Tanbihun – Kebahagiaan seorang petani seperti saya adalah saat masa panen tiba. Setelah menunggu 3 bulan lebih, Alhamdulillah hari ini tanaman jagung bisa dipanen, meski tidak seberapa, namun cukup menyuntikkan energy positif.
Saat harus memanggul sendiri jagung yang belum begitu mengering baru terasa pegal banget terutama pundak. Jarak 500 meter cukup membuat nyeri pundak yang belum terbiasa menahan beban, akhirnya diangkatan ke 4 saya putuskan membawanya dengan cara ditaruh diatas kepala, dengan alas kain, pertama melangkah agak lega pundaknya, tapi baru 200 meter,giliran kepala cenut-cenut , keadaan ini saya pertahankan sebab mau dipindah ke pundak, kedua sisi pundak sudah menyerah.
Istirahat dulu ah ……. Sambil menghirup udara yang segar dan gratis, saya bertemu dengan lek waijan, dia sama-sama sedang mengangkut jagung, bedanya dia yang tegap, dengan otot yang terlihat besar, kulit hitam yang Nampak mengkilap disebabkan keringat yang terkena sinar matahari dia mampu mengangkat beban jagung 1 karung penuh, 2 kali dari kemampuan saya,.
Sambil istirahat kami berbincang-bincang “tumben diangkutin sendiri?” Tanya lek waijan
“buat latihan lek,biar tahu bagaimana rasanya jadi kuli panggul” jawabku dnegan mantab
“latihan? Bisa aja sampeyan,trus bagaimana hasilnya?” Tanya lek waijan sambil menyalakan rokok tengwe(rokok bikinan sendiri)
“wah ternyata cukup berat juga lek” saya menjawab jujur tidak seperti koruptor yang senang berkelit
“ya dari seikit saja, nanti juga terbiasa, ayo kita turun ke sawah lagi” lek waijan mengajak kembali ke sawah
Sambil berjalan, saya berpikir, lek waijan ini sosok seorang petani yang ulet, tahan uji, petani pemula seperti saya harus banyak belajar dari senior-senior macam lek waijan ini.
Kala mengingat beban berat setengah karung jagung saya jadi teringat akan perjuangan seorang ayah, seperti lek waijan ini, ketiga anaknya semuanya lulus sekolah sampai SMA, ketiga-tiganya sudah bekerja, boleh dibilang semua anaknya sukses.
Benarkah kesuksesan anak-anaknya lek waijan itu adalah kesuksesan mereka sendiri? Sebenarnya sukses yang diraih seorang anak hakikatnya adalah kesuksesan orang tuanya. Jika kita sukses hari ini, itu karena ada peran orang tua kita, dan jika kesuksesan kita itu harus dibanggakan, merekalah yang pantas membanggakannya.
Kesuksesan kita kapan? Nanti saat anak-anak kita sukses, saat itulah kita boleh tersenyum bangga, kita boleh menyandang gelar sukses. Jadi jangan bangga dengan sukses kita sekarang, karena ini bukan kesuksesan kita. Persiapkan anak-anak kita demi kesuksesan kita nanti.
Salam dari petani.(zid)
panen jagung (12)





