1:45 pm - Thursday May 16, 2013

Memahami Kwalitas Manusia Indonesia

Sunday, 7 October 2012 17:41 | Opini | 1 Comment | Read 187 Times

pertanian dan industri globalTanbihun.com- Berganti sudah pemilik bangunan pasaraya yang bercokol di bumi Pekalongan. Dulu tertera Megacentre, sekarang digantikan Carefour, dulu Matahari Supermarket sekarang Hypermarket Plaza Pekalongan. Dan kabarnya banyak super market itu beranjak bangkrut  lagi, dan tentunya akan digantikan dengan supermarket lain yang kelihatan gagah karena pemodal besar, pemilik sahamnya kabarnya dari ‘orang luar’. Tetapi nasibnya bisa diprediksi pasti bernasib naas. Dan njungkel lagi… semoga.

Tersemai kabar. Para pemilik supermarket-supermarket itu bergabung kepingin ‘nyogok’ pemerintah. Agar pemerintah membuat peraturan daerah (perda) yang membatasi pagelaran PARTI (pasar tiban) baik waktu maupun tempat. Oh… Ketemu ujungnya, ternyata mereka yang berduit trilyunan itu ketakutan dengan para fakir miskin yang ‘bergerilya’ menyulam nasib. Bersatu memasang jaring rizki dengan membuat pasar tiban. Pasar tiban ibarat lebah kecil yang bersatu berpotensi dapat merobohkan gajah. Sebagaimana ayat al-Qur’an menyebutkan untuk mengutarakan betapa ketika Allah mengidzinkan, maka yang kecil, sedikit, bisa merobohkan yang besar.

Kalau kita melihat di kamus internasional. Disana kata ‘gerilya’ sudah masuk dalam daftar kata. Dan tak ada satupun padanan kata dalam bahasa manapun. Itu menunjukkan bahwa tradisi, budaya, bahkan sampai ilmu gerilya adalah hak paten bangsa Indonesia. Dulu pemerintah Hindia Belanda kelimpungan menghadapi gerilya pasukan Diponegoro, Jendral Sudirman, dll. Sekarang para komprador pemodal asing kelimpungan menghadapi gerilya ala pedagang kecil dengan pasar tibannya.

Dalam hitungan normal  sebagai manusia, kita tentu akan ‘mati’ di tengah himpitan pasar bebas yang tak berbatas. Ibarat kita pedagang kaki lima, kita hanya mampu kulakan satu sampai beberapa puluh kilo beras, tanpa diskon, tanpa SPG yang aduhai, tanpa AC, tanpa Hiburan, tanpa ruang yang bersih, harum, dan menawan, melawan minimarket, supermarket, mall, yang dilengkapi itu semua. supermarket mampu kulakan ribuan kwintal, yang tentunya bisa patok harga lebih murah karena mereka kulakan dengan harga grosir. Tetapi kenapa mereka selalu gelisah melihat gerilya para pedagang kecil.

Kalau bukan bangsa Indonesia, tentunya para petani beramai-ramai bunuh diri. Karena ketika panen raya, mereka dihantam dengan pasokan beras impor yang membanjir. Tentunya akan menyuramkan wajah-wajah mereka, karena dengan itu, harga beras segera turun. Hal itu terjadi sampai bertahun-tahun, berganti presiden begitu pula masih utuh praktiknya.  Petani akrab dengan kesabaran, ketika tetes keringatnya tak bisa menentukan harga hasil buminya, tetapi perasan keringatnya selalu tak dianggap oleh mereka para tengkulak, pemerintah dan perusahaan.

Untung!!! Petani Indonesia adalah cucu para gerilyawan, yang akrab dengan lapar, susah, payah, hutang, bahaya, dan selalu prihatin, riyalat, riyadlah, dan hidup hanya untuk ‘mampir ngombe’. Di belahan bumi manapun tidak akan kita temukan pemasaran ala gerilyawan yang jalan untuk menawarkan dagangan dari pintu ke pintu. Hanya diindonesia tradisi gerilya mewarnai sector hidup manusia Indonesia.

Ilmu gerilya adalah ilmu totalitas. Ia harus menguasai apapun untuk menjadi gerilyawan. Ketika di medan perang  ia mampu menjadi tentara, di persembunyiannya ia menyamar sebagai pedagang, petani, ketika ia dibutuhkan untuk mengintai, maka dibutuhkan ketrampilan teliksandi. Ciri khas itu dapat kita lihat dari profesi serabutan manusia Indonesia. Coba sebutkan bangsa mana, yang mempunyai kualitas bertahan hidup dengan bergerilya seperti manusia Indonesia? Manusia Indonesia mustahil bunuh diri hanya karena tak punya uang, karena dalam dirinya sudah tertanam tradisi gerilya, tradisi serabutan. Kalau menjahit sepi, otomatis cari rongsokan; rongsokan kurang untuk kebutuhan jadi kuli bangunan; kuli bangunan tak da proyek, buka parkiran di pasar;  parkiran tak menemukan lahan, gali kuburan, dan terus hingga manusia Indonesia tak mungkin bisa nganggur, tak mungkin tak berpenghasilan, tak bisa dilihat dia tak punya ketrampilan. Manusia Indonesia adalah manusia masa depan.

Maka ketika dunia sekarang mengalami masa-masa krisis, yang mampu bertahan adalah bangsa gerilyawan yang mempunyai jiwa tahan banting, sekaligus pasrah,  dan ngalloh.

Paesan Tengah, 05 Oktober 2012

23:55

Ahmad Saifullah Ahsa

Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: ,

kisah pemilik supermarket,pemodal super market

Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site