Barusan aku baca buku yang berjudul Islam Tarjumah karangan M. Mukhlisin Jamil, disitu aku dapati sebuah kalimat.” Jika pada periode kepemimpinan langsung Haji Ahmad Rifa’i pada sekitar 1840-an samapai 1859, kelompok santri Tarjumah tampil dinamis dan agresif, aktif melancarkan protes pada pemerintah kolonial dan kepada pejabat peribumi yang aktif mengabdi kepada kolonial, aktif melancarkan kritik terhadap kondisi sosial keagamaan umat Islam yang dipandangnya telah menyimpang dari ajaran ulama’ salaf yang ortodoks dan sekaligus aktif dalam mempropagandakan pelaksanaan syariah ( fiqih, hukum Islam ) secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, maka pada periode pasca pengasingan Haji Ahmad Rifa’i, kelompok santri tarjumah tampil statis dan defensif. Steenbrink berdasarkan laporan dari Snouck Hugronye pada tahun 1889 dan 1890, menggambarkan kelompok Santri Tarjumah sebagai gerakan liar yang telah berubah jinak.”
Saat membaca alenia tersebut, aku merenung cukup lama, kenapa visi yang diusung dan ditampilkan oleh KH Ahmad Rifa’i berubah total pasca pengasingan beliau ?. Sebuah pergerakan yang sangat dinamis yang mampu membuat pemerintah kolonial pada waktu itu susah tidur dengan nyenyak, berubah menjadi sebuah kelompok sekterian yang statis, jumud dan beku. Hal tersebut dapat dilihat pada masa sekarang, dimana ormas Rifaiyah menjadi ormas yang paling jumud, statis dan cuek terhadap keadaan masyarakat. Menyedihkan memang ketika kita sudah lebih dari setengah abad merdeka dan Belanda telah lama enyah dari bumi pertiwi ini, akan tetapi Rifaiyah masih saja mengisolasi diri secara eksklusif terhadap perkembangan zaman, mandeg dan statis.
Kadang aku berfikir, kurang canggih bagaimana SDM Rifaiyah itu, santrinya banyak yang kuliah di luar negeri dan fan ilmu yang bermacam-macam. Analisis dan konsep yang ditawarkan pun hebat dan beraneka ragam. Tapi kenapa Rifaiyah masih seperti ini ? kenapa kita tidak mampu mengembalikan visi guru kita yang selalu sensitif terhadap kedzoliman dan ketidak adilan ?
Mungkin kita sebagai santrinya harus merapatkan barisan, berdiskusi, merumuskan suatu konsep lalu mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Yang jelas, satu hal yang hilang dari dada kita, santri-santri tarjumah yaitu semangat jihad yang dulu dimiliki oleh guru kita ternyata tidak terpatri dalam nurani kita.
Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :