Tanbihun.com – Tiupan angin tak henti-hentinya, mengusapi bumi nan sepi. Bulan nampak pucat menyaksikan bagian bumi yang pasi. Malam itu tak seperti malam yang terus larut, malam yang benar-benar mengerikan, dan mengancam diri seorang Ibu yang beberapa hari lamanya hanya terlentang diatas ranjang, karena sakit yang sulit disembuhkan. Kedua anaknya yang setiap hari mengurusi, bernama Lina dan Soya. Dan pula kadangkala disetiap harinya, ditengoki oleh warga desanya, atau tetangga dekatnya, ataupun juga orang-orang dijauh sana.
Sang Ibu, Bu Nirmala. Hanya tabah dan sabar menghadapi cobaan. Dari kesakitannya amat berat, yang agak lama itu, sampai berbulan-bulan, terasa dirinya semakin tak takut bila ajal segera merengutnya, karena memang benar, bahwa kehidupan adalah sandiwara: kalau sakit, tiada harap menyapa, kalau sehat tapi mengapa lalai kepada-Nya, itulah yang dirasakan dan direnungkan diri seorang Ibu Nirmala. Kedua anaknya masih sekolah di MTs, ayahnya sudah tiada, akibat bercerai. Mungkin penceraian itulah yang bisa membawa dampak penyakit diri seorang istrinya, Bu Nirmala. Yang kini sudah berpisah kurang lebih satu tahun lamanya. Kedua anaknya, soya dan Lina terpaksa mencari pekerjaan sendiri sebagai penjahit dirumah tetangganya. Kalau sudah diberi uang oleh bosnya, mereka berdua menggunakannya untuk biaya perawatan seorang ibunya, dan yang sebagian lagi disisihkan untuk biaya sekolahnya.
“Ibuu, kapanlagi engkau akan sembuh”. Kata Soya, sebagai adik Lina.
“Berdoalah kepada Tuhan, agar ibu sembuh yaa?” suaranya sesak.
Malam yang terasa dingin, gerimis tiba-tiba datang dan perlahan menjelma hujan, dentuman petir mencoret-coret muka cakrawala membentuk cahaya putih. Rumah gubug yang sepi, terisi kabar sendu setiap waktu, diantara kedua anak perempuan Ibu Nirmala yang kini meratapi ibunya. Udara sangat keras malam itu, dan sampai-sampai mendobrak pintu rumahnya itu, hingga diri kedua anaknya yang sedang sedih, balik terkejut dengan penuh kekhawatiran, seolah ada yang datang, entah manusia, jin atau iblis.
Bu Nirmala terhentak, ketika benar bahwa pintu itu telah dibuka oleh seorang seperti manusia, yang berjubah putih dan bercahaya, yang berjalan melayang terjuntai dengan kelepak kedua sayapnya, mendekati Ibu itu. Bu Nirmala sangat ketakutan, mungkin ini malaikat izrail pencabut nyawa. Namun perlahan tak gentar setelah terlihat diwajah malaikat itu mulai tersenyum, dan lalu malaikat itu berkata. “Saya diperintah oleh Tuhan, waktu ini nyawamu akan ku cabut”. Bu Nirmala tersenyum pula, dan terasa tak mau menuruti perintahnya. Padahal kemarin, rasanya dia ingin segera dicabut agar tak merasakan sakit terus-menerus, mengapa kini jadi berubah nalurinya.
“Engkau mau mencabut nyawa dari mana?”. Kata Bu Nirmala dengan tegas.
“Melalui mulutmu”.
“Tidak bisa, mulutku masih ku gunakan untuk berdzikir”.
“Melalui Matamu”.
“Tidak bisa, mataku masih ku gunakan untuk mengaji”
“Melalui Telingamu”.
“Tidak bisa, Telingaku masih ku gunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah”
Malaikat itu bingung, setelah tiga kali pertanyaan yang dilemparkan kepada seorang hawa, namun tidak jua berhasil. Dia seolah kalah akan perkataannya. Maka dengan bingung, ia pergi, terbang lagi dengan kelepak sayapnya menuju ke ujung langit, untuk mengabarkannya kepada Tuhan. Sampai diufuk sana, Tuhan melihatnya dengan keheranan seakan marah kepadanya. “Dimana nyawa manusia seorang hawa, mengapa kau nggak membawanya”. Setelah mendengar kata-kata itu, Malaikat hanya diam dengan sedih, tetapi sesaat lagi berkata, “Maafkan saya Ya Tuhan, saya telah menghampiri seorang hawa untuk dikembalikan nyawanya, namun dia tak menerima melepaskan nyawanya, dan dia malah mengatakan, kalau nyawaku hilang, mau lewatkan dimana, kalau dimulut, dia jawab, mulutku masih ku gunakan untuk berdzikir, kalau dimata, dia jawab, mataku masih ku gunakan untuk mengaji, kalau ditelinga, dia jawab. Telingaku masih ku gunakan untuk mendengarkan ayat-ayat-Mu, Yaa Tuhan”. Tuhan hanya tersenyum simpul, sekilas mendengar kabar lucu itu, lalu kemudian, Dia menyuruh lagi kepada Malaikat untuk menghampiri manusia hawa lagi ke bumi, dengan membawakan sebuah Lukisan Surga yang bisa bergerak, seperti Film.
Ketika itu, Malaikat pergi lagi, beterbang untuk mencapai ke bumi sambil membawa lukisan itu, untuk melaksanakan perintah-Nya. tibalah didepan rumahnya yang terkunci. Dari sudut rumah gubug itu, terdengar tangisan kedua anaknya Bu Nirmala. Ibu itu yang segera akan dipanggil nyawanya kehadapan Tuhan. Tetapi malaikat itu terpukul bukan kepalang, dia termenung ikut berduka cita, ketika erangan sendu anak-anaknya itu yang semakin keras; kasihan dia, apa mungkin sekarang aku akan mencabut Ibunya mereka, tapi ini perintah Tuhan. Walau terasa tak kuasa, tetap dia berjalan untuk menemuinya, lalu beranjak menembus pagar dengan mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum ya Habibillah”.
Bu Nirmala tercengang, ketika melihat dihadapannya, sebuah lukisan yang tampak indah dan bisa bergerak layaknya film yang dibentang oleh Malaikat itu. Lukisan itu menunjukkan sebuah taman disekitar surga beserta isinya. Dengan kelengahan yang ditimbulkan diri seorang ibu itu yang masih terbuai peka oleh godaan yang menggiurkan. Si Malaikat Izrail segera beranjak untuk mencabut nyawa seorang ibu itu. Demi lama, demi detik mengalir, Nyawa Sang Ibu itu berhasil tercabut, dan segera dibawa pergi, menuju ke ujung langit dengan himpitan sepasang sayapnya, untuk segera dikabarkan kepada Tuhan.
Kedua anaknya tak mengerti, bahwa ruh ibu sudah hilang. Tapi baru kemudian, Soya, anak pertamanya. Menyentuh di tubuh ibu, pas mengenai dadanya. Ternyata sudah tak bernafas lagi. Tentu soya langsung menjerit histeris, dibarengi oleh kakaknya, Lina. Suara keras itu melambung ke tengah-tengah cakrawala, mengabarkannya ke seluruh jagad sentosa, sampai membelah angkasa, seakan mengejar nyawa seorang ibunda yang dicintainya.
Beberapa tetangga dekatnya mendengar suara tangisan dan jeritan anak-anak Bu Nirmala, mereka cemas, mungkin Bu Nirmala meninggal dunia. Para Tetangga dekatnya segera menengok ke rumahnya. Dan setelah berada dirumahnya itu, sungguh benar, Bu Nirmala ternyata meninggal dunia.
Kabar kematian itu meluap-luap sampai ke sekitar warga desa itu. semuanya berkunjung untuk melihatnya, terutama Pak Lurah. Kematian Bu Nirmala bukanlah kematian biasa, namun sungguh luar biasa, karena dia seorang Ibu yang sangat mulia dan sejati, walau dia miskin. Tapi Ibu itu yang sekarang janda, telah banyak bersimpati kepada rakyat. Dia sangat gemar menengok orang yang sakit, ataupun yang sudah meninggal. Dalam Kehidupan sehari-harinya, kalau ada orang yang meninggal, baik ada yang dijauh sana, baik berbeda organisasi, dan berbeda agama, ataupun bangsa. Dia turut menyambutnya, walau masih sibuk dengan pekerjaan, nyali atau dalam kehidupan sehari-harinya. Tapi dia tetap tangguh, untuk menyelesaikan niat baiknya, dalam segala hajat.
Wajar saja, kalau meninggalnya Bu Nirmala sangat dihormati oleh warga masyarakatnya dan orang-orang yang ada diluar desa atau dijauh kota sana, sampai-sampai dibeberapa radio, majalah-majalah, atau TV, serta dibeberapa microphone dalam musholla-musholla atau masjid-masjid—terkabarkan atas kematiannya. Dirumah kecil gubug itu, dikerumuni oleh sejuta manusia baik yang kaya atau biasa-biasa saja, mereka semua menyambut kematian Sang Ibu yang sangat terhormat dan bijaksana dalam kehidupan dimata masyarakat, bukan hanya sekadar manusia saja yang hormat kepada kematian seorang ibu itu, tetapi juga para malaikat turut menyambutnya. Itulah suatu keajaiban dari kematian sejati yang dialami Ibu Nirmala.
Ahmad Kalamullah
Paesan, 20 Oktober 2004
(Tulisan ini ku persembahkan buat seluruh Ustadzku di MA Walisongo Ma’arif Kedungwuni)





