Tanbihun Online

Biografi Lengkap Uwais al-Qarny

Biografi Lengkap Uwais al-Qarny

Biografi Lengkap Uwais al-Qarny
December 30
14:38 2012

Keutamaan Uwais al-Qarny

uwaisOleh: Ibnu Khasbullah

Tanbihun.com- “Seseorang yang bila hadir tak ada yang peduli – bila ia tak nampak tak ada seorangpun yang mencari. Seorang yang tiada dikenal dibumi namun amat masyhur di langit, dan dia, jika bersumpah demi Allah pastilah terkabul”. Dialah Uwais Al- Qorny Al- Yamani.

Dari Usair bin Jabir beliau berkata, “Adalah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu apabila ditemui oleh gubernur-gubernur Yaman beliau selalu bertanya, ‘Adakah diantara kalian yang bernama Uwais bin Amir?’. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan Uwais dan beliau berkata,

‘Engkau Uwais bin Amir?’. Uwais menjawab, ‘Ya’. ‘Dari Murad?, kemudian Qarn?’.  Uwais menjawab, ‘Ya’.  ‘Engkau pernah terkena penyakit belang, kemudian sembuh dan tersisa bekasnya sebesar koin dirham?’ Uwais menjawab, ‘Ya’. ‘Engkau tinggal bersama ibumu?’ Uwais menjawab, ‘Ya’.

Umar berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يأتي عليكم أويس بن عامر مع أمداد أهل اليمن من مراد  ثم من قرن, كان به برص فيرأ منه إلا موضع درهم,  له والدة هو بها بر, لو أقسم على الله لأبره , فإن استطعت ان يستغفر لك فافعل. وساق الحديث  إلى أن  ذكر إجتماع عمر به, فاستغفر لي-  فاستغفر له . فقال له أين تريد؟ الكوفة قال: ألا أكتب لك إلى عاملها؟  قال  أكون في غبراء الناس أحب الي

“Uwais bin ‘Amir akan datang bersama rombongan gubernur Yaman, dia berasal dari Murad, kemudian tinggal di Qarn, dia punya penyakit belang, kemudian sembuh kecuali tersisa bekas sebesar koin dirham, dia punya seorang ibu dan sangat berbakti pada ibunya, andai ia berdoa kepada Allah pasti akan terkabul, maka jika engkau bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun atasmu, lakukanlah’.

Umar berkata, ‘Maka mohonkanlah ampun untukku’. Uwais pun berdoa memohonkan ampun bagi Umar. Umar lantas berkata, ‘Hendak kemana engkau pergi?’. Uwais menjawab, ‘Kuffah’. Umar bertanya lagi, ‘Maukah aku tuliskan surat agar gubernur Kuffah melayanimu?’. Uwais menjawab, ‘Berada di tengah-tengah manusia (sebagai manusia kebanyakan) lebih aku sukai daripada menjadi orang terkenal’. (HR Muslim no. 2542)

Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarny”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Sebagaimana sabda Nabi dalam sebuah hadist Qudsi: bersumber dari Sahabat Abu Hurairah, ra Nabi Muhammad (saw) berkata berbicara dari Tuhannya: “Allah, Yang Maha Perkasa dan adalah Dia- Dzat Yang Mengasihi ciptaan-Nya yang takut akan Allah, yang suci hatinya, mereka yang tersembunyi, dan mereka yang tidak mau melanggar larangan Allah, yang wajahnya berdebu, yang rambutnya tak terawat, yang perutnya kosong, dan yang, jika ia meminta izin untuk masuk ke penguasa, tidak diberikan, dan jika ia meminta seorang wanita baik- baik untuk dinikahi,si wanita akan menolak, dan ketika ia meninggalkan dunia, tidak ada yang merindukannya, dan jika ia pergi keluar, tak seorangpun perduli, dan jika dia jatuh sakit, ia tidak diperhatikan, dan jika ia mati, ia tidak diiringkan ke kuburnya……. “.

قالوا يا رسول الله كيف لنا برجل منهم؟  قال: ذاك أويس القرني

Para sahabat bertanya: “Siapakah dia diantara kita ya Rasululloh?” Rasul menjawab: “Orang yang dimaksud adalah Uwais Al- Qorny” (Ada’watut Taammah Wa Tadzkirotul ‘AAmmah halaman 64)

Biografi Uwais al-Qarny

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, suka membaca Al-Qur’an dan menangis ketika membacanya, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut pula, yang satu helai untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Pemuda dari desa Qorn – Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing dan unta. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Beliau lahir dan besar di Yaman. Adz Dzahabi berkata mengenai beliau, “Seorang teladan yang zuhud, penghulu para tabi’in di zamannya, termasuk diantara wali-wali Allah yang shalih lagi bertaqwa, dan hamba-hamba Nya yang ikhlas” (Siyar A’lam An Nubala’ 4/19)

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak memengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.

Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, mereka pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?

Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.

Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, “Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidah Fathimah binti Muhammad SAW, sambil menjawab salam Uwais.

Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang.

Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”.

Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada Sayyidah Fathimah a.s. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Rupanya Nabi Muhammad telah mengetahui tentang Uwais dari Malaikat Jibril. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarny adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah a.s. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi Sayyidah Fathimah a.s., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah SAW bersabda : “Aku berpesan agar kalian, cari Uwais Al- Qorny. Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarny), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dan Umar bin Khattab dan bersabda, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan Abu Bakar telah di estafetkan Khalifah Umar bin Khattab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda dan wasiyat Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarny, sang penghuni langit. Ia segera mengingatkan kepada Imam Ali a.s. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.

Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman memang sering menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu saat, ketika Uwais al-Qorni tak kunjung ketemu, Umar pun dengan kebijakannya memerintahkan agar semua penduduk Yaman yang telah dewasa agar berangkat menunaikan ibadah haji atas undangan Khalifah. Maka pada tahun tersebut, berangkatlah hampir seluruh lelaki dewasa dari Yaman. Melihat rombongan kafilah dari Yaman datang, segera khalifah Umar bin Khattab dan Imam Ali a.s. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa tidak ada nama Uwais yang layak dicari oleh Khalifah. Yang ada adalah seseorang yang kebetulan bernama Uways, tapi ia hanyalah seorang penggembala unta dan domba yang tak selayaknya dicari. Uways penggembala itu memang ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorny.

Sesampainya di kemah tempat Uways berada, Khalifah Umar bin Khattab dan Imam Ali a.s. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan shalat dikerumuni oleh kelompok unta sehingga terhalang dari pandangan. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW sesuai hadist riwayat Muslim. Memang benar! Dia penghuni langit, sebagaimana pertanda yang diberikan Nabi! Uwais pun ditanya oleh kedua tamu tersebut: “Siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais.

Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Anda berdua sebetulnya siapa?” Kami ini Amirul Mu’minin Umar bin Al- Khottob dan ini Ali” Ketika itu barulah Uwais berkata: ”Nama saya Uwais al-Qorny”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa sang ibu telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Imam Ali a.s. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda sesuai wasiyat Rasul”. Uwais menjawab: “Do’aku bukan hanya untuk kalian berdua, namun untuk seluruh penghuni alam”.

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorny akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar…. (Syekh Alwi Al- Haddad: Ad- Da’watut Taammah Wa Tadzkiroul ‘Aammah halaman 65″).Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Namun Syukurlah, beberapa hadist menyebutkan tentang riwayat Uwais Al- Qorny yang dapat kita jadikan teladan: “Seseorang yang bila hadir tak ada yang peduli- bila ia tak hadir tak ada seorangpun yang mencari. Seorang yang tiada dikenal dibumi namun amat masyhur di langit”, dialah Uwais Al- Qorny Al- Yamani.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, pernah memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata, “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”

Wafat Uwais Al Qarni Rahimahullah

Mayoritas ulama menyebutkan beliau wafat di hari perang Shiffin (37 H), beliau berada di barisan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan gugur.

وروي  عن عبد الرحمن بن أبي ليلي  رحمه الله قال: نادى مناد يوم صفين : أوفى القوم أويس القرني؟  فوجد في القتلى من أصحاب علي  رضي الله عنه وعنهم أجمعين .

Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.

Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorny pada masa pemerintahan Sayyidina Ali)

Meninggalnya Uwais al-Qorny telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.

Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorny? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorny” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Referensi:

About Author

admin

admin

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

Related Articles

Hubungi Kami:

Admin1:
Admin2:
Admin3:
Admin4:
Admin5:
Admin6:

Home Office :
Jl.Napak Tilas No.2 Cepokomulyo Gemuh
Kendal Jawa Tengah 51356
Email: admin@tanbihun.com
Phone: +62 85781738844

Who's Online

66 visitors online now
Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site