Tanbihun – Kata Kiai di Kraton Solo, akrab sebagai sapaan lembu yang dikramatkan. Di Yogyakarta, sebutan kiai justru lekat dengan sebatang tombak: tombak kiai pleret. Adalagi di Yogyakarta, kata Kiai untuk menamai sebuah alat musik sharon yang ditemukan salah seorang personel group musik Kiai Kanjeng. Setiap akhir dari acara perayaan sekatenan di Yogyakarta, pasti gamelan di gelar di pelataran Masjid Gede Kauman.Gamelan itu mempunyai nama Kiai juga.
Tetapi yang akrab dalam memori kita, bahwa kiai identik dengan sosok manusia yang dipercaya masyarakat sebagai ‘ahli agama’. Tentu Kiai merupakan profesi, kedudukan seseorang di masyarakat. Kalau kita berfikir adil tentu kita menyamakan antara profesi kiai dengan profesi lainnya seperti penjahit, kuli bangunan, abang becak, petani, dll. Nilai samanya ada pada nilai manfaat (1) mereka sama-sama bermanfaat bagi orang lain. Kuli bangunan mempunyai nilai manfaat membangunkan rumah orang lain, membangun masjid untuk banyak orang, manfaatnya bisa didiami banyak orang bahkan sampai beberapa keturunan.
Tentu kalau kita mau ngomong apa adanya, membangunkan rumah termasuk juga sebagai kategori amal jariyah bukan? Kiai mempunyai manfaat memberi doa, pengetahuan agama, yang bisa saja pengetahuan itu tidak masuk dalam hati pendengar hingga ’masuk kuping kanan, dan keluar
kuping kiri’.
Pembedaan profesi dalam masyarakat tidak bisa dilestarikan. Karena hal itu tidak adil. Kanjeng Nabi Muhammad memuliakan semua profesi manusia. Suatu ketika Nabi pernah mencium tangan kasar pembelah batu. Itu tanda bahwa Nabi mencintai para pekerja keras. Kiai tak lebih mulia dari penyapu jalan, begitu seharusnya masyarakat berfikir. Yang membedakan keduanya adalah tingkat ketakwaan mereka. Karena di dalam pekerjaan yang menyucurkan keringat itu tersimpan hikmah kesehatan, dan
terkekangnya hawa nafsu karena manusia pekerja keras otomatis menguras perutnya terus dalam keadaan lapar, dan nafsu tak diberi waktu, karena waktunya telah penuh dengan pekerjaan yang tak habis-habisnya. Semua profesi harus mendapat penghormatan dan penilaian yang adil.
Kiai Pengutip
Kiai tipe ini adalah dimana-mana menyampaikan pendapat orang lain. Dalam setiap ceramahnya pasti bilang, menurut ulama fulan, dalam kitab anu, dikatakan….tak lain dan tak bukan tipe kiai semacam ini adalah usahanya menghafal banyak pendapat orang lain, sebaliknya sedikit berfikir. Otaknya tak biasa dipakai untuk berfikir dalam mengijtihadi sesuatu. Otaknya tak bergerak dalam mencermati peristiwa-peristiwa yang mengitarinya setiap detik, karena otaknya diisi penuh dengan ingatan-ingatan pendapatnya orang-orang. Kesibukannya mengingat, melumpuhkan usahanya dalam berfikir.
karena tidak biasa berfikir, maka seringkali ceramah ndakik-ndakik di depan anak-anak kecil. Tentu itu meleset dari metode penyampaian yang seharusnya bilisani qaumihi.
Kiai kutip ini Kalau ditanya sesuatu, reaksi pertamanya langsung menuju ke teks kitab yang dikarang sudah ribuan tahun yang lalu. Ada rasa segan dalam hatinya untuk mengeluarkan pemikiran, logika, dan ijtihadnya sendiri. Hingga kiai semacam ini sangat tergantung dengan teks. Dan jaringan otaknya tak begitu berkembang. Tentu kalau otaknya dijual sangat laku keras, karena jarang dipakai alias masih baru.
Kiai Raja
Ketika kita menjajaki dunia pesantren, terlihat jelas bahwa kiai laksana raja. Tentu tidak semua pesantren kiainya begitu. Ucapannya sabda pandita ratu. Kalau ucapan seorang pendeta, dan ratu disatukan siapa yang akan membantah? Tentu siapapun akan sendiko dawuh. Karena pendeta mewakili corong agama, dan ratu mewakili corong kekuasaan. Tentu kita hanya manggut dan bergegas sami’na waatho’na. Seorang raja harus membumbui kehidupannya dengan mitos-mitos, tentu untuk mengokohkan cengkraman hegemoninya. Maka tidak hanya Kiainya yang dimitoskan, ironisnya sampai anak-anaknya dimitoskan.
Dulu waktu saya sempat mampir di Pesantren besar di Jawa Timur, ada seorang anak kiai yang biasa disapa Gus dengan perilakunya yang aneh. Ada-ada saja ’anak macan’ ini selalu mencuci kendarannya dengan air mineral Aqua. Tentu hal ini aneh, karena seharusnya air aqua itu untuk diminum. Hal ini bodoh, karena termasuk pemborosan. Tetapi karena keluarga kiai mewarisi mitos nenek moyangnya, maka kenyataan aneh itu disebutnya sebagai hal luar biasa sebagai: keanehan majdub, atau perilaku jadzab anak kiai. Lumrah dan wajar bahkan harus dikasih acungan jempol.
Banyak takhayul yang mengitari dunia kiai dan keluarganya. Hal itu yang menjadi berbahaya bagi yang memitoskan, apalagi yang dimitoskan. Pada tahun 2000 an tradisi mitos itu mengalami kelunturannya yang maksimal. Banyak pesantren yang kehilangan ribuan santri. Tujuan mitos adalah alat pengukuhan hegemoni kiai terhadap pengikutnya.
Kiai raja selain menebarkan hegemoni, beliau menggunakan tatanan sentralistik. Titahnya adalah kebenaran, maka untuk apa bermusyawarah dengan para santri dalam urusan publik. Dalam sistem ini santri tidak dididik untuk mandiri berfikir, berbuat, dan mengambil keputusan-keputusan. Para santri hanya dididik sebagai copy paste dari sang Kiai. Kalau kiai berjubah, maka santri harus berjubah, kalau kiai kepalanya gundul maka santri juga botak. Kalau Kiai berkalung tasbih, maka santri harus juga melingkari lehernya dengan tasbih. Kalau santri ditanya, kenapa berkalung tasbih? Karena tabi sama Kiai. Dalam konteks ini kedudukan Kiai Raja sejajar kedudukannya dengan Tuhan. Karena dalam pemahaman kita yang patut di taslimi dan diinqiyadi seorang hamba hanya satu: Allah SWT.
Paradigma masyarakat masih meyakini, kalau kiai pasti cerdas (encer ning ndas), memberi mauidlah hasanah, mengerti kebutuhan masyarakat dan melayaninya; kalau disebut guru pasti memintarkan murid; kalau disebut dokter pasti menyehatkan masyarakat. Padahal kenyataan sekarang adalah sebaliknya. Ujung dari semui profesi pada masa akhir kehancuran ini adalah uang. Kiai untuk uang, dokter untuk uang, guru untuk uang.
Kiai raja punya nafsu agar dirinya mempunyai banyak kloning. Santri-santri diajari untuk meniru kiai, bukan diteladankan untuk meneladani Kanjeng Nabi Muhammad. Kiai raja tidak memahami ayat dalam surat al-Hujurat yang menerangkan ”janganlah meninggikan suaramu di atas suara Nabi” itu artinya janganlah kemasyhuran seseorang melebihi kemasyhuran kanjeng Nabi. Kalau di pesantren, para santri lebih sering membicarakan keampuhan seorang Kiai dibandingkan dengan pembicaraan kehidupan Nabi, maka itu bukti ”suara Kiai lebih tinggi dibandingkan dengan suara Nabi.”
Kiai raja tentu selalu dilayani umatnya, dan sedikit melayani umatnya. Buktinya kalau aku sowan ke Kiai, ia selalu nerocos mendominasi omongan ketimbang empati mendengarkan masalah-masalah tamunya. Cas-cis-cus dalil bertebaran dari mulutnya yang tak bisa ku pahami. Seringkali tipe kiai semacam ini tak bisa memahami kebutuhan tamunya, kemampuan tamunya, pengetahuan tamunya, neraca logika tamunya, malah dia lebih mafhum kebutuhan dirinya dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya agar diakui kepintarannya.
Seringkali seorang kiai berkokok dihadapan kerbau. Berkicau dihadapan kambing, mengembik di muka ayam. Seringkali ia tak menangkap makna bilisani qoumihi. Pemahaman tentu harus diawali dengan pendengaran, dan bertanya karena mendengarkan dan bertanya adalah metode untuk menyerap dan memahami. Kesimpulannya adalah mendengarkan = melayani dan memahami. Kalau diriku yang selalu mendengarkan kiai, itu bukti bahwa kiailah yang ku layani kebungahan kebutuhan pengakuan dirinya.
Pada zaman sekarang monopoli Kiai atas pengetahuan agama, sudah kehilangan masanya. Baik-buruk, benar-salah dalam tataran agama Kiai bukanlah alternatif satu-satunya. Dunia internet memudahkan manusia awam, seperti penulis ini untuk bisa mendalami pengetahuan apapun, termasuk pengetahuan agama. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi. Maka perlunya kesadaran para kiai, bahwa dirinya tak melulu berbusa-busa menasehati banyak orang awam, karena sebenarnya mereka sudah mengetahuinya, yang paling penting adalah memberikan keteladanan yang semakin langka ditemukan di akhir zaman ini. Dan sebisa mungkin berkeringat melayani kebutuhan hidup orang banyak.
Paciran Lamongan, 21 Juli 2011
Ahmad Saifullah
kata kata mutiara sang kyai (1),kata-kata bijak kyai (1),kata-kata mutiara seorang kyai (1),Kyai aneh (1),kyai majdub (1),makalah tentang kedudukan kyai di solo (1),orang kraton solo yg di kirim ke kendal (1)






Menurut saya ada 3 jenis KIYAI:
1- Sejatinya kiyai
2- Mambu kiyai (bau- bau kiyai)
3- Kiyai mambu (kiyai bau)
1. Insyaalloh masih dapat kita jumpai kiyai sejati di Indonesia ini walaupun jumlahnya signifikan menurun. Di Semarang dahulu ada kiyai sejati yang tiap malam bikin beberapa celana kolor. Besoknya kalau mau berangkat dagang- celana kolor hasil jahitan semalam dibawa serta. Untuk apa? Ya–itu…. karena saat itu banyak orang gila di Semarang. Maka setiap kiyai itu menjumpai seorang gila yang telanjang, segera diambilnya celana kolor hasil jahitannya dan dipakaikannya kepada orang gila itu. Malamnya beliau bikin celana kolor lagi…. Beliau adalah Kiyai Dachlan Zarkasy dari Kebun Arum, pencipta methode Qiro’ati.
2. Ada beberapa orang lagi yang dalam perjalanan hidupnya selalu ingin meniru dan meneladani panutannya. Ia ingin meniru perilaku dan akhlaq kiyainya yang sejati itu, namun sayang kurang En(cer) isi (das)e. Namun demikian maka insyaalloh walau pas- pasan, selagi ikhlas, ia tetap Mambu (bau- bau) kiyai. Amin.
3. Yang ketiga ini yang harus dijauhi. Ini yang disebut Al- Ulama’ As- Suu’. Ilmunya tak menjadikannya bertambah zuhud kepada Allah, namun bahkan makin bertambah jauh dari Allah dan makin bertambah sombong dan takabbur dengan ilmu yang dimilikinya bahkan ia menganggap syariat itu hanya berlaku bagi orang awam. Sedang dia telah merasa terbebaskan dari syari’at , serta tingkahnya jadi aneh- aneh – Na’udzubillaahi min dzaalik. Inilah yang disebut Kiyai bau atau bahkan mungkin ia adalah titisan Sang Dajjal.
Kyai yang disebut “raja” diatas,juga ada peranan santri2nya(murid2nya). mereka yang memperparah. saya kenal beberapa kyai yang pada awalnya baik,tapi setelah sekian tahun dikerubuti para penjilat,santri2 tayoli (santri munafik), beliau berubah 180 derajat. kata-katanya sering terasa memerintah, tanpa tau kondisi santrinya, misalnya ; pada jam2 kerja/hari2 kerja beliau seenaknya menyuruh kesana-kemari,tanpa memeberi ongkos,praktis santrinya disamping tdk bekerja juga harus nyari ongkos sendiri, parahnya lagi, sampai ada yang hutang,bahkan kewajiban sbg kepala rmh tangga pun terbengkalai.
ada lagi kisah nyata : 2 orang kyai diadu, awalnya hanya salah paham,tapi anak&muridnya “mengomporinya”, akhirnya kriwikan dadi grojokan (perkara kecil jadi besar),lagi….lagi… gara2 anak-anak santrinya yg tayoli ini.
sudah menjadi kewajiban anak-murid,jika mendapati tanda2 khilaf dr gurunya, untuk segera mengingatkan, jika memang kyainya salah,jgn memperparah dengan mendiamkannya, atau jgn jadi penjilat yg taunya “yes”. kalau anak-muridnya model tayoli begini, lambat laun kyai yang baik akan termakan keburukan anak-muridnya sendiri,sbb kyai juga manusia.
terakhir, semoga ustadz2 dan kyai2 saya, selalu dalam lindungan Alloh SWT dari tipu daya setan,baik yg dr golongan jin atau yg doyan tajin.
hemm, saatnya santri ngomongin kyai nih. lumayan extrem juga artikel diatas, memng banyak yg katanya ‘kyai’ zaman sekarang banyak yg mengecewakan ummat. sebenarnya banyak juga kisah yg menggelikan dari kyai zaman sekarang.
sampai2 ada yg memberi julukan kyai ‘amplop’, pernah ada seorang kawan yg menguji keihlasan kyai anyaran. kyai anyaran tadi diminta mengisi pada sebuah acara remaja, rupanya dia jual mahal, toh padahal masih satu kampung
ahirnya kyai anyaran tadi bersedia ceramah meski hanya 30menit, setelah acara itu usai temenku bilang “wes porah ra usah damplopi…” so pasti kyai anyar tadi bis acara bubar merengut.
saya malah setuju dengan istilah dari saudara Ciung tentang jenis2 kyai karena lebih sopan dan bijak dalam pembuatan istilah.
Ga perlu sampe segitunya kali. Ga usah berlebihan.’Kyai raja’ dengan segala perilakunya divonis seakan sejajar dengan Tuhan, (Lalu santrinya?). Artikel anda ada bagian dari hati, ada bagian dari emosi, sebagian mungkin benar sebagian lagi perlu tinjau ulang dari berbagai sudut pandang. Kalo anda mampu meredam amarah dan mau menjernihkan hati, pendapat anda akan lebih dekat pada kebenaran.Banyak hal yang mempengaruhi budaya demikian. anda jangan asal vonis, kalo tidak hati2 berbalik kepada anda sendiri. Dengan dalih yang begitu sederhana anda menghukumi masalah besar. Tanyakan diri anda kebenaran artikel anda, cari literatur dan sumber lain yang relevan. Agar menjadikan anda bijak berargumen.
…
sekalipun artikel ini hanyalah opini,alangkah idealnya jika di sajikan dengan fakta yang berimbang..sehingga tidak menggeneralisasi,aplg bersifat diskriminatif… segala sesuatu pasti ada baik dan buruk, begitupun dg lakon “kyai”..
jika di tuduh kyai adalh profesi, tak ada yg salah dg paradigma brpikir masyarakat kita.. toh kita disuruh bertanya sesuatu pada ahlinya, tak tepat bila kita mengeluhkan penyakit yang kita derita ke tukang becak, karena mestinya kita datang ke dokter.
dlm hal agama semoga kita masih ingat ” lamon durung paham mongko wajib pitakonan, takono maring alim adil kang kaparcaya’an”… ”alim adil” dalam bahasa kebiasa’an ibu pertiwi disebut ”kyai”… lalu bgmn bila tidak alim adil?…. tentu saja kita yang salah jika memaksakan diri menyebutnya “kyai”..?!.. haha, di kampung saya level di bawah kyai di sebut ustadz..
dunia internet memang menawarkan kemudahan dalam banyak hal, tak terkecuali so’al ilmu agama, pertanya’anya, tidak semua orang bisa mengaksesnya kan bung?..
apa mungkin diperlukan, lembaga yang punya otoritas memberi gelar kiai….
jadi orang yg berhak mendapat gelar kiai, hanya orang g sudah di sertifikasi oleh lembaga itu…. rame juga kali ya…………. dulu waktu saya kecil pernah ada satu cerita tentang pemilihan umum kiai, itu dulu sekali………
istilah kyai itu adalah wujud penghormatan masyarakat terhadap sesuatu yang dianggap mulia atau bertuah. tulisan di atas jika dilihat sebagai otokritik saya rasa ngga masalah. sebab kyai memang kadang2 perlu dikritik, biar ga memposisikan dirinya sebagai “Tuhan”. tapi mungkin lain kali juga perlu ditampilkan tipe2 kyai ideal yang tanpa pamrih, dan tdk gila hormat.
masalahnya menjadi tidak sederhana bila kita hanya ikut2tan latah, apalagi sa’at ini, banyak artikel yang menyudutkan peranan kyai, pesantren, terkait kasus teroris, sampai fatwa MUI soal BBM.. ujung2nya diskriminasi trhdp islam.
kalau kyai sbg figur panutan umat muslim di citrakan demikian, lalu bgmn dgn ummat islam?.. sadarkah kita bahwa opini bisa berkembang liar mempengaruhi pola brpikir orng bnyak? so’al “kyai pengutip”..ya tugas kyai itu memang mengutip dalil,baik alqur’an,hadist,qaul ulama’ lalu di konteks dg realita sekarang?.. justru kalu tdk mengutip itu yang bahaya,karena jelas itu lahir dari buah nafsunya..bagaimana ini? tanbihun.com tidak sedang mempropagandakan JIL kan?…
kecewa juga setelah baca nih artikel—
yo mugo-mugo tanbihun gak seperti yang ditanyakan Bpk.kita kartono
karna yang saya baca syeh ahmad rifa’i ogak ngono iku
husnudlon wae lah kaleh kang admin mau posting–
mungkin mau nunjukin gaya pemikiran santri rifaiyah jaman saiki
weleh…welehhhhhhhhh
Buat para pembaca baru tanbihun.com.
kenapa saya bilang pembaca baru? karena dari awal tanbihun online,kami selaku admin sudah sering mengatakan. “ini adalah media untuk kreatifitas atau menuangkan ide2,opini atau sejenisnya” (jangan diasumsikan semua artikel adalah tulisan admin.
kami sangat terbuka dengan artikel2 yang dikirim oleh para pembaca,perlu diketahui yang pernah mengirimkan tulisan ke redaksi bukan melulu santri rifaiyah.
seperti kita maklumi,santri2 rifaiyah bermacam2 latar belakang pendidikan,pengalaman hidup dan pergaulan,ini semua tentu akan mempengaruhi cara berpikir,cara bersikap,juga gaya menulis,termasuk beda2 sudut pandang dalam menatap 1 permasalahan.
mengapa diposting artikel2 yang terkesan “nyleneh”?
senagai generasi muda kita harus lebih terbuka terhadap perbedaan, harus lebih dewasa menghadapi perbedaan itu,jangan membiasakan “menghakimi”,namanya juga pemikiran atau opini,tidak ada yang salah kan? kalau kita tidak sependapat dengan pemikiran atau opini yang dimuat,kan sudah dicantumkan penulisnya,silahkan dibantah,dalam dunia blogger ini sudah lazim. kami malah mengapresiasi penulis2 dari kalangan generasi muda rifaiyah yang berani menulis dengan nama yang disertakan dalam artikel,jadi bukan artikel “kaleng”. coba tanyakan pada diri kita? apakah kita cukup punya nyali untuk menuangkan pendapat kita dengan terang2an mencantukan nama kita? apalagi jika pemikiran atau opini kita itu agak kontoversial.
kami sering matur sama kyai2 sepuh untuk memberikan ruang untuk generasi muda yang “berani” mengutarakan atau melahirkan ide2nya, ada 2 keuntungan :
1. kyai atau tokoh2 atau siapa saja jadi tahu bagaimana pemikiran si “fulan”? andai pemikiran dia salah, kita punya kesempatan untuk meluruskan. bagaimana kalau semua diam,tidak berani mengungkapkan pendpatnya? dari mana kita bisa tahu?
2. jika point pertama menjurus ke pemikiran yang salah,dan diingatkan/diluruskan tetap kekeh, para tokoh/siapa saja yang berkepentingan bisa tahu,atau mempersiapkan diri “melawan” pemikiran salah tersebut.
coba bandingkan jika pemikiran2 ini dikebiri, yang ada bukannya hilang malah kian menjadi-jadi.
sebagai penutup,sekedar saran untuk sahabat2 pembaca, untuk menilai atau memaklumi satu tulisan,kita bisa melihat usia penulis,latar belakang pendidikan dan pengalaman, kadang penulis yang masih dalam tahap pencarian jati diri atau masih labil atau masih hijau pengalaman terjun langsung dnegan berbagai problem dimasyarakat masih terpaku pada idealisme, seperti santri yang baru belajar tasrif/i’lal… semua mau ditasrif bahkan nama orang yang bukan kalimat arab pun di tasrif….paijo….paijooo…paijuuu….. paijotttt…. dst. kalau kita bijak atau mau dianggap bijak, dahulukan maklum. jangan gegabah,jagan sembrono,kalau ada artikel yang menurut kita sembrono atau kasar. apa kita akan ikut2an demikian lewat koment2 kita?
wassalam
saya rasa kekawatiran bpk kartono dan kang agus terasa wajar apabila tampilan-tampilan tulisan di tanbihun.com ini terkesan menyudutkan simbol2 islam. sekali lagi mengkritik boleh, tapi harus bijak dan berimbang…..bukan kyai saja yg tukang ngutip saya rasa, para sarjana pun tukang kutip bahkan kalo tdk megutip maka karyanya tdk diakui secara ilmiah. mengutip menurut saya tdk akan mematikan potensi fikir selagi dilakukan secara kritis. mungkin yang dimaksudkan oleh penulis dengan kyai pengutip yang mati otaknya adalah mereka yg betul2 taklid secara membabi buta terhadap kutipannya tersebut.
idem.
nah ini salah satu yang dimaksud admin,silahkan dikritik,dibantah artikelnya.dengan cara begini (ada yang menuangkan ide,ada yang membantah,tentu dengan argumen yang bisa dipertanggung jawabkan).
ditanbihun.com ada bermacam artikel, yang konon,ada yang condong ke wahabi,syi’ah,jil atau tareqat atau juga lainnya. saya yakin,dengan dimuatnya tulisan2 ini,kita jadi tahu seperti apa pemikiran saudara2 kita.
buat semuanya: ayo menulis lagi…… janganlah komentar membuat kita berhenti untuk berkreasi. kita berpendapat,mereka juga berpendapat.
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Sabda Rasulullah SAW, HR Muslim).
Saya rasa sudah hafal semua dengan hadits ini, meski belum mampu mempraktekan sepenuhnya, namun paling tidak okelah masing2 mempunyai opini yang berbeda karena itu merupakan hal yang wajar dari hasil pemikiran.
Mudah-mudahan dari (katakanlah kontroversi ini) setelah membaca komentar dari admin, kita bisa lebih bijak dan tidak kasar dalam menyikapi opini yang tidak sesuai dengan pemikiran masing-masing.
Dan tentunya semoga ini bisa menjadi satu pembelajaran yang sehat kedepan.
okelah kalo begitu…
sampai2 pak admin harus turun tangan, tengkyu2…
saya setuju sekali dengan nasehat bapak admin yang ini :
“untuk menilai atau memaklumi satu tulisan,kita bisa melihat usia penulis,latar belakang pendidikan dan pengalaman, kadang penulis yang masih dalam tahap pencarian jati diri atau masih labil atau masih hijau pengalaman terjun langsung dnegan berbagai problem dimasyarakat masih terpaku pada idealisme,”
suatu sa’at sayah akan menulis tentang MENGENAL MACAM2 PENULIS.
silahkan di tunggu..hehehe
Saya sangat mendukung dengan OPINI ini . memang Fakta di masyarakat sekarang sudah begitu .Banyak saya temukan . Kiai../ kyai … amplop . tiada amplop ogah . Cerita nyata .