Tanbihun- Tiba-tiba saja nama Muhammad Syarif menjadi terkenal hampir menyamai ketenaran Briptu Norman kamaru, bukan karena aksinya di youtube melainkan karena aksi bom bunuh dirinya di masjid polres Cirebon.
Menyimak penuturan ayah dari Muhammad Syarif dan beberapa teman,tetangga, dia adalah sosok yang mudah meledak emosinya,dia selalu tampil beda diantara teman-temannya. dimata ayahnya Syarif tergolong anak yang “berani”, dia sering melawan orang tuanya. kata para pakar syarif ini mengalami cacat secara psikologis,keadaan ini diperparah dengan kondisi perekonomian yang tak kunjung membaik. saat orang mengalami banyak tekanan hidup, dia akan menjadi mansusia yang sensitif,mudah marah,mudah tersinggung.
Saat himpitan hidup semakin dirasa kian memojokkan seseorang,dia akan mencari celah untuk melepaskan diri dari jeratannya. pada saat kondisi seperti ini,ada satu tawaran menarik, “matilah syahid,maka diakhirat akan menemukan kemuliaan”. tawaran ini bisa didapat dari mendengar atau membaca. doktrin-doktrin semacam ini memang benar,tapi akan menjadi tidak pas ketika ini dijadikan dalih untuk “merayu” seseorang untuk melakukan aksi-aksi yang akan mengancam ketentraman dan keamanan orang lain dan lingkungan. seseorang yang sudah dibidik, otaknya akan terus dicuci, dihadapankanlah semua permasalahan hidup yang menjeratnya adalah akibat ulah atau kesalahan-kesalahan pihak-pihak yang sudah menjadi target (musuh) mereka.“dan inilah kesempatan baik bagimu, biarlah kamu gagal didunia,tapi kamu akan mulia diakhirat.” begitulah kira-kira paham yang ditanam diotak si syarif.
Berbicara mengenai penanggulangan atau memeberantas teror bom,tidak semudah menggelar acara jumpa pers, harus dimulai dari semua lini,faktor ekonomi,pendidikan,kesehatan,sosial-politik, semua harus dicermati,karena saling terhubung dan membawa dampak. Semua pihak harus terlibat, kita berperan sesuai bidangnya masing-masing. dan yang terpenting,bukan cuma mencari “kambing hitam” tapi mencari solusi yang tepat untuk mengatasi semua ini.
Kalau hanya mencari aktor intelektual atau jaringan-jaringannya semata, lalu menangkap dan menjebloskan mereka ke penjara atau menghukum mati. maka yang terjadi malah akan semakin menyulut kebencian mereka, dan ini sudah kita buktikan. usaha pendekatan itu jauh lebih baik, jangan-jangan mereka berulah begini karena merasa disisihkan,tidak pernah diajak ikut serta dalam bidang-bidang yang sesuai keahlian mereka.
Sebagai penutup, semoga dimasa yang akan datang kita akan banyak belajar dari masa lalu. Kita hanya bisa melarang kegiatan,tapi tidak untuk paham.Komunis boleh dilarang,namun tidak serta merta pahamnya juga ikut sirna.semoga kesadaran dan kepedulian kita terhadap lingkungan semakin hidup.saling bantu,saling menghormati.
motto :
“Berbeda tidak berarti harus bermusuhan”






Ikut prihatin dan sedih atas korban yang berjatuhan pada bom bunuh diri di mesjid Polres Cirebon.
Semoga para korban maupun keluarganya diberikan kesabaran dan kekuatan iman, dan semoga yang terluka cepat sembuh dan pulih seperti sediakala.
Agaknya si pengebom dan kelompoknya mengabaikan (atau tidak tahu?) tentang Fiqh Jihad, dimana Rasululloh berpesan wanti- wanti kepada Sahabat Muadz bin Jabal, agar saat berperang sedapat mungkin untuk tidak menghancurkan pepohonan, membakar gedung- gedung, merusak tempat tempat ibadah (dari agama apapun, apalagi mesjid), tidak membunuh anak- anak, wanita orang tua atau para Rahib/ Pendeta, kecuali kalau mereka menyerang………..?
kemungkinan besar mereka menafsiri fiqh jihad dengan cara berbeda.
Kita tentu ingat kisah Dzul Khuwaisirah at-Tamimi sewaktu pembagian Ghanimah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seusai perang Hunain yang mana dia berkata : “Berlaku adillah wahai Muhammad karena sesungguhnya engkau tidak berlaku adil!”, dia juga mengatakan : ”Pembagian itu tidak diinginkan untuk Wajah Allah”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya :
”Celakalah engkau ! , siapa lagi yang berlaku adil jika aku tidak berbuat adil?” tidakkah kalian percaya kepadaku padahal aku dipercayakan oleh Dzat yang di atas
Tatkala ‘Umar bin Khattab ingin membunuhnya, maka Rasulullah berkata :”Biarkan dia! Karena sesungguhnya akan keluar dari keturunannya suatu kaum yang mana kalian merasa kecil/hina shalat kalian jika dibanding dengan shalat mereka,puasa kalian dengan puasa mereka, mereka membaca al Qur’an namun tidak melampaui kerongkongan mereka, mereka membelot dari Agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya”.
Peristiwa demi peristiwa berlalu, puncaknya insiden penikaman Khalifah Ali RA sewaktu hendak ke Masjid oleh Abdurrahman(konon rajin beribadah) atas perintah Hurkus dari bani tamim(yang tak lain bekas komandan Ali). ia merasa tidak puas atas kebijakan Ali dalam menangani “pemberontakan” Mu’awiyah di Damaskus.
Hurkus adalah seorang yang lurus dan keras. Caranya memandang masalah selalu “hitam putih”. Karena cara berpikirnya yang sempit, ia pernah menggugat Rasulullah. Sekarang ia menganggap Muawiyah maupun Ali melanggar hukum Allah. “Laa hukma illallah (tiada hukum selain Allah),” serunya. Pelanggar hukum Allah boleh dibunuh, demikian pendapatnya.Kelompok Hurkus segera menguat. Orang-orang menyebut kelompok radikal ini sebagai “khawarij” (barisan yang keluar). Mereka menyerang dan bahkan membunuh orang-orang yang berbeda pendapat dengannya. Pembunuhan berlangsung di beberapa tempat.
agaknya “embrio” Radikalisme berakar dari rangkaian peristiwa ini, benar, Perkata’an Rasulullah telah terbukti!. mereka mengagumkan dlm Sholat hingga hitam jidadnya,panjang jenggotnya(walupun tiga biji), rajin membaca alQur’an, namun tak pernah mengerti maknanya,hingga keliru menafsiri jihad.. wallahu a’lam
untuk mati sahid apa dengan bunuh diri apa tidak sebaliknya tu
mati sahid perang membela agama dengan terang terangan dan tidak dengan cara mengebom drinya sendiri to ?