1:46 pm - Selasa,22 Mei 2012

Dahulukan Akhlak Daripada Fiqih. Benarkah?

Sabtu, 23 Juli 2011 23:46 | Opini | 4 Comments | Read 352 Times

tanda tanya besarTanbihun – Pernahkah membaca buku karangan Jalaluddin Rakhmat yang berjudul ”Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih”? Mungkin kalimat tersebut kontraversial, karena berbeda dengan kebiasaan kita yang lebih mengutamakan Fiqih kemudian Tasawuf (akhlak), secara berurutan. Sehingga perlu dikaji lebih jauh benarkah dalam bermuamalah lebih baik mendahulukan akhlak daripada fiqih? Mari kita simak bersama beberapa contoh yang mungkin pernah kita alami, dengar, atau saksikan.

Contoh pertama, suatu hari si C bertamu pada teman akrabnya yaitu si D untuk membahas tentang pembagian harta warisan. Kebetulan di meja tamunya ada peringatan ”Dilarang Merokok!” yang sangat jelas terbaca dan si C sendiri tau kalau si D tidak merokok. Namun, tanpa ada perasaan bersalah si C tetap merokok. Hal ini tentu sangat tidak sopan dan secara tidak langsung telah membuat madharat kepada si D, karena pada hakikatnya rokok mengandung ribuan bahan kimia yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Bahan kimia tersebut diantaranya adalah: hydrogen cyanide (racun yang digunakan untuk hukuman mati), methanol (bahan bakar roket), arsenic (racun tikus putih), butane (bahan bakar korek api), napthalene (bahan kapur barus), acetone (bahan penghapus cat), dan masih banyak bahan kimia lain yang tentunya sangat membuat kita sakit. Akankah kita selamanya terus merokok? Tentu tidak! Karena setiap orang punya hak untuk menghirup udara bersih, dilarang merampas hak itu! Penelitian menunjukkan bahwa >50% orang miskin di Indonesia menghabiskan uangnya hanya untuk merokok. Sangat memalukan!

Contoh kedua, suatu hari seorang wanita sebut saja Fulan (warga non-Rifaiyah) mengadu pada temannya yang warga Rifaiyah, perihal sindiran dari kiai (Rifaiyah) yang ditujukan kepadanya pada saat dia lewat di depan rumah sang kiai. ”Ya Allah, saya benar-benar merasa sangat kecewa atas ucapan sang kiai kemarin. Pada saat saya lewat, kiai tersebut berkata: ”Ini dia biduan kita mau lewat, awas minggir” terang Fulan dengan mata berkaca-kaca. Kemudian dia melanjutkan ”Memang si pada saat itu saya tidak pakai jilbab dan bercelana, tapi apa tidak ada kalimat lain ya yang lebih pantas diucapkan?”. Fenomena tersebut benar adanya dan ini menjadi pelajaran penting bagi kita untuk bisa memberikan dakwah kepada orang lain dengan bahasa santun yang sekiranya tidak menyakiti perasaan orang lain. Misalnya: ”Kamu itu cantik, tapi lebih cantik lagi jika berjilbab, karena berjilbab itu perintah Allah lho seperti yang tersurat dalam Al Quran surat An-Nur, makanya berjilbablah mulai dari sekarang ya!”. Ibaratnya jika kita merasa sakit bila disobek mulutnya maka jangan sekali-kali mencoba untuk memancing ikan/ jika kita merasa gundah/gelisah bila dikunci di kamar seharian maka jangan sekali-kali mencoba untuk memelihara burung di dalam sangkar, karena itu berarti telah merampas kebebasan hidup si burung. Burung juga butuh berinteraksi dengan burung lain, dia juga butuh berhubungan intim dengan burung lain untuk menghasilkan keturunan.

Contoh ketiga, Si W adalah orang yang sangat fanatik dalam memahami islam. Orang ini jika ada kemaksiatan sedikit langsung beraksi dengan tindakan anarki, mudah mengkafirkan orang lain, dan menganggap maulid nabi itu bid’ah. Namun, rupanya Allah menurunkan petunjuk kepadanya berupa orang beragama budha yang miskin. Si budha ini selalu membersihkan halaman rumah dan memotong rumput taman si W dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan. Suatu hari ada beberapa genteng rumah si W yang retak sehingga jika hujan kemasukan air. Melihat kabar tersebut si Budha langsung mengganti genteng tersebut sehingga rumah si W tak kebocoran lagi. Namun, perlakuan2 si Budha tersebut rupanya belum bisa menyadarkan si W. Akhirnya, tersiar kabar bahwa si budha terserempet truk hingga harus di opname di rumah sakit. Si W pun menjenguknya. Di sana si budha ditemani istrinya. Tiba-tiba, si budha memberi pesan terakhir kepada istrinya dengan suara lirih di dekat telinga sang istri, sehingga membuat si W penasaran. Seketika itu juga si budha menghembuskan nafasnya yang terakhir. Beberapa bulan telah berlalu, hingga suatu hari si istri budha datang ke rumah si W dengan memberikan makanan lengkap dengan lauk-pauk dan buah-buahan. Si W pun penasaran, ada apa gerangan? Si istri budha menjawab: saya telah dipesan oleh suami saya untuk selalu memberikan sedekah dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Si W pun langsung menyadari ”betapa tidak diriku ini yang beragama Islam kurang asih kepada Nabi Muhammad SAW, sedangkan mereka yang beragama budha bahkan miskin pula sangat menghargai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW”. Astaghfirulloh…

Contoh keempat, suatu hari pada pengajiannya seorang kiai menerangkan tentang kehidupan bermuamalah. Awalnya beliau membahas masalah pentingnya menutup aurat bagi muslim pria dan perempuan dan mereka yang membuka aurat pada hakikatnya sengaja mencium api neraka jahanam. Kemudian beliau juga membahas mengenai orang-orang yang dalam sholatnya tidak ”madal” kakinya dan tidak tuma’ninah. Pembahasan selanjutnya yakni keharusan untuk berhati-hati dalam bermakmum kepada orang lain, dst. Hampir berbulan-bulan rasanya yang dibahas hanya fiqih, padahal yang diharapkan sekiranya ada selipan pelajaran tentang akhlak. Misalnya: pentingnya bersedekah kepada orang lain, menolong fakir-miskin dan yatim-piatu, pentingnya menjaga perasaan orang lain, larangan mengumpat dan membicarakan aib orang lain, atau pentingnya menghargai dan toleransi antar warga. Mengapa ini juga perlu disampaikan? Karena kebetulan di masyarakat setempat ada keluarga dan orang yang miskin. Keluarga A tergolong miskin, karena dinding rumahnya terbuat dari pagar bambu, tidak berubin alias tanah dan ukuran rumahnya kecil. Keluarganya terdiri dari 2 orang, bapak dan 1 anak. Si bapaknya sudah tua renta (kakek) dan sering sakit, sedangkan anaknya hanya bekerja sebagai buruh masak di tetangganya yang upahnya tidak seberapa. Di depan rumahnya tampak dia menengadahkan tangannya kepada orang yang kebetulan lewat. Si B (gila) setiap hari membersihkan lingkungan (menyapu & membuang sampah pada tempatnya) di desa setempat. Herannya hanya sedikit warga yang tergerak hatinya untuk memberikan uang/sedekah lain sebagai balas budi. Padahal di desa setempat banyak orang kaya dan figur (kiai, ustadz), yang sudah seharusnya bisa membantu/ meringankan beban hidupnya.

Contoh kelima, suatu hari ada tiga orang sedang membahas tentang sarung. Si A bilang: sarung itu singkatan dari ”sarang burung” lho, jadi jangan mentang-mentang mau membentuk TIM SARUNG ya… hehehe… semuanya pun tertawa. Si B bilang: sebaiknya si bercelana dengan membawa bekal sarung, jadi kalau bepergian pakai celana dan pada saat mau sholat pakai sarung gitu, kan gak repot, gak takut kena najis… Si C pun menambahi: betul, lagian apakah Islam harus selalu diidentikkan dengan sarung? Masa mau ke pasar/mall pakai sarung? Kurang pas rasanya. Wallahua’lam…

Tentunya masih banyak contoh lain yang sudah menjadi fenomena penuh dilema. Namun, contoh-contoh di atas cukup bisa dijadikan pelajaran bagi kita untuk senantiasa menebarkan benih-benih kebaikan. Dari tulisan di atas kita bisa menyimpulkan sendiri2, apakah benar akhlak lebih didahulukan daripada fiqih? Alangkah baiknya akhlak dan fiqih bisa berjalan bersama. Together to be better. Kritik dan saran bisa disampaikan di FB Nebula Ahkamy atau e-mail: kotomono25@gmail.com.

Pekalongan, 10 Juli 2011

ALI AHKAMULLOH

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

Tagged with:

tanda tanya besar (40),akhlak dan fiqih (1),betulkah pendapat dahulukan ahlaq daripada fiqh? (1),betulkah pendapat dahulukan akhlak daripada fiqih? (1),dahulukan akhlak daripada fiqih (1),mengapa kita harus mendaphulukan ahklak d atas fiqh (1),Orang sedang memakai sarung tanpa memakai celana (1),tanda tanya (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner