4:09 pm - Thursday July 17, 2014

Cerpen Hikmah Dibalik Sawah:Suasana Sarapan Pagi Bersama Petani

Thursday, 3 May 2012 9:58 | Cerpen,Puisi & Sajak | 0 Comment | Read 505 Times

Petani MudaTanbihun.com- Pagi itu suasana persawahan nampak cerah, disana-sini para petani giat berkerja, ada yang mencabuti rumput, mencangkul, menyiram, ada saja yang dikerjakan. Jam 7:30 tak terasakan lama oleh mereka, waktunya sarapan pagi. Hari itu Matsani yang terkenal dengan julukan Tuan Tanah sedang memperkerjakan beberapa orang untuk mencangkul mempersiapkan lahan buat tanaman tembakau musim ini. Diantara para pekerja ada Sumanto, Utomo, Asnawi dan Taslim. Sedangkan Kaji San dan Wildan adalah tetangga sawah Matsani.

“ayo sarapan-sarapan, makan yang banyak biar kuat nyangkulnya”, kata Matsani sambil membantu istrinya menurunkan makanan dari gendongan

“ayo kang manto nyarap dulu”, ajak utomo kepada Sumanto yang masih sibuk mencangkul

Sarapan pagi segera digelar ditengah-tengah sawah, Kaji San dan Wildan ikut bergabung disitu setelah sebelumnya dipanggil oleh Mat Sani, mereka berdua tidak ikut makan, hanya minum teh manis bekal mereka sendiri, mereka berdua sudah sarapan dari rumah, di majlis sarapan pagi itu mereka hanya ikut nimbrung sambil bercengkrama dengan tetangga sawah.

“kali ini tembakau akan mahal harganya, melebihi harga musim kemarin” ujar Sumanto

“ndingini kerso (mendahului kehendak Alloh)  sampeyan mbah” sanggah Utomo

“bukan ndingini kerso, tapi memprediksi…..” mulailah Mbah Sumanto memaparkan analisisnya mirip pejabat yang memaparkan rancangan mega proyeknya didepan anggota dewan agar disetujui pendanaannya.

“tapi tetap saja hak preogatif yang menentukan mahal tidaknya harga temabakau adalah Gusti Alloh” kata Utomo tegas

“kamu itu ngeyel mo…..Alloh itu menciptakan sesuatu melalui sebab, artinya secara lahir kita bisa tahu bagus tidaknya satu masalah, dalam hal ini tentang harga tembakau, kita tinjau dari segi musim, kebutuhan pasar dan berapa banyak petani yang menanam” Mbah manto semakin semangat melancarkan analisisnya.

“iya mbah aku ngalah, yang waras ngalah”

“ini bukan soal ngalah atau waras, dalam soal ini kamu memang kalah pengalaman dengan aku” Mbah Manto mulai menceritakan pengalaman masa mudanya

“mana rokoknya juragan? Dari tadi ngomongin rokok, tapi barangnya tidak kelihatan” suara Taslim memotong celoteh Sumanto

Sambil menikmati rokok kretek, mereka semakin asik ngobrol, keringat membasahi dahi dan baju mereka, angin berhembus perlahan, menambah nikmatnya suasana pagi itu.

“kalau hujan belum turun, alamat tembakau akan sulit berkembang, daunnya kecil bobotnya tidak ada” ucap Matsani

“daripada banyak hujan, malah nanti repot tidak bisa menjemur tembakau rajangan” sergah Utomo

“yang penting harga bagus, kalau barang langka, apapun bentuknya pasti dicari, harga pasti tinggi” Sumanto punya kesempatan meneruskan argumennya

“itulah dilema kita para petani, saat hasil panen bagus harga turun, sebaliknya saat hasil kurang bagus atau hancur harga tinggi” Kaji San akhirnya ikut bersuara juga

“bagaimana menurut nak Wildan?” Kaji san memancing Wildan untuk ikut memberikan pendapatnya

“nggih pak kaji, saya jadi ingat pesan kyai saya saat di pesantren dulu, anak-anakku……tanaman itu ibarat ibadah kita, sementara harga jual dari tanaman tersebut adalah keikhlasan kita, kalau tanaman bagus, harganya anjlok, yang kita dapatkan sedikit, bahkan bisa jadi hasil panen kita tidak ada yang mau membeli. Sebaliknya meskipun hasil panen kita kurang bagus dan sedikit, tapi harga dipasaran tinggi, kita akan mendapat hasil lumayan, apalagi kalau hasil panen bagus, harga bagus. Itulah gambaran amaliyah kita, amal ibadah banyak tanpa keikhlasan, tidak akan ada harganya, amal ibadah yang dibarengi keikhlasan meskipun sedikit tetap akan mempunyai nilai, apalagi ibadah yang banyak plus ikhlas…..Beruntunglah kita.” Wildan mengakhiri kisahnya dengan satu sedotan rokok kreteknya.

Jama’ah sarapan pagi disawah terdiam, mereka hanyut , seakan mereka diajak oleh Wildan untuk mengingat dan menghitung panen ibadah mereka, apakah mendapatkan harga bagus atau sebaliknya, tiada harganya sama sekali, akibat termakan hama riya, sum’ah dan lainnya.

“saya pamit dulu, ada acara pengajian selapanan jama’ah hujaj di kampung sebelah, assalamu’alaikum” Kaji San pamit pulang lebih awal

“wa’alaikumussalam “ jawab para petani tetangga Kaji San serempak

Mereka pun segera melanjutkan aktifitasnya, untuk sejenak mereka terdiam, namun kesunyian itu tak bertahan lama, mereka kembali terlibat pembicaraan, kadang terlihat serius, kadang diselingi gurauan, tentu dengan topik yang berbeda-beda.

Para Tokoh:

Matsani : Pria usia 50 tahun seorang oportunis
Sumanto: Pria usia 53 tahun, orang yang pandai bicara merasa punya banyak pengalaman
Utomo: Pria usia 47 tahun, sedikit tahu ilmu agama, banyak omong
Asnawi: Pria usia 51 tahun, sedikit bicara, sikapnya kaku, suka dianggap ta’at agama
Taslim: Pria usia 49 tahun, suka bercanda, senang membantu orang lain
Kaji San: Pria usia 47 tahun, orang kaya, rendah hati dan giat bekerja
Wildan: pria usia 35 tahun jebolan pesantren, tidak suka menonjolkan kepandaiannya

Share on :

About

Blogger yang selamanya jadi murid ... ... ... ...

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: ,

cerpen dan analisisnya,cerpen hikmah,cerpen sawah,gambar orang nyangkul sawah,petani lg nyangkul

Anda mungkin juga menyukaiclose