Melaknat Tahlilan Mendukung Tahlil

Tanbihun.comAneh?!, begitulah yang terjadi, Sebagian orang terjebak dalam istilah ambigu. so’al remeh-temeh menjadi alasan pertikaian. ketika tak mampu menangkap esensi dan hanya melihat kemasan lalu ramai-ramai berteriak sesaat!, Bid’ah!, Kafir!. mirip hikayah Saudagar kaya yang sembrono membantai kucing peliharaanya lantaran mendapati si kucing berlumuran darah. Sang saudagar mengira si kucing telah menyantap putra kesayanganaya, oh…padahal kucing itu baru saja berjibaku melawan ular yang hendak memangsa putra sang saudagar.

Adalah Tahlilan, acara seremonial yang masyhur di kalangan masyarakat itu oleh sebagian orang di nilai cacat hukum. menyelisihi sunnah Sang Junjungan. oleh karenanya pelakunya layak digelari Mubtadi’ ( pelaku bid’ah ). lebih dari itu sang pelaku juga terancam menghuni Jahanam. mengerikan bukan?.rame-rame mereka mencuri hak Tuhan semesta alam.

Tahlilan bukanlah Tahlil, begitu menurut mereka, sekalipun dalam Tahlilan ada Tahlil yang di rapal, ada baca’an Tahmid, Tasbih dan juga sejumlah Ayat dalam Al-qur’an. bahwa ada nilai silaturrahmi dan mempererat persaudara’an antar muslim dalam Tahlilan, toh tetap saja tidak menyurutkan langkah mereka untuk lantang mengatakan itu bukan Tahlil.

lalu dimana masalahnya?!. tentu saja masalahnya Rosulullah tidak melakukanya, lho,..apakah tiap sesuatu yang tidak dilakukan Rosulullah lantas menjadi haram?!, lagian siapa bilang Rosulullah tidak menganjurkan Silaturrahmi, berdzikir, shodaqoh?!…  ah pokoknya “Kullu bid’atin dholalah, Wa kulla dholalatin finnar”, habis perkara! masa bodoh apa itu bid’ah hasanah, bid’ah sayyi’ah.

Lagi menurut mereka, Tahlilan haram, karenanya keluarga mayit yang sedang berduka itu di repotkan dengan menyediakan hidangan, dalilnya tegas melalui Peristiwa gugurnya Ja’far bin Abi Thalib yang gugur di medan laga, waktu itu Rosulullah mewanti-wanti Sahabat agar membuatkan makanan untuk keluarga Ja’far yang miskin itu, bukan malah membebaninya.  maka lalu yang haram itu membebani Shohibul musibah ataukah tahlilan?!, lantas bagaimana jika tak ada hidangan, atau justeru warga yang gotong royong menghimpun sumbangan seperti kebiasaan orang takziyah ?!. oh.. ternyata hanya so’al teknis, oh.. ternyata benar itu haram tapi karena sebab.

Benarkah jika Tahlilan haram?, benar! jika diindikasikan membebani keluarga mayit. hmm.. kalau Tahlilan di Masjid-Mushola tiap malam jum’at, Tahlilan RT nan, Tahlilan di acara walimah, Tahlilan munfarid, Tahlilan keliling, kira-kira membebani siapa ya?!…

Tetap saja haram!, Nhawong jelas-jelas ini ada kaidah sakti; ” Segala ibadah itu asalnya haram, sampai tegaknya dalil yang memerintahkanya”. nah lo.. dapat di mengerti kan?!, mana itu dalilnya Tahlilan? Mana perintahnya?… Waduh, sebentaar.. apa ndak sebaiknya kaidah itu di kuliti dulu, apa iya mau di telan begitu rupa? eh.. bukanya syarat Kaidah kulli itu musti steril dari Dzon, Wahm, dan Syak didalam kalimatnya?. sementara menghukumi HARAM itu harus dengan dalil yang QOT’HI tsubut dan dhilalahnya bukan?!.

Padahal kaidah itu kalimat singkat yg meliputi jusz’iyah yang banyak, untuk membantu istinbath hukum. Bila dalam kaidah itu sendiri masih ada sesuatu yang tidak jelas, maka kehilangan fungsinya untuk mempermudah istinbath hukum. Bagaimana mau membantu istinbath hukum, kalau ia nya sendiri Ambigu?. Ibadah sendiri definisinya belum jelas, apa saja yang termasuk ibadah ?!…

Jika Sholat, puasa Ramadhan, Zakat, haji di pahami sebagai ibadah, maka itu benar  sesuai ka’idah di atas, harus Tauqufi, artinya mengikuti dalil dan contoh dari Nabi, tidak boleh asal melakukan maupun memodofikasi sendiri, haram hukumnya!, itulah yang disebut Ibadah Mahdhoh.

Lantas bagaimana dengan Ibadah ghoiru Mahdhoh?!, membangun sekolahan, membangun pesantren, mengelola yayasan, konsep walimahan, dsb. apakah iya nungguin contoh juga?!hmm.. bukanya mencumbu isteri juga termasuk ibadah?. wah…jangan-jangan “amunisi” Ka’idah inilah yang dijadikan senjata untuk membabat sesama?!.. atau jangan-jangan kurangnya ilmu dalam memahaminya. kalau begitu akan sampai kapan?!

Wallahu A’lam.

Sukorejo, 10 Pebruari 2012

88 Comments on Melaknat Tahlilan Mendukung Tahlil

  1. seng penteng ngaji disik,-
    pinter pinteran,-

    • Fadillah Effendi // 11 February 2012 at 9:58 pm // Reply

      Coba cermati ..Penulis bilang soal cacat hukum tetapi tidak membahasnya….terus bilang… .”lalu dimana masalahnya?!. tentu saja masalahnya Rosulullah tidak melakukanya, lho,..apakah tiap sesuatu yang tidak dilakukan Rosulullah lantas menjadi haram?!, lagian siapa bilang Rosulullah tidak menganjurkan Silaturrahmi, berdzikir, shodaqoh?!” tentu saja halal…tetapi kenapa mesti dibungkus tahlil yang Rosul tidak melakukan?….apa tidak bisa?. Tahlilan gotong royong… seperti ta’ziyah tidak membebani, Ah kaya nggak tau aja, uang ta’ziyah cukup untuk tahlilan?….tdak!!!..akhirnya ngutang sana-sini. Udahlah yang Baginda Rasul nggak lakukan nggak usah ngada2in…GITU AJA KOK REPOT.

      • kan dh saya bilang itu hanya so’al teknis bang… anda jgn mntup mata lalu menggeneralisir masalah,entahlah di kampung anda, tapi di kampung saya orang meninggal itu bebas biaya, kain kafan,nisan,tratak,speaker,kursi ditanggung pihak Rt yang uangnya dari iuran rutin warga, sementara para wanita berduyun2 membawa sembako,yang laki2 menyumbang uang. malamnya tahlilan mendoakan mayit tapi tdk ada hidangan, kecuali malam ketiga dan ketujuh,itupun diniati sedekah buat si mayit. shohibul musibah justru tersinggung jika yang tahlilan sdkt orang. indahnya kebersaman dan kepedulian justeru kentara disini, banyak pljrn disini.bgtulah jika Islam tak sekedar dipahami, tapi di implementasikan dalam wjud nyata,dalam sendi2 kehidupan sosial.karna sejatinya islam adalah nilai, yang katanya rahmatan lil alamiin… sekali lagi ini hanya so’al teknis, bagaimana mengaturnya, itulah tantangan kita.

        menjadi mukallaf itu memang repot bang,.. atau anda mau mencongkeli keramik halus di masjid anda?, Baginda Rosul nggak nglakuin sholat diatas keramik,atau sajadah empuk lho bang…

        • Mauludin anwar // 20 October 2014 at 10:43 am // Reply

          Memang benar, yang anda jelaskan , yang lebih jelas lagi mengaji jangan hanya dari Qur’an dan Hadist saja tapi hrus dengan Mengaji Alat juga biar tambah jelas.

      • awas loh! jangan internetan. Meski untuk tujuan dakwah. Karena Rosululloh tidak melakukannya. *ga repot kan? :)

      • padune wegah ngeluarin duwit,, alias pelit…

  2. tulisan yg bagus bermutu dan renyah…..saudaraku

  3. Langka yang bisa nulis dengan gaya seperti ini : Ilmiyah- Bermutu- tapi Segar!!!

  4. ibadah yg tdak diprintahkan Allah dan rosul-NYA akan tertolak……

    dlm hadist lain disbutkan…..

    bahwa did’ah adalah sesat, nd ssat tmptny neraka,,,,,,,,,,,,,

    naudzubillah min dzalik………..

  5. Masnun Tholab // 12 February 2012 at 8:45 pm // Reply

    Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm berkata :
    وأحب لجيران الميت أو ذي قرابته أن يعملوا لأهل الميت في يوم يموت وليلته طعاما يشبعهم فإن ذلك سنة وذكر كريم وهو من فعل أهل الخير قبلنا وبعدنا لأنه لما جاء نعي جعفر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اجعلوا لآل جعفر طعاما فإن قد جاءهم أمر يشغلهم
    Dan saya menyukai apabila tetangga si mayit atau kerabatnya membuat makanan untuk keluarga mayit pada hari meninggal dan pada malam harinya yang dapat menyenangkan mereka, hal itu sunah dan merupakan sebutan yang mulia, dan merupakan pekerjaan orang-orang yang menyenangi kebaikan, karena tatkala datang berita wafatnya Ja’far, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan”

  6. Masnun Tholab // 12 February 2012 at 8:46 pm // Reply

    . Imam Nawawi Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan :
    قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة هذا كلام صاحب الشامل ويستدل لهذا بحديث جرير بن عبد الله رضى الله عنه قال ” كُنَّا نَعُدُّ الْاِجْتِمَاعِ إلى أهلِ الْمَيِّتِ وصُنَّعَةُ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ من النِّيَاحَةِ ”
    “Penulis kitab Asy-Syamil mengatakan, ‘Adapun menyiapkan makanan bagi keluarga yang berduka dan mengumpulkan orang-orang kepadanya, itu tidak pernah diriwayatkan sama sekali’”
    Dia menambahkan, ‘Hal ini bid’ah dan tidak dianjurkan, sebagaimana yang telah dipaparkan’.
    Demikianlah perkataan Pengarang kitab Asy-Syamil berdasarkan hadits dari Jarir bin Abdullah Bajali, dia berkata, “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan sesudah penguburannya termasuk ratapan”

    • Oleh karena saya menuliskan opini diatas karena sudah baca ini bang… tapi terimakasih sudi mengopaskanya lagi disini..

  7. Al-Bakri Dimyati Asy-Syafi’i Dalam Kitab I’anatut Thalibin menguraikan :
    ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه، لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة، ويستحب لجيران أهل الميت – ولو أجانب – ومعارفهم – وإن لم يكونوا جيرانا – وأقاربه الاباعد – وإن كانوا بغير بلد الميت – أن يصنعوا لاهله طعاما يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل. ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.
    Dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk duduk-duduk berta’ziyah, dan membuat makanan supaya orang-orang berkumpul kesitu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dari Jarir bin Abdullah Bajali, dia berkata, “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan sesudah penguburannya termasuk ratapan”. Dan disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit – walau tetangga jauh – dan kenalan mereka, meskipun bukan tetangga, dan kerabatnya yang jauh, meskipun tidak di negeri si mayit, membuatkan makanan untuk keluarganya yang bisa mencukupi mereka sehari semalam. Dan haram membari makan kepada wanita yang meratap, karena hal tersebut membantu perbuatan maksiat.

    • Pendapat Imam Asy Syafi’i berkata dalam Al Umm (I/318) ”Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan.”

      Makna sebenarnya ma’tam adalah perkumpulan ratapan dan tangisan.

      Orang orang Jahiliyah jika ada yg mati di keluarga mereka maka mereka membayar para “penangis” untuk meratap dirumah mereka, semacam adat istiadat mereka seperti itu, memang sudah ada orangnya yang bertugas dan dibayar.

      Perkumpulan ratapan dan tangisan yang tidak disukai oleh Imam Syafii, dan tentunya Imam Syafii mengetahui bahwa hal itu buruk dan dimasa beliau masih ada sisa sisanya yaitu tidak meratap dan menjerit-menjerit, tapi disebut perkumpulan duka, namun beliau tak menjatuhkan hukum haram, akan tetapi makruh, karena ma’tam yg ada dimasa beliau sudah jauh berbeda dg ma’tam yg dimasa Jahiliyah, karena jika ma’tam yg dimasa jahiliyah sudah jelas jelas haram, dan beliau melihat dimasa beliau masih ada sisa sisa perkumpulan tangisan dirumah duka, maka beliau memakruhkannya

      Jadi jelaslah yang dimaksud penghidangan makanan oleh Imam Syafii dan lainnya dalam keterangannya diatas adalah ma’tam dan niyahah (berkumpul untuk meratapi) bukan tahlil/tahlilan (berkumpul untuk dzikir,sholawat dan mendoakan untuk mayyit ).Beda Tahlil/Tahlilan dengan ma’tam & niyahah.
      sebab kegiatan Tahlilan itu pas jamannya Imam Syafii dan ulama sezamannya belumlah ada bang, karena Tahlilan itu lahir hasil dari strategi dakwah wali songo.

  8. Pernah terjadi jamaah semarang timur tahlilan di masjidil haram mekah diusir sama askar masjid, askar bilang haram haram !!! jamaah semarang timur nggerundel. Ditempat asal agama islam saja tidak ada tahlilan, yg pakai ila ila

    • Perilaku orang arab itu bkn dalil pak…di arab memang gk ada tahlilan, sama halnya gak ada kupat opor maupun sungkem saat lebaran,…

      • teu bodo2 achan // 28 December 2013 at 10:11 pm // Reply

        kang, semue nye kembali ke niat. wong shalat aja niat nya kaga suci mah… sahun
        apalagi tahlilan …..barang anyar

  9. karnadi kasan sardji // 14 February 2012 at 9:38 pm // Reply

    Kita memang termasuk orang2 baru…artinya yang baru dilahirkan di abad ke 21. Sementara lahirnya agama Islam’kan diabad 1 Hijrah…Islam di Indonesia (Jawa) baru masuk pada sekitar abad ke 12 dimana pada waktu itu masyarakat Jawa pada saat itu banyak yang menganut agama Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, Politeisme dan lainnya….
    Beruntunglah Bapak/Ibu kita beragama Islam, sehingga kita menjadi orang Islam, kalau tidak ? mungkin kita bukan menjadi orang Islam…Agama Islam yang dianut oleh Bapak/Ibu kita atau nenek/kakek kita masih mengikuti ala tradisional..antara lain tiap malam jum’at membuat sesaji, membuat bubur merah putih, membuat ruwatan dsb-nya..karena mengikuti tradisi…Setelah kita besar dan belajar agama dengan banyak guru…barulah kita tahu bahwa selama ini…kegiatan seperti sesaji, ruwatan dsb-nya adalah ritual2 yang bukan ajaran Islam..maka WAJIBLAH kita tinggalkan…TAHLILAN ? YA…KITA TINGGALKAN…’KAN TIDAK DIAJARKAN OLEH ROSULULAH SAW…kenapa mesti kita selenggarakan kalau memang itu tidak ada dasarnya ?…

    • setelah belajar agama dengan banyak guru harusnya paham apa itu ibadah MAHDHOH dan GHOIRU MAHDHOH…

      • Berdasar kan Al Qur’an:
        Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo’a : “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami” (QS Al Hasyr: 10)
        Dalam ayat ini Allah SWT memuji orang-orang yang beriman karena mereka memohonkan ampunan (istighfar) untuk orang-orang beriman sebelum mereka. Ini menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal masih dapat memperoleh manfaat dari doa atau ampunan dari orang yang masih hidup.

        Berdasarkan Al Khadist
        * Hutang puasa orang yang meninggal dapat dibayarkan oleh yang masih hidup

        عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ اَفَاَقْضِيْهِ عَنْهَا ؟ فَقَالَ : لَوْ كَانَ عَلَى اُمِّكَ دَيْنٌ اَكُنْتَ قَاضِيْهِ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : فَدَيْنُ اللهِ اَحَقُّ اَنْ يُقْضَى.

        Dari Ibn Abbar radiallahu ‘anhu berkata: Seorang lelaki datang kepada nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Ya Rasulullah! Ibuku telah meninggal sedangkan dia masih berhutang puasa sebulan belum dibayar, apakah boleh aku membayarnya untuk ibuku? Baginda menjawab: Andaikata ibumu menanggung hutang apakah engkau yang membayarnya? Beliau menjawab: Ya. Maka baginda bersabda: Hutang kepada Allah lebih patut dibayarnya”.

        Maka dari itu tidak ada keraguan sedikitpun buat saya untuk meninggalkan TAHLILAN…

        • Revisi

          ” Maka dari itu tidak ada keraguan sedikitpun buat saya untuk TIDAK meninggalkan TAHLILAN ” alias tahlilan jalan teruss… hehehe…

          Maaf ya semuanya…

      • TAHLILAN YUK…

      • Sabar ya kang…..
        TAHLILAN aj Yukk…

  10. opini yang sangat searah dengan kehidupan dilinkungan ane gan….

  11. irhamu mautakum bissodaqoh…

  12. Pembahasan masalah ini sepertinya tak lekang dimakan zaman.tapi menarik juga ya?

  13. Masnun Tholab // 2 June 2012 at 11:15 pm // Reply

    Majid berkata :
    “sebab kegiatan Tahlilan itu pas jamannya Imam Syafii dan ulama sezamannya belumlah ada bang, karena Tahlilan itu lahir hasil dari strategi dakwah wali songo.”
    Pertanyaan :
    Mengapa kegiatan tahlilan kematian yang oleh sebagian masyarakat sekarang dianggap amalam yang sangat penting, tidak ada di zamam Imam Syafi’i dan para ualama sezamannya?
    Mohon penjelasan.

  14. Saya baru tahu kalau di zaman Imam Syafi’i tidak ada tahlilan kematian.
    Lalu orang-orang yang suka tahlilan kematian itu pengikutnya siapa sih?
    Pengikut Rasulullah bukan, pengikut para sahabat bukan, pengikut Imam Syafi’i juga bukan.
    Saya jadi lebih mantap nih, bahwa tahlilan kematian itu tidak disyariatkan dalam ajaran islam.

    • tahlilan itukan hanya nama untuk majelis dzikir yg berisi tahlil dan tahmid serta takbir. ingat bung hanya nama majelis dzikir. sementara itu majelis dzikir udah ada sedari Nabi dulu..baca hadist2 dlm shahih bukhori insya Alloh tajid mas’alata dzalik…

  15. Penulis cuma komenar tapi tidak menjelaskan secara detail.apa yang dimaksud oleh penulis,sekilas ilmiah,namun kalau ditelaah sangat kabur,seharusnya penulis punya argumen dengan dalil khadist yang shahih satu saja…! coba sebutkan kalau nabi pernah tahlilan…!
    Mengangkat suatu masalah tapi tidak bisa menyelesaikan masalah
    Atau mirip slogan kantor pegadean “MENYELESAIKAN MASALAH JADI TAMBAH MASALAH”
    KALU MEMBUAT ARTIKEL YANG ILMIAH..
    Tahlilan bukan i’tiba kepada Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam ,namun mengkitu Kiyai pendahulu mengikuti ajaran agama Hindu.

  16. Saya pernah ta’ziyah kepada satu keluarga yang kepala keluarganya baru saja meninggal dunia.
    Keluarga itu termasuk yang anti tahlilan.
    Kebetulan saya datang malam- malam. Saya melihat keluarga besar itu sedang berkumpul ditengah ruangan. Saat saya datang kedengaran suara “gayeng” diantara mereka yang sedang berkumpul, di selingi tertawa haha…hihi… disana sini. Saya pikir mereka sedang membaca tahlil..atau baca- baca Al- Qur’an,.atau berdo’a agar ketenangan batin turun memenuhi hati keluarga beriman yang sedang mendapat musibah itu. Eh, ternyata mereka sedang rame berbareng nonton OVJ dan sedang melihat lucunya aksi mang Sule!!!!. Ternyata mereka pikir Tahlil itu bid’ah, jadi mendingan nonton OVJ!!!. Ada- ada saja ….

  17. Sebagaimana dizaman Nabi, para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in, mereka semuanya ahli Al- Qur’an dan ahli Zikir. Bahkan Nabi wasiyat pada mereka jika lupa akan zikir dan Hizibnya malam itu agar mereka menggantinya disiang hari Tiap malam rumah mereka rame dengan bacaan Al- qur’an, ada yang khatam 30 hari sekali, ada yang 20 hari sekali, ada yang tiap minggu khatam. Kalimah Thoyyibah, tahmid dan istighfar mereka lantunkan tiap saat, tiap malam, tiap saat, baik ada musibah kematian atau tidak. Tidak seperti masyarakat Indonesia yang lalai, dan malas berdzikir dan baca Al- Qur’an yang harus “setengah dipaksa” untuk mau ngaji, untuk mau baca baca Ya- sin dan kalimah thoyyibah dengan ” Stick and carrot”!! Ini strategi dakwah Bang!
    Sebagaimana dizaman Rasululloh tidak ada gelar Haji, atau Ustadz karena mereka semua Haji dan adalah penyebar agama dan ustadz yang gigih, bahkan dari 100.000 sahabat yang ikut haji wada’, yang ada kuburannya di Medinah dan Mekah hanya sekitar 12.000, jadi yang lainnya (88.000) pada berjihad dan berdakwah, lha wong mereka semuanya Haji, dan semuanya jadi pengajar, dan tidak ada yang dipanggil Haji Umar Ustadz Abu Bakar jadi gekar HAJi, atau USTADZ itu juga “bid’ah(?). Lha wong mereka itu hampir semuanya hafal al- qur’an jadi tak perlu gelar hafidh, sehingga gelar Hafidh, dokter atau professor itu juga bid’ah(?), Generasi ketiga yang hafal 100.000 hadist disebut Al- Hafidh sebagaimana Ibnu hajar al- Asqolany dan Nawawi, dan gelar itu juga merupakan “hal baru” dalam Islam. Mau diteruskan?…..Cape dech!

  18. Mengapa Imam Syafi’i dan para ulama sezamannya tidak mengadakan tahlilan kematian?
    Karena mereka adalah para ulama AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH, bukan AHLUL BID’AH WALJAMA’AH.

    • saya jawab dengan jurus yg biasa dipakai oleh wahabi ya prapto…????
      “perilaku ulama itu tidak bisa dijadikan hujjah,
      jadi….segala tingkah-laku Imam Syafi’i atau ulama siapapun tidak bisa kita jadikan dalil bagi suatu ‘amaliyah” itu pun kalau pendapatmu itu ada keterangan shorih dalam kitab2 Imam Syafi’i.apalagi kalau cuma ngarang2 seprti kebiasaan wahabi yg suka memutar-balikkan dalil,main hapus kitab2 yg tidak sesuai nafsu wahabi.
      semoga prapto lekas ketemu obat sehingga cepat sembuh dari virus wahabi yg hanya menimbulkan kesombongan,iri,hasud,fitnah.amiin.

  19. Kyai-kyai di kampung sering mengatakan :
    Orang mati yang tidak ditahlili sama seperti bangkai kerbau atau sapi.
    Apakah ini juga strategi dakwah?

  20. Asataghfirulloh,saya taubat dari kebodohan saya ya Allah

  21. Kiyai kampung bener toch? Memangnya ada kerbau ditahlilkan? Hanya manusia mukmin yang mengharapkan barokah dan sakinah dari Alloh dengan membaca Al- Qur’an, tahlil dan Tahmid. Kata- kata kiyai Itulah yang disebut dengan “Stick”, adapun “Carrot” nya adalah pelatihan sodaqoh sebagai pengamalan surat “Al- Ma’un” berupa nasi berkat! Ditempat saya kaum anti tahlil paling nggak pernah sodaqoh pada fakir miskin dan anak yatim. Lha wong Acara 1o Muharrom untu menyantuni anak yatim juga dicap bid’ah(?) karena zaman Nabi tdk ada acara seperti itu. Zakat profesi mereka juga tak mau mengeluarkan, sehingga dokter, insinyur, tabib, pejabat eselon I mereka, walaupun duitnya ribuan kali dari penghasilan petani. Alasannya zakat profesi itu bid’ah(?) karena zaman Nabi tidak ada dalil perintah zakat untuk profesi seperti itu…………

  22. kata Ciung :
    “Kiyai kampung bener toch? Memangnya ada kerbau ditahlilkan? Hanya manusia mukmin yang mengharapkan barokah dan sakinah dari Alloh dengan membaca Al- Qur’an, tahlil dan Tahmid”
    TEGANYA.. TEGANYA.. TEGANYA…

    Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal tidak ditahlili.
    Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali ketika meninggal juga tidak ditahlili.

    TEGANYA.. TEGANYA… TEGANYA…
    MENGANGGAP MEREKA BANGKAI HEWAN.

  23. “Asataghfirulloh,saya taubat dari kebodohan saya ya Allah”

  24. iTUNG- ITUNG, KALAU SETIAP SETENGAH BULAN PARA SAHABAT DAPAT MENGKHATAMKAN AL- QUR’AN (ADA YANG SATU MINGGU KHATAM), MAKA BERARTI TIAP FARI DUA JUZ, SEHINGGA SAAT WAFAT RASULULLOH ITU ADA 100.000 SAHABAT/ SAHABIYYAH YANG MEMBACA 2 JUZ KALI 100,000 ORANG, SAMA DENGAN 200.000 JUZ/ 30 = 6’666.666 (ENAM JUTA) KHOTAM ALQUR’AN SAAT ITU.!!! DITEMPAT MAS PRAPTO BACA BERAPA JUZ SAAT EYANGNYA WAFAT?

  25. Saya khawatir ketika mas prapto sedang mengkhatamkan Al- qur’an, keluarga besar yang lain yang imannya tidak sekuat mas prapto justru sedang haha..hehe nonton OVJ atau Indonesian Idol…..pada ketika ada musibah yang seharusnya mereka pada mengingat akan kematian…….

  26. Bidah khasanah // 26 October 2012 at 9:13 pm // Reply

    saya paling suka tahlilan, karna di dalamnya ada kalimat2 yang baik.,, saya juga suka maulid,,, kalau tahlilan pakai salon,, biar orang2 yang anti tahlil panas telinganya,,,kalau maulid saya pakai toa biar orang2 organisasi tetangga panas-panas tu kuping,,, ayo tahlilan,yasinan,maulid,kenduri,selametan,manakib,toriqoh,,,,,,,,,,,LESTARIKAN AALAM2 SUNNAH INI,,,,BIARKAN KUPING2 ORGANISASI TETANGGA PANAS,,SYRIK,DENGKI,, SEOLAH2 SURGA ALLAH MILIK MEREKA SENDIRI,,,,

    • mungkin wong seng ura setuju tahlilan ana sncak kon njembreng kupinge
      IRHAMU MAUTAKUM BISSODAKOH, AU BILALIMATIN TOYIBATIN *
      NEk muhamadiyah tahlilan jare dudu kalimah toyibah

  27. jos banget artikele kang puas membacanya salam kenal pikatan tlogopayung plantungan kendal

  28. islam itu agama yg simple dan sudah sempurna sejak awal. klo tiap masa ada ibadah yg ditambh2i, akan seeprti apa agama i lni di masa masa yg akan datang?

    • siapa yang memusuhi islam adalah musuh Alloh, karena islam adalah agama Alloh,

      sudah jelas kalo dia melarang memuji kpda Alloh DAn Rosulnya…

      berarti dia musuh Alloh…

      tahlilan adalah slah satu wadah silaturahmi, kerukunan, menghidupkan islam, gotong royong, saling doa mendoakan… itu semua untuk Alloh…
      orang ini perkara baik ko… di larang larang…

      ga peduli tentang surga dan neraka…
      itu hanya syariat….
      Illahi Anta Maksudi Waridhoka Matslubi..

  29. suatu wadah dimana didalamnya terdapat bacaan2 memuji Alloh SWT dan Rosulullah SAW dikata haram ? akh.. yang bener aja bang.
    berilmu itu harus berguru, jangan baca sendiri dan dipahami sendiri, yang ada bisa tersesat dan mau benar sendiri. hasilnya banyak orang ilmu cetek tapi sok tau. malah ulama-ulama salaf yang banyak berjasa dikata wali bidah….ckckckckc…

  30. Seru, rame, dan cukup menakutkan komen-komennya.

    Perdebatan ini gak akan ada habisnya, apalagi kalau di dunia maya.

    Surga neraka adalah hak Allah, bukan hak kita.

    Diantara kita pasti ada perbedaan, kalau gak bisa rukun ya jangan diperlihatkan permusuhannya.

    Yang mau tahlilan, ayo tahlilan…
    yang gak mau tahlilan, emang gue pikirin???

    Kalau saya tahlilan dan masuk neraka karena itu, masalah buat loe?

    Kalau anda masuk neraka karena mengharamkan tahlilan, sholawatan dll, emang gue pikirin?

    1X lagi, surga neraka itu hak Allah, bukan hak kita.

    Saya tahlilan, anda tidak tahlilan, kita bisa jaga kerukunan gak?
    Saya punya temen non muslim, waktu ngopi bareng kita gak perlu debat apalagi berantem kok.
    Kalau kita rukun, ngomong juga enak mskpn beda pendapat. kalau sambil berantem, pakai dalilpun gak akan manjur.

    • Emang isinya tahlilan itu apa? ngomong gak karuan? Tahlilan itu isinya dzikir dan shalawat dan pembacaan ayat Al-qur’an
      Salah besar kalo anda mengatakan orang yang membaca Laa ilaaha illallaah dan Al-fatihah adalah bid’ah kalau merasa orang yang beriman teliti sendiri isinya jangan memutuskan secara sepihak.

    • hehe.. bner tuh..

    • teu bodo2 achan // 28 December 2013 at 10:42 pm // Reply

      lakum dinukum waliyadin
      quill haq wa laukana mura

  31. Muhammad ansori // 15 April 2013 at 10:34 pm // Reply

    Perdebatannya seru bangtnya? Knpa kok ribet masalah tahlilan apa gak, kalo kita mau menghayati tentang sareat islam sesungguhnya apa yg di sebut tahlilan/ tahlil atau apapun namanya yg disebut oleh kawan2 sbgi kalimat toyibah! Ayat alquran,solawat dan do’a itu sudah ad dlm sareat islam yg dikemas dalam sholat jadi kesimpulannya kalo kita ingin selamat di dunia dan akherat cukup mengamalkan sareat islamyg di ajarkan oleh nabi kita muhammad swa dg sempurna teruma dg menjaga sholat kita jangan sampe ad yg terlewatkan karena apa? Karena allah yg menjamin kebaikan bg kita jika sholat kita baik maka baiklah semua amalan kita. Yg terakhir pertanyaan saya yg harus kita fikirkan bersama adlh, jika kita dlm keadaan haus sekali dan jika tidak minum mungkin akan mati kemudian di hadapan kita ada segelas air putih dan segelas lagi berisi cairan putih laksana susu kental manis akan tetapi ada yang mengatakan bahwa gelas yg kedua tadi bukan susu tetapi cairan pestisida yg jika kita minum mungkin kita akan keracunan. Manakah yang akan kita pilih gelas pertama yg berisi air yg sudah pasti menyelamatkan kita atau gelas kedua yg belum jelas isinya ataukah keduanya

    • cungkring baladewa // 8 May 2013 at 1:03 am // Reply

      islam tidak diterima dengan cara wahabi… ngaca dong.. wajah hitam legam jidat bertanduk.. kumel dekil.. jorok dan tidak punya etika…. begitu ya islam?
      ya begitulah setan.. selalu merasa lebih benar..
      yuk tahlil..

      • Tahlilan sebagai kegiatan pada dasanya bukan bid’ah. Tetapi ketika ada yang melakukan tahlilan karena diniatkan ibadah – karena merasa wajib melaksanakannya pada setiap ada kerabat yg meninggal dan bila tidak melaksanakan merasa akan ditimpakan dosa – maka tahlilan bukan lagi ibadah.
        Dan bagi mereka yang menyatakan tahlilan itu merupakan sunnah, kami persilahkan anda mensepakati lagi apa itu definisi sunnah. kalau anda masih mendefinisikan sunnah sebagai segala sesuatu yang bersumber dari rosulullah maka seharusnya anda sepakat juga dengan pernyataan bahwa tahlilan bukan sunnah.

        Lantas kalau bukan wajib, bukan juga sunnah, lalu apakah hukum dari kegiatan tahlilan berjama’ah ini ?

    • ojo ngono bosss… iki masalah agama.. bukan masalah kekeringan

  32. memahami sesuatu ilmu jangn kulitny aj. . .
    mana isiny. . .
    klo g pahami isiny DIAM lbih baik.
    sma saja membaca ﺍﻟﻘﺭﺍﻥ d kerongkongan g sampe k hati. . .
    apalgi berkoar2 mengkafirkan, menyesatkan, dll
    jd untk admin terus brkmbang menggaalih maslh yg brkmbng, dg ddasari olh ilmu salaf, ijma’ para ulama’!!!

  33. Tahlilan memang tidak ada di Zaman Rosululloh, bahkan tidak ada hadis nabi yang menerangkan Nabi Muhammad mengirimkan pahala dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan tahlil untuk istrinya khadtijah, pamannya, dan orang2 yang dicintainya(ayah dan ibunya) yg sudah meninggal kecuali dengan mendoakan mereka. Budaya tahlilan diajarkan pada zaman walisongo yang pada saat itu penduduk indonesia masih banyak yg menganut animisme dan dinamisme juga Hindu dan Budha. Para wali berusaha memasukan nilai-nilai islam pada budaya mereka. Karena jika secara terang-terangan mengajarkan islam pasti akan banyak yg menolak. Budaya tahlilan sendiri dimulai ketika salah seorang wali songo melihat di Jawa ketika ada seseorang meninggal kemudian tetangga dan kerabatnya, menjenguk mereka dan dilanjutkan dengan begadang di depan rumah sampai pagi, ghibah, judi dan minum-minum selama beberapa hari.Kematian seseorang dijadikan sebagi ajang berkumpul dengan kerabat dan teman dan ajang berbuat maksiat. Karena melihat itu si wali songo tersebut berusaha memasukan nilai-nilai islam dengan cara mengajarkan agar ketimbang melakukan hal-hal yg dosa dan maksiat lebih baik diisi dengan perbanyak mengingat Alloh dan menambah pahala membaca tahlil, dzikir, dan membaca ayat Al-Qur’an(ayat kursi, fatihah dll). Tetapi dulu tahlilan itu diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan menimba pahala.Tahlilan hukumnya mubah jika kita niatkan untuk dikirimkan pahala bacaan tersebut kepada si mayit. (Ingat tentang hadis soheh tentang 3 amal yang tidak akan terputus meskipun orang itu sudah meninggal(sodakoh jariyah semasa hidup(infak, wakaf dll, ilmu yang bermanfaat(con:mengajarkan sholat,hafalan alqur’an yang diamalkan oleh muridnya dan anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Disini doa saudara sesama muslim untuk si mayit juga termasuk amal yg tak terputus.Jika tahlilan diniatkan untuak sarana mendekatkan diri kepada Alloh dan mengharap ridho Alloh, insyaaloh setiap lafadz yg kita ucapkan akan bernilai pahala. Sesudah itu baru berdoa’a untuk si mayit dengan setulus hati. Insyaaloh itu lebih baik dibanding berniat tahlilan dengan pahala di kirim atau di sodakohkan kepada simayit.
    Daribada pusing mikirin masalah tahlilan mending kita mikirin sholat wajib kita sudah khusuk apa belum, sudah benar apa belum. Trus lihat itu generasi penerus kita pada banyak yg teler, narkoba merajalela, pemerkosaan, kemaksiatan membahana. Astaghfirullah. Para Kyai lagi sibuk debat tahlilan, di luar sana anak-anak kita dibabat habis oleh narkoba.na’u dzubillah
    Jazzakumullah.Kebenaran hanya milik Alloh

  34. Sebenarnya kalo kita tahu sejarah, maka tahlilan tidak dilarang, karena itu hanya kemasan saja, intinya ya…..byk positipnya dan sesuai anjuran Rosulullah, Kalo kita mengerti sejarah Muhammadiyah maka org yg asli Muhammadiyah pasti melakukan tahlilan, lha wong KH Ahmad Dahlan saja melakukan tahlilan kok, coba baca sejarah lg……

  35. wong ndalan // 24 July 2013 at 1:18 am // Reply

    seng nyetusne acara tahlilan pertama kali kwi sopo tho?
    tujuane opo?
    kok iso d gawe model koyo ngono kwi?
    delengen sejarahe sek terus bahasen bid`ah opo orae.
    pak pengasuh tulung sejarahe tahlilan sj bolo2ne d tampilne tk tunggu nyambi ngopi

  36. Agus Mauludin // 31 July 2013 at 5:48 pm // Reply

    Pertanyaan :

    1. Apakah Tahlilan [yang dimaksud :Selamatan Kematian] di dalamnya terkandung ibadah ?
    2. Termasuk dalam hukum yang mana Tahlilan tersebut ?

    Jawab :

    1. Karena didalamnya ada pembacaan do’a, baca Yasin, baca sholawat, baca Al Fatikhah, maka ia termasuk ibadah. Hukum asal ibadah adalah “haram” dan “terlarang”. Kalau Allah dan Rasulullah tidak memerintahkan, maka siapa yang memerintahkan ? Apakah yang memerintahkan lebih hebat daripada Allah dan Rasulullah

    2. Jika hukumnya “wajib”, maka bila dikerjakan berpahala, bila tidak dikerjakan maka berdosa. Maka bagi negara lain yang penduduknya beragama Islam, terhukumi berdosa karena tidak mengerjakan. Ternyata tahlilan, hanya di lakukan di sebagian negara di Asia Tenggara

    Wajibkah Tahlilan ? Ternyata tidak, karena tidak ada perintah Allah dan Rasul untuk melakukan ritual tahlilan (Selamatan Kematian : red)

    Sunnahkah Tahlilan ? Ternyata ia bukan sunnah Rasul, sebab Rasulullah sendiri belum pernah mentahlili istri beliau, anak beliau dan para syuhada.

    Nah…..berarti hukumnya bukan Wajib, juga bukan Sunnah.

    Kalau seandainya hukumnya Mubah, maka untuk apa dikerjakan, sebab ia tidak mempunyai nilai (tidak ada pahala dan dosa, kalau dikerjakan atau ditinggalkan). Sudah buang-buang uang dan buang-buang tenaga, tetapi tidak ada nilainya.

    Jadi, tinggal 2 (dua) hukum yang tersisa, yaitu Makruh dan Haram. Makruh apabila dikerjakan dibenci, apabila ditinggalkan berpahala. Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala.

    Jadi….sekarang pilih yang mana ? Masih mau melakukan atau tidak ?

  37. Saudaraku. aku juga kadang-kadang bingung tentang tahlilan yang ada di masyarakat. sejak kapan ada kegiatan itu? baik yang mendukung maupun yang tidak mendukung sama-sama punya dalil. kalau berdzikir dengan mengucap kalimat tasbih, tahmid dan tahlil sehabis sholat fardhu ada contohnya dari Rosululloh Muhammad SAW. Apa saudaraku punya buku-buku karya mbah Kyai Rifa’i?

  38. sy suka membaca sejarah apa saja, termasuk sejarah kehidupan Rosululloh SAW. Beliau memiliki 6 anak. Pertama laki2 bernama Qosim (meninggal sewaktu masih kecil), yang empat orang perempuan, termasuk Fatimah dan yg terakhir Ibramim (meninggal sewaktu masih kecil).
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg meninggal tidak satupun di TAHLILI, kl di do’akan sudah pasti, karena mendo’akan orang tua, mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
    Apakah para sahabat BODOH….,
    Apakah para sahabat menganggap NABI hewan…. (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan…
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan….
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik, yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll. Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi TAHLILAN Gus..”
    sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2, lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2 daharan e…”
    mereka menjawab: “nggih Gus…”.

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya, sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk wajib…??
    dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul masalah…
    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa dll.

    Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini, berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat santri harus dinomor satukan..
    sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya. tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya, Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang shaf…

    Untuk saudara2 salafi…, jangan terlalu keras dalam berpendapat…
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil khusus sholat jama’ah…
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita do’akan saja yg baik…
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk berkenan…
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
    Amin ya Robbal Alamin

  39. H.M.Yusuf.Sitepu // 10 December 2013 at 11:08 pm // Reply

    Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”.
    (Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim :

    “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”) [Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718]..

    • @Sitepu:

      Coba pelajari kata KULLU di hadist tersebut, dan cari kata KULLU dalam Qur’an, lalu bandingkan artinya
      apakah selamanya KULLU itu berarti “semua”, silahkan anda cari…tp lebih baik tanya guru aja ya, jgn tanya syeikh gugel

  40. kalimat TAHLILAN itu berasal dari akar kata HALLAL- YUHALLILU- TAHLIILAN, artinya membaca Laa ilaaha illallooh. Karena diantara ayat- ayat/ do’a yang dibaca ada kalimat Laa ilaahaillalloh nya. Dimulai dari Al- Fatikhah, Surat Al- Baqoroh, Ayat Kursiy, Tasbih- Tahlil, Hauqolah (laa haula walaa quwwata illaa billah, sholawat dan ditutup dengan do’a. Tidak betul hanya di Indonesia.

    Lihat Fatwa Syekh Ibnu Taimiyyah berikut:

    Kalau kita menyimak fatwa Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani, tradisi tahlilan telah berkembang sejak sebelum abad ketujuh Hijriah, Dalam kitab Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah disebutkan: “Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka: “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendo’akan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illa billaah) dan shalawat kepada Nabi Saw. Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah (pendekatan diri kepada Allah) dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi Saw. Bersabda: “Sesungguhrrya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil: “Silakan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepadaMu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah Saw. dan hamba-hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22 halaman 520)

  41. bicara ibadah… , pencarian berdasarkan keterangan yang sah, di contohkan, di isyaratkan, atau di terangkan melalui hadits Nabi Muhammad SAW, diteruskan oleh para sahabat, imam-imam dan para ulama..

    tulisan diatas hanya memutar-mutar (permainan) emosional logika.. apakah ibadah itu hanya selemah logika diatas ..???

    padahal hadits saja, yang dianggap lemah/ cacat (dho’ief) tidak dapat di jadikan referensi syariat.. tulisan diatas itu hanya emosional penulis..
    sedangkan nilai untuk referensi entah pada bagian yang mana??

    Mohon maaf, saya tidak menyoal yang tahlil-an atau tidak, hanya soal tulisan yang penulisnya lupa menuliskan dasar keterangan yang terperinci dan shohih, sehingga saya sebagai pembaca menikmati membacanya dan mengambil hikmah untuk pencarian jejak ibadah berikutnya dan semoga saya sendiri dapat mulai menerapkannya.

    Semangat terus berjuangnya, jangan lupa berikan keterangan agar menjadi ilmu bermanfaat dunia akhirat..

  42. Begini aja, ini kaya ente makan tp pake sendok tembok. Ga salah, cuma tidak pada tempatnya. Khadija RA istri Rasul yg dicintainya pun, tdk Rasul lakukan tahlilan 1hr pun. Ghair mahdah itu ada perintahnya, tp caranya tdk detail. Kalo tahlilan ga ada perintah dan detailnya.

  43. tahlilan cuma tradisi, jadi tidak perlu dibesar-besarkan… Yang mau tahlilan silahkan, yang tidak mau juga gak ada masalah….

  44. Ayo lanjutkan tahlil…sing gak seneng tahlil yo wes…gitu aja kok toper..salam satu jiwa

  45. Ass. Wr. Wb.
    Dengan mempertajam perbedaan, tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi perbedaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ?
    Kalau perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar.
    Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %. Terhadap angka itu Anda ikut berperan, dan harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Astaghfirullah.
    Wass. Wr. Wb.
    hmjn wan@gmail.com

  46. jibril kurniawan // 18 February 2014 at 1:27 am // Reply

    Zaman nabi tak ad Internet, tak ad HP, televisi, radio, mobil, motor, bahkan pesawat terbang dsb, pertanyaan nya: apakah yg ngotot nentang TahliL tak menggunakan HP, internet, motor or mobil atau vasilitas lainnya yg gak ad d zaman rosul?! kalo saudaraku sekalian masih menggunakan salah satu fasilitas tsb brrt msk dalam Bid”ah donk?! bahkan lebih cenderung MUnafik(ingkar), akhirnya: segala sesuatu tergantung drpd NiaT, jika niat nya murni karna allah tanpa terkontaminasi segala selain daripadaNya insyaallah… sesungguhnya Kemurnian hanya d peroleh dengan keMURNIAN pula..

  47. Assalamualaikum
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
    Apa Tujuan kita bertahlillan bagi/ saat zat yang mengalami kematian?
    Bagi saudara-saudari seiman yang ingin bertahlilan : monggo kerso, tidak/ belum ada (orang) yang melarang
    Bagi saudara-saudari seiman yang tidak ingin bertahlilan. juga tidak ada yang memaksa.
    Jika itu dosa karena bid’ah, dosa ditanggung pribadi-pribadi sendiri.
    Tapi jika Saudara-saudari seiman bisa meluangkan waktu untuk membayangkan apa yang terjadi ke anak cucu kita, jika kita mencontohkan yang salah maka mereka juga akan salah. Terus seperti itu sampai kegenerasi selanjutnya.
    jadi sebelum menentukan pilihan, pikirkan dengan ilmu dan guru yang benar.
    Biasakan hal yang benar bukan membenarkan hal yang Biasa.
    Bagi saudara-saudari seiman yang menganggap perihal tahlillan ini main-main dengan komentar-komentar yang nyelenah nyeleneh mengenai Al quran dan sunnah
    وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab: ”Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah: 65-66)
    Wassalam

  48. Wes tooo, gak usah cuman bid’ah, anggaplah saya kafir, trus kon kate laopo?

Leave a comment

Your email address will not be published.

*