Tanbihun.com – Khawatir dianggap tolol, orang sibuk berkomentar, tak sadar yang diucapkan justru mengisyaratkan kedunguanya.Gerombolan Anak TK yang sewaktu Gus Dur masih sehat wal afiat itu kini sudah beranjak SD, tapi ributnya masih tiada ketulungan. Namanya anak-anak polah tingkahnya sering menggemaskan, maklumi saja. Kadang sewaktu cuping hidung pak guru mengendus aroma busuk di ruangan itu, dengan sigap anak yang kentut akan berteriak; woii bau kentut nih…, lalu yang lain-lain celingukan, saling tuding, saling tuduh, saling curiga darimana sumber kentut itu berasal. kalau sudah begitu dengan bijak ketua kelas mengusulkan; ah, begini saja pak guru, rasa-rasanya semua anak disini kentutnya selalu macam ini, kita tunggu saja sampai ada kentut yang paling berirama, lalu kita ringkus sama-sama!. Ahirnya mau nggak mau pak guru pun berkata masyqul; baiklah Ananda…
Dua bulan belakangan, anak-anak boleh dibilang sedang dilanda riang, pasalnya ruang kelas mereka baru di renovasi. beberapa negeri tersohor ikut andil dalam proyek renovasi itu, misalnya kursi super empuk yang sangat manis itu khusus didatangkan dari Jerman, tapi tak berlangsung lama, entah karena terlalu manis dan takut di rubung lalat kursi-kursi merana itu dipulangkan ke negerinya Hitler lagi. dan digantikan dengan kursi buatan Jepara. Lampu merk philips itu juga buatan negeri kincir angin, rupanya setelah menggelapkan nusantara selama tiga abad belanda ingin menebus kesalahanya dengan berdagang lampu. tak cukup disitu, bahkan tempat parkir sepeda dan toilet pun ikut direnovasi. Seorang siswi gendut terbirit-birit menghindari wartawan, ketika ditanya berapa biaya anggaran yang dikeluarkan? dengan bangga anak itu berucap; pokoknya setara lah dengan biaya resepsi pernikahan putra presiden…


