Tanbihun – Suatu masa Allah mengabarkan kepada malaikat, “aku akan menciptakan khalifah di muka bumi”. Malaikat terhenyak kaget dan sempat protes, “kenapa engkau jadikan makhluk di bumi yang nanti akan membuat kerusakan, dan pertumpahan darah?” selanjutnya Allah lah yang lebih tahu tentang skenarionya yang melakonkan manusia sebagai penggantinya. Karena Allah telah memberi bekal kepada manusia berupa kemampuan untuk menyebut nama-nama. Nama-nama dirangkai menjadi kata-kata, kata-kata dirangkai menjadi kalimat, kalimat dirangkai menjadi ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan di peras, ditiriskan untuk diambil hikmahnya.
Dalam cerita yang juga dimuat dalam Surat al-Baqarah itu menerangkan bahwa syarat menjadi khalifatullah adalah tidak melakukan kerusakan di muka bumi, dan tidak berbuat pertumpahan darah. Berarti orang itu harus menyebarkan salam (keselamatan, kebaikan) kepada siapapun. Bahkan saking dianjurkannya kebaikan maka kata kebaikan dalam al-qur’an pun mempunyai banyak varian: khair, bir, ma’ruf, sahih, hasan dll.
Orang Islam adalah orang yang perbuatan, ucapannya menyelamatkan makhluk lainnya atau rahmatan lil alamin. Kasih sayang bagi sekalian alam itu tidak terbatas pada manusia yang beragama Islam saja. Tetapi meliputi tumbuh-tumbuhan, hewan, udara, oksigen, atmosfer, litosfer, dll.
Kalau anda menebang pohon tanpa membertimbangkan bahwa pohon adalah pabrik oksigen untuk setiap makhluk hidup, karena tanpa oksigen manusiapun tak bisa bernafas hidup; pohon juga mengikat tanah hingga tak longsor; menyimpan air hingga kemarau tiba, sumur-sumur penduduk tetap basah. Tentu menebang pohon terasa enteng dan tidak dikategorikan sebagai dosa.
Kalau ribuan orang konvoi kampanye tak mempertimbang uap knalpot carbon monoxide yang menguap berkumpul di atmosfer menjadi ’kaca pengilon’ yang merusak lapisan ozon, tentu gerah sumuk manusia kita anggap bukan berasal dari tingkah polah manusia yang dijuluki malaikat sebagai perusak bumi.
Sudah Ribuan orang membuang limbah pabriknya ke sungai, hingga kebeningan airnya menjadi pekat beracun. Ikan, udang, burung, kepiting, anggang-anggang, ganggang, lumut, dan habitat makhluk hidup kau bunuh dengan racun limbah pabrik yang mematikan. Tidak kah kasihan engkau kepada anak cucumu yang menikmati kehancuran dan kerusakan alam. Kau tegakkan hidupmu dengan mendzalimi anak cucumu sendiri. Tetapi itu pun dalam hatinya manusia tak merasa berdosa. Karena mungkin membuang limbah tidak tercantum dalam deretan dosa besar di dalam kitab-kitab. Semua perbuatan merusak bumi adalah anti terhadap tugas kekhalifahan yang sudah diembankan oleh Allah.
Tugas kekhalifahan untuk menebar keselamatan dengan manusia lainnya juga dengan cara menjaga agama, harta, kehormatan, kedudukan, keturunan, orang lain seperti ia menjaga dirinya sendiri. Manusia beriman tentu perbuatannya mengamankan hati tetangga, dan orang-orang yang dijumpainya. Kalau rumah kita kelewat bagus, sedang tetangga berumah gedek, tentu kita tidak mengamankan hati kekasih kita itu. Kalau pelacur saja masuk sorga, berkat kasih sayangnya kepada anjing. Bagaimana dengan kita yang mengasihi tetangga kita. Sudahkah kita mencintainya. Sedang membuat tetangga tersenyum saja tak pernah.
Wisanggeni Panuluh



maaf mau nanya….”kaca pengilon” itu apa ya????…
apakah salah ketik atau memang ada istilah kaca pengilon.
apakah yang di maksud saudara penulis “kaca pengion” kali ya???, yang dikenal dengan istilah populernya “efek rumah Kaca”.
yakni yang bersumber dari C02 dan gas buang pabrik berupa CFC, gas metana dan ozon serta N2O di lapisan troposfir yang mengabsorbir radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Yang dapat mengakibatkan gejala yang membahayakan kehidupan di bumi. Hal disebabkan panas matahari tersebut dapat
terperangkap dalam lapisan troposfir. Gejala ini menghasilkan fenomena pemanasan global.
mungkin yang di maksud penulis adalah “KACA CERMIN”