1:37 pm - Jumat,19 Mei 4423

Cerpen: Ternyata Dia !!!

Rabu, 25 Mei 2011 9:42 | Cerpen,Puisi & Sajak | 0 Comment | Read 164 Times

“Allah Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Dia Memberi rizki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Kuat” (QS. Asy-Syu’ara: 19)

Kalau berpikir tentang ayat itu aku rasanya legaa.. banget, entah kenapa? Seperti ada air yang mengalir membasahi tubuhku, jiwa kesemangatanku tumbuh kembali. Memang saat ini aku sedang jatuh, aku sempat down sampai gak masuk sekolah 3 hari, dan harus merelakan cintaku begitu saja. Aku tahu birrul walidain itu wajib, tapi kalo harus seperti ini caranya, aku bisa menderita seumur hidup. Bulan depan, orang tuaku akan menjemputku ke sini untuk memboyong diriku dan menikahkanku dengan laki-laki pilihan mereka.

Sebenarnya aku seneng banget (he.. he.. jadi lebai), mereka memilihkan aku dengan laki-laki yang katanya alim, baik, lembut, cakep, dan.. bla.. bla.. seabrek kebaikannya yang bisa membuatku bertekuk lutut (klepek-klepek).

Tapi di sisi lain aku harus meninggalkan cintaku yang dari dulu sudah tersimpan rapi dalam memory hatiku. Yang sejak dulu sulit ku pahami. Yang dulu selalu meresahkan diriku. Membuatku sakit, membuatku penasaran. Sekarang… Setelah ku bisa mulai memahaminya, mengartikan arti dirinya, membuka misteri dalam jiwanya. Aku… tak bisa meraihnya dengan sempurna. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Hatiku tak tega untuk berucap:

Selamat tinggal Nahwu

Selamat tinggal Imriti

Selamat tinggal Al-Fiyyah

Yach… sekarang akulah yang harus menentukan mana yang harus aku pilih, dia atau dia? Sore itu aku berusaha untuk melepaskan kemelut di jiwaku. Aku memilih perpus sebagai tempat penenang jiwa. Ku buka pintu dengan penuh semangat, aku langsuk menuju ke rak buku dan memilah-milih buku yang menurutku bisa sedikit mengobati goresan luka yang ada di hatiku.

Ku lihat ada buku baru yang berjudul, “Hidupmu dan Matimu” karya Ali Muhammad. Aku berusaha untuk konsen membaca buku itu, sehingga halaman demi halaman tak terasa sudah ku lahap dalam sekejap saja, sehingga ku temukan ayat Allah yang bisa meluluhkan hatiku: Allah itu Maha lembut.

♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦

Sebulan kemudian…

Bulan Rajab tepatnya, tanggal 1, aku benar-benar diboyong oleh orang tuaku. Ucapan terima kasih, ucapan maaf dan salam perpisahan terucap dibibir mereka yang selalu mengisi hari-hariku dalam suka ataupun duka.

7 Rajab with love…

Hari yang telah ditentukan tiba, suara rebana dan solawat membahana di seluruh ruangan. Orang-orang sudah mulai berdatangan, untuk menghadiri akad pernikahanku dengan calon suamiku.

Ku sudah pasrah sepenuhnya pada Allah swt. Mungkin ini adalah jalan hidupku yang terbaik. Ku jadi teringat “Allah itu Maha Lembut”. Tak terasa air mataku membasahi pipi. Aku menangis, dan terus menangis hingga mataku berkunang, pusing, rasanya dunia ini berputar. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi, yang terakhir ku dengar adalah jeritan ibuku.

♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦

Beberapa jam kemudian, setelah acara akad nikah selesai dan aku baru sadar. Aku tak mendengar sama sekali bagaimana acara itu berlangsung. Aku tak tahu siapa suamiku dan berapa maharku? Bodo ah.. dari pada ku memikirkan yang enggak-enggak, mendingan ku turut aja perintah ibuku untuk menemui suamiku tercinta. Dengan sejuta pertanyaan aku mulai melangkahkan kakiku menuju kamar pengantin yang penuh dengan bunga-bungan dan wewangian.

Tapi belum sampai aku masuk, ups.. hampir saja. Aku tak jadi masuk, ku berlari menahan rasa malu. “kenapa to, kok kamu lari-lari?”, tanya Ibu. Dengan nafas yang masih memburu ku jawab, “Ibu ini bagaimana to, kok gak bilang-bilang? Di kamar ada pak Kyai dan gus Faiq. Terus mana suami aku?”. Ibuku tersenyum geli melihat tingkahku, “Nduk ayu, Gus Faiq itu suami kamu”. “Nopo Bu?”, seperti tersambar petir, aku kaget seakan gak percaya dengan apa yang dikatakan Ibu. Subhanallah, Allah Maha Lembut.

Aku tak mengira, selama ini aku salah. Ku selalu menyalahkan Ibuku. Aku tak mau melihat calon suamiku dulu, coba dari dahulu aku tahu kalo gus Faiq itu calon suamiku, mungkin gak usah nunggu 3 tahun pun aku mau, sebab meskipun aku sudah menjadi seorang istri, tapi aku masih bisa bercanda dengan cintaku.

Nahwu love forever…

By: al-Fays

Santri PP. Miftahul ‘Ulum Talun Kayen Pati

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

Tagged with:

buku allah maha memberi (1),Cerpen online istri pilihan ibuku (1),Cerpen online ternyata dia (1),dia cerpen (1),Lelaki alim itu telah membuatku sadar (1),maha lembut (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner