Sebuah Pembelaan Dari Kaum Minoritas

Saturday, 11 June 2011 10:12 | Opini | 2 Comments | Read 641 Times

Tanbihun – “Bem-bem, cssss!” hentakan rem bus membangunkan tidurku. Tubuh ini serasa kapas yang melayang-melayang di udara terhempas oleh angin kencang, itulah keadaan staminaku malam itu. ”Hoaaam!” mata ini bagai lampu 5 watt. ”Ngantuk!” Kucoba untuk menggerak-gerakkan tubuhku. ”Krek!” ternyata efek dari aktivitas seharian di kampus baru terasa sekarang. Aku benar-benar bisa terjaga ketika para pedagang menawarkan dagangannya. ”Mijon-mijon mas, panta om, kokakola, pokari juga ada” tawarnya dengan  suara medoknya yang khas. ”Huft!” disusul pedagang tasbih. ”Ibu bapak, saya tawarkan tasbih, tasbih ini terbuat dari kayu jabon yang konon dulu sering dipakai oleh waliyulloh, jadi tasbih ini bukan sembarang tasbih!” rayunya kepada para penumpang bus yang kebetulan ada di ruang bus. Sangat geli rasanya, mendengar rayuan pedagang tasbih ini. Entah benar atau tidak wallohua’lam, saya waktu itu belum lahir pak, jadi apakah waliyulloh benar-benar biasa menggunakan tasbih kayu jabon atau tidak. Tiba-tiba dari arah belakang, pedagang lain menyodorkan dodol garut ke arahku. ”Dodol mas, diliat dulu gapapa” tawarnya. ”Tidak mas!” jawabku. ”Mau nyicip dulu juga boleh” rayunya. ”Nggak mas, saya gak punya duwit!” jawabku sok tegas. ”Gak punya duwit? Ngutang lah!!!” jawabnya kasar sambil meninggalkan tempat. Yaelah, mana bisa laku coba, orang cara memasarkannya aja maksa.

Oh ternyata belum selesai, seorang bapak berpakaian koko lusuh dan berpeci miring dengan gayanya yang buta tak mau kalah juga. ”Ibu bapak mas mba, kasihanilah aku, saya ini buta, orang jalan aja harus dituntun, semoga Allah memberi rezeki lebih ya bagi yang mau memberi sedekah” pintanya memelas, seakan mau memberitahu bahwa hidupnya benar-benar tergantung pada pemberian orang lain. Sangat menyimpang 180 derajat dengan para tunanetra yang pernah saya baca di buku-buku motivasi. Mereka berusaha untuk menutupi kekurangannya dengan berprestasi dan berkarya. Di buku tersebut dijelaskan bahwa Darwis yang tidak punya kaki dan tangan ternyata berprestasi dalam bernyanyi, karena dia mengasah, menekuni kelebihannya dalam bidang tarik suara. Mike yang pendek dan punya postur tubuh kecil, ternyata bisa menjadi pemain basket handal, setelah mengasah kelebihannya dalam melompat tinggi hingga melebihi pemain basket lainnya. Begitu juga dengan kita. Misalnya kita punya kekurangan dalam berkomunikasi lisan, namun kita punya kelebihan dalam berkomunikasi secara tulisan. Maka jika kita terus meningkatkan kelebihan tersebut secara otomatis akan menutupi kekurangan itu sendiri. Contoh lain, mungkin kita tidak lihai dalam bidang olahraga, tetapi kita sangat pintar dalam memainkan rebana atau blog.

Seperti halnya juga dalam sebuah novel, saya lupa judulnya, diceritakan Salekha yang sangat berprestasi dalam segala bidang. Bidang olahraga dia juara 1 lomba catur tingkat provinsi, di bidang akademik dia juara 1 dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika, dalam bidang ilmiah dia juara LKTI Sejarah tingkat nasional. Pihak sekolah sangat bangga dengan dia. Suatu saat Adist merasa tersaingi dengan keberadaan Salekha di sekolahnya, padahal dulu Adist lah yang sering berprestasi dan disanjung-sanjung sekolah. Hingga suatu saat Adist mengadu kepada Salekha. ”Mengapa kamu sangat berprestasi?” Bisa ga si memberikan kesempatan kepada yang lain untuk juga berprestasi? Jangan serakah deh, sok-sok an anak baru! Kamu itu statusnya di sini sebagai adik kelas!” ujar Adist ketus dengan gaya bahasa layaknya aktris sinetron. Dengan berlinang air mata dan isakan tangis Salekha menjawab, ”Memang benar, saya ini berprestasi hampir di segala bidang, Allah memberikan kelebihan itu kepada saya, tapi saya tidak bisa membedakan warna, antara warna merah hijau kuning saya tidak tau, iya, saya buta warna! Padahal saya bercita-cita melanjutkan jurusan Teknik Kimia setamat SMA ini, tapi ternyata saya tidak bisa karena syaratnya mata harus normal. Sedangkan kamu dan teman-teman yang lain bisa untuk itu”. Seketika itu juga Adist bercucuran air mata dan minta maaf menyesali apa yang telah diperbuat. Memang pada hakikatnya semua manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan. Seringkali kita mengeluh, mengapa kita tidak sehebat mereka, mengapa kita begini begitu hingga sempat terpikir bahwa Allah itu tidak adil. Naudzubillah…

Pernahkah nonton film motivasi ”Tare Zamen Par?” (aduh, jangan2 saya dianggap bid’ah lagi?). Di film tersebut diceritakan keluarga yang punya 2 anak yang satu A menderita kelainan ”disleksia” dan yang satunya lagi B berprestasi dalam hal akademik juga olahraga tenis. Bapaknya selalu menjago-jagokan si B, dan selalu kesal dengan tingkah laku si A yang bodoh dan selalu melang-lang buana sehabis sekolah. Kerjaan si A saat di rumah hanya berimajinasi dan melukis. Hampir setiap hari si A kena damprat bapaknya, meskipun ibunya selalu membela. Si A sudah sering gonta-ganti sekolahan gara-gara ulahnya dan akhirnya dia ditempatkan di sekolah yang berasrama dengan segudang peraturan ketat. Suatu hari pada akhir tahun pelajaran, di sekolahnya diadakan lomba melukis yang diikuti oleh semua warga sekolah mulai dari guru, satpam, sampai siswa kelas 1 termasuk si A. Si A pun dinyatakan sebagai juara 1 dan lukisannya dijadikan sampul buku tahunan sekolah itu. Sungguh mencengangkan! Sementara si B yang kebetulan juga ikut lomba tenis, gagal melawan petenis lain. Padahal waktu itu bapaknya ikut menyaksikan dan men-support habis-habisan. Hal inilah yang membuat bapaknya menyadari, ternyata selama ini dia salah dalam mendidik anak-anaknya. Harusnya menghargai semua kelebihan, apapun itu!. Melukis, berhitung, menulis, dll.

Maka dari itu, alangkah baiknya kita sadar diri. Kita tidak boleh mengolok-olok kekurangan orang lain, karena belum tentu yang mengolok itu lebih baik dari yang diolok-olok, seperti firman Allah dalam Al Quran. Manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan atau kekhilafan. Allah sudah menentukan apa yang dikehendaki-Nya. ”Kun Fayakun!” Bagaimana bisa kita mencari-cari kesalahan atau kekurangan orang lain, sementara kita masih sering melakukan kesalahan. Hal ini dapat dicontohkan, Ikhwan yang statusnya sebagai siswa SMA Negeri menjadi bahan pembicaraan di masyarakatnya. Why??? karena image di masyarakat tersebut bahwa di SMA Negeri itu sekelas dicampur laki-laki perempuan, pacaran dan pergaulan bebas, tak berakhlak, pendidikan agama Islam minim, rintisan sekolah bertaraf internasional tetapi tidak berstandar akherat, dll. ”Wah padahal dia Rifaiyah ya dan anak kiai pula, tapi dia sekolahnya di sana, benar2-benar mencemarkan nama baik” bisik-bisiknya. Belum tentu semua SMA seperti itu. Apakah madrasah atau ponpes bisa menjamin siswanya berbudi pekerti luhur? Belum tentu juga. (Maaf, bukan berarti mendiskreditkan ponpes atau madrasah). Ibarat kata, ”jangan melihat kulitnya, tapi isinya”. Di SMA Taruna Nusantara, para siswa dilatih untuk disiplin, tidak boleh menginjak rumput sekolah dan meludah sembarangan, sepulang sekolah dikasih wejangan pendidikan karakter (akhlak), begitu juga di SMA Semesta. Di SMA 3 Semarang ada ”Kantin Kejujuran”, para siswa diuji kejujurannya melalui kantin sekolah yang melayani sendiri (membeli-membayar-mengambil kembalian). Di SMA 1 Kedungwuni Pekalongan, sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan tadarus Al Quran bersama, siswa yang terlambat diberi sanksi sholat dhuha, siswa yang berpacaran dikeluarkan, pada saat jam istirahat diputar musik-musik islami yang memberi semangat untuk berbuat baik. Di SMA 3 Pekalongan, ada keharusan sholat berjamaah, Baca Tulis Al Quran (BTA) dan kuliah agama setiap hari Ahad. Kalau di madrasah ada Aqidah Akhlak, di SMA Negeri juga ada Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Karakter. Jika di madrasah ada pelajaran Bahasa Arab, di SMA Negeri juga ada Bahasa Arab pada jurusan Bahasa.

Contoh lain, Sifulan yang kuliah di IPB-Bogor, langsung menuai protes, ”kabar-kabari” pun menyeruak di masyarakat seakan menjelma menjadi hukuman psikologis. ”Wah, Bogor kan tempatnya kemaksiatan dan aliran sesat! Kuliah kok dipake untuk cari kerja biar gampang!” Lah, apakah mereka pikir dengan kuliah di Al-Azhar Cairo (misalnya…) akan terhindar dari kemaksiatan, di sana justru banyak aliran-aliran agama yang menjamur subur. Mbok ya gak usah su’udzan. Kalau su’udzan dibiasakan kan bisa menjadikannya fasik bukan Pak? Jika mereka bilang sekolah di SMA Negeri mencoreng nama baik Rifaiyah, buktikan kepada mereka bahwa kita berhasil menjilbabkan teman sekelas sebanyak 10 orang.

Patut kita acungi jempol kepada penggagas ”Tanbihun.com”, begitu juga teman Rifaiyah dari Pati di Teknik Kimia UGM. Hargailah dia, betapa susahnya untuk menembus jurusan itu apalagi di universitas ternama. Harapannya akan menjadi generasi kebanggaan Rifaiyah, dengan keahlian di bidangnya mungkin di tahun yang akan datang bisa menciptakan cairan kimia yang bisa mengawetkan kertas kitab-kitab tarajumah atau hal lain yang bermanfaat bagi Rifaiyah. Selain itu kita juga punya ahli fisika kita dari Kendal. Sudah semestinya dibuang jauh-jauh pikiran yang menganggap bahwa mempelajari kimia, fisika, geografi, matematika itu tidak penting gara-gara bersifat duniawi, tidak membawa manfaat di akherat. Siapa bilang??? Dengan ilmu kimia bisa ada obat penyakit, dengan ilmu fisika bisa ada listrik/lampu, dengan geografi gempa bumi bisa diprediksi? Apa itu gak berbuah pahala? Pahala yang akan terus mengalir sampai di akherat nanti.

Apakah generasi Rifaiyah harus terus menerus ke Ponpes? Tentu tidak!. Yang mau ke Ponpes monggo, yang mau kuliah di jurusan umum monggo, silakan. Selama ilmu fardhu ‘ain mudhoyik sudah dikuasai dan bisa membentengi diri, apa salahnya cari sesuatu yang berbeda, pribahasa bilang: ”menjadi sapi ungu di antara sapi-sapi putih”. Selain butuh Kiai atau ustadz (ahli agama Islam), Rifaiyah juga butuh generasi yang ahli kedokteran, ahli media (website, komputer, siaran radio, wartawan), ahli kimia, ahli pertanian, ahli fisika, ahli lingkungan, dll.

Setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan. Dengan kekurangannya, manusia dituntut untuk bekerja keras menutupi kekurangan tersebut dengan kelebihannya. Berkat kelebihannya diharapkan bisa menjadikan pribadi yang senantiasa bersyukur dan semoga tidak menjadikannya tinggi hati. Sesungguhnya Allah benar2 Maha Adil. Tadaburi… semoga bermanfaat.

Hamasah, Horash, Keep Spirit, Semangat !!!

Salam Anak Rifaiyah

ALI AHKAMULLOH

Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: ,

Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site