalah ini meliputi proses awal penyebaran dengan metode-metode yang digunakan oleh Syaikh Ahmad Rifa’I di Kabupaten Kendal dan identitas gerakan yang menjadi ciri khas masyarakat Rifa’iyah.  Adapun tempat-tempat yang akan penulis telusuri adalah hampir semua pesantren beraliran Rifa’iyah yang tersebar di seluruh pelosok wilayah Kendal. Kendal menjadi latar kajian karena, pertama, wilayah ini termasuk salah satu basis terbesar Rifaiyah di Indonesia dan kedua, Kendal merupakan tempat kelahiran pendiri gerakan Rifa’iyah.

D. Tujuan dan Sasaran Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah mendapatkan data-data yang bersifat kualitatif mengenai tema penelitian di atas. Hasil yang didapat diharapkan akan menjadi  pengetahuan tentang sejarah lokal dan budaya keagamaan. Sedangkan sasaran penelitian ini para pengikut masa sekarang (warga Tarajumah atau Rifa’iyah), kalangan Muslim lain (non-Tarajumah atau bukan warga Rifa’iyah), dan pemerintah daerah.

F.  Metode penelitian

Secara keseluruhan, penelitian ini menggabungkan data perpustakaan dengan data lapangan. Data perpustakaan diambil dari beberapa literatur tentang gerakan Rifa’iyah, baik yang dikarang oleh pengikut maupun non-pengikut. Karya-karya yang ditulis oleh pengikut Rifa’iyah, misalnya buku karya K.H. Ahmad Syadirin Amin dan Abdul Jamil. Sementara data lapangan diperoleh dengan menggunakan metode penelitian etnografis, seperti pengamatan partisipasipatoris (partisipatory observation) dan wawancara mendalam (in-depth interview). Namun, mengingat keterbatasan peneliti, baik dari segi waktu, tenaga, dan biaya, maka seluruh wawancara hanya terbatas pada tokoh-tokoh lokal Rifa’iyah yang dipandang sebagai referensi lisan utama tentang informasi mengenai  doktrin dan tradisi Islam Tarajumah serta perkembangan komunitas Tarajumah di Kabupaten Kendal. Hasil wawancara ini menjadi sumber paling penting guna melengkapi kekosongan informasi dari literatur-literatur yang tersedia. Lebih dari itu, melalui wawancara, penelitian ini akan mampu memahami secara utuh tentang sumber-sumber tertulis yang telah terkumpul. Penelitian ini bersifat deskriptif naratif, yaitu berusaha untuk menggambarkan mengenai ajaran Rifa’iyah dan identitas komunitas Tarajumah di Kabupaten Kendal. Data-data yang berhasil terkumpul kemudian diolah data perpustakaan merupakan tumpuan utama pembahasan, sedangkan data lapangan di manfaatkan sebagai pelengkap.

G. Hipotesis

Selama penelitian, peneliti mengangkat hipotesis bahwa perkembangan ajaran Rifa’iyah di Kendal tidak lepas dari proses sejarah yang panjang sejak masa Syaikh Ahmad Rifa’I dan menciptakan semacam identitas yang membedakan dengan komunitas Muslim lain.

HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN

Ajaran Rifa’iyah merupakan kata yang tidak asing bagi masyarakat di Kabupaten Kendal. Di Kabupaten inilah sang pendiri, yaitu Syaikh Ahmad Rifa’i lahir, tepatnya di Desa Tempuran. Desa ini terletak di sebelah selatan masjid jami’ Kabupaten Kendal. Pada masa sekarang, sudah berdiri organisasi-organisi Rifa’iyah, seperti AMRI (Angkatan Muda Rifa’iyah) dan UMRI (Umroh Rifa’iyah). Kedua organisasi itu  bukan hanya  di Kabupaten Kendal, melainkan juga di kabupaten-kabupaten lain, seperti Batang, Pekalongan, Tegal, Pemalang, Indramayu, Temanggung, Wonosobo dan lain-lain. Di Kendal, komunitas Rifa’iyah telah memiliki basis-basis penyebaran ajaran, yaitu di pondok pesantren-pondok-pesantren (ponpes), seperti Ponpes Terpadu “Syaikh Ahmad Rifa’i” di Desa Bulak Kecamatan Rowosari (lihat gambar 1 dan gambar 2 dalam lampiran), Ponpes “APPIK” (singkatan dari Asrama Pondok Pesantren Islam Kretegan) di Desa Kretegan Kecamatan Rowosari, Ponpes Rodlotul Muttaqien di Desa Cepokomulyo, Kecamatan Gemuh, Ponpes Subulussalam Desa Lebosari, Kecamatan Kangkung (lihat gambar 7 dalam lampiran), Ponpes Putri Darul Muqomah Desa Kretegan Kecamatan Rowosari,l dan masih banyak lagi pondok-pondok kecil yang beraliran Rifa’iyah.

A. Wilayah Persebaran Ajaran Rifa’iyah di Kendal

Di Kabupaten Kendal, Gerakan Rifa’iyah terpusat di beberapa desa yang memiliki rantai sejarah dengan masa lalu sang pendiri. Paling tidak, ada empat desa yang memiliki kaitan dengan tokoh-tokoh Rifa’iyah generasi pertama maupun generasi kedua. Desa-desa itu adalah Desa Purwosari Kecamatan Patebon, Desa Cepokomulyo Kecamatan Gemuh, Desa Kretegan Kecamatan Rowosari, dan Desa Lebosari Kecamatan Kangkung. Sejak masa kolonial, tokoh-tokoh Rifaiyah aktif mengembangkan paham ini melalui pengajian-pengajian di desa-desa di wilayah Kendal, sebagaimana tertera dalam surat Residen Kendal, G. D. P. A. Renardel de Lavallete kepada Residen Semarang, J. Van Gigch, 24 Oktober 1924.(Abdul Jamil, 2001; 202). Catatan dari Jaman Hindia-Belanda ini sekaligus membuktikan bahwa ajaran Rifa’iyah sudah menyebar di tingkat lokal dan menjadi perhatian pemerintah kolonial saat itu.

Di bawah ini merupakan gambaran tentang desa-desa tersebut:

1.  Desa Cepokomulyo

Desa yang terletak kurang lebih 20 kilometer dari pusat Kota Kendal ke arah selatan ini memiliki pengikut Rifa’iyah berjumlah kurang lebih 1.000 orang. Semuanya tinggal di wilayah yang sama sehingga dapat dikatakan desa ini merupakan Desa Rifa’iyah. Perkembangan Rifa’iyah di sana bahkan dimulai sejak masa Syaikh Ahmad Rifa’i, yaitu melalui salah seorang santrinya bernama KH. Muhsin dan kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh lain secara lintas genarasi.

KH. Muhsin berasal dari Desa Cepokomulyo, Kecamatan Gemuh, Kendal. Sebagai murid setia Syaikh Ahmad Rifa’I yang telah menimba ilmu dari Pesantren Tarajumah Kalisalak, Muhsin aktif mengajarkan kitab-kitab Rifa’iyah (kitab-kitab Tarajumah) di desa kelahirannya. Konon murid-murid Muhsin mencapai sekitar seratus santri yang datang dari berbagai desa sekitar. Namun sayang, pada sekitar tahun 1925, kitab-kitab tarajumah yang dipelajari di pesantren yang didirikan oleh Muhsin dibakar oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Alasannya adalah doktrin-doktrin yang tertulis di dalam kitab-kitab tarajumah dinilai mereka mengandung unsur agitasi[1] dan provokasi[2] yang sangat membahayakan stabilitas pemerintah Kolonial atau tatanan rust en orde.[3] Kecurigaan pihak kolonial didasarkan pada syair yang tertulis di dalam kitab syarikhul iman:

“Mukmin bengkuk kasab nandur ketela,

Iku luwih becik tinimbang bengkuk seba ing wong ala,

Nanggung dosa gede tan bisa tobat katula,

Ora patut wong duraka kede di pilala.”

Terjemahan bebasnya adalah:

Orang (Islam) yang bermandi keringat menanam pohon ketela itu lebih baik daripada mereka yang bersembah-simpuh kepada orang yang buruk kelakuannya (yang dimaksud adalah orang Belanda), yang sering melakukan dosa besar namun tidak pernah bertobat. Orang yang semacam itu (orang Belanda) tidak patut diikuti perintahnya.

Karena banyak anjuran anti-kolonial lainnya yang difatwakan oleh Syaikh Ahmad Rifa’I kepada murid-muridnya, maka tidak heran bila akhirnya ajaran Rifa’iyah diberangus dan sang pendiri ditangkap serta diasingkan. Perlakuan yang menindas seperti ini merupakan antisipasi politis pihak pemerintah kolonial Belanda terhadap aksi-aksi pemberontakan yang bisa terjadi kapan saja. dialami oleh gerakan-gerakan keagamaan sepanjang abad ke 19 dan ke 20 M (Abdul Djamil, 2001:xxiii-xxvi).

Sekarang, di Desa Cepokomulyo sudah berdiri Pondok Pesantren Rifa’iyah di bawah pimpinan K.H. Muhammad Sa’ud. Nama pondok pesantren itu adalah Roudlotul Muttaqien yang mempunyai kurang lebih 150-an santri. Di desa ini telah berdiri pula ormas-ormas Rifa’iyah, seperti AMRI (Angkatan Muda Rifa’iyah), UMRI (Umroh Rifa’iyah) dan IRMAS (Ikatan Remaja Masjid) (lihat gambar 5 dalam lampiran). Selain Kyai Saud, ada seorang tokoh lokal yang berperan aktif dalam penyebaran ajaran Rifa’iyah, yaitu Ust. Nurruddin. Meskipun bukan seorang kyai, dia biasa diundang mengisi pengajian-pengajian akbar di Kabupaten Kendal dan sekitarnya. Dalam organisasi Rifa’iyah, Ust. Nurruddin pernah menjabat sebagai ketua umum AMRI periode 2004-2008. Ia merupakan adalah murid KH Muhammad Saud.

Dari silisilah guru-murid, KH. Muhammad Saud adalah generasi kelima dari pendiri Rifa’iyah, Syaikh Ahmad Rifa’i. Sebelum di pegang oleh Kyai Saud, tokoh yang memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran KH Ahmad Rifa’i di Desa Cepoko Mulyo berturut-turut adalah Kyai Zaenudin, Kyai Fadholi dan Kyai Mukhsin (lihat tabel di bawah).

SILSILAH PENYEBARAN AJARAN KH. AHMAD RIFA’I

SAMPAI DI DESA CEPOKOMULYO

KH. AHMAD RIFA’I KH. MUKHSIN                          K. SA’ID

KH. M. SA’UD K. ZAINUDIN                        K. FADHOLI

2 . Desa Purwosari

Desa ini memiliki sejarah tersendiri karena disinilah tokoh generasi kedua, Kyai Idris, mengembangkan ajaran Rifa’iyah melalui Pendidikan Pesantren Purwosari (lihat gambar 7 dalam lampiran). Pesantren Purwosari biasanya dianggap memiliki pandangan keagamaan yang lebih konservatif [4] dibandingkan pesantren-pesantren Rifa’iyah lainnya, baik di wilayah Kendal ataupun di luar Kendal seperti di Pekalongan, Wonosobo, dan lain-lain. Sebagai contoh, jika Pesantren Kretegan (Kendal) melaksanakan Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan, maka Pesantren Purwosari ini tidak melaksanakannya. Para santri dan kyai di pesantren itu justru melaksanakan shalat qadha[5] berjama’ah sejalan dengan ajaran KH. Ahmad Rifa’I mengenai persoalan qadha’ mubadarah[6].

Sekalipun termasuk Pesantren Rifa’iyah tertua, namun Pesantren Purwosari kurang mampu mengajak penduduk sekitar untuk menjadi pengikut Rifa’iyah. Kondisi ini berlawanan dengan Pesantren Kretegan dan Pesantren Cepokomulyo yang mampu menciptakan komunitas Rifa’iyah pada sekeliling masjid. Sikap konservatif dari para tokohnya mungkin merupakan penyebab kurang dapat berinteraksi dengan masyaraka luas.

Penyebaran ajaran Rifa’iyah ke Purwosari, dulunya dibawa oleh murid generasi pertama Syaikh Ahmad Rifa’i, yaitu Muhammad Tubo bin Radam (1786-1897). Tokoh ini berasal dari Desa Pidodo Wetan, Kecamatan Patebon, Kendal. Sebelum nyantri di Kalisalak, ia pernah menimba ilmu agama di Kediri, Jawa Timur dan Indramayu, Jawa Barat. Pada  1830 ia berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.  Beberapa tahun kemudian ia mendirikan pesantren dan mengajarkan kitab tarajumah di Desa Purwosari, Kecamatan Patebon, Kendal. Pesantren Purwosari yang dibangun Muhammad Tubo merupakan salah satu dari tiga pesantren tarajumah yang berkembang pada periode pasca pengasingan Syaikh Ahmad Rifa’i pada 1859 M. Santri-santrinya berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Konon santrinya mencapai ratusan yang pada umumnya berasal dari keluarga penganut Islam tarajumah yang disebarkan oleh pengikut-pengikut generasi pertama.  Di antara santri Muhammad Tubo yang berhasil mengembangkan Islam Tarajumah di daerah asal mereka sekaligus menjadi tokoh Rifa’iyah pada periode berikutnya adalah KH. Idris yang tidak lain adalah putra KH. Muhammad Tubo sendiri.

Seperti telah disinggung di muka, KH. Muhammad Tubo adalah generasi pengikut pertama dalam garis silsilah penyebaran ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i. Setelah kewafatan Muhammad Tubo, rantai penyebaran ajaran diteruskan oleh Kyai Idris, K Ahmad Badri , dan,  pada masa sekarang, Kyai Hasan Badri (lihat tabel di bawah).

SILSILAH PENYEBARAN AJARAN K.H. AHMAD RIFA’I

SAMPAI DI DESA PURWOSARI

KH. AHMAD RIFA’I K. MUH.  TUBO                   K. IDRIS

K. HASAN BADRI                  K. AHMAD BADRI

3. Desa Kretegan

Ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i muncul di Desa Kretegan kira-kira sejak 1905 M. Ajaran ini mula-mula dibawa oleh murid Syaikh Ahmad Rifa’i, yaitu Syaikh Bajuri. Setelah menimba ilmu agama di Pesantren Purwosari, ia mendirikan pesantren sendiri di Desa Kretegan yaitu Ponpes APPIK (lihat gambar 3 dalam lampiran). Metode yang dilakukan Syaikh Bajuri adalah metode klasik, yaitu melalui pengajian di masjid-masjid  atau mushola-mushola yang berada di Desa Kretegan dan sekitarnya. Cara ini sengaja dilakukan agar menarik perhatian orang-orang awam. Lebih menarik lagi adalah metode yang dilakukan Syaikh Bajuri menggunakan alat-alat musik tradisional yang terbuat dari kulit binatang seperti sapi atau kambing yang biasa disebut “ terbang“ ( rebana ) dan badug (lihat gambar 2 dan gambar 4 dalam lampiran). Syaikh Bajuri wafat pada 1975 M dan dimakamkan di Desa Kretegan.

Sekarang di Desa Kretegan ada suatu kegiatan yang dilakukan oleh kumpulan  anak-anak muda Rifa’iyah yaitu IRMAS ( Ikatan Remaja Masjid ). Tujuan IRMAS adalah menampung dan memberi sarana generasi muda untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, latihan pidato, pembacaan atau pelantunan Al-quran, dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa yang difasilitasi oleh ranting Rifa’iyah guna memperdalam ilmu agama, seperti pengajian mingguan dan lain-lain. Kegitan-kegiatan ini sudah berjalan sejak tiga tahun terakhir. Untuk anak-anak usia 5-12 tahun, ada sebuah lembaga pendidikan yang didirikan sebagai tempat belajar mereka, seperti Madrasah Diniah (MADIN). Pesantren APPIK ini sangat akomodatif dan terlihat menjalin interaksi dengan masyarakat luas sehingga pengikut Rifa’iyah berkembang cukup baik bahkan meluas ke wilayah pesisir utara Kendal (wilayah Pantai Sikucing).

Rantai penyebaran ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i di Desa Kretegan berawal dari murid genarasi pertama, yaitu KH. Abdul Qohar dari Desa Rejosari, Kecamatan Cepiring, Kendal pada abad ke-19M. Tokoh generasi ke dua yang meneruskan ajaran Rifa’iyah adalah murid KH Bajuri dan dilakukan  pada tahun 1950.  Dia merupakan pembawa sekaligus generasi perintis Rifaiyah di Desa Kretegan. Setelah KH. Bajuri tutup usia, penerus ajaran dipegang berturut-turut  oleh  KH. Ma’sum dan KH. Ali Munawir (keduanya sudah meninggal).  Semasa hidupnya, KH. Ali Munawir pernah menjabat sebagai Dewan Syuro Rifa’iyah pada 2007. Sekarang, ajaran ini dibawa oleh KH. Fauzan (lihat tabel di bawah).

SILSILAH DARI SYAIKH AHMAD RIFA’I SAMPAI KE DESA KRETEGAN

SYAIKH H. AHMAD RIFA’I KH. Abdul Qohar                       KH. Bajuri

KH. Fauzan KH. ali munawir                                  KH. Ma’sum

Tentang masuknya ajaran Islam Tarajumah ke wilayah Rowosari, seorang tokoh lokal yang menjabat sebagai Departemen Pendidikan dalam organisasi Rifa’iyah, Ali Sibron, mengatakan,

“Ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i datang ke Kecamatan Rowosari, sebenarnya sudah lama. Di Kecamatan Rowosari ini sendiri sekarang sudah ada enam desa yang menganut ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i, yaitu Bulak, Peganjuran, Tanjung Anom, Kebonsari, Karang Sari, dan Sendang Sikucing”. (Wawancara di Desa Kretegan, 24 Mei 2009) .

Meskipun Rowosari termasuk wilayah paling akhir dalam proses penyebaran Rifa’iyah dibanding dengan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Kendal, tapi ia mengalami perkembangan yang tajam. Pimpinan Daerah Rifa’iyah Kabupaten Kendal, Kyai Mudhari Al Badar, mengatakan bahwa secara kuantitas, Rowosari merupakan kecamatan dengan jumlah desa terbanyak yang warganya sebagian besar merupakan pengikut Rifa’iyah (Wawancara di Lebosari, Kecamatan Kangkung, Kendal, 28 Mei 2009).

4. Desa Lebosari

Persebaran ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i di Desa Lebosari, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal dimulai pada 1910M. Ajaran ini dibawa oleh seorang pengikut Syaikh Ahmad Rifa’i yaitu Syaikh Abdul Qohar yang berasal dari Dukuh Mbekingking, Desa Rerjosari, Kecamatan Cepiring. Dia datang ke Lebosari dan menyebarkan ajaran Rifa’iyah kepada masyarakat desa itu. Sekarang, ajaran Rifa’iyah sudah berkembang pesat di sana. Bahkan, seluruh warga desa merupakan penganut ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i. Ada beberapa kegiatan ke-Rifa’iyah-an yang menjadi rutinitas di Lebosari. Salah satunya adalah selapanan atau pengajian yang dilakukan 35 hari sekali dan Majelis Ta’lim. Masyarakat Rifa’iyah di desa ini juga memiliki lembaga-lembaga, seperti  Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI). AMRI memiliki kegitan rutin yaitu Jami’atussu’ban. Selain itu, kegiatan Rifa’iyah lainnya adalah Sabi’ul Muttaqien. Lembaga pendidikan Rifa’iyah yang berdiri di Lebosari adalah taman pendidikan Qur’an ( TPQ ) Tarbiatul Aulad yang mempunyai sekitar 50 orang santri dan Madrasah Diniyah Miftakhul Falah yang kini sudah memiliki kurang lebih 70 orang santri (lihat gambar 6 dalam lampiran).

Tentang perkembangan Rifa’yah di Lebosari, Mudlori Al Badar mengatakan,

“Dulunya di desa ini belum ada orang yang menganut ajaran Rifa’iyah, tapi lama-kelamaan banyak orang yang masuk menjadi pengikut karena mereka merasa ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i menarik. Karena mengundang banyak simpati masyarakat, maka sekarang ini 100% warga desa adalah para menganut ajaran Rifaiyah” (Wawancara di Lebosari, Kecamatan Kangkung, Kendal, 28 Mei 2009).

Ada beberapa tokoh lokal Rifa’iyah yang sekarang menjadi pemuka gerakan, seperti KH. Rosyidi (mantan anggota DPRD Kendal dan hingga kini masih menjadi pengasuh Pesantren Subullussalam) dan Kyai Mudhori Al Badar. Dilihat dari garis silsilah guru-murid, Kyai Mudhori berada pada rantai ke tujuh dari silsilah guru-murid sampai ke Syaikh Ahmad Rifa’i, yaitu berturut-turut dari Kyai Soleh, Kyai Abdul Mannan, Kyai Maryani, Syaikh Abdul Qohar, Syaikh Maufuro  (lihat tabel di bawah ini).

SILSILAH DARI SYAIKH HAJI AHMAD RIFA’I SAMPAI KE DUKUH RAHARJO

Syaikh Ahmad Rifa’I Syaikh Maufuro               Syaikh Abdul Qohar

Kyai Soleh              Kyai Abdul Mannan                    Kyai Maryani

Dan sekarang di pegang oleh Kyai Mudlori Al Badar

Penyebaran ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i di Kabupaten Kendal dilakukan oleh murid-murid beliau, antara lain:

  1. Kyai Abdul Qohar dari Mbekingking Arjosari Cepiring (generasi pertama/ abad ke-19)
  2. Kyai M. Tubo dari Purwosari Patebon Kendal  (generasi pertama/abad ke-19)
  3. Kyai Mukhsin dari Cepokomulyo Gemuh Kendal  (generasi pertama/ abad ke-19)
  4. Kyai Idris dari Purwosari Patebon Kendal (generasi kedua/1920-an)
  5. KH. Ahmad Badri dari Purwosari Patebon Kendal (generasi kedua/ 1920-an)
  6. Kyai Bajuri  dari Kretegan Rowosari Kendal (generasi ketiga/ 1950-an)
  7. KH. Ridwan dari Purwosari Patebon Kendal (generasi keempat/ 1980-an)
  8. KH. Ali Munawir dari Tanjunganom Kendal (generasi kelima/1990an) dan masih banyak yang lainya.

Metode pengajaran ini menggunakan kitab-kitab yang dialihbahasakan oleh Syaikh Ahmad Rifa’i dari Bahasa Arab ke Bahasa Jawa atau yang lazim dinamakan Tarajumah(lihat gambar 7 kiri dalam lampiran). Maksud dari pengalihbahasaan itu (Tarajumah) agar ajaran yang disampaikan mudah di pelajari oleh orang-orang awam yang kurang memahami kitab-kitab berbahasa Arab atau biasa disebut “kitab kuning”. Semasa hidupnya, Syaikh Ahmad Rifa’i telah mengarang 53 buah kitab. Nama-nama kitab tersebut ditulis dalam daftar kitab yang disusun oleh Kyai Ahmad Nasihun bin Abu Hasan, yang meninggal pada 5 Mei 1969 atau bertepatan dengan 29 Robi’ul awal 1389 H di Paesan Tengah, Kedungwuni, Pekalongan. Susunan itu pernah dimuat dalam naskah sambutan ketua pembangunan gedung perpustakaan Annasihun yang di bacakan pada 14 Maret 1987 atau 14 Rajab 1407 H. Perpustakaan Annasihun yang berdiri di Paesan Utara, Kedungwuni, Pekalongan ini merupakan perpustakaan organisasi Rifa’iyah yang menyimpan kitab-kitab tarajumah karya Syaikh Ahmad Rifa’i (mengenai nama-nama kitab tersebut lihat lampiran I).

Salah satu dari puluhan kitab yang dikarang Syaikh Ahmad Rifa’i menjelaskan tentang Rukun Islam adalah satu.[7] Kitab yang dikarang beliau cukup ketat karena didalam kitab ini berisi larangan bagi orang-orang wanita supaya tidak membuka auratnya di tempat umum seperti membuka kerudung saat bepergian dan melarang laki-laki dan perempuan berada dalam satu tempat. Tentang masalah ini, seorang pengurus daerah Rifa’yah menjelaskan,

“Salah satu kelemahan orang-orang Rifa’iyah pada sa’at sekarang yaitu tidak mau memakai kerudung pada saat berpergian, inilah yang membuat beliau cemas bagaimana Rifa’iyah yang akan datang? Padahal memakai kerudung ini adalah salah satu ciri perbedaan antara orang-orang Rifa’iyah dengan orang non Rifa’iyah” (Wawancara dengan Bapak Ali Sibron di Desa Bantaran, Rowosari, Kendal,  28 Mei 2009)

Tetapi kata beliau, Organisasi Rifa’iyah yang ada di Kecamatan Rowosari masih terbilang bagus. Alasannya adalah kegiatan yang dilakukan oleh organisasi yang ada di situ berjalan lancar, seperti pengajian selapanan[8] dan pengajian yang dilakukan oleh orang tua setelah Sholat Maghrib. Bapak Ali Sibron juga menegaskan bahwa para pemuda Rifa’iyah yang tergabung dalamm organisasi-organisasi seperti IRMAS, AMRI, UMRI, dan lain-lain  terus yang ada di Desa bantaran terus melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.

B. IDENTITAS WARGA RIFA’IYAH

Warga Rifa’iyah mendasarkan identitasnya dengan kepribadian Islami, yaitu bersumber pada Al Qur’an, Al Hadis, Al Ijma’[9], Al Qiyas[10] atau kepribadian yang dianut oleh pengikut – pengikut faham Ahlissunnah Wal Jama’ah[11], diantaranya adalah :

1. Membiasakan menutup aurat bagi kaum laki-laki dan perempuan sejak masih kanak-kanak  sampai dewasa dan seterusnya dengan kebiasaan:

1.1 Bagi anak laki-laki diharuskan berpakaian yang menutup anggota tubuh      (aurat) minimal mulai dari pusat perut sampai kedua lututnya dengan cara membiasakan memakai kain panjang               .

1.2 Bagi anak perempuan diharuskan berpakaian yang menutup seluruh anggota tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangan dengan membiasakan memakai kain panjang atau cilbab atau kerudung.perintah untuk membiasakan hal semacam itu dimaksudkan adalah mendidik kepada anak dalam agama ( menutup aurat ). Hal ini didasarkan atas perintah Allah di dalam Al Qur’an Surat An Nur ayat: 31: ”Katakanlah kapada wanita yang beriman, agar merekapun menekurkan pandangan, dan memelihara anggota kemaluanya…(Ahmad Syadirin Amin, 1989;103).

2. Setiap mengadakan atau menyelenggarakan pengajian, perkumpulan, dan sebagainya, kaum laki-laki dan perempuan dibatasi dengan satir[12]. Tabir pembatas ini adalah untuk menghindarkan saling pandang antara laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim. Menurut kenyakinan warga Rifa’iyah, dasar pemikiran dari hal tersebut termaktub dalam Al Qur’an, Surat An Nur ayat 31:

“Katakanlah kepada kaum pria yang beriman, bahwa mereka hendaknya menundukkan pandangan matanya dan memelihara kehormatan dirinya. Itulah yang lebih bersih untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha waspada terhadap apa yang mereka lakukan “.

Bagi pengikut Rifa’iyah, terhindarnya saling pandang antara laki-laki dan perempuan dapat mencegah dari perbuatan dosa. Bila selamat dari dosa, konsekuensinya adalah, menurut mereka, akan mendapat cahaya ilahi (ma’rifatullah), sehingga dengan demikian bakal memperoleh ilmu yang banyak dan bermanfa’at. Kebiasaan semacam ini dilandaskan pada kitab yang masyhur dikalangan pesantren tradisional, yaitu Ta’limul Muta’alim dan kitab-kitab akhlaq lainya.

3. Selalu mengadakan atau menyelenggarakan shalat jama’ah di masjid, mushola, tajuk, surau, di rumah bersama keluarga, atau di mana saja tempat yang memungkinkan untuk menyelenggarakan shalat berjama’ah dengan memenuhi syarat-syarat antara imam dan makmum.

4.  Memilih orang sebagai imam, menurut keyakinan masyarakat Rifa’iyah, harus merupakan orang pilihan. Logikanya adalah karena imam itu sebagai panutan umat, maka tidak boleh mengangkat seorang imam secara sembarangan.  Seorang imam harus orang yang ahli shahih atau ahlul khoir (selalu berperilaku baik), tidak boleh orang yang sering berbuat kemaksiatan (fasiq), seperti pezina, peminum, penjudi, penipu, dan lain-lain. Dasar pemikirannya diambil dari kitab karangan Syaikh Ahmad Rifa’I, Ri’ayah Al-Himmah”:

“Dan haram atas orang ahli shahih dan ahli kebaikan mengikuti shalat di belakangnya orang fasiq dan bid’ah dan seumpama keduanya, karena sesungguhnya yang demikian itu menimbulkan anggapan baik pada manusia kepada imam fasiq dan bid’ah itu, dengan sebab adanya orang ( ahlu shahih dan ahlu khoir ) yang mengikutinya”.

5.  Senantiasa membaca dua kalimat syahadat dan maknanya setiap selesai shalat fardlu, baik  berjama’ah maupun sendirian dan di dalam acara-acara peringatan hari-hari besar Islam. Selain itu, tradisi pembacaan dua kalimat syahadat juga dilakukan dalam praktik tahlilan[13], manaqiban[14], pada akhir pembacaan talqin[15] di kuburan, sebelum menshalati jenazah, dan sebagainya.

6.  Selalu menggunakan kitab tarajumah did alam majlis ta’lim sebagai literature wajib atau rujukan pertama. Walaupuan demikian, apabila suatu masalah tidak ditemukan problem solving-nya dalam kitabtersebut, maka mereka akan mengambil rujukan pada kitab-kitab kuning.[16]

7. Setelah masuk shalat fardlu dan setelah di kumandangkan adzan warga Rifa’iyah dan Tarajumah membaca puji – pujian sambil menunggu datangnya imam shalat. Puji – pujian yang dimaksud disini adalah membaca kitab karangan Syaikh Ahmad Rifa’i.

8. Bagi anak-anak diharuskan hafal dari tanbihun pertama sampai tanbihun kedua.

Menurut Ahmad Syadzirin Amin, ada sekurangnya 28 pedoman berkepribadian bagi warga Rifa’iyah (1989: 102-128).  Delapan butir di di atas, menurut penulis ketika melakukan riset lapangan di Kendal, merupakan yang paling mencolok.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah meneliti Persebaran Ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i di Kabupaten Kendal, peneliti dapat membuat kesimpulan bahwa penyebaran ini dilakukan oleh murid beliau khususnya murid angkatan pertama seperti yang sudah dijelaskan  di atas. Setelah itu, tongkat estafet diteruskan ke generasi berikutnya. Sekarang, penyebaran ajaran Rifa’iyah di Kendal khususnya dan Indonesia pada umumnya berada di generasi yang kelima. Penyebaran lintas generasi yang berlangsung lebih dari satu abad itu menciptakan sebuah identitas bagi warga Rifa’iyah yang dalam beberapa hal  tampak berbeda dari identitas kelompok-kelompok muslim lainnya.

Peneliti juga menyimpulkan bahwa pada dasarnya ajaran tarajumah (Ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i) dengan ajaran non tarajumah yang dianut oleh golongan besar umat islam yang di  Indonesia itu sama. Yaitu tuhanya Allah Yang Maha Esa, Nabinya Muhammad,  Kitabnya Al Qur’an, Agmanya Islam, Qiblatnya Ka’bah Baitullah, Mekkah, saudaranya kaum muslimin muslimat dan kewajibannya, Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan sebagainya. Bagi warga rifa’iyah, perbedaan-perbedaan yang terjdi seperti rukun islam satu, jumlah minimal peserta solat jum’at dan lain-lain bukan merupakan masalah besar yang mencipta perpecahan antar golongan sesama muslim, tetapi menurut mereka, perbedaan itu justru adalah rahmat. Apalagi perbedaan-prbedaan tadi hanya masalah cabang agama (furu’iddin) yang tidak prisipil dan sudah biasa terjadi di kalangan umat Islam pada umumnya.

B. Saran

Kendati perjuangan Syaikh Ahmad Rifa’i pada masa hidupnya mendapat perlawanan sengit dari kalangan muslim lain dan paling utama dari pihak Kolonial Belanda, penyebaran ajaran rifa’iyahbterus berlangsung dan menyebar keberbagai daerah di nusantara. Kenyataan ini juga terjadi pada masa sekarang. Sebagian warga Rifa’iyah masih ada yang mendapat tentangan dari kalangan muslim lain. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada semua pihak yang terkait, terutama Pemerintah daerah, Departemen Agama, tokoh masyarakat dan tokoh ulama’, baik dari warga Tarajumah maupun non-Tarajumah, agar memberi bimbingan dan penerangan kepada masyarakat bahwa perbedaan-perbedaan tersebut hanya bersifat furu’iyah atau sesuatu yang bukan prinsipil (ushuliddin).  Bagi penulis, perbedaan semacam ini merupakan perbedaan dalam penafsiran ajaran aama dan sangat wajar terjadi dalam sebuah pergumulan pemikiran, tidak terkecuali dalam pemikiran Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Djamil, 1996, Perlawanan Kyai Desa tentang Pemikiran Gerakan Islam KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, Yogyakarta, LKiS

Ahmad Rifa’i, 1975, Syarihul Iman, Pekalongan: tanpa penerbit

Ahmad Syadirin Amin, 1989, Mengenal Ajaran Tarajumah Syaikh Ahmad Rifa’I, Jakarta: Jamaah Masjid Baiturrohman

____________, 1996, Gerakan Syaikh Ahmad Rifa’i dalam Menentang Kolonial Belanda, Jakarta: Jama’ah Masjid Baiturrohman

____________, 2004, Mengungkap Gerakan dan pemikiran Syaikh Ahmad Rifa’i, Pekalongan: Yayasan badan Wakaf Rifa’iyah

Shadiq Abdullah, 2006, Islam Tarajumah: Komunitas, Doktrin, dan Tradisi, Semarang: RaSail


[1] Dalam kamus bahasa Indonesia agitasi adalah hasutan atau adudomba

[2] Tantangan ; pancingan ; biasanya untuk hal yang bertujuan jelek

[3] Keamanan dan ketertiban

[4] Pandangan keagamaan yang masih kolot atau kuno

[5] Shalat yang dilakukan untuk “membayar hutang” shalat wajib (shalat lima  waktu) yang pernah ditinggalkan.

[6] Shalat qadha yang harus secepatnya dilakukan.

[7] Rukun Islam satu terus mengundang kontroversi dari kalangan  Islam  yang lain hingga hari ini. Meskipun demikian, dasar pemikiran yang digunakan oleh Syaikh Ahmad Rifa’i tetap bersandar pada Al-Quran dan  Hadist. Jadi, seperti yang dikisahkan oleh ulama-ulama Rifa’iyah, perdebatan tentang masalah ini tetap bisa diatasi.

[8] .suatu kegiatan keagamaan yang di lakukan setiap 35 hari sekali

[9] Ijma’ adalah kesepakatan para ulama tentang suatu masalah agama.

[10] Qiyas’ adalah analogi atau perumpamaan dalam suatu masalah agama.

[11] Faham ini sering disebut sebagai Islam Sunni.

[12] Kain yang di gunakan untuk membatasi atau memisahkan antara majlis laki-laki dan majlis perempuan.

[13] Tahlilan berasal dari Bahasa Arab, Tahlil, yaitu mengesakan Tuhan.  Dalam tradisi pesantren dan kebanyakan masyarakat Islam di Indonesia, tahlilan merupakan praktik pembacaaan doa yang biasanya dilakukan secara kolektif pada saat-saat tertentu, misalnya malam  Jum’at, dan hampir selalu disertai dengan yasinan (pembacaan  Surat Yasin).

[14] Manaqiban berasal dari kata manaqib yang artinya riwayat hidup seorang ulama dalam bentuk syair. Dalam tradisi pesantren, manaqiban merupakan praktik pembacaan riwayat hidup ulama besar Suni, Syaikh Abdul Qodir Jailani, sedangkan dalam komunitas Rifa’iyah bukan hanya itu, melainkan juga  pembacaan manaqib/ riwayat hidup Syaikh Ahmad Rifa’i.

[15] Talqin artinya mengingatkan. Biasanya dibaca oleh seorang kyai pada saat selesai penguburan mayat. Menurut keyakinan sebagian masyarakat Muslim, tujuan dari pembacaan talqin adalah agar si mayit bisa menjawab pertanyaan malaikat.

[16] Kitab kuning adalah sebutan akrab kalangan muslim tradisionalis terhadap buku-buku ulama abad pertengahan atau lazim disebut ulama salaf. Kitab yang popular dikalangan pesantren ini menggunakan Bahasa Arab tanpa harokat (tanda baca) dan cara membacanya harus menguasai ilmu nahwu shorof (aturan leksikal dan gramatikal). Akan tetapi, tidak semua kitab kuning menjadi rujukan utama, hanya yang merupakan karya ulama-ulama masyhur dan popular di kalangan Islam Sunni (ulama’ mu’tabar) yang dipakai.

Tags
Share

About Author

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Tugas kita mengabdi, sifat kita taslim wal inqiyad, istiqomah menjadi manusia biasa.

Related Articles

Hubungi Kami:

Admin1:
Admin2:
Admin3:
Admin4:
Admin5:
Admin6:

Home Office :
Jl.Napak Tilas No.2 Cepokomulyo Gemuh
Kendal Jawa Tengah 51356
Email: admin@tanbihun.com
Phone: +62 85781738844

Who's Online

98 visitors online now
Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site