Tanbihun – Allah menciptakan sesuatu itu berpasang-pasangan,ada siang ada malam,wanita berpasangan dengan pria,ada suka ada duka,ada masa jaya ada pula saatnya terpuruk. begitu pun juga, ada baik ada buruk. saya tertarik menyoroti yang terakhir ini.
Ada yang bilang baik-buruk itu relatif,tergartung darimana dan siapa yang memandang,jika kita memakai metode atau definisi ini,maka yang terjadi seperti contoh berikut ini; paiman adalah seorang maling ulung dikampungnya,bahkan kini sudah mulai melebarkan sayapnya ke kampung-kampung sebelah,dalam dunia permalingan yang sudah digelutinya hampir 2/3 umurnya paiman belum pernah kepergok,boro-boro ketangkap basah.Namun pada malam jum’at itu nampaknya kang paiman kena apesnya, dia kamanungsan (kepergok orang) dan tertangkap basah saat beraksi mencuri di rumah seorang saudagar bawang merah dikampung sebelah.
kang paiman dimassa dan diarak keiling kampung sebelum akhirnya dibawa oleh pihak berwajib ke polsek. hampir semua orang mencaci-maki kang paiman,dikatakan “dasar maling bajingan,bangsat,samber gelap,kurang ajar dan lain-lain. dia dianggap orang yang paling berdosa dan terburuk dikampungnya. Gunjingan tentang kang paiman tak surut dengan dijebloskannya kang paiman kepenjara, pagi-sore,siang malam,disawah,warung,pasar,bahkan tempat tidur pun orang masih asik membicarakan keburukan kang paiman,kesalahan-kesalahannya yang lain juga dikorek-korek,lengkap sudah keburukan kang paiman dimata orang 1 kampungnya.
Tapi coba tanyakan kepada anak-istri dan keluarga kang paiman,apa mereka sependapat dengan image dimasyarakat? dimata anak-anaknya sosok kang paiman adalah figur seorang bapak yang sangat sayang kepada anak-anaknya, meski profesinya sebagai maling kang paiman tidak pernah memperlakukan anak-anaknya dengan kasar,dia selalu berusaha memberikan segala kebutuhan anak-anaknya. dimata istrinya kang paiman adalah sosok suami yang bertanggung jawab, dia akan segera mencari kayu bakar sebelum persediannya habis,dia akan selalu hadir saat anak-istrinya membutuhkannya. Dan yang paling kehilangan adalah seorang bibinya, kang paiman memiliki seorang bibi yang sudah ditinggal mati suaminya 10 tahun yang lalu,bibinya tinggal sendirian tanpa anak,dia sakit lumpuh sejak 3 tahun yang sepeninggalan suaminya. Praktis dia tidak bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, dan kang paimanlah yang memenuhi segala kebutuhan bibinya, bagi bibinya kang paiman adalah sosok keponakan yang sangat sayang terhadap keluarganya, baginya kang paiman adalah “malaikat” penolong.
Lain lagi kisah mbah ngajiyo,orang “pintar” yang satu ini dikenal oleh masayarakat luas sebagi penipu,dukun tukang sulap,kerjaannya menipu dengan cara mengiming-imingi pasien-pasiennya dengan kemampuan menggandakan uang,tapi semua hanya tipuan tak pernah ada yang terbukti. akhirnya mbah ngajiyo dicap sebagai “dukun penipu”,tak ada lagi yang percaya padanya.
Sementara nun jauh ditengah kota sana,ada keluarga yang sudah panik,anak semata wayang mereka sudah 15 tahun divonis sakit lumpuh total,tanpa pernah bisa didiagnosa apa penyakitnya, tadinya keluarga ini tidak memepercayai hal-hal yang berhubungan dengan dunia “klenik”,orang pintar atau dukun,tapi keadaan memaksa mereka,”kalau jalur medis sudah menyerah,tak ada salahnya kita mencoba pengobatan alternatif” begitu kata bapaknya.
Mbah ngajiyo adalah orang pintar entah yang keberapa yang akan didatangi,dasar mbah ngajiyo kedatangan pasien ya langsung beraksi,dengan lagaknya yang terlihat profesional, dia memegang kaki,tangan dan kepala anak laki-laki yang sakit itu, singkat cerita mbah ngajiyo minta syarat ini itu, pasien pun pulang dengan penuh harapan akan kesembuhan si sakit.
Selang beberapa minggu keluarga pasien datang dengan wajah berseri,mbah ngajiyo kaget,biasanya pasien yang datang cuma 1 kali datang (karena kapok),lha ini koq datang lagi, dan yang lebih mengagetkan mbah ngajiyo,anak yang sakit itu bisa berjalan,benar-benar bisa berjalan dengan tegap, mbah ngajiyo sungguh takjub, dia sendiri tidak percaya dengan resep yang dia berikan (karena dia ngarang saja).
Apa resep yang diberikan mbah ngajiyo? cuma sederhana, kaki-tangan pasien disuruh dipanasin diatas lampu teplok (lampu yang terbuat dari kaleng bekas memakai bahan bakar minyak tanah), si pasien disuruh tertawa, pokoknya dibuat bagaimana agar saat prosesi pasien sambil tertawa. Dengan ijin Allah si pasien sembuh total. memang tidak logis menurut medis atau pun akal,tapi itulah faktanya.
Keluarga pasien sungguh berterima-kasih kepada mbah ngajiyo,bukan itu saja,mereka tak segan-segan memberikan julukan baru buat mbah ngajiyo sebagai “manusia setengah wali”. Disatu sisi mbah ngajiyo disebut penipu(buruk),disisi lain dia dijuluki setengah wali (baik).
Itulah kalau standart baik-buruk ditentukan oleh akan atau untung rugi. biar pun orang 1 dunia mengatakan dia jahat,tapi kalau dia membawa manfaat pada kita,kita akan menilainya sebagai orang baik. dan sebaliknya.
makanya Islam membuat standart untuk penilaian baik buruk adalah memakai aturan syar’i ;
“kebaikan adalah yang dianggap baik oleh syari’at,dan keburukan adalah sesuatu yang dinilai buruk oleh syari’at”
wani piro (77),dukun (57),Download wayang kampung sebelah (1)





