Dulu, guru ngaji saya sering mengibaratkan Tuhan itu seperti energi setrum. Ia bisa include (kata yang paling pas apa ya…) dimana saja. Perantaranya bisa dikatakan sebagai kabel, air, tembaga, kawat, alumunium, dan segala jenis materi yang bisa mengantar setrum. Anda bisa memetik buah-buahan, dan mensyukuri nikmatnya buah, sehingga bisa mengingat siapa yang bikin buah, maka itu yang dinamakan Tuhan Inside (maaf pijem brand Pentium) di buah-buahan itu, tapi sebenarnya Tuhan paling dekat di hati manusia. Sehingga walaupun saban hari kita menyegarkan badan dengan ribuan liter air, kita tak pernah ingat siapa suplyer air. Kan berarti Tuhan hadir di air, ketika didahului Tuhan hadir dalam hati.
Kalau Rifaiyah sebagai materi, (kabel) ia bisa saja bubar. Karena sifatnya materi fana. Kapanpun organisasi Rifaiyah bisa bubar, semua pengurusnya bisa di dawuh untuk tidak aktif, atau plang, bendera, dan ubo rampe Rifaiyah bisa anda rongsokkan, tetapi siapa yang bisa membubarkan energi silaturahmi mereka, jalinan cinta kasih yang panjang dan mendalam. Energi saling kenal mengenal berdekatan walau ia senyatanya berjauhan. Anda tidak mungkin membubarkan bau kentut dengan tebasan pedang? Juga tak mungkin bubar aroma kedekatan emosional warga rifaiyah layaknya bau kentut yang membikin orang terheran-heran, sehingga mereka bertanya: “penyebabnya apa? Kok wewangian pengajian selapanan bisa semerbak itu guyubnya?”
Teman MI (Madrasah Ibtidaiyah) yang sampai sekarang masih menyukai panjat gunung sempat merasakan keheran, ketika mereka turun dari gunung sumbing – sindoro Wonosobo. Karena tersesat dia tak tahu jalan yang dilalui untuk sampai di perkampungan lereng gunung. Ketika melewati satu perkampungan ia mulai merasa akrab dalam pandangannya, alias saat dia berpapasan dengan orang-orang perkampungan situ, dalam batinnya mengatakan bahwa ada yang saya kenal. Minimal dari cara berpakaian mereka, peraupan ekspresi orang-orang disini, kata temanku, walau tak bisa diutarakan dengan kata, tetapi: “aku bisa merasakan kedekatannya di hati,” katanya.
Karena ia yakin bahwa dirinya ngambah perkampungan Rifaiyah, maka ketika waktu itu pas tiba dzuhur, dia dan teman-temannya ikut berjamaah di masjid untuk memastikan apakah benar ajaran Rifaiyah laksana air mengalir ke perkampungan ini. Sampai di tengah wiridan dia menemukan kalimat kunci “syahadat roro” yang menegaskan bahwa ini benar-benar pedukuhan wong mbudiah.
Kata dia, “sebagai tamu, jadi merasa dipertuan, walau belum disapa. Kayak di kampungnya sendiri.” Agaknya temanku ini tak mau menyia-nyiakan momen itu. Ia langsung berkeras-keras dalam melantunkan angawaruhi atiningsung. Tak butuh waktu lama, setelah wiridan, langsung temanku yang agak bawel ini disapa jamaah shalat lainnya. Diajak kenalan. Ditanya-tanya asal muasal alamatnya. Disambung-sambungkan jalur talian sanak silaturahminya, diajak nostalgia tentang cerita para tetangga tamu yang pernah menjadi teman akrabnya dulu di pondok.
“Dan cerita panjang lainnya, tanpa terasa membuat hubungan kita tanpa jarak. Sambung menyambung cerita yang dipungkasi dengan kata-kata pengakuan pada tamunya “oh…ternyata sampean wonge dhewe.” Pengakuan semacam itu, menjadikan hati terenyuh dan menunjukkan bahwa karomah Mbah Rifai yang jasadnya telah sumare menjadi perantara silaturahmi manusia yang masih hidup ini. Eiiit. Tidak sebatas itu, ia langsung diajak mampir ke rumah seorang warga, dan tentunya wajib makan!!!
Demikian itu masyarakat Rifaiyah dari dulu, dan mungkin hingga sekarang. Interaksi mereka bersifat kultural bukan structural, interaksinya cair bukan berundak-undak.
Secara antropologis warga Rifaiyah mempunyai karakter sebagai manusia gerilya, karena sebagian pengikut Diponegoro yang bubar dari barisan gerilyanya – Pangeran di Jebak di Magaleng oleh Belanda- mereka mencari ratu adil pasca Pangeran yang berkuda putih itu. Sangat jarang pada pertengahan abad 19 menemukan guru yang sepadan dengan beliau, yang berilmu dalam Ijtihad, mengucurkan darah dalam Jihad dan menghiasi hati dengan tetesan air mata Mujahadah, layaknya Mbah Rifai. Murid-murid Diponegoro yang membubarkan barisan perlawanannya bertebaran ke segala penjuru, dan sebagian diantaranya di tampung di Kawah Condrodimuko Kalisalak.
Manusia gerilya tak akan memandang secara structural, karena ia mempunyai fungsi sebagai bunglon. Kapan ia menyamar layaknya warga, kapan ia harus jadi telik sandi, kapan dia harus menyerang, dan kapan bernegosiasi saat dirinya terjebak deretan patroli pasukan musuh. Rifaiyah bukan hanya berperan layaknya Pimpinan Sidang yang pakem. Ia warga yang tidak mementingkan dirinya sebagai apa-apa, tetapi berusaha keras untuk mejadi untuk apa. Dalam benak batin mereka tak menghiraukan “kabel mukernas”, tetapi lebih dipentingkannya “setrum silaturahmi sanak sedulure“. Maka bagi “warga gerilya” tak penting keputusan Mukernas, tetapi kedatangan musyawirin ke perkampungan kitalah yang penting.
Warga Rifaiyah juga bagai air dalam melaksanakan tugas hidupnya. Kapan-kapan ia suka jadi kopi untuk sruputan penggemarnya para caleg, tapi tak jarang jadi teh nasgitel (panas legi kentel) bagi hidangan tamu-tamu yang menghendaki sahnya ibadah.
Dirinya juga siap menyesuaikan di tengah ruang yang dipertemukan kepadanya. Ia kadang menjadi air untuk cebok partai politik, atau diambil untuk diminum para pendahaga suara. Tapi yang menjadi kita bungah, dalam batin mereka selalu mengatakan gula tetap hanyut dalam air, tak bisa sebaliknya; air pura-pura melebur jadi kopi, padahal kopilah yang sirna dihadapan air. Air menjadi apapun mau dan bisa untuk kepentingan pelayanan kasih sayangnya, tetapi ia selalu ingat untuk menjadi air yang fitrah lagi, saat dia berubah menjadi air hujan. Ia sejati dari langit tak terkontaminasi apapun.
Manusia Rifaiyah adalah manusia air. Ia bisa menyambut janji menteri dengan suka cita demi kenyamanan tidur sang menteri. Ia dengan tulus melayani golkar, saat dirinya diterpa isu akan dibubarkan pemerintah pada tahun enampuluhan-tujuhpuluhan di Pekalongan. Padahal siapa yang bisa membubarkan Pendekar Setrum Rifaiyah ini? Bahkan Pendekar Kabel Golkar pun menyerah.
Wallahu ‘alaam bimuraadihi
Pekalongan, 28 Mei 2009
Ahmad Saifullah
Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

Itulah sebabnya almarhum Gus Dur ngotot menekankan tumbuh kembangnya islam cultural dibanding islam struktural. Karena terbukti Islam cultural lebih tahan banting. Sejarah membuktikan dua kekhalifahan Islam diserbu kekuatan asing dalam waktu yang hampir bersamaan.Yakni kekhalifahan Cordoba yang memiliki ciri Islam struktural dan kekhalifahan Baghdad yang memilik ciri Islam Cultural dengan tradisi tradisi Islam yang mengkultur. Maka Cordoba hancur tak berbekas, sedangkan Baghdad terbukti sanggup MENG-ISLAM KAN PENJAJAHNYA(kekhalifahan MOGUL Islam). Nah karena Rifa’iyah memiliki warna sendiri tradisi Islami yang mengkultur, maka Rifa’yah itu luwes dan alot serta tahan uji menghadapi tantangan zaman.