Tanbihun – (Algeria’s ‘Dirty’ Civil War)
Diterjemahkan oleh: KH. Khaeruddin
January 11, 1992 – The second round of what would have been Algeria’s first democratic elections is cancelled by military, who stage a coup d’état to prevent a victory by the Islamic Salvation Front (FIS).
11 Januari 1992 – Putaran kedua dari apa yang akan menjadi pemilu demokratis pertama Aljazair dibatalkan oleh militer, dengan menggelar kudeta untuk mencegah kemenangan oleh Front Keselamatan Islam (FIS).
June 29, 1992 – Mohamed Boudiaf, the Algerian president and a founding member of the FLN who had returned from exile to govern the country at the military’s request five months earlier, is assasinated by one of his bodyguards. Boudiaf was on the verge of launching a major investigation into corruption and had removed several highly-ranked military officials from their posts.
29 Juni 1992 – Mohamed Boudiaf, presiden Aljazair dan anggota pendiri FLN yang telah kembali dari pengasingan untuk memerintah negara atas permintaan militer lima bulan sebelumnya, telah dibunuh oleh salah seorang pengawalnya. Boudiaf berada di ambang meluncurkan penyelidikan besar terhadap korupsi dan dapat merontokkan para pejabat militer tingkat tinggi dari jabatan mereka.
October 30, 1993 – The Armed Islamic Group (GIA) issues an ultimatum for all foreigners to leave the country.
30 Oktober 1993 – The Armed Islamic Group (GIA) mengeluarkan ultimatum bagi semua orang asing untuk segera meninggalkan negara itu.
December 1993 – The monks make a non-aggression agreement with Sayah Attiya, then head of the GIA in the Médéa region. The monks agree to treat wounded fighters.
Desember 1993 – Para biarawan Kristen membuat perjanjian non-agresi dengan Sayah Attiya, yang saat itu menjabat sebagai kepala GIA di wilayah Medea. Para biarawan setuju untuk mengobati para pejuang yang terluka.
February 1994 – Sayah Attiya is killed.
Februari 1994 – Sayah Attiya dibunuh.
March 26-27, 1996 – Around twenty armed men force their way into the Tibéhirine monastery, taking Christian, Luc, Christophe, Michel, Célestin, Paul and Bruno captive. Two members of the community escape.
26-27 Maret, 1996 – Sekitar dua puluh orang bersenjata memaksa masuk kedalam biara “Tibéhirine”, menculik orang- orang Kristen didalamnya, diantaranya: Luc, Christophe, Michel, Célestin, Paulus dan Bruno dan menawan mereka. Dua anggota masyarakat dapat meloloskan diri.
April 18, 1996 – Djamel Zitouni, head of the Armed Islamic Group (GIA), claims responsibility for the kidnapping in a statement.
April 18, 1996 – Djamel Zitouni, kepala Armed Islamic Group (GIA), mengeluarkan klaim bahwa mereka bertanggung jawab atas penculikan tersebut dalam sebuah pernyataan.
April 30, 1996 – A messenger from the kidnappers delivers an audio cassette of the hostages’ voices, demanding that the French government release prisoners linked to the GIA in exchange for the monks’ freedom.
April 30, 1996 – Seorang utusan dari penculik memberikan sebuah kaset audio berisi suara dari sandera, yang isinya menuntut pelepasan tahanan pemerintah Perancis yang terkait dengan GIA dalam pertukaran untuk pembebasan para biarawan.
May 21, 1996 – A second statement claiming to be from the GIA announces that the monks have been killed. “We have slit the throats of the seven monks, as promised,” it declares.
21 Mei 1996 – Sebuah pernyataan kedua yang mengaku dari GIA mengumumkan bahwa para biarawan telah dibunuh. “Kami telah menggorok leher tujuh biarawan, seperti yang dijanjikan,” demikian isi pernyataannya.
May 30, 1996 – The Algerian authorities inform French embassy officials that they have found the monks’ remains near Médéa.
30 Mei 1996 – Pihak berwenang Aljazair menginformasikan kepada para pejabat kedutaan Prancis bahwa mereka telah menemukan jenazah biarawan didekat Medea.
May/June – Authorities try to prevent Father Armand Veilleux from seeing the monks’ bodies. After insisting that they unseal the coffins, he discovers that only the heads are present.
Mei / Juni – Pihak berwenang mencoba mencegah Bapa Arman Veilleux dari melihat tubuh jenazah para biarawan. Setelah bersikeras, akhirnya mereka membuka segel peti mati, ia menemukan bahwa yang tersisa hanya bagian kepala. .
June 2, 1996 – A funeral service is held for the monks at the Notre Dame d’Afrique basilica in Algiers. They are buried three days later at the Tibéhirine monastry.
2 Juni 1996 – Sebuah Acara Pemakaman diadakan bagi para biarawan di Notre Dame d’Afrique basilika di Algiers. Mereka dikubur tiga hari kemudian di Monastery Tibéhirine
July 16, 1996 – Djamel Zitouni is reportedly killed.
16 Juli 1996 – Djamel Zitouni dilaporkan tewas.
July 20, 1996 – Jérôme Monod, CEO of Lyonnaise des Eaux and close to Jacques Chirac, the French president, visits Algeria to discuss investment opportunities.
20 Juli 1996 – Jérôme Monod, CEO “Lyonnaise des Eaux” dan punya hubungan dekat dengan Jacques Chirac, presiden Prancis, melakukan kunjungan ke Aljazair untuk membicarakan peluang investasi.
July 31, 1996 – Hervé de Charrette, the French minister of foreign affairs, visits Algeria. He meets with Pierre Claverie, the bishop of Oran.
31 Juli 1996 – Hervé de Charrette, Menteri Luar Negeri Perancis, melakukan kunjungan ke Aljazair. Ia bertemu dengan Pierre Claverie, uskup Oran.
August 1, 1996 – Pierre Claverie is killed in a bomb explosion outside his home.
1 Agustus 1996 – Pierre Claverie tewas dalam ledakan bom di luar rumahnya.
July 17, 1997 – Sid Ali Benhadjar, a former GIA emir of the Médéa region who had quit the group to form his own group, the Islamic League of Dawa and Jihad, issues a statement accusing the Algerian authorities of having infiltrated the GIA and ordered the kidnapping of the monks.
17 Juli 1997 – Sid Ali Benhadjar, seorang emir GIA mantan wilayah Medea yang telah keluar dari kelompok itu untuk membentuk kelompok sendiri, “Liga Islam Dawa dan Jihad”. Sid Ali mengeluarkan pernyataan yang menuduh pemerintah Aljazair memiliki penyusup kedalam jaringan GIA dan memerintahkan penculikan para biarawan.
1997-1998 – A succession of brutal massacres by unidentified armed men plunges the country into even further violence. Questions are raised about suspected links to the Algerian security forces, who repeatedly fail to intervene or capture those doing the killing.
1997-1998 – Sebuah suksesi pembantaian brutal oleh orang-orang bersenjata tak dikenal menjerumuskan negara itu menuju kekerasan lebih lanjut. Pertanyaan berkembang, menduga adanya link pelakunya adalah pasukan keamanan Aljazair, yang berulang kali gagal untuk campur tangan atau menangkap mereka yang dituduh melakukan pembunuhan- pembunuhan itu.
1998 – A faction of the GIA, dissenting with the massacres of civilians, splits to create the Salafist Group for Preaching and Combat (GSPC).
1998 – Sebuah faksi GIA, tidak setuju dengan pembantaian warga sipil, perpecahan terjadi dengan terbentuknya “Kelompok Salafis bagi Da’wah dan Perlawanan” (GSPC).
January 2001 – Habib Souaïdia becomes the first Algerian officer to allege that members of the security forces had committed many of massacres dressed as “Islamists”. He outlines a ruthless strategy of “terrorising the terrorists,” in his book “The Dirty War: 1992-2000″.
Januari 2001 – Habib Souaïdia menjadi pejabat Aljazair pertama yang menyatakan bahwa anggota pasukan keamanan telah melakukan banyak pembantaian, mereka berpakaian sebagai kelompok “Islamis”. Dia menguraikan strategi kejam “meneror para teroris,” dalam bukunya “Perang Kotor: 1992-2000″.
April 2001 – A group of Algerians file suit in a French court against General Khaled Nezzar, Algeria’s former defence minister, for crimes including torture when the general is visiting Paris. Nezzar is tipped off and quits the country.
April 2001 – Sekelompok warga Aljazair mengajukan gugatan di pengadilan Perancis melawan Jenderal Khaled Nezzar, mantan menteri pertahanan Aljazair, atas kejahatan termasuk penyiksaan ketika jenderal itu mengunjungi Paris. Nezzar menghentikan kunjungannya dan segera keluar dari Perancis.
July 2002 – Nezzar sues Souaïdia for defamation in a Paris court, after Souaïdia – living in exile in France – accused him of “being responsible for the deaths of thousands of people”. The case becomes a rallying point for Algerian dissidents, who give evidence to support Souaïdia’s assertions before the court. Nezzar loses.
Juli 2002 – Nezzar menggugat Souaïdia untuk pencemaran nama baik di pengadilan di Paris, setelah Souaïdia – ia hidup di pengasingan di Perancis – menuduhnya “bertanggung jawab atas kematian ribuan orang”. Kasus ini menjadi titik kumpul bagi para pembangkang Aljazair, yang memberikan bukti untuk mendukung pernyataan Souaïdia sebelum pengadilan. Nezzar kalah dalam pengadilan.
December 23, 2002 – Abdelkader Tigha, a former officer in the Blida branch of the Algerian secret services’ counterespionage department, tells the French daily Libération that the operation was planned by his superiors to “poison” international opinion against “Islamist barbarity”.
23 Desember 2002 – Abdelkader Tigha, seorang mantan perwira di cabang Blida departemen “Layanan Kontra Spionase Rahasia Aljazair”, menceritakan kepada Harian Prancis “Libération” bahwa operasi pembantaian itu direncanakan oleh atasannya untuk “meraracuni” opini internasional melawan “kebiadaban Islam”.
January 24, 2003 – Father Armand Veilleux writes an article in Le Monde, arguing the kidnapping was a false flag operation designed to “convince French politicians and the French people of the dangers of Islamism”.
24 Januari 2003 – Pastor Armand Veilleux menulis sebuah artikel di “Le Monde”, dengan alasan penculikan adalah sebuah “Operasi Pengkambinghitaman”, dirancang untuk “meyakinkan politisi Perancis dan orang Perancis akan bahaya nya Islamisme”.
September 2003 – Mohammed Samraoui, the former second-in-charge of the counterinsurgency and internal security department of the Algerian secret services, comes out with his own book in 2003, “Chronicles of the years of blood”. He alleges a small group of generals deliberately created the armed “Islamist” groups to protect their grip on power.
September 2003 – Mohammed Samraoui, mantan orang kedua yang menjabat sebagai pimpinan “ Dinas Kontrainsurgency Departemen Keamanan Internal dan Dinas Rahasia Aljazair”, menerbitkan bukunya sendiri pada tahun 2003, berjudul: “Chronicles Tahun-tahun Berdarah”. Dia menuduh sekelompok kecil jenderal sengaja menciptakan kelompok bersenjata “Islam”, kelompok yang dibentuk untuk melindungi cengkeraman mereka pada kekuasaan.
December 2003 – Father Veilleux and the family of Christophe Lebreton, one of the deceased monks, file suit to have the allegations made by the Algerian dissidents investigated.
Desember 2003 – Bapa Veilleux dan keluarga Christophe Lebreton, salah satu biarawan yang menjadi korban, mengajukan gugatan agar temuan yang berisi tuduhan yang dibuat oleh para pembangkang Aljazair diselidiki.
March 2006 – A presidential decree in Algeria grants blanket amnesty for the security forces, state-armed militias and many members of the armed groups. The law criminalises questioning the role the security forces and their allies played in the civil war – effectively silencing families of the disappeared and media.
Maret 2006 – Sebuah keputusan presiden tentang “Payung Amnesty Umum Aljazair” dideklarasikan, yang diberikan kepada seluruh Aparat Keamanan, milisi bersenjata bentukan pemerintah dan banyak anggota kelompok bersenjata lainnya. Para pakar Hukum Kriminal yang sedang mempertanyakan peran pasukan keamanan dan sekutu mereka bermain dalam perang sipil – secara efektif telah dibungkam, tidak tampak lagi dan menghilang dari media
July 6, 2008 – An anonymous source tells the Italian newspaper La Stampa that the monks were killed by Algerian army M124 helicopters, not the GIA.
6 Juli 2008 – Sebuah sumber anonim mengatakan kepada surat kabar Italia “La Stampa”, bahwa para biarawan dibunuh oleh helikopter M124 tentara Aljazair, bukan oleh GIA.
June 25, 2009 – Retired General François Buchwalter, former military attach testifies that the monks were killed in a “blunder” by the Algerian military attaché and not by the GIA.
25 Juni 2009 – Jenderal Purnawirawan François Buchwalter, mantan Atase Militer (Perancis) memberi kesaksian bahwa para biarawan tewas dalam sebuah “kesalahan” oleh atase militer Aljazair, dan bukan oleh GIA.
July 9, 2009 – French president Nicolas Sarkozy promises that “there will be no classified information in this case,” yet in spite of the allegations, stresses that he is remains convinced that the monks were killed by the GIA.
9 Juli 2009 – Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menjanjikan bahwa “tidak akan ada informasi rahasia dalam kasus ini,” namun meskipun banyak tuduhan, ia menekankan bahwa ia tetap yakin bahwa para biarawan dibunuh oleh GIA.
August 20, 2009 – Judge Marc Trévidic sends letters to the ministers of defence, the interior and foreign affairs, requesting the declassification of documents relevant to the case.
20 Agustus 2009 – Hakim Marc Trévidic mengirimkan surat kepada Menteri Pertahanan (Perancis), Urusan Dalam dan Luar negeri, meminta deklasifikasi dokumen yang relevan dengan kasus ini.
May 2010 – A film about the monks of Tibéhirine, “Of Gods and men” by Xavier Beauvois, debuts at Cannes.
May 2010 – Sebuah film tentang para biarawan Tibéhirine, “Dari Dewa dan laki-laki” oleh Xavier Beauvois, ditayangkan pertamakali di Festival Cannes.
October 2010 – Judge Trévidic requests the declassification of second round of documents from French authorities.
Oktober 2010 – Hakim Trévidic meminta deklasifikasi putaran kedua dokumen dari pihak berwenang Prancis.
(Lihat juga: Uncovering Algeria’s Civil War: A French investigation into the deaths of seven monks is challenging the wars historical Narrative- by Yasmine Ryan, Al- Jazeera)





