11:28 pm - Senin,21 Mei 2012

Mengenal Macam-macam Kyai

Ahad, 24 Juli 2011 0:08 | Opini | 15 Comments | Read 497 Times

tukang kutipTanbihun – Kata Kiai di Kraton Solo, akrab sebagai sapaan lembu yang dikramatkan. Di Yogyakarta, sebutan kiai justru lekat dengan sebatang tombak: tombak kiai pleret. Adalagi di Yogyakarta, kata Kiai untuk menamai sebuah alat musik sharon yang ditemukan salah seorang personel group musik Kiai Kanjeng. Setiap akhir dari acara perayaan sekatenan di Yogyakarta, pasti gamelan di gelar di pelataran Masjid Gede Kauman.Gamelan itu mempunyai nama Kiai juga.

Tetapi yang akrab dalam memori kita, bahwa kiai identik dengan sosok manusia yang dipercaya masyarakat sebagai ‘ahli agama’. Tentu Kiai merupakan profesi, kedudukan seseorang di masyarakat. Kalau kita berfikir adil tentu kita menyamakan antara profesi kiai dengan profesi lainnya seperti penjahit, kuli bangunan, abang becak, petani, dll. Nilai samanya ada pada nilai manfaat (1) mereka sama-sama bermanfaat bagi orang lain. Kuli bangunan mempunyai nilai manfaat membangunkan rumah orang lain, membangun masjid untuk banyak orang, manfaatnya bisa didiami banyak orang bahkan sampai beberapa keturunan.

Tentu kalau kita mau ngomong apa adanya, membangunkan rumah termasuk juga sebagai kategori amal jariyah bukan? Kiai mempunyai manfaat memberi doa, pengetahuan agama, yang bisa saja pengetahuan itu tidak masuk dalam hati pendengar hingga ’masuk kuping kanan, dan keluar
kuping kiri’.

Pembedaan profesi dalam masyarakat tidak bisa dilestarikan. Karena hal itu tidak adil. Kanjeng Nabi Muhammad memuliakan semua profesi manusia. Suatu ketika Nabi pernah mencium tangan kasar pembelah batu. Itu tanda bahwa Nabi mencintai para pekerja keras. Kiai tak lebih mulia dari penyapu jalan, begitu seharusnya masyarakat berfikir. Yang membedakan keduanya adalah tingkat ketakwaan mereka. Karena di dalam pekerjaan yang menyucurkan keringat itu tersimpan hikmah kesehatan, dan
terkekangnya hawa nafsu karena manusia pekerja keras otomatis menguras perutnya terus dalam keadaan lapar, dan nafsu tak diberi waktu, karena waktunya telah penuh dengan pekerjaan yang tak habis-habisnya. Semua profesi harus mendapat penghormatan dan penilaian yang adil.

Kiai Pengutip

Kiai tipe ini adalah dimana-mana menyampaikan pendapat orang lain. Dalam setiap ceramahnya pasti bilang, menurut ulama fulan, dalam kitab anu, dikatakan….tak lain dan tak bukan tipe kiai semacam ini adalah usahanya menghafal banyak pendapat orang lain, sebaliknya sedikit berfikir. Otaknya tak biasa dipakai untuk berfikir dalam mengijtihadi sesuatu. Otaknya tak bergerak dalam mencermati peristiwa-peristiwa yang mengitarinya setiap detik, karena otaknya diisi penuh dengan ingatan-ingatan pendapatnya orang-orang. Kesibukannya mengingat, melumpuhkan usahanya dalam berfikir.

karena tidak biasa berfikir, maka seringkali ceramah ndakik-ndakik di depan anak-anak kecil. Tentu itu meleset dari metode penyampaian yang seharusnya bilisani qaumihi.

Kiai kutip ini Kalau ditanya sesuatu, reaksi pertamanya langsung menuju ke teks kitab yang dikarang sudah ribuan tahun yang lalu. Ada rasa segan dalam hatinya untuk mengeluarkan pemikiran, logika, dan ijtihadnya sendiri. Hingga kiai semacam ini sangat tergantung dengan teks. Dan jaringan otaknya tak begitu berkembang. Tentu kalau otaknya dijual sangat laku keras, karena jarang dipakai alias masih baru.

Kiai Raja

Ketika kita menjajaki dunia pesantren, terlihat jelas bahwa kiai laksana raja. Tentu tidak semua pesantren kiainya begitu. Ucapannya sabda pandita ratu. Kalau ucapan seorang pendeta, dan ratu disatukan siapa yang akan membantah? Tentu siapapun akan sendiko dawuh. Karena pendeta mewakili corong agama, dan ratu mewakili corong kekuasaan. Tentu kita hanya manggut dan bergegas sami’na waatho’na. Seorang raja harus membumbui kehidupannya dengan mitos-mitos, tentu untuk mengokohkan cengkraman hegemoninya. Maka tidak hanya Kiainya yang dimitoskan, ironisnya sampai anak-anaknya dimitoskan.

Dulu waktu saya sempat mampir di Pesantren besar di Jawa Timur, ada seorang anak kiai yang biasa disapa Gus dengan perilakunya yang aneh. Ada-ada saja ’anak macan’ ini selalu mencuci kendarannya dengan air mineral Aqua. Tentu hal ini aneh, karena seharusnya air aqua itu untuk diminum. Hal ini bodoh, karena termasuk pemborosan. Tetapi karena keluarga kiai mewarisi mitos nenek moyangnya, maka kenyataan aneh itu disebutnya sebagai hal luar biasa sebagai: keanehan majdub, atau perilaku jadzab anak kiai. Lumrah dan wajar bahkan harus dikasih acungan jempol.

Banyak takhayul yang mengitari dunia kiai dan keluarganya. Hal itu yang menjadi berbahaya bagi yang memitoskan, apalagi yang dimitoskan. Pada tahun 2000 an tradisi mitos itu mengalami kelunturannya yang maksimal. Banyak pesantren yang kehilangan ribuan santri. Tujuan mitos adalah alat pengukuhan hegemoni kiai terhadap pengikutnya.

Kiai raja selain menebarkan hegemoni, beliau menggunakan tatanan sentralistik. Titahnya adalah kebenaran, maka untuk apa bermusyawarah dengan para santri dalam urusan publik. Dalam sistem ini santri tidak dididik untuk mandiri berfikir, berbuat, dan mengambil keputusan-keputusan. Para santri hanya dididik sebagai copy paste dari sang Kiai. Kalau kiai berjubah, maka santri harus berjubah, kalau kiai kepalanya gundul maka santri juga botak. Kalau Kiai berkalung tasbih, maka santri harus juga melingkari lehernya dengan tasbih. Kalau santri ditanya, kenapa berkalung tasbih? Karena tabi sama Kiai. Dalam konteks ini kedudukan Kiai Raja sejajar kedudukannya dengan Tuhan. Karena dalam pemahaman kita yang patut di taslimi dan diinqiyadi seorang hamba hanya satu: Allah SWT.

Paradigma masyarakat masih meyakini, kalau kiai pasti cerdas (encer ning ndas), memberi mauidlah hasanah, mengerti kebutuhan masyarakat dan melayaninya; kalau disebut guru pasti memintarkan murid; kalau disebut dokter pasti menyehatkan masyarakat. Padahal kenyataan sekarang adalah sebaliknya. Ujung dari semui profesi pada masa akhir kehancuran ini adalah uang. Kiai untuk uang, dokter untuk uang, guru untuk uang.

Kiai raja punya nafsu agar dirinya mempunyai banyak kloning. Santri-santri diajari untuk meniru kiai, bukan diteladankan untuk meneladani Kanjeng Nabi Muhammad. Kiai raja tidak memahami ayat dalam surat al-Hujurat yang menerangkan ”janganlah meninggikan suaramu di atas suara Nabi” itu artinya janganlah kemasyhuran seseorang melebihi kemasyhuran kanjeng Nabi. Kalau di pesantren, para santri lebih sering membicarakan keampuhan seorang Kiai dibandingkan dengan pembicaraan kehidupan Nabi, maka itu bukti ”suara Kiai lebih tinggi dibandingkan dengan suara Nabi.”

Kiai raja tentu selalu dilayani umatnya, dan sedikit melayani umatnya. Buktinya kalau aku sowan ke Kiai, ia selalu nerocos mendominasi omongan ketimbang empati mendengarkan masalah-masalah tamunya. Cas-cis-cus dalil bertebaran dari mulutnya yang tak bisa ku pahami. Seringkali tipe kiai semacam ini tak bisa memahami kebutuhan tamunya, kemampuan tamunya, pengetahuan tamunya, neraca logika tamunya, malah dia lebih mafhum kebutuhan dirinya dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya agar diakui kepintarannya.

Seringkali seorang kiai berkokok dihadapan kerbau. Berkicau dihadapan kambing, mengembik di muka ayam. Seringkali ia tak menangkap makna bilisani qoumihi. Pemahaman tentu harus diawali dengan pendengaran, dan bertanya karena mendengarkan dan bertanya adalah metode untuk menyerap dan memahami. Kesimpulannya adalah mendengarkan = melayani dan memahami. Kalau diriku yang selalu mendengarkan kiai, itu bukti bahwa kiailah yang ku layani kebungahan kebutuhan pengakuan dirinya.

Pada zaman sekarang monopoli Kiai atas pengetahuan agama, sudah kehilangan masanya. Baik-buruk, benar-salah dalam tataran agama Kiai bukanlah alternatif satu-satunya. Dunia internet memudahkan manusia awam, seperti penulis ini untuk bisa mendalami pengetahuan apapun, termasuk pengetahuan agama. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi. Maka perlunya kesadaran para kiai, bahwa dirinya tak melulu berbusa-busa menasehati banyak orang awam, karena sebenarnya mereka sudah mengetahuinya, yang paling penting adalah memberikan keteladanan yang semakin langka ditemukan di akhir zaman ini. Dan sebisa mungkin berkeringat  melayani kebutuhan hidup orang banyak.

Paciran Lamongan, 21 Juli 2011

Ahmad Saifullah

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

Tagged with: ,

kata kata mutiara sang kyai (1),kata-kata bijak kyai (1),kata-kata mutiara seorang kyai (1),Kyai aneh (1),kyai majdub (1),makalah tentang kedudukan kyai di solo (1),orang kraton solo yg di kirim ke kendal (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner