Cerpen : Bintang Mati

Oleh Pada Tuesday, 2 June, 2009 10:46 PM. Under Cerpen,Puisi & Sajak  

Datanglah Lissa, setelah lima menit kemudian aku menunggunya di depan rumahnya. Dia berwajah pucat, tubuhnya yang kurus. Matanya kemerah-merahan. Entah apa yang terjadi pada diri Lissa. Sehingga berubah nampak begitu. Suaranya pun sesak saat berkata di depanku. Tadinya aku tak mengela, bahwa Lissa akan terus sehat, dan bahagia seperti kemarin saat pertemuannya di sekolah. sedangkan hari ini liburan panjang.

“Lis aku pengin tahu dirimu sekarang, bolehkah?”.

“Boleh saja, cepat katakan aja”.

“Tapi jangan tersinggung yaa?”.

“Iya, iya”.

“Aku hanya ingin tahu, mengapa dirimu nampak pucat begitu, tidak seperti kemarin”.

“Iya Go? tadi malam aku di hajar oleh ortuku”.

Mendengar kata-kata itu, hatiku tersentuh akan kesalahan terhadap Lissa, tadi malam. Karena aku bepergian keliling kota ama Lissa sampai larut malam, sekitar jam sebelas malam. Tapi aku tetap terus terang dengan meminta maaf pada Lissa.

“Liss…aku minta maaf padamu, karena semua ini kesalahanku”.

Lissa diam. Lidahnya terasa tumpul. Hatinya tidak menyalahkan siapa-siapa, kecuali dirinya. Walau dihadapannya adalah aku yang membuat resiko pada malam itu pada Lissa, sehingga ortunya sampai marah. Namun semua itu aku tak tahu, karena selamanya Lissa diam tak berkutik. Lalu aku mencoba lagi untuk meneruskan kata-katanya lagi, “Lis? Semua ini salahku, maafkan aku. Seharusnya cinta kita tidak membawa dampak negatif pada ortumu maupun ortuku.

“Kalo ortumu marah juga, seperti ortuku”.

“Iya, ortuku marah padaku tadi malam, karena dia rupanya sedang menungguku untuk membelikan obat di apotik?”.

Karena mendengar resiko yang sama pada malam tadi. Jadinya aku dan Lissa tertawa dech? Dan lama-lama pucat di wajah Lissa kian hilang, kembali cerah. Matanya yang indah, seperti suaranya yang rendah.

“Lis…sekarang kita taubat, tidak akan kemana-mana lagi setiap malam”.

“Jujur? Ahh..nanti kamu nggak kuat?”.

“Oh..nggak lis, benar ini?”.

“Iya dech?”. Kata Lissa, “Terus kita berganti saja dengan JJS (jalan-jalan sore)”.

“Tepat itu Lis”.

“Okey juga kalau gitu?”. Kata Lissa sambil memelukku erat.

Sepulang dari sekolah, aku menunggu sore dengan tidur. Tapi astaga! Setelah aku bangun, ternyata jam sudah menunjukkan ke angka lima. Aku bangun sambil mengusap kening. Wajahku terasa bersalah, impianku luluh jadi bubur. Rasanya aku tak tahan menunggu sore nanti lagi. tapi aku kemudian, segera bangkit menuju ke kamar mandi. Setelah itu shalat, selesai shalat seperti biasa, aku harus menyisihkan doaku untuk pacarku, semoga sehat dan kuat selalu. Selesai shalat tiba-tiba ibuku berkata di depanku, “Hey Go? tadi ada temanmu, ke sini?”.

“Siapa Bu?”.

“Aku nggak tahu, yang ku tahu temanmu yang datang perempuan”.

Deg! Sedikit menggetarkan jantungku. Ahh! Ternyata Lissa yang datang kemari, lalu tak lama pulang. Padahal aku berjanji, di setiap pertemuan. Aku yang harus menemuinya lebih dulu. Mengapa tiba-tiba akhirnya dia yang datang kemari. Memang! Selama ini aku selalu salah padanya. Tapi semoga besok tidak, semoga saja.

Malam harinya, aku menulis surat cinta buat Lissa. Sambil denger musik pop peterpan. Setelah selesai menulisnya. Aku kembali menatap jam, sudah menunjukkan angka 8. aku berpikir, jam 8 itu cocok banget buat tidur, karena nanti paginya tidak terlambat. Segera ku rebahkan tubuhku di kamar tidurku, bersama adikku yang masih kecil.

Tapi tengah malam aku bangun, kira-kira jam tiga. Hatiku khawatir sekali, karena aku sering bangun kesiangan. Apa yang harus aku kerjakan pada tengah malam ini. Ku coba rebahkan tubuhku lagi yang terasa pegal-pegal. Tapi tak bisa tidur. Tiada rasa kantuk lagi. Dari kesunyian sekitarku, ku dengar suara adzan yang menggema, seperti gema misteri yang terdengar dari langit.

Wah! Ku usap keningku, ku benahi rambutku. Mata ini tak bisa menutup. Tubuhku terasa linu. Tapi aku tak putus asa, ku coba lagi tidur. Tapi tetap tak bisa tidur. Sampai aku berganti tempat dan posisi, tetapi tetap tak bisa tidur dengan nyenyak. Sampai subuh menjelang, aku cuma bisa menikmati rebahnya tubuhku, namun tak bisa tidur.

Pagi harinya, aku letih sekali. Berat badanku terasa turun, membuatku puyeng dan tak seimbang jika berjalan, sepertinya aku kurang darah, maklum semalam tak bisa tidur. Hari ini terpaksa aku tak bisa berangkat sekolah. ku buat surat izin untuk Pak Guru di kelas. Lalu surat itu segera ku berikan pada Nada, teman perempuanku yang rumahnya bersebelahan denganku.

Di rumah, aku meringkuk saja di kamar. Tubuhku sangat dingin, karena terserang demam. Hidungku pilek, dan tubuh penuh lesu. Namun tak sampai tidur. Ku coba sembuhkan dengan minum obat. Denger musik peterpan.

Sore harinya, aku ngirim SMS, meminta maaf padanya, sementara untuk menunda janjinya, seperti yang kemarin. karena hari ini aku sedang sakit flu. Dan Alhmadulillah Lissa mengerti diriku, walau tak tahu bagaimana diriku keadaannya. Dia selalu memaafkan segala problem beratku.

Malam harinya, aku tetap di rumah saja. Tapi HP, tetap menjadi temen untuk menemani cerita Lissa, lewat SMS. Sampai hari berganti hari, sore lalui sore. Aku tetap setia ngirim SMS, untuk meminta maaf atas janjinya yang tertunda terus. Karena sakitku berganti, menjadi sakit Typus. Aku tak tahu, mengapa Typus itu tiba-tiba menyerbuku. Aku tak tahu juga, mengapa diriku semakin lumpuh tak berdaya. Ketika ketidaksadaranku itu bagai melayang di alam maya. Aku sudah berada di sebuah rumah sakit, ketika mataku terbuka. Ku lihat ayah-ibuku menangis tersedu. Ku lihat teman-teman sekelasku melingkariku. Ku coba kedip-kedipkan mata beberapa kali. Sedangkan ayah-ibuku khawatir sekali jika mataku berkedip-kedip, karena takut menemui ajalnya.

Setengah bulan kemudian, penyakit Typusku sembuh. Tapi belum sempurna. Dalam ketermanguan di kamar, aku teringat kembali akan pacarku, Lissa. Ooh…Lissa masihkah engkau teringat padaku. Setengah Bulan lebih kita nggak bertemu. HP-pun tak dapat menemanimu.

Besoknya aku baru bisa berangkat ke sekolah. Ayah-ibuku sudah membolehkanku untuk berangkat kembali ke sekolah. Karena aku sekiranya sudah sembuh total. Di sekolah, semua teman-temanku heran, dan saling menanyakkan segala hal tentang penyakitku, dan akibatnya. Sampai kepada Guru-Guruku yang juga menanyakanku tentang penyakit yang telah di alami.

Sepulang dari sekolah, aku mendatangi rumah Lissa. Sampainya di sana. Lissa menanggapi dengan rasa aman seperti dulu. Sifatnya tidak berubah sama sekali. Walau setengah bulan lebih tidak bertemu, dan sudah banyak janji-janjinya sering bolong. Lissa sangat pandai sekali menuaikan cinta untukku. Dia tak pernah menyesal dan menyerah dalam perjalanan cintaku yang seringkali patah-patah jalurnya. Dan kini akulah yang wajar untuk menyesal, dan mengakui segala dosa terhadap segala janjinya.

“Lis…aku minta maaf padamu”. Kataku sesak, “Sudah setengah bulan lebih aku tak bisa menjemputmu? Maafkan yaa? mungkin mulai besok aku bisa”.

“Semoga saja Go”.

Mendengar jawaban yang satu ini sungguh berarti bagiku, karena Lissa memang wanita yang baik, tulus, dan setia. Tapi setelah di rumahku lagi. Penyakit Typusku kumat. Nafasku kembali sesak, kakiku pegal-pegal dan lesu, rasa lumpuh kembali menyerbu. Aku menjerit-jerit pada ayah-ibuku. Lalu mereka pun menolongku dengan perasaan tegang. Lalu tak tahan melihat kondisiku. Mereka pun segera membawaku ke rumah sakit lagi. Hingga aku di rawat lagi oleh para dokter. Entah kapan kunjung sembuhnya diriku ini. Entah kapan aku bisa bertemu lagi dengan Pacarku yang tulus dan setia itu, Ohh…Lissaa semoga kau tidak berubah dan tetap setia kepadaku, di sana.

Pekalongan, 27 Mei 2005

(Ahmad Kalamullah Ahsa)

Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

About


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :