Tanbihun.com – Bagi kebanyakan orang mungkin menikmati tiga butir kurma ajwa dan seteguk air zam-zam adalah hal yang sudah biasa. Tapi tidak dengan pemuda ini, karena baginya bisa membawa ke perjalanan spiritual yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dalam benaknya tak pernah terfikir bisa merasakan beberapa butir buah dan air yang amat digemari Sang Nabi ini.
Hingga suatu malam, Allah mengizinkan pemuda ini merasakan kelezatan tiga butir kurma ajwa dan seteguk air zam-zam yang dibawa oleh gurunya selepas menunaikan ibadah haji yang memang sudah beliau persiapkan.
Membawa ke pengalaman spiritual
Yang pertama kali terbayang difikirannya bukanlah menghilangkan lapar dan dahaga, melainkan hatinya bergetar membayangkan,
“Ya Rasulallah… malam ini dengan izin Tuhanmu, aku bisa merasakan apa yang dulu pernah engkau makan, dua butir kurma yang pernah mengganjal saat engkau lapar. Malam ini dengan izin Tuhanmu, kesejukan air yang dulu pernah menghapus dahagamu melewati tenggorokanku.” Hingga tanpa sadar, tubuhnya lemas membayangkan saat-saat perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan islam.
Dia berusaha mengkonsentrasikan daya ingatan mengenang keluhuran akhlak, mengenang saat Sang Nabi berduka memikirkan ummatnya di akhir zaman, mengenang kembali detik-detik menjelang kewafatannya.
Berkali-kali dalam hati “Ya Rasulallah… Ya Rasulallah, izinkan malam ini umatmu yang rapuh ini menyimpan rasa keharuan karena mengingatmu.”
Hingga dalam perjalanan pulang, airmata haru yang ia sembunyikan tak mampu lagi ia tahan. Tiga butir buah kurma yang mungkin menurut orang lain hanyalah hal biasa, tapi tidak dengan dia. Seteguk air zam-zam yang mungkin bagi mereka hanyalah hal biasa, tapi itu tidak menurutnya.
Histori Sang Rasullah lah yang membuat kedua nikmat dunia itu begitu luar biasa.


