Syaikh Ahmad Rifa`i dalam Purifikasi Islam Tempo Doeloe di Indonesia

Wednesday, 8 July 2009 12:55 | Rifaiyah | 0 Comment | Read 957 Times

Oleh : Ali Khumaeni

Mahasiswa Universitas Fukui, Jepang

potombahSyaikh Ahmad Rifa`i adalah salah satu pahlawan nasional abad 19 yang dikukuhkan oleh pemerintah Indonesia melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2004. Kalau melihat sejarah perjuangannya, beliau bukan hanya sebagai seorang pahlawan yang menentang agresi belanda, namun juga seorang tajdid (pembaharu) di abadnya. Visi utama beliau adalah melakukan purifikasi (pemurnian) syari`at Islam yang sudah terkontaminasi oleh kebiasaan dan kebudayaan masyarakat Jawa yang notabene berasal dari ajaran Hindu dan Budha yang menyebabkan umat Islam sudah tidak mengikuti syari`at Islam dengan baik. Selain itu, beliau juga sangat menyayangkan para ulama pada saat itu yang lebih bersifat kooperatif terhadap pemerintah Belanda dalam mengejar kepentingan dunia dibanding perintah syara`. Contoh gambaran kondisi masyarakat pada saat itu tertuang dalam salah satu bait syair yang beliau tulis dalam kitab Ri`ayah al himmah halaman 17,

Podo ngaku Islam ujar puro-puro

Tan nggugu ing sebenere syara` wicoro

Gegayungane mung anut adat negoro

Atine kafir luwih gede keno leloro

Terjemahan

Mengaku Islam ucapannya hanya berpura-pura

Tidak mengikuti hukum syara` yang sudah ada

Hanya bergantung pada kebiasaan pemerintah

Hatinya kafir terkena penyakit yang lebih besar.

Selain itu Prof. Dr. Sartono Katodirdjo juga menguatkan fakta tersebut dalam bukunya yang berjudul “Protest Movement in Rural Java” halaman 27,

It is reasonable assumption that from the earliest Islamic times in Indonesia, there have existed sects professing doctrines not based on the quran but originating from pre-Islamic Javanese tradition.

Terjemahan,

Merupakan sebuah asumsi yang realistis bahwa awal-awal Islam di Indonesia telah ada golongan-golongan yang memberikan doktrin-doktrin yang tidak berdasarkan al quran tetapi berasal dari tradisi jawa sebelum Islam.

Kondisi tersebut secara alamiah tercipta sejak kali pertama Islam memasuki tanah Jawa. Sebagaimana diketahui, Islam mulai memasuki tanah jawa melalui para pedagang dari timur tengah dan Asia selatan. Metode pendekatan penyebaran agama Islam pada saat itu dilakukan dengan pendekatan budaya. Misalnya melalui pertunjukan wayang dan lain-lain. Proses internalisasi nilai-nilai islam secara kaffah (menyeluruh) ke dalam masyarakat melalui pendekatan tersebut ternyata sangat sulit untuk dilakukan. Hal ini terbukti sejak sepeninggal para penyebar agama Islam, masyarakat masih mempertahankan kesyirikan-kesyirikan. Tingkat kemerosotan kehidupan agama semakin merosot ketika Belanda melakukan agresinya di Indonesia. Sejak pemerintahan dipegang oleh Belanda, masyarakat mempunyai gaya hidup kekafir-kafiran diantaranya dengan mengadakan pertunjukan wayang, main gamelan, berjudi, dan lain-lain sebagaimana disebutkan dalam salah satu kitab beliau yaitu kitab Nadzam Wikayah. Gambaran lebih jelas kondisi umat Islam saat itu bisa dilihat dari sejumlah karya beliau berupa kitab tarajumah (sampai saat ini sudah ditemukan sejumlah 65 kitab) yang berisi tentang penjelasan pokok dan cabang dari syari`at Islam melalui penerjemahan berbagai referensi kitab (Al qur`an, Al hadits, kitab-kitab ulama) ke dalam bahasa jawa dan sansekerta dengan tulisan khas huruf arab pegon.

Dalam menyikapi kondisi tersebut, Pasca kepulangan belajar ke Arab Saudi dan Mesir selama lebih kurang 20 tahun, Syaikh Ahmad Rifa`i melakukan dakwah secara lisan dengan mendatangi majelis-majelis misalnya di kabupaten Kendal dan Wonosobo Jawa Tengah. Selain itu, untuk memperkuat gerakan dakwahnya, beliau mendirikan pesantren di kalisalak Batang Jawa Tengah. Dakwah yang dilakukan oleh beliau tidak hanya melakukan filtrasi kebudayaan dalam ajaran Islamtetapi juga banyak menkritik kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda yang saat itu sedang berkuasa. Beliau menyampaikan bahwa belanda adalah kafir yang wajib diperangi dan para pengikutnya termasuk tumenggung, lurah, haji yang mengikutinya dan para birokrat tradisional termasuk orang-orang munafik. Berikut ini bentuk kritikan dan protes Syaikh Ahmad Rifa`i yang dituangkan dalam kitab Nadzam Wikayah dan Tarikoh.

Slamete dunyo akhirat wajib kiniro

Ngelawan raja kafir sakuasane kapikiro

Tur perang sabil luwih kadene ukoro

Kacukupan tan kanthi akeh bala kuncara

Terjemahan

Keselematan dunia akhirat wajib diperhitungkan

Melawan raja kafir perlu dipikirkan semampunya

Demikian juga perang sabil lebih daripada ucapan

Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar

Ghalib alim lan haji pasik pada tulung

Maring raja kafir asih pada junjung

Ikulah wong alim munafik imane suwung

Dumeh diangkat derajat dadi tumenggung

Lamon wong alim weruho ing alane wong takabur

Mengko ora tinemu dadi kadi milahur

Terjemahan

Umumnya `alim dan haji fasik menolong

Terhadap raja kafir (Belanda) dan senang mendukung

Itulah orang `alim munafik yang mempunyai iman kosong

Karena merasa diangkat menjadi tumenggung

Jika orang `alim menunjukkan jeleknya orang takabur

Nanti tidaklah mungkin dapat kadi terkenal.

Syair tersebut di atas menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan yang terjadi pada umat Islam. Selain agresi Belanda yang menyengsarakan kehidupan umat, Banyak tokoh-tokoh yang justru mengabdi kepada pemerintah kolonial tersebut. Oleh karena itu, beliau merasa perlu menyampaikan kepada umat dan juga para tokoh masyarakat, perlunya purifikasi terhadap nilai-nilai Islam dan juga totalitas dalam memeluk Islam. Beliau menyampaikan perlunya tidak hanya sebatas mengimani syari`at Islam tetapi juga harus belajar dan mengamalkannya sesuai dengan tuntutan syari`at tersebut sebagaimana disampaikan dalam sya`ir dari kitab Ri`ayah Al Himmah,

Akeh wong podho ngestoaken ing syari`at

Tetapi teksir podho tinggal kang dadi syarat

Hasil bekjo gede kang tinemu sah taubat

Jazem pangestune kang munfaat akhirat

Syahadat ibadat rukun syarat kapepekan

Ikulah arep nyito ing sahe iman

Terjemahan

Banyak orang yang beriman terhadap syari`at Islam

Tetapi tidak mau belajar yang sebenarnya menjadi sebuah syarat

Mendapatkan hasil keuntungan yang besar dengan taubat yang sah

Kekal keimanan yang bermanfaat untuk akhirat

Syahadat, ibadah, rukun dan syaratnya terpenuhi

Itulah untuk bercita-cita dengan sah iman

Dari pemaparan syair-syair tersebut di atas dapat diringkas bahwa Syaikh Ahmad Rifa`i dalam melakukan aktifitas dakwahnya dilakukan dengan pendekatan tulisan melalui penerjemahan berbagai referensi kitab arab ke dalam bahasa masyarakat (jawa). Hal ini diharapkan, masyarakat akan lebih cepat memahami syari`at Islam sehingga mudah untuk mengamalkan. Dakwah beliau berkaitan dengan perlunya menuntut ilmu syariat sebelum beramal. Tiga pokok ajaran Islam yang selalu beliau tekankan yakni, akidah yang kuat, pemahaman syariah ibadah yang kaffah, dan disempurnakan dengan akhlak mahmudah (terpuji). Akidah yang kuat dibuktikan dengan ketundukan pada syariat Allah secara totalitas sehingga tidak ada bentuk pengabdian apapun baik kepada pemerintah belanda ataupun yang lainnya kecuali hanya tunduk dan patuh kepada Allah. Pemahaman syari`ah ibadah yang kaffah ditunjukkan dengan menuntut ilmu ibadah (contoh: Ibadah sholat, zakat, Haji, dan Ibadah-ibadah lainnya yang sesuai dengan syari`at Allah) dan mengamalkannya sesuai dengan syari`at tidak beribadah secara sembarangan. Akhlak mahmudah sebagai penyempurna akidah yang kuat dan ibadah yang kaffah. Demikianlah bentuk perhatian Syaikh Ahmad Rifa`i terhadap kondisi masyarakat pada saat itu. Beliau sudah mengawali purifikasi Islam di tengah-tengah umat yang tersesat dengan keindahan dunia yang bersifat fana.

Share on :

About

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: ,

Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site