Tanbihun.com – Idul fitri adalah moment yang tepat untuk mempererat persaudaraan sesama muslim, tak sedikit yang menjadikan lebaran untuk menyambung kembali tali silaturrahim yang sempat renggang. dimulai dari keluarga terdekat, tetangga, sampai saudara-saudara yang jauh pun tak luput dari kunjungan “wajib” saat idul fitri.
Pagi ini aku bersiap-siap silaturrahim ke rumah pak de yang lumayan jauh, dengan mengajak anak-istri aku melaju dengan pelan. Alhamdulillah sohibul bait ( tuan rumah ) hari ini berada di rumah, setelah beramah tamah dan saling meminta maaf serta berdo’a bersama, pak de mengajakku berbincang diteras depan.
” kang masmu itu lha mbok dinasihati, pak de sudah capek, sampai kapan mau jadi orang “gendheng” begitu? “ pak de membuka percakapan dengan wajah lesu
” Dinasihati apalagi pak de? dia kan sudah dewasa, Insya Allah sudah tahu apa yang harus dilakukan dan yang tidak seharusnya dilakukan”. jawabku mencoba memebesarkan hati pak de
” hmmmm …. coba lihat teman sebayanya ! sudah pada punya anak, lha dia ini apa nggak kepingin nikah juga? apa nggak kepikiran untuk bekerja? tiap hari hanya duduk di kamar sambil baca kitab,buku, keluar cuma makan,buang hajat doang”. sambil menghela nafas, semakin nampak kekecewaannya
” dasar pemalas, ini kesalahan di TPQ dulu, ustadznya lebih menekannya hafalan do’a mau makan, mau tidur,mau buang hajat, tidak diajarin juga do’a mohon perlindungan dari sifat malas dan sahabat-sahabatnya.” semakin tak terpendung kata-kata pak de
” pak de …. kang mas insya Allah bukan seperti itu, saat ini dia memang belum menemukan pekerjaan yang cocok.”
” apa kalau nggak ada yang cocok, lantas diam menyendiri saja dikamar? apa namanya kalau bukan pemalas?” pak de mulai kekeh dengan pendapatnya
” orang malas adalah orang yang merasa bebas ketika tidak mengerjakan apa-apa, itu kata orang bijak, sedangkan kang mas ini merasa sedih, malu, dan nggak enak menjadi pengangguran, ini artinya dia bukan pemalas, tapi emang belum ketemu pekerjaan yang cocok saja.” aku mencoba menenangkan jiwa pak deku yang sudah dilanda kekecewaan dan kekwatiran.
” Sampai kapan ? sampai ubanan? “ suara pak de sudah tak sekeras tadi, ada keputusasaan disana
” biarkan saja kang mas menemukan jalannya sendiri, pak de sudah cukup menasihatinya, saatnya sekarang pak de pasrah kepada Allah, biarkan Allah yang akan menasihatinya, kita do’akan semoga kang mas segera menemukan jalan hidup seperti yang pak de harapkan.” aku menyelesaikan kalimatku sambil memegang tangan pak de yang gemetar
Inilah realita, banyak orang tua yang mengkwatirkan anak-anaknya ketika dilihatnya mereka belum juga mendapatkan pekerjaan saat usia sudah menginjak dewasa. Tak jarang rasa kwatir ini “over dosis” sehingga kesan yang ditangkap anak, bukanlah nasihat, tapi “tuntutan”, mereka merasa tidak dianggap, merasa dikesampingkan, alih-alih mau memberi semangat yang terjadi malah sebaliknya, mereka semakin dalam terpuruk dalam kebingungan.
Yang dibutuhkan mereka sangat sederhana, perhatian, pengertian dan dukungan. orang tua akan lebih terlihat manfaatnya kala menjadi teman bagi anak-anaknya ketika mereka berusaha menemukan jalan hidupnya,bukan menjadi penentu. lebih terasa nilai positifnya jika orang tua lebih memilih menjadi pengingat ketika anak-anaknya salah, bukan menjadi “hakim”.
Namun demikian, seorang anak harus tahu,apapun yang dikatakan dan dilakukan orang tua, semata-mata hanya untuk kebahagiaan dan kesuksesan anaak-anaknya, kalau pun ada yang yang kurang pas, itu hanya soal cara, maklum dan jangan mudah tersinggung akan menjembatani perbedaan, semoga kekurangan itu tidak akan mengurangi nilai tujuan mulia orang tua kita./yazid/9/10
Oleh : Em. Yazid


