Syeikh Siti Jenar : Wali Kesepuluh

Hosting Unlimited Indonesia


Tanbihun.com – Mengkaji sejarah merupakan sebuah upaya yang tidak mudah apalagi bila realitas sejarah tersebut terlah menjadi opini yang menghegemoni atau hanya sekedar suara simbang yang kurang dapat dibuktikan. Kenyataan tersebut menimpa sejarah ulama agung, Syeikh Siti Jenas, Keberadaannya yang misterius membuat pelbagai kalangan terjebak dalam data-data sejarah yang tidak bisa dibuktikan keabsahannya sampai sekarang.

Oleh sebab itu, melalui sebuah karya seorang ulama Jawa TImur, tersohor KH. Abil Fadhol Senori Tuban dalam karyanya “Ahla al Musamarah Fi Hikayah al-Auliya al Asyrah (Sekelumit hikmah tentang wali ke sepuluh). Penulis meraba menampilkan sejarah yang sinkron dengan realitas. Mendengar karya tersebut, tentu kita akan takjub, sebab selama ini yang terkenal di Jawa sebagai penyebar agama Islam adalah walisongo atau wali sembilan. Nah KH, ABil Fadhol ingin menyampaikan realitas abu-abu sejarah yang selama ini terabaikan sebab realitanya Syeikh Siti Jenar sering di klaim sebagai seorang ulama yang sesat dan menyesatkan. Gagasan KH. ABil Fadhol sebenarnya kian bergulir semenjak berpuluh-puluh tahun lalu, tapi karena kehati-hatian beliau kraya-karya beliau tidak di publikasikan secara umum. Akan tetapi saat ini banyak karya beliau yang sudah mulai dilirik oleh Kiai-kiai Pesantren Tanah Jawa, seperti ringkasan Aushah al-Masalik ala al-FIyah Ibnu Malik, Kawakib al-Lamah fi Tahqiq al Musamma bi Ahlussunah Wal Jamaah, Ahlal Musamarah (sebuah karya yang penulis jadikan rujukan utama dalam biografi Syeikh Siti Jenar dalam tulisan ini) dll. Bahkan ada karya beliau tentang Syarah Uqud al Juman fi Ilmi al-Balaghah. Yang belum selesai, karena beliau telah berpulang ke hadiratnya, sehingga proyek balaghah itu nunggu uluran tangan dari pada Kiai di Indonesia. Dan kabar yang penulis terima, tak satupun ulama Indonesia pada saat ini mampu menyelesaikan Maha Karya tersebut. Hanya seorang pakar balaghah dari Yaman lah yang mampu mencoba menyelesaikan, namun penulis tidak akan menyinggung banyak tentang KH. Abil Fadhal, tetapi penulis ingin menuangkan data-data beliau dengan realitas yang penulis jumpai.

Syeikh Siti Jenar mungkin tidak banyak yang mengetahui asal usulnya dikatakan bahwa beliau berasal dari seekor cacing yang berubah menjadi manusia, versi yang lain menyebutkan beliau berasal dari Persia, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa beliau sebagai keturunan seorang empu kerajaan Majapahit.

Bagi penulis sumber-sumber tersebut tidak dapat disalahkan, akan tetapi juga tidak dapat dibenarkan secara mutlak, penulis hanya ingin menampilkan sosok Syeikh Siti Jenar alias Sunan Jepara alias Syeikh Abdul Jalil dengan di dukung beberapa data yang realistic, dalam sumber yang penulis terima, beliau merupakan keturunan (cucu) Syeikh Maulana Ishak, Syeikh Maulana Ishak merupakan saudara kandung Syeikh Ibrahim Asmarakandi dan Siti Asfa yang dipersunting Raja Romawi.

Syeikh Maulana Ishak merupakan putra-putri Syeikh Jumadil Kubra yang secara silsilah keturunan sampai ke Sayyidina Husein, Sayyidina Ali, sampai ke Rasulullah. Walaupun dalam versi lain yang Syeikh Maulana Ishak merupakan putra dari Syeikh Ibrahim Asmarakandi. Namun penulis tetap yakin dengan. Syeikh Ibrahim Asmarakandi menikah dengan Dewi Condro Wulan, putri Cempa yang menjadi saudara sekandung istri Prabu Brawijaya yang bernama Dewi Marthaningrum, Prabu Brawijaya (Rungka Wijaya) memiliki banyak istri diantaranya putri raja Cina yang bernama Dewi Martaningrum (Putri Campa) yang melahirkan Raden Patah dan Wandan Kuning yang melahirkan Lembu Peteng.

Sedangkan dari pernikahan Syeikh Ibrahim Asmarakandi dengan Dewi Candrawulan (saudara kandung Dewi Martaningrum, istri Prabu Brawijaya melahirkan tiga buah hati Raden Raja Pendita Raden Rahmat (Sunan Ampel) Sayyidah Zaenab. Setelah dewasa Raden Raja Pendita dan Raden Rahmat mampir ke tanah Jawa untuk mengunjungi bibinya yang dipersunting Prabu Brawijaya, tatkala akan kembali ke negeri Cempa, keduanya dilarang oleh Prabu Brawijaya, karena keadaan Cempa yang tidak aman, maka keduanya pun diberi hadiah sebidang tanag, dan diperbolehkan untuk menikah dan mukim di tanah Jawa, Raja Pendita menikah dengan anak Arya Baribea yang bernama Maduretno, sedangkan Raden Rahmat menikah dengan anak Arya Teja yang bernama Condrowati, dari pernikahan dengan Condrowati Raden Rahmat dianugerahi 5 putra, sayyidah Syarifah, Sayyidah Mutmainnah, Sayyidah Hafshah, Sayyid Ibrahim (Sunan Bonang) dan Sayyid Qosim (Sunan Drajat).

Adapun Syeikh Maulana Ishak menikah dengan seorang putri Pasa dengan dikaruniai dua orang putra, Siti Sarah dan Sayyid Abdul Qodir Raden Rahmat (Sunan Ampel) putra Ibrahim Asmaraqandi menyebarkan Islam di daerah Surabaya, sedangkan pamannya Syeikh Maulana Ishak meninggalkan istrinya di Pasai menuju ke kerajaan Blambangan (Jawa Timur Bagian Timur) walaupun tinggal disebuah bukit di Banyuwangi namun keberadaannya dapat diketahui pihak kerajaan dan beliau berhasil menyelamatkan kerajaan Blambangan dari bencana, sehingga beliau pun diberi hadiah Dewi Sekardadu putri Menak Sembuyu, Raja Blambangan. Pernikahan tersebutlah yang melahirkan Raden Paku Ainul Yakin (Sunan Giri), Sayyid Abdul Qodir dan Sayyidah Sarah sebagi buah hatinya tidak mau ketinggalan dengan ayahnya, keduanya mondok di Pesantren Ampeldenta asuhan Sunan Ampel (yang masih sepupunya) atas perintah Sang Ayah.

Setelah mumpuni keduanya pun dinikahkan, Siti Sarah dinikahi oleh Raden Syahid (Sunan Kalijaga) bin Raden Syakur (Adipati Wilatikta). Sedangkan Sayyid Abdul Qadir mempunyai himmah untuk belajar ilmu Tasawuf kepada Sunan Ampel. Diantara teman-temannya dialah yang sangat paham dalam menyingkap ilmu Tauhid secara tepat, tidak ingkar dan tidak kufur. Sebab tatkala orang seseorang memahami tauhid tentu keyakinannya terhadap Tuhan tidak akan ekstrim kanan (ingkar) atau ekstrim kiri (Kufur) tetapi berada dalam neutral point (Nughtah Muhayyidah)

Kegesitan dalam dunia dakwah melalui kedalaman teologi (tauhid) menarik simpati pelbagai keluarga Kraton Majapahit, termasuk Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenanga untuk memeluk agama Islam, Ki Ageng Pengging dan Ki Ageng Tingkir adalah dua sosok guru yang mendidik Mas Karebet alias Joko Tingkir untuk menjadi manusia yang saleh ritual, sosial dan intelektual sehingga keberadaan Joko Tingkir seorang politisi mampu mendamaikan konflik politik antara Arya Penangsang dapat ditaklukkan, Jaka Tingkir memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang dan menyerahkan kekuasaannya ke Sutawijaya. Sedangkan beliau mengembara dan berdakwah lewat jalur kultural, hingga meninggal di desa Pringgo Boyo Lamongan. Kesuksesan Ki Ageng Pengging mendidik Joko Tingkir tak lepas dari peran Sunan Abdul Jalil yang juga lihai dalam berpolitik.

Bila anda mengkaji literatur tentang beliau, banyak sekali yang menyebutkan bahwa kematian beliau diakibatkan karena faktor politik. Sebagaimana telah diteliti oleh Agus Sunyoto dalam 300 literatur Jawa. Jadi bukan karena ajaran “manunggaling kawulo gusti” (wahdatul wujud) yang kurang bisa dipahami oleh sebagian kalangan, memang wali sepuluh menyebarkan Islam tidak dengan kekerasan, melainkan dengan kearifan, hikmah, mauidhah hasanah, dan mujadalah lewat mata hati, sehingga akulturasi Budda, Hindu dan Islam adalah sebuah keniscayaa. Akan tetapi esensi ajaran Islam tetap mendominasi dan tidak bercampur dengan syirik dan kufur. Pernahkah kita berfikir, andaikan wali sepuluh memisahkan esensi Islam dengan budaya-budaya non Islam tersebut, tetu mungkin Islam belum mendarah daging dalam di Pulau Jawa hingga sekarang.

Sunan Abdul Jalil juga seorang wali yang juga menempuh metode tersebut, sehingga secara intelektual beliau berada dalam papan atas. Tak heran apabila banyak kalangan elit Majapahit yang masuk Islam. Santri-santrinya yang dikhawatirkan mencegah berdiri dan berkembangnya kerajaan Demak Bintoro. Sungguh sangat kejam hanya demi tegaknya Negara Syariat, Sunan Abdul Jalil di rendahkan reputasinya dan dituduh menyebarkan ajaran sesat.

Hal ini dapat anda buktikan dengan kematian misterius, tanpa diketahi tahun dan tempat eksekusi tersebut. Sehingga seolah-olah beliau hilang begitu saja. Padahal santri-santrinyapun aman dan tidak mendapatkan tekanan dari penguasa, seperti Kiai Ageng Pengging alias Kebo Kenanga yang berhasil mendidik Joko Tingkir. Konflik antara poyek besar Negara Islam yang berpusat di Demak Bintoro dan Glagah Wangi Jepara, inilah yang menjadikan nama harum sebagai Sunan Jepara alias Syeikh Abdul Jalil makamnya yang terletak di dekat Ratu Kalimanyat (Bupati Pertama Jepara) sampai sekarang banyak diziarahi orang. Memang proyek Demak Bintoro merupakan garapan kontraversial, sebabb Raden Patah sebagai pendiri merupakan anak dari Raden Brawijaya, seolah-olah Demak ingin membangun sebuah kerajaan New Majapahit versi Islam. Tak heran bila setelah Raden Trenggono wafat banyak tarik ulur kekuasaan, terutama Glagah Wangi (Jepara) dengan pusat kearajaan (Demak Bintoro) oleh sebab itu tak heran bila kemudian Joko Tingkir memindahkannya ke Pajang.

Begitulah sekelumit sejarah tentang Syeikh Siti Jenar alias Syeikh Abdul Jalil atau Sunan Jepara, lebih jelasnya anda dapat mengunjungi makamnya dan dapat bertanya kepada juru kunci makam tersebut. Yang telah menutup rapat-rapat selama bertahun-tahun. Wallahu ‘alaam

Oleh: Husni Hidayat el-Jufri

17 Comments on Syeikh Siti Jenar : Wali Kesepuluh

  1. Trims infonya. Salam sukses untuk Tanbihun.com

  2. ibn khasbullah // 14 June 2009 at 9:15 pm // Reply

    Saya sependapat dengan kang Maspem. Betapa tidak, kehidupan Siti Jenar secara frontal berhadapan dengan Syara’. Tercatat dalam sejarah bahwa murid- muridnya salah mengartikan “kehidupan sejati” yakni mati dengan mencari mati melalui perilaku melawan hukum dan perampokan, agar mereka dapat lepas dari “kematian” menuju kehidupan sejati.
    Syekh Ibrahim dalam mukaddimah Jami’ karomatil auliya’ menulis:” Barang siapa yang menentang syari’at, maka ia bukanlah seorang wali walaupun dia bisa terbang di angkasa ataupun berjalan diatas air, atau..itulah yang disebut sebagai waliyyussyaithon…” Wallaahu a’lamu bihaqiiqotihi.

  3. heHerdoni Wahyono // 14 June 2009 at 9:16 pm // Reply

    Orang yang namanya Syekh Siti Jenar dan hidup di zaman Walisanga itu sebenarnya tidak ada. Itu hanyalah sebagai lambang akan bahayanya meletakkan ilmu haq tidak pada tempatnya.
    Lambang itu kemudian dijasadkan agar mudah diterima. Itulah yang dinamakan Tajassudil Makna. Seandainya percaya bahwa Siti Jenar itu ada, pasti akan sesat.

  4. ibn khasbullah // 14 June 2009 at 9:19 pm // Reply

    Masalah ada tidaknya Syekh Siti Jenar tidak termasuk bagian dari rukun iman. Adapun ajaran yang dibangsakan kepada Siti Jenar adalah memang merupakan pengejawantahan dari ajaran tasawuf wihdatul wujud Muhyiddin Ibnu Arobi (yang juga diadopsi oleh Hamzah Fansuri atau Al-Hallaj). Karena beberapa istilah yang diperkenalkan oleh siti jenar (bila dianggap ada) seperti “Manunggaling kawulo gusti” itu merupakan terjemahan jawi dari Wihdatul wujud (panteisme) atau Al- Hulul (Imanensi) nya pemahaman Al- Hallaj. Kadangkala istilah yang dipakai oleh siti jenar merupakan penafsiran resmi istilah ahlul kalam yang kemudian berakibat salah tafsir. Seperti kalimat:” Ono ning ono unong” yang dipahami rancu oleh murid muridnya, padahal artinya: kalau ada bunyi “Ning” berarti ada penabuh musiknya yakni kenong” artinya kalau ada alam semesta berarti ada penciptanya. Tatkala dia dipanggil perwakilan Sultan Bintara, yakni Syekh Dumba dan Sunan Tembayat dia menjawab: “Syekh Lemah Abang (Siti Jenar) tidak tidak ada, yang ada adalah Allah”.(Lihat:Syek Siti Jenar: Abdul Kadir Mulkhan.hal.90) Ini adalah konteksnya berbicara sesuai ilmu hakikat, karena semua alam semesta ini hakekat adanya adalah “semu” alias “tidak ada”, yang ada secara hakiki hanyalah Allah.Tapi tatkala kalimat- kalimat “Syatahat” ini dimunculkan ketengah orang yang “baru ngaji”, menjadi salahlah pemahamannya. Pantaslah imam Al- Junaid menyatakan:”Tidak akan seseorang dapat mencapai kebenaran Hakikat, terkecuali harus melalui pintu Syari’at”
    Untuk dapat berjalannya sebuah hukum yang konsisten, diperlukan aturan- aturan yang harus ditegakkan secara tegas, disiplin, berdasarkan hukum- hukum yang sudah terkodifikasi (Law inforcement), karena itu Sayidina Umar menyatakan:”Maka mulai sekarang saya hanya akan menghukum seseorang atas dasar apa yang nampak secara lahiriyah…..
    bila ia baik aku hukumi baik, bila ia berlawanan dengan hukum (Syari’at), maka ia akan dianggap kriminal walaupun ia beralasan yang ia lakukan adalah baik….(As- Suhrowardi: Awaariful ma’aarif, Hamisy Ihyaa’u Ulumuddin Juz II.P.6)

    • Cah angon // 14 June 2009 at 9:24 pm // Reply

      ibn chasbullah..

      syarengat tu apa si?
      ap syarengat sll identik dg jasad?
      adakah syarengat batin?
      pdhl syarengat batin sm sekali beda dg haqeqot..

      komen ny kuq seakan krg stj dg ajaran kanjeng syekh siti jenar?

  5. umirtu an ahkumannasa bit thohiri, wallahu yatawalla bissaroili

    ” Kita diperintahkan menghukumi manusia dari segi lahiriyah, adapun urusan batin ( hati) itu urusan Allah (hanya Dia Yang Tahu dan Maha Tahu).”

    Jika didapati orang tidak sholat karena mengaku sudah menyatu dengan Allah, maka orang tersebut termasuk melanggar aturan agama (salah). Adapun apakah dia wali? itu urusan Allah.

    Hukum lahir ( fikih/syari’at) harus ditegakkan.
    kita ambil contoh : seandanya ada wali A hutang pada kita, apakah kita tidak akan menagih sesuai kesepakatan? urusan wali itu urusan dia sama Allah, tapi urusan lahir tetap saja harus di tunaikan.

  6. Bagi sebagian orang ajaran syekh siti jennar memang dianggap menyimpang…akan tetapi bagi para penempuh lelaku bathin yang mengutamakan kebersihan hati mungkin syekh itu tidak menyimpang…klo saya tidak keliru, ajaran beliau sangat mirip dg Manshur Al halaj yang dihukum mati karena selalu bverteriak Ana al haq…Namun gurunya sendiri Syekh Junaid pernah berkata, secara syariat manshur layak dihukum mati, akan tetapi secara hakekat Alloh lah yang maha tau…sebagai orang mukmin yang mengamalkan syareat tentu kita harus berkata bahwa Al halaj dan Syekh Siti jennar itu menyimpang, apalagi klo kita kaji kitabnya Mbah Rifa’i yang mengatakan A sy Syariah bila haqiqotin Aathilah, wal haqiqoh bila syariiatin Bathilah….maka hukum terhadap mereka sudah sangat jelas

  7. wali??
    wali yang dimaksud yang bagaimana nih…

  8. Menurut hemat saya, sebagai seorang scientist saya tidak mencela ajaran syekh Siti Jenar, karena beliaulah tanah jawa bisa dibabat (dimasuki) ajaran islam yang relevan dengan mengedepankan hakekat dan ma’rifat tidak berarti mengenyampingkan syariat, jika menelaah kajian islam secara benar dengan logika science tdk dgn emosi katanya orang sesat. No way, justru beliaulah difitnah oeleh raja-raja jawa abdi dalem demak. Yang notabene ditiru kelakuannya oleh kang to hingga penguasa sekarang ini. Yang mengedepankan aroganitas pribadi dan kekuasaannya untuk membenarkan prinsip dirinya sendiri tanpa melihat hakiki kebenarannya, jikalau wali songo masih hidup dapat diuji kebenaran ajarannya secara empiris tanpa harus melakukan fitnah, karena syekh tersebut banyak para elite majapahit yang mau memeluk agama isalam sebagaimana murid kecintaan Syekh Siti Jenar yaitu Ki Pengging. Smoga amalan budi baikmu Ya Waliyulloh Siti Syekh Jenar diterima oleh Alloh Shubahana Wataalla. Amin………….

  9. klo yang saya tahu syekh siti jenar itu manusia yang dikutuk menjadi seekor cacing oleh ibunya,kmudian pada suatu hari para wali 9 sedang mengadakan suatu taklim, kebetulan cacing itu berada di dalam tanah tepat dibawah tempat para wali berkumpul dan mendengarkan pembicaraan para wali.
    ada salah satu wali yang mengetahui bahwa ada yang mendengarkan pembicaraan mereka dan menyuruh cacing itu keluar dari dalam tanah.
    para wali tau bahwa cacing tersebut adalah syeh siti jenar, kemudian kutukan itu dihilangkan dan syeh siti jenar diangkat menjadi wali allah.
    namun dalam pengajaran syeh siti jenar, para wali merasa bahwa ada keganjilan dalam ajarannya shingga menghukumnya.

    kurang lebih itu yang saya tau,kurang lebihnya mohon maaf.

  10. ibn khasbullah // 30 December 2010 at 6:08 am // Reply

    Dalam tradisi tutur di Jawa sering dipakai gaya bahasa Bebasan, Paribasan, Pepindhan dan Sanepo serta Kiroto, sebagaimana dalam bahasa Indonesia ada gaya bahasa hiperbola, metafora dsb. Hati- hati dalam memahami semuanya itu, bisa bisa kita salah mengerti dan salah arti.

    Contoh:
    Syekh Quro dari Karawang dan Syekh Bentong dari Lasem berdebat masalah agama sampai rumahnya yang dipakai berdebat tentang ilmu agama itu- tertutup lumut=
    Artinya berdebat lama sekali ( mustahil para Syekh nggak sholat nggak ke mesjid berjamaah).

    Raden Said menunggu kedatangan Sunan bonang sampai tempat duduknya tertutup semak belukar = menunggu dengan setia.

    Ali Hasan Abdul Jalil putra Ressi Bungsu (Siti Jenar muda) dikutuk jadi cacing oleh ibunya = Siti Jenar muda asalnya adalah anak bangsawan Cirebon, karena mempunyai perilaku yang menyimpang (dari mainstream) diusir oleh keluarganya turun dari putra raja jadi rakyat rendahan (bangsa cacing). Lihat :Abdul Munir Mulkhan: Siti Jenar.

    Siti Jenar dibungkus endut (lumpur= kotor/ orang rendahan) dan kemudian “cacing” itu masuk kekapal (orang rendahan itu jadi anak buah kapal) Sunan Bonang yang sedang berdagang sambil mengajar ilmu Hakekat kepada Raden Said alias Sunan Kali Jogo. Disanalah ia belajar secara “Non reguler” kepada Sunan Bonang dan Sunan Sunan Kalijogo…..(Cacingnya nguping secara sembunyi dibalik dinding kapal) dst…dst secara “Ora urut”/ tidak belajar secara runut yakni tentang Iman- Islam- Ikhsan, Syariat- Thoriqot Haqiqot, tapi langsung ke Haqiqot.

    Namun terlepas dari semuanya itu, ada intrik politik yang mewarnai kisah itu yakni: Raden Patah yang sedang membentuk negara baru yang sedang dalam keadaan belum stabil, menghadapi keturunan Majapahit yang masih memiliki kewibawaan besar saat itu yakni Ki Ageng Pengging, Cucu Sang Sinuhun Brawijaya, anak RA Ratu Pembayun dengan pasangannya Ki Jayaningrat yang TIDAK MAU TUNDUK SERTA TIDAK MEMBAIAT KERAJAAN DEMAK.Ki Ageng Pengging kemudian punya “Guru Pribadi” Yakni Siti Jenar yang punya murid yang kebanyakan wong cilik, dan ini tentu berbahaya terhadap kekuasaan Demak…. Silahkan analisysnya diteruskan sendiri….

  11. mungkin cerita sufi dibawah ini bisa sedikit menjadi gambaran logika sufi “manunggaling kawulo gusti”,

    Halangan terbesar pada dalam perjalanan menuju Tuhan adalah keangkuhan dan kesombongan, ketika kita masih terperangkap dalam keakuan kita. Kiat praktis dalam tasawuf untuk mengikis rintangan seperti ini adalah dengan berusaha untuk menghindarkan kata “aku” dalam berdoa. Karena itulah, al-Fatihah mengajarkan kita untuk berdoa dengan menyertakan seluruh kaum Mukminin, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
    Sebuah kisah sufi mengakhiri pembahasan tentang ketidakberartian wujud manusia ini.
    Alkisah, seorang sufi sampai dalam perjalanan ruhaniahnya di depan pintu surga Allah Swt. Dengan penuh kerinduan, ia mengetuk gerbang yang megah itu dengan keras. Dari dalam terdengar suara, “Man Hunaka? Siapakah gerangan di sana?” ia menjawab, “Ana.” Pintu surga tak bergeming. Sufi itu malah ditolak dengan keras hingga jatuh ke alam yang lebih rendah.
    Bertahun-tahun lamanya, ia kembali meniti jalan kesucian. Hingga sampailah ia kembali di depan pintu yang sama. Dengan kerinduan yang lebih besar, ia mengetuk gerbang itu lebih keras. Dari dalam terdengar suara, “Man Hunaka? Siapakah gerangan di sana?” Ia menjawab, “Ana.” Lagi-lagi ia dihentak dengan keras, dan terjerembab kembali ke alam yang lebih rendah.
    Ia merenung dan merenung. Hingga ia temukan jawabannya. Setelah kembali meniti jalan kesucian, sampailah ia di depan pintu yang sama. Kini kerinduannya semakin menggelora, dan ketika suara dari dalam itu bertanya, “Siapakah gerangan di sana? Dengan yakin ia menjawab, “Anta.” Maka pintu surga pun terbuka.

    matur nuwun. lengkapnya bisa dibaca di http://kampoengsufi.wordpress.com/2010/03/21/ghaib-kerinduan-seruling-bambu/#more-367

  12. ASSALAMU’ALAKUM YA… MUKMININ..
    Saya rasa wajahnya tdk bs terlukis jelas, wujudnya bs berpendar 9-an awalnya api (merah) akhirnya putih & berubah lagi wajahnya aslinya…
    (HANYA ALLAH YANG TAHU)..
    Mohon maaf

  13. Emang wali itu ada berapa sih? Banyak kok nggak cuma sepuluh atau sembilan. Lalu maksudnya wali itu apa? Menurut istilah ketatanegaraan Islam versi Hizbut Tahrir, wali itu merupakan jabatan penguasa wilayah atau bahasa modernnya gubernur. Jadi walisongo itu adalah Dewan Gubernur Kekhalifahan Ustmaniyyah untuk wilayah Jawa/Indonesia.
    Pada mulanya dibentuk Dewan Ulama beranggotakan sembilan orang untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Asia Tenggara atas perintah Khalifah. Mereka adalah :

    Maulana Malik Ibrahim
    Maulana Ishaq
    Maulana Jumadil Kubra
    Maulana Muhammad Al Maghrabi
    Maulana Malik Isro’il
    Maulana Malik Akbar
    Maulana Hasannudin
    Maulana Aliyuddin
    Syeikh Subakir

    Mereka dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim. Setelah Maulana Malik Ibrahim wafat, kepemimpinan Majelis Ulama dipegang puteranya Sunan Ampel. Setelah Majapahit jatuh karena invasi Kediri, Sunan Ampel berkeinginan membangun entitas politik Islam yang kuat untuk menyaingi Kediri yang masih memegang keyakinan Hindu. Untuk itulah Majelis Ulama membangun Masjid Agung Demak sebagai pusat kekuasaan. Akan tetapi sebelum tercapai cita-citanya, Sunan Ampel keburu wafat, kemudian kepemimpinan dipegang oleh Sunan Giri. Di masa Sunan Giri inilah, Entitas politik Islam Demak didirikan. Pada mulanya format dan bentuk pemerintahannya adalah Kewalian dengan Sunan Giri diangkat sebagai Wali/Penguasa pertama dengan gelar Prabu Satmata. Dalam menjalankan pemerintahannya Wali Sunan Giri dibantu sebuah Dewan yang berjumlah sembilan orang yang langsung dipimpin sendiri oleh Sunan Giri, sehingga oleh masyarakat disebut sebagai Dewan Walisongo. Anggota Walisongo ini berubah-ubah, apabila ada anggota yang wafat maka diganti ulama lainnya.
    Dalam perkembangannya, seluruh kabupaten-kabupaten Islam menyatakan baiat kepada Kewalian Demak hingga meletuslah perang antara Demak melawan Kediri yang akhirnya dimenangkan oleh Demak. Setelah Sunan Giri wafat, kepemimpinan Kewalian Demak diambil alih oleh Raden Patah yang mengubah bentuk pemerintahan Demak menjadi Kesultanan. Perubahan ini untuk mempertegas ketertundukan Demak kepada Kekhal;ifahan Utsmaniyyah di Istambul, karena memang saat itu wilayah bawahan Utsmaniyyah pada umumnya berbentuk Kesultanan.
    Untuk lebih jelasnya,,  http://ibnushol.wordpress.com/2011/08/09/menafsir-ulang-sejarah-islam-indonesia/

  14. Tak Bernama // 12 August 2012 at 6:13 pm // Reply

    Bila diantara Anda ada yang ingin menyelami kedalaman pemahaman Syekh Siti Jenar, saya bersedia kirimkan buku tentang Guru Sejati yang dapat memberikan petunjuk Cahaya dan Suara Bathin, petunjuk awal pintu gerbang bathin mengenali kesejatian diri Anda. Silahkan SMS ke 0817 689 3113. Buku (edisi bahasa Indonesia) dikirimkan gratis sampai ke alamat Anda tanpa embel apa-apa.

    Tersedia juga buku spiritual pencerahan yang membahas syair pujian Jalaluddin Rumi kepada Gurunya, berjudul “Shams-e Tabrizi” (khusus bagi pembaca yang menguasai bahasa Inggris, sebab belum diterjemahkan). Buku ini juga gratis dan dikirimkan dalam jumlah terbatas.

  15. akhiruddin rahmat // 30 October 2012 at 8:57 am // Reply

    setuju atas kejelasannya

  16. kalau benar ajaran Manunggaling kawulo gusti dari Syeck siti jenar,ya sangat muskil wong agama mengajarkan Taukhid yg mudah dimengerti umat bukan embingungkan,apalagi jaman saat itu perlu ukhwah yg sederhana jd wajar kalau wali yg lain ber hujjah..anggab aja sprt melengserkan suharto gt aja kok repot

Leave a comment

Your email address will not be published.

*