
Ayah ……….
Dulu keringatmu pernah bercucuran disini
dulu keringatmu banyak membahasi tanah ini
dulu kulitmu pernah terbakar matahari ditempat ini
wajah cemasmu nampak saat menantikan butiran hujan
wajah ibamu menghias ketika melihat tanaman yang layu
senyum bahagia terbit juga akhirnya saat musim panen tiba
Engkau tak pernah mengeluh
hasil yang didapat hampir semuanya engkau peruntukkan
untuk keluarga, untuk anak dan istrimu
engkau tak sempat membeli baju baru
engkau tak pernah bisa mengganti peci hitammu yang sudah mulai berubah warna
peci itu masih aku simpan dalam lemariku
13 tahun berlalu, senyum ikhlasmu dalam menjalani hidup
terpatri dalam ingatanku takkan aku lupakan
Semoga kami anak-anakmu mampu menunaikan wasiat terakhirmu
“Adakalanya kamu harus seperti kapas, adakalanya juga kamu harus seperti besi, saat orang lain menjadi besi yang mencoba memukulmu, jadilah kamu kapas, maka sekeras apapun mereka memukulmu, tidak akan menimbulkan kegaduhan, kalau pun ada suara keributan bukan dari kamu, tapi dari orang lain yang berada disekitarmu. Saat ada orang munafik mencoba menikammu dari belakang dengan berpura-pura berlemah lembut terhadapmu, maka jadilah besi kalau perlu besi yang merah membara karena dibakar, kamu diam saja tidak usah bereaksi, nanti kalau ada kapas ( munafik berwajah 2) yang mencoba mendekatimu, ia akan terbakar dengan sendirinya”.
Blogger yang selamanya jadi murid ... ... ... ...
EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !
Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

Tagged with: Kisah Petani,
Pelajaran dari seorang ayah