Tanbihun.com – Munculnya Nabi Muhammad SAW dengan risalah yang mengajak manusia pada tauhid atau kepercayaan tentang adanya Allah SWT dianggap ide gila, beliau dianggap orang “aneh”, tukang sihir dan stigma-stigma buruk ditimpakan pada diri beliau.
Syaikh Ahmad Rifa’i pun demikian, penekanan beliau tentang rukun islam satu, ibadah harus memenuhi rukun-syarat,termasuk nikah juga harus memenuhi syarat-rukunnya dianggap aneh, dianggap melawan arus, menentang kepercayaan yang sudah “baku”.
Hampir semua ide-ide hebat pada awalnya selalu dianggap aneh, sesuatu hal disebut biasa karena sudah terbiasa, dulu didaerah penulis, seorang wanita bekerja menjadi TKW di luar negeri dianggap aneh,nulayani adat (tidak lazim ), kadang oleh para ustadz/kyai disindir dalam setiap pengajian, tapi sekarang? kalau mau diadakan polling dari 100 rumah mungkin hanya 10 rumah yang anggota penghuninya tidak ada yang menjadi TKW, bisa karena memang tidak ada yang muda lagi atau penghuninya tinggal laki-laki semua.
Mengharapkan Rifaiyah bisa berkembang maju terutama kiprah aktif dari generasi muda perempuan sangatlah mustahil,jika dari mereka tidak ada yang berani memulai sebuah langkah “ekstrem” untuk keluar dari “pakem” yang sudah mendarah daging. saat ini yang baru bisa diperbuat oleh kawan-kawan akhwat baru sebatas pengajian-pengajian yang sifatnya terkesan rutinitas tanpa mau melihat atau menyambung isi dari kegiatan tersebut dengan permasalah atau isu-isu yang sedang berkembang. Mungkin anggapan ini terlalu mengada-ada, anda boleh tidak setuju dengan saya.
saya pernah ditanya oleh seseorang, bagaimana rifaiyah akan maju,kalau mereka mengikat tangan dan kakinya pada aturan-aturan yang terlalu terperinci, jadinya mereka tidak bisa melangkah, sediki sedikit tidak boleh, ini melanggar aturan(fatwa) orang tua(kyai). Apa mungkin dari para wanita jadi Anggota DPR, atau pejabat pemerintah?
Saya cuma menjawab, tak ada yang tak mungkin didunia ini, ini hanya soal siapa dan kapan itu dimulai? semua sudah ada, semua sudah siap, hanya butuh seseorang yang berani memulai.
wassalam,
em.yazid
orang aneh (27)






Maaf, mungkin salah satunya adalah hal dibawah ini yang harus di BAHTSUL MASA’IL kan, yakni berkenaan dengan pernyataan Syekh A. Rifa’i tentang Dosa besar nomor 29:
“Kaping songolikur ngumpulaken kadosan
Lanang wadon Ghoiru Mahrom NGURAT KATINGALAN.
Ingdalem sawiji nggon TAN KA UDZURAN” =
(Dosa besar)ke 29 adalah mengumpulkan …
…lelaki dan perempuan Ghoiru Mahrom, AURATNYA KELIHATAN.
Didalam satu tempat TANPA ADANYA UDZUR.
Sekarang ini dilingkungan Rifa’iyyah, lelaki perempuan Ghoiru Mahrom tetap TIDAK DISUKAI bila mereka berkumpul
Didalam satu tempat WALAUPUN MEREKA BERPAKAIAN RAPI SESUAI SYARI’AT/ MENUTUP AURAT.
Monggo dibahas. Bukankah Siti A’isyah dan Ummu Habibah ikut bertempur saat perang Uhud. Bukankah kalau bermusyawarah, LI- I’laa’i Kalimaatillah, bukan sekedar hura- hura tanpa faedah itu juga bagian dari Jihad?
betul,yang dilarang kan ” NGURAT KATINGALAN “?(auratnya kelihatan). saya sering ditanya oleh rekan2, ” apakah boleh hukumnya majlis ta’lim yang pembicaranya ustadz(pria tentunya) dan yang hadir mayoritas wanita? saya selalu bilang yang dilarang itu kan “LANANG WADON GHIRU MAHROM NGURAT KATINGALAN”, jadi kalau menutup aurat semua tentunya boleh, berdasarkan ‘ilat diatas.
tapi ditengah masyarakat rifaiyah sudah kadung melekat,pokoknya kumpul lanang wadon haram !
Assl wr wb.betul aku setuju/sependapat lanang wadon kumpul haram klo bukan muhrim.tapi sekarang banyak sekali majelis ta’lim yang didalamnya laki perempuan mnjadi satu wadah.apakah itu haram?.
jika merujuk dalam kitab2 fiqih, sepertinya ihtiyath warga Rifa’iyah dalam ikhtilat lain jenis bukan tanpa alasan. karena Ulama’ telah sepakat bahwasanya Auratil mar’ati inda ajnaby jami’i badaniha,yaitu seluruh tubuhnya, berbeda ketika sholat yang harus menutup seluruh tubuh kecuali kedua telapak tangan dan wajahnya,( wanita merdeka ).
jare guruku seng arane wong wedok luweh apik ng omah….
nek metu dek omah ora karo lanange iku mesti luweh akeh madhorote
Mmng selalu’seakan’ ada’benturan’ antara kepentingan dunia&kepntngan akhirat. antara mmpertahankn tradisi dan usaha memajukan organisasi, butuh resep formula yg tepat agar dua sisi yg kelihatan brtentangan itu dpt dipadukan dan agar bisa saling memberi nilai tambah bg tujuan masing2, tentunya ini tugas kt bersama untk merumuskan dan meluruskan hal2 krusial yg dipandang sbg faktor penghambat utama masing2 tujuan. pdhl islam itu tdk pernah ketinggalan zaman alqur’an jg slalu up to date..masak Rifaiyah statis?
Dalam kitab tabyinal Ishlah Korasan satu lembaran ketuju sudah di jelaskan Oleh Syaikh A.Rifa’i secara jelas .Kurang lebih bunyinya begini :
قال العلماء رحمهم الله – لانظر لحاجة كمعاملة
ببيع او غيره وشهادة – وتعليم لما يجب او يسن
Artinya:
Ngandiko ngulomo kang paring Alloh ingyo rohmatan
Ora harom ningali rahine kinaweruhan
Wong wadon liyo kerono hajatan
Koyo muamalah adol tuku kekarepan
Atowo liyane lan nekseni tinemune
lan memulang ing wong wadon liyane
Dalem ngilmu syara’ kang wajib ngupayane
Atowo sunnat ikulah halal hukumane
Wongkang mulang ningali rahine wadonan
Lan harom liyane rahine tan kangudzuran
Ikulah wadloe syara’ arep kinaweruhan
Supoyo dadi hasil milihe kebatinan.
Di sini kan jelas mana yang boleh kumpul dan tidak boleh kimpul to ?
Jadi kalau ada masalah kemablikan pada kitabnya jangan pada kebiasaan dan adatnya!