Wajahnya langsung mengkerut melihat beberapa patung yang ada di depan rumah salah seorang tetangganya yang ada di kota Pelajar. Aku hanya diam, agak keheranan saat melihat wajah tirusnya yang menampakkan aura tak bersahabat.
“Kenapa Lek, sampeyan…”
“sehat-sehat wae tho?”
“Atau pingin ke belakang Lek, ke toilet Lek?”
“Ah tidak….” Jawabnya sambil menyeka keringat yang tampak di dahinya. Wajar sudah seharian ini ia datang dari desa, ditugasi salah seorang panitia pembangunan sekolah untuk menyampaikan proposal kepada para perantau.
Tuan rumah belum juga keluar untuk mempersilahkan tamunya yang dari jauh ini. Tapi keadaan semakin gusar. Teman kita yang dari desa sungguh kelihatan tak jenak di depan rumah itu. Aku jadi penasaran,
“Kenapa sih sampeyan Lek….kok kelihatannya gelisah kayak gitu…” ia seakan ingin menyembunyikan sesuatu, tapi akhirnya ia ngomong juga.
“Ini rumah kok isinya berhala….” Ujar dia dengan nada agak tinggi, sambil menunjuk beberapa patung seukuran manusia di depan Rumah. Ada patung harimau, patung wanita bergelung, dan masih banyak lagi, patung-patung itu.
“Aku jadi gak kerasan melihat patung-patung itu.”
“Lha….kenapa Lek?”
“Kamu ini…kok malah bertanya kenapa, yang namanya berhala kan dimana-mana diharamkan kehadirannya, malaikat tidak akan hadir di rumah ini, selama masih ada berhala-berhala itu.” Suaranya lantang. Lengkingannya sampai bisa di dengar oleh telinga yang terletak di kejauhan beberapa meter. Aku jadi miris mendengarnya, takut kalau tuan rumah ikut mendengar, dan mereka jadi tersinggung, kan jadi tak enak di hati.
“Iya Lek, tapi kan patung itu macam-macam, kalau yang Lek maksud itu adalah berhala, yakni patung yang dijadikan sesembahan, sebagaimana patung latta, uzza, manat, dan beberapa patung yang terletak di kakbah, waktu jaman pra kerasulan Muhammad Saw, sedangkan patung-patung ini tak pernah disembah, apalagi diberi sajen…gak pernah Lek. Ini cuman patung hiasan.” Aku berusaha menerangkan, agar Lek Lehan ini bisa membedakan, mana patung yang menjadi sesembahan, dan mana patung yang fungsinya sebagai hiasan, atau monumen.
“Patung ya…tetap saja patung, tak bisa dijadikan hiasan, karena haram hukumnya…”
“Ya….nggak Lek, mosok patung Soekarno, Hatta yang ada di Kalibata Jakarta itu pernah terlihat disembah oleh manusia, kan tidak, ya…kan?” sebelum dia nerocos aku sebaiknya menutup dialog ini, karena kelihatannya kurang pas waktu dan tempatnya.
“Udahlah nanti kita diskusikan di kos ku aja Lek yang penting kita sekarang silaturahmi kepada mantan tetangga dan sesama saudara Rifaiyah, yang ada di perantauan”
“Ah….aku jadi malas masuk ke rumah yang ada berhalanya….nanti takutnya juga uang infak madrasah jadi kecampuran uang-uang yang haram, kayaknya juga patung-patung ini bukan sekedar hiasan, tetapi juga dagangan mengingat begitu banyaknya patung-patung ini, orang sini kelihatannya tak begitu bisa membedakan halal-haram.” Ungkapannya semakin nyinyir membuat aku gerah. Aku menahan emosi, dan sebisa mungkin menyembunyikan rasa tak suka atas komentarnya tadi. Aku hanya bisa berdoa agar segera mungkin tuan rumah ke luar menemui kami.
Dalam benakku juga mulai khawatir kalau seandainya Lek Lehan berkomentar macam-macam kepada tetangganya itu yang nantinya jadi penyakit hati. Semoga tak terjadi apa-apa. Semoga kita saling menjaga perasaan dan mempunyai adab sebagai seorang tamu. Aku hanya bisa berharap.
Tak lama kemudian bunyi derit pintu terdengar. Terlihat tuan rumah membukakan pintu. Wajah menghias senyuman menyambut kedatangan kami. Tapi masih saja Lek Lehan membalasnya dengan senyum kecut. Kami dipersilahkan memasuki rumahnya, sambil senyuman terus diumbar oleh tuan rumah.
Dengan bahasa kromo inggil ia menanyakan tentang kabar kita berdua dan tentang kesehatan keluarga yang ada di Pekalongan. Aku menjawab sekenanya dan sebisa mungkin untuk ikut ramah. Sebaliknya kami juga mengabarkan perihal keadaan keluarga mereka yang ada di Yogyakarta. Dalam hatiku jadi agak gusar, saat pertanyaan-pertanyaan dari tuan rumah, harus aku yang selalu menjawab. Lek Lehan hanya terdiam kayak patung yang baru saja dihujatnya. Untuk menutupi kegusaranku, sengaja aku sedikit ngerjai Lek Lehan ku ini.
“Pak Jarot, nuwun sewu niki Lek Lehan tadi katanya mau ikut ke belakang,” terpaksa aku cari alasan seperti itu untuk menutupi sikap Lek Lehan yang tiba-tiba jadi pendiam. Lek Lehan kelihatannya kaget. Tapi tuan rumah dengan siaga mempersilahkan tamunya untuk mengikutinya ke belakang,
“monggo-monggo Mas kalau mau ke belakang,” tuan rumah bergegas mengantarnya ke belakang. Pandanganku menyusuri ke beberapa sudut ruang. Memandangi interior rumah yang menakjubkan, karena terkesan mempunyai sentuhan seni. Di dindingnya dihiasi beberapa lukisan, dan kerajinan kriya, dan seni pahat patung ada di atas meja di sudut ruang tamu.
Aku jadi mulai tahu kenapa Lek Lehan bersikap semacam itu, karena aku melihat di dinding banyak terdapat lukisan-lukisan. Dalam hatiku jadi berujar, “mungkin karena lukisan-lukisan itu ia jadi mendadak diam.”
Dengan demikian, aku harus bisa mengomunikasikan kedua orang yang sekarang berlainan pandangan tentang berbagai hal. Aku sendiri sudah memaklumi tentang keberadaan lukisan, patung, foto, yang di kampungku masih diharamkan keberadaannya. Tapi Pak Jarot mungkin sudah paham tentang hal itu. wong dia masa kecilnya juga hidup di Kampung. Apalagi jaman dulu, mungkin masyarakatnya masih jelas-jelas mengharamkan gambar, patung, musik, TV.
Tidak lama, terlihat pembantu rumah tangga datang membawa satu nampan minuman dan nyamian. Aku sapa pembantu itu dengan senyum dan mengabarkannya,
“wilujeng Mbak?”
“alhamdulillah, sehat Mas.”
“lha jenengan, alhamdulillah, atas doa panjenengan kulo nggih sehat.”
“Dimonggo Mas…seadanya” pembantu mempersilahkanku untuk meminum dan memakan apa yang sudah disediakan di meja. Tak lama kemudian Pak Jarot sudah ada di depanku. Dari dulu Pak Jarot jenis manusia yang murah senyum, dan penampilannya selalu fresh, energik dan ramah.
“Ayo dimonggo Mas, penganan turahan bodo niki Mas, kok sampeyan lama gak dolan kesini.” Tanyanya dengan wajah terus menghias senyuman, yang membuatku juga harus bersenyum selalu.
“Nanti istirahat disini aja dulu.”
“Nggak usah Lek, biar kita istirahat di kos ku aja, nanti kalau istirahat disini jadi keenakan gak mau pulang. Wong saya masuk rumah sampeyan ini langsung bisa merasakan hawa adem, ayem, tentrem.”
“Wah…Mas ini…berlebihan…ya jelas lebih tentrem di desa kan Mas. Sebaik-baiknya ketenangan orang kota, kelihatan lebih tenang orang desa.” Daripada kita berbicara ngalor ngidul mending aku langsung menyodorkan satu bandel proposal pembangunan Madrasah. Beliau menerima dan membuka lembar demi lembar.
“Banyak kemajuan ya…di desa kita sekarang. Aku jadi selalu ingin mengunjungi desa Paesan, tiap tahunnya kulihat terus terjadi perubahan-perubahan.” Ia sedikit lama memperhatikan rancang bangun madrasah dan estimasi dana. Kemudian terlihat, tangannya mengambil bolpen yang terselip di sakunya. Beliau mencatat no rek yang tertera dalam kontak.
“Gak usah dicatat Pak nanti proposalnya kita tinggal aja,”
“Biar nanti proposalnya untuk yang lain aja. Nanti uangnya kami kirim lewat no rek ini ya….”
“alhamdulillah, matur nuwun sakderenge.”
Lek Lehan datang dari dalam rumah. Wajahnya agak berbinar. Sorot matanya banyak menyisakan pertanyaan tentang berbagai hal. Aku hanya terdiam saat dia mulai duduk di sebelah, dan mulai mengambil segelas minuman sirup dengan rasa jeruk, tanpa sepatah katapun. Pak Jarot mulai berbasa-basi mengingatkan masa lalu mereka berdua waktu ada di kampong. Bahwa keduanya adalah sahabat akrab, walaupun mereka berdua sekarang berjauhan. Dengan helaan nafas agak panjang. Lek Lehan mulai bicara.
“Nasib memang hanya Allah yang tahu. Sampeyan sudah jadi orang disini, saya cuma jadi orang-orangan di sana.”
“Ah…ya gak. Wong dari dulu kita sama-sama jadi manusia tho. Allah memberikan kelebihan kepada masing-masing hambanya dan tetap menyisakan banyak kekurangan pada diri manusia. Apa yang menjadi kelebihan sampeyan biasanya tidak dipunyai orang lain. Dan kelebihan orang lain belum tentu kita bisa menyamai.”
“Nuwun sewu Rot, kita kan dari dulu saling mengenal. Dan kita hafal betul keluarga kita. Kalau aku tanya berbagai hal dapat menyinggung perasaane sampeyan gak?” aku agak kaget mendengar pernyataan Lek Lehan yang terasa sudah mulai berbahaya.
“Ah..yaaa..gak apa-apa tanya saja.”
“Kenapa banyak berhala di rumah mu ini.” Pak Jarot agak kaget mendengar pertanyaan tanpa basa-basi tersebut. Ia agak tergagap, tetapi aku mengerti bahwa Pak Jarot sudah biasa menghadapi pertanyaan yang macam-macam, toh dia juga mantan aktifis kehidupan yang biasa menghadapi berbagai cobaan hidup, jadi untuk masalah pertanyaan yang satu ini tidak perlu saya khawatirkan.
“Iya memang, karena saya ini seniman Han, sekaligus dosen di ISI….jadi ya…harus dituntut punya karya seni kriya begini berupa patung.”
“apa sampeyan gak takut diazab oleh Allah nanti.” Agaknya Pak Jarot mulai terpancing dengan pertanyaan-pertanyaan Lek Lehan yang mulai menyudutkan. Pak Jarot tetap tenang, wajahnya walau sedikit tegang, tetapi ia tahu pasti karakter Lek Lehat sejak, karena mereka teman seperjuangan sejak kecil.
“begini Han…memang sejak kecil pengetahuan kita tentang patung sangat terbatas pada ajaran yang selama ini kita terima. Mereka semua. Guru-guru ngajiku waktu di kampung mengharamkan keberadaan patung. Tetapi bagiku itu sah buat pegangan mereka, dan sekarang ketika aku di Jogja mendapat cara pandang yang lain, yakni tidak semua patung haram, sebagaimana tidak semua sweeke yang biasa kita lihat di warung-warung di Bojong itu haram. Segala hal yang ada di dunia mempunyai kemungkinan haram, halal, mubah.” Lek Lehan mendengarkan dan terbengong mendengar cara pandang temannya yang sudah berbeda seperti yang dulu. Lek Lehan menimpali pertanyaan lagi.
“Pernyataanmu tadi maksudnya Apa Rot?”
“Misalnya begini Han. Daging kambing itu hukumnya halal, tetapi ia bisa haram ketika yang menyantapnya adalah penyandang darah tinggi akut, yang seandainya dia menyantap daging itu maka bisa mengakibatkan strok. Berkendaraan juga bisa dianggap bunuh diri. Seandainya tancap kecepatan kendaraannya tidak memperhatikan keselamatan orang lain dan dirinya.”
“kok bisa begitu.” Lek Lehan penasaran.
“Iya…karena pengendara sadar, seandainya ia berkendara dengan kecepatan yang tinggi akan beresiko kecelakaan dan membahayakan nyawanya, karena dia sadar resiko yang bisa menyebabkan kematian, maka dia seakan sengaja untuk menjemput mautnya. Maka dia bisa dibilang bunuh diri. Bahkan contoh-contoh lain sangat banyak, tergantung alasan dan konteksnya.”
“kalau dengan patung-patung ini bagaimana.”
“al-Qur’an memakai tiga istilah untuk menyebut patung yang sampeyan katakana sebagai berhala. Yang pertama al-quran memakai kata shaman atau jamaknya ashnam, terus memakai kata watsan jamaknya awtsan dan memakai kata timtsal yang jamaknya tamatsil. Di dalam kisah Nabi Sulaiman yang diutarakan dalam al-Qur’an bahwa Sulaiman alaihissalam pernah dibangunkan dan bangunan-bangunan yang kokoh, dan beberapa patung yang menjadi hiasan-hiasannya. Dalam ayat tersebut memakai kata tamatsil karena pembangunan patung itu tidak dimaksudkan untuk disembah, ia hanya semacam, hiasan, juga bisa dibilang aksesoris, atau semacam patung monument sebagai pertanda sejarah saja.” Lek Lehan hanya terdiam mendengarkan ujaran-ujaran yang dari tadi disampaikan temannya itu. malah wajahnya terkesan tertegun. Peci hitam kekuningan yang usianya belum genap satu tahun dilepasnya. Rambut yang kelihatan sudah memutih mengkilat dibelai-belainya memakai tangan sebelah kiri. Aroma minyak lilas menelusup ke hidungku. Dihatiku tiba-tiba saja tak kuasa berbisik
“uuuhh…dari dulu minyaknya masih saja pakai minyak lilas tho…” tak basa-basi lagi, kami berdua layaknya tamu sudah beberapa kali menyantap hidangan dan sudah tak terhitung bunya srupat-sruput suara kami menyedot minuman. Bersambung
Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :
Alhamdulillah sejak dulu orang tua saya sudah anti dengan patung dan lukisan yang berbentuk makhluk hidup. bahkan kaos yang bergambar makhluk hidup saja tidak diperkenankan.
wahhh…yang nulis artikel ini kelihatannya hendak melawan arus,melawan tatanan yang dibikin oleh para ulama, dan mencoba ijtihad sendiri meskipun dia bukan ahli ijtihad.ulama yg paling moderat seperti yusuf qaradhawi sekalipun tetep mengharamkan patung kok.apa yg nulis ini ga pernah ngaji riayah yaa? terus apa pendapat anda tentang gawe rupan-rupan lir hewan?….mohon pencerahannya para mufti niiihhh…
@Anti Patung,
kita hargai kang asep yang telah menulis artikel diatas,kalau memang anda mempunyai sudut pandang yang berbeda,silahkan kirimkan artikel dalam sudut pandang anda, dan disampaikan secara elegan. kami tunggu tulisan anda.
Kita sama-sama belajar, kalau ada kekurangan sudah semestinya kita saling mengingatkan.
br,redaksi
masalah furu’iyyah wajar dong bila berbeda. setidaknya artikel diatas sdh berusaha memaparkan dalil. baik naqli maupun aqli..nah klo ada yg ga sepakat silahkan paparkan hujjahnya jg..selamat diskusi
patung itu hanya semacam benda lainnya, seperti batu, bahkan kakbahpun benda. sudah kadaluarsa kalau patung disembah. sekarang para mutakhir lebih menyembah uang atau menyembah dirinya sendiri. berhala itu ada pada diri kita sendiri. kadang berhala itu mewujud di kebanggaan kita akan ilmu, harta, wajah, jabatan. insya Allah lebih komprehensip akan kita tulis tentang pembahasan mana patung, mana berhala.