2:05 pm - Saturday July 15, 3854

Kisah Nyata: Surat Ijin Menikah(SIM) Dari Orang Tua

Thursday, 16 June 2011 19:58 | Hikayah | 1 Comment | Read 1112 Times

Tanbihun – Dahulu aku mendapati seorang teman yang sedikit pendiam tapi sangat luwes saat bergaul dan berteman. ternyata selain mudah bergaul dan selalu semangat saat bekerja dia juga selalu ingin menyenangkan hati kedua orang tuanya. walau masih sangat muda namun sudah di beri kemapanan dalam usaha.

Seiring waktu berjalan datanglah saatnya cobaan menyapanya cobaan ketaaatan kepada orang tua nya. kala itu dia telah mendapati seorang yang ingin ia jadikan pendamping hidup nya karna dia sudah merasa mampu untuk berumah tangga walau usia masih muda tapi dia telah sangat berniat membina rumah tangga dengan gadis yang menurutnya mampu untuk mendampinginya dalam mengarungi kehidupan dunia juga diakhirat kelak. Langkah pertama yang dia lakukan adalah mendatangi ibunda tercintanya untuk menyampaikan keinginan hatinya karena ayahnya telah wafat.

Pertama dia meminta izin ingin menikahi gadis yang menjadi kekasihnya saat itu dengan perasaan senang dan bangga hati tentunya,tapi ternyata ibunya menolak dan tidak mau memberikan do’a restunya tanpa alasan apapun pokok nya” TIDAK!!!” kata sang Ibu tegas. Kemudian setelah satu minggu berlalu dia pun berbicara laghi kepada Ibunya dengan permintaan yang sama dan untuk yang kedua kalinya Ibunya tetap menjawab tidak,dia pun berfikir mungkin waktunya kurang tepat mungkin besok cari waktu saat suasana hati ibu lagi fresh.

Setelah selama dua minggu dia pun meminta izin kepada sang Ibu dan kali ini menurutnya penentu kalau di izinkan ya Alhamdulillah dan jika tidak pun ya mundur saja walau hati kecewa. dan ternyata jawab ibunya masih tetap sama “tidak boleh”. Ahirnya dengan niat birrul walidain kepada ibunya dia pun mundur teratur. Kecewa sudah pasti hinggap dihatinya, perasaannya seakan teriris, gugus harapan yang pernah menghiasi hari-harinya hancur lebur, mimpi-mimpinya pun mendadak berubah drastis dipenuhi nuansa sendu. Saat itu dunia berasa kiamat lokal, namun keinginan membahagiakan ibunya lebih besar daripada keinginan yang lain. Rasa ta’dhim kepada orang tuanya membuatnya merelakan mengesampingkan urusan pribadinya bahkan perasaannya sendiri.

Ingin rasanya ia segera melewati masa-masa pahit ini, namun sepertinya sang waktu masih enggan menghempaskan kecewa yang masih tersisa. Suatu waktu datanglah seorang teman mengajak nya pergi jauh ke negeri sebrang untuk sekedar untuk refresing saja bukan untuk mencari kerja,dan pergilah ia dengan seorang temanya ke sebrang nan jauh di sana setelah beberapa hari dia dan teman temanya melepaskan penat yang mengendap di pikiran dan hatinya tiba juga saat nya untuk pulang. saat pulang dia mengajak temannya untuk mampir ke tempat guru ngajinya waktu dulu kemudian mampirlah mereka berdua dengan perasaan yang sudah plong sudah fresh.

setelah beberapa hari tidak di sengaja dia bertemu dengan cucu dari guru ngaji nya itu lalu mengobrol sedikit dan saling berbagi nomor handphone kemudian keesokan harinya dia pun pamit kepada gurunya untuk kembali pulang. Perkenalan dengan cucu guru ngajinya biasa saja, tak ada yang spesial, semua berjalan biasa-biasa saja. Sampai di rumah pun tak ada perasaan spesial atau ingat dengannya, sampai pada suatu malam, saat dia pulang dari bekerja seharian, disaat dia teringat dengan keinginan berumah tangga yang sempat redup, tiba-tiba dia teringat gadis yang baru beberapa hari dikenalnya. Singkat cerita dengan diawali basa-basi sms, mereka pun akhirnya jatuh hati.

Kadang sekali waktu mereka bisa bertemu saat ada kunjungan atau acara-acara lainnya, meski pun mereka masih malu-malu saat harus bertatap muka. Waktu telah menyatukan hati mereka, dengan niat yang mantab mereka sudah yakin melangkah ke arah hubungan yang serius.

kemudian diapun mengutarakan maksud hatinya kepada ibundanya untuk menyunting cucu dari kyainya. Trauma penolakan dari ibunya tiba-tiba menggelayuti pikirannya, kadang dia yakin kali ini restu ibunya pasti didapat, kadang dia was-was jangan-jangan kali ini nasibnya akan sama dengan yang dulu. dan apa yang di harapkan pun terjawab dengan senyum ibunya menjawab “ia boleh dan sangat boleh”. Saat itu dunia seakan berubah penuh warna, senang, haru,bahagia, campur-aduk tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya ucapan terima kasih kepada ibunya dan puji alhamdulillah kepada robb-nya atas anugerah yang diberikan kepadanya, jodoh seorang gadis yang dia sayangi, masih cucu kyainya dan dapat restu dari ibunya. Ingin rasanya saat itu juga dia melamar pujaan hatinya itu.

itu secuil kisah dari seorang kawan yang mampu menuruti kehendak orang tua dan di beri anugrah yang taiada tara dari Alloh subhanahu wata”ala karana kesabranya untuk selalu ta’at kepada orang tuanya.

Dan ketahuilah meninggalkan keta’atan kepada kedua orang tua tanpa adanya sebab udzur adalah dosa besar(riayah ahir bab dosa gede : duso gede tinggal to’at ing tuo roro tan ka’udzuran).

 

Share on :
 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: ,

surat izin menikah,menikah,surat persetujuan orang tua untuk menikah,surat ijin menikah dari orang tua,surat izin menikah dari orang tua,cara menyampaikan kata2 ingin menikah kepada orang tua,kisah nyata ketemu jodoh,surat ijin menikah

Anda mungkin juga menyukaiclose