Wasiat Ayahku

Sunday, 29 April 2012 21:44 | Cerpen,Puisi & Sajak | 0 Comment | Read 327 Times

Ayah ……….

Dulu keringatmu pernah bercucuran disini

dulu keringatmu banyak membahasi tanah ini

dulu kulitmu pernah terbakar matahari ditempat ini

wajah cemasmu nampak saat menantikan butiran hujan

wajah ibamu menghias ketika melihat tanaman yang layu

senyum bahagia terbit juga akhirnya saat musim panen tiba

 

Engkau tak pernah mengeluh

hasil yang didapat hampir semuanya engkau peruntukkan

untuk keluarga, untuk anak dan istrimu

engkau tak sempat membeli baju baru

engkau tak pernah bisa mengganti peci hitammu yang sudah mulai berubah warna

peci itu masih aku simpan dalam lemariku

13 tahun berlalu, senyum ikhlasmu dalam menjalani hidup

terpatri dalam ingatanku takkan aku lupakan

Semoga kami anak-anakmu mampu menunaikan wasiat terakhirmu

“Adakalanya kamu harus seperti kapas, adakalanya juga kamu harus seperti besi, saat orang lain menjadi besi yang mencoba memukulmu, jadilah kamu kapas, maka sekeras apapun mereka memukulmu, tidak akan menimbulkan kegaduhan, kalau pun ada suara keributan bukan dari kamu, tapi dari orang lain yang berada disekitarmu. Saat ada orang munafik mencoba menikammu dari belakang dengan berpura-pura berlemah lembut terhadapmu, maka jadilah besi kalau perlu besi yang merah membara karena dibakar, kamu diam saja tidak usah bereaksi, nanti kalau ada kapas ( munafik berwajah 2) yang mencoba mendekatimu, ia akan terbakar dengan sendirinya”.

Share on :

About

Blogger yang selamanya jadi murid ... ... ... ...

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: ,

Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site