Tanbihun.com – “Tulisan sederhana ini saya tujukan bagi teman-teman seperjuangan Rifaiyah untuk terus mengukir asa, karya dan prestasi. Penulis hanya bermaksud ingin berbagi pengalaman saja, bukan untuk curhat”.
Kehidupan merupakan wahana untuk belajar dan latihan mempertahankan diri (survive) agar tetap bertahan meskipun cekaman dan cobaan terus menghunjam diri ini. Kehidupan seseorang pasti diliputi dengan kesedihan, kesenangan, keberuntungan, dan kecelakaan. Itu semua sudah terdaftar dalam catatan Allah di Lauhil Mahfutz. Kadang dalam beberapa waktu seseorang akan berada dalam masa kejayaan, tapi di lain waktu mungkin justru berada pada ambang kemelaratan. Bagaikan roda berputar yang sisi satu akan bergantian posisi dengan sisi lainnya. Itulah kehidupan seseorang di dunia ini.
“Allah tidak akan mengubah nasib kaumnya, kecuali kaum itu mau mengubahnya”. Kalimat ini sungguh sangat menggugah semangat untuk terus memperbaiki hidup ini. Jadi, selama kita masih mau terus berusaha sungguh-sungguh dalam mencapai target tertentu maka Allah juga akan memberikan sesuatu sesuai dengan usahanya. Tapi, kadang seakan-akan kenyataanya lain. Misalnya, mungkin kita pernah merasa heran dan bertanya-tanya, mengapa si Budi selalu mendapatkan nilai yang tinggi padahal dia jarang belajar, sedangkan si Farhan yang giat belajarnya justru mendapatkan nilai yang pas-pasan. Namun, sebenarnya kita jangan langsung menyimpulkan bahwa Allah tidak adil. Mungkin si Budi memiliki kelebihan tersendiri yaitu pada saat mendengarkan pelajaran dari guru di kelas dia langsung bisa mengerti dan memahaminya sehingga meskipun jarang belajar di rumah dia bisa mengerjakan soal ujian. Sedangkan si Farhan mungkin harus membaca ulang/ menuliskannya kembali untuk dapat memahami pelajaran tersebut. Di sisi lain, mungkin si Budi tidak bisa melukis sedangkan si Farhan lihai dalam melukis. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
”Bersabarlah maka kamu akan ada”. Itulah pepatah yang sangat membuat kita optimis dalam menjalani hidup ini, karena sesungguhnya Allah akan bersama dengan orang-orang yang sabar, baik sabar dalam melakukan kebaikan maupun sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Contoh dari sabar dalam melakukan kebaikan adalah sabar dalam menuntut ilmu. Suatu saat, Si AA pernah menghadapi ujian/cobaan pada saat masa SMA, di mana si AA selalu dikucilkan teman-teman kelas pada saat pelajaran olahraga, karena si AA memang tidak lihai dalam hal keolahragaan. Dan ini dialami dari kelas X sampai dengan XII. Tidak hanya itu, pada saat itu si AA juga dianggap tidak layak jika mendaftar Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI/ PMDK), karena di kelas XII IPA si AA hanya menduduki peringkat 8 sedangkan persyaratan siswa untuk bisa lolos seleksi minimal harus peringkat 3 di kelasnya. Namun, hal ini tidak membuat si AA berkecil hati. Si AA memberanikan diri untuk mengumpulkan berkas-berkas perlengkapan USMI IPB tersebut untuk dikirim ke Panitia USMI IPB. Hingga akhirnya pengumuman hasil seleksi USMI IPB pun dikirim ke sekolah. Alhamdulillah ”How a GREAT !!!”, si AA dinyatakan diterima di Jurusan Agronomi dan Hortikultura. Namun, ternyata cobaan tidak berhenti di sini, si AA tetap mendapat cercaan-cercaan yang begitu pahit untuk didengar. Waktu itu teman-teman kelasnya bilang ”Mau macul ya, kok kuliahnya di IPB?” (yang notabenya justru Teknik Mesin Undip dan Unnes lah yang dianggap wah, ckckck !!!) ”Masya Allah, Opo ora kuwalik ??? Waktu itu si AA berusaha untuk membela diri, tapi berhubung satu lawan banyak, jadi mengalah adalah lebih baik. Si AA serasa ingin berteriak sekeras-kerasnya waktu itu.
Dari cobaan-cobaan di atas ternyata ada ganti dari Allah yang dikirim untuk si AA. Pada saat pertama kali masuk di IPB, waktu itu tinggal di Asrama TPB-IPB, si AA mendapatkan formulir beasiswa Eka Tjipta Foundation (ETF) dari kakak pendamping di asrama. Si AA isi formulir tersebut sesuai dengan prosedur serta melampirkan nilai raport dan transkip nilai UNnya, kemudian ikut seleksi wawancara. Dari banyak mahasiswa yang ikut seleksi, si AA pun dinyatakan lolos seleksi dan berhak mendapatkan beasiswa selama 8 semester. Thanks GOD !!!. Hati si AA begitu berdebar jantungnya begitu berdetak lebih cepat. Ya Allah, betapa Maha Pengasihnya Engkau duhai Tuhan semesta alam.
Kehidupan memang penuh tantangan dan rintangan. Maka hanya seseorang yang bisa mengerti dan menghadapi dengan tuluslah yang akan bisa bertahan dari tantangan dan rintangan tersebut. Oleh karena itu, maka sudah seharusnya kita sebagai seorang yang beriman bisa bersabar, baik dalam melakukan kebaikan maupun dalam mencegah kemaksiatan. ”Sesungguhnya Allah akan menguji hambaNya sesuai dengan kemampuan hambaNya”.
Ayo Kita Berjuang Bersama !!!
Kota Hujan, 24 Januari 2011
From: Ali Ahkamulloh
cerpen tentang liku-liku kehidupan pelajar (1),puisi tentang kehidupan yang tidak adil (1),Sesungguhnya Allah tidak menguji hambanya sesuai kemampuannya (1)






bagus banget mas ali,,aku tunggu tulisan berikutnya..selamat!!
setuju mas..tetap semangat