Catatan Kecil Idul Qurban

Tuesday, 8 November 2011 15:48 | Warta | 2 Comments | Read 664 Times

Tanbihun- Hari raya idul qurban baru saja usai, idul adha identik dengan pembagian daging qurban, seperti pembagian-pembagian beras jatah, bantuan uang tunai dari pemerintah, yang selau menyisakan sisi lain yang buram, begitu pun dengan daging qurban, terutamanya yang berhubungan dengan penditribusiannya.

Salah satu hikmah sosial ibadah qurban adalah berbagi kenikmatan daging qurban kepada fakir-miskin yang dimaklumi jarang merasakan kelezatan daging. Moment idul adha dinanti oleh kaum fakir-miskin sekedar untuk mendapatkan jatah daging untuk dibagi kepada anggota keluarganya.

Faktanya, tidak semua kampung dapat menyembelih hewan qurban, praktis mereka hanya gigit jari, tak ada jatah daging bagi mereka. Ada juga satu kampung yang banyak menyembelih hewan qurban, namun dari tahun ke tahun jatah untuk fakir miskin dikampung itu sendiri tetap sama, hanya sebesar kepalan tangan anak-anak, keadaan ini menyisakan pertanyaan besar bagi kaum fakir-miskin dikampung tersebut.

Lalu kemana larinya daging-daging itu?

Ternyata panitia memprioritaskan pembagian daging qurban kepada para tokoh,pemuka masyarakat dan agama, bukan hanya dikampungnya sendiri juga kekampung-kampung nan jauh, saat dipertanyakan kenapa harus membagi-bagikan kesana segala? Jawabannya sungguh tragis “biar kampung kita kondang,kalau bisa ngasih jatah daging kesana kita akan dapat nama harum”. Ironis sekali.

Ada satu adegan nyata yang memilukan yang sempat penulis lihat, sekumpulan anak-anak yang dari pagi melihat prosesi pemotongan hewan qurban berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing, ditengah perjalanan mereka bertemu dengan temannya anak seorang pemuka masyarakat, dia sedang makan sate kambing hasil qurban, sontak kawan-kawannya bertanya ;

“nda, kamu koq sudah nyate?”

“o iya…tadi jam 10 bapak sudah dapat daging banyak banget,dikulkas sampai nggak muat”

Anak-anak yang belum tahu perihal prioritas pembagian daging qurban hanya bisa menelan ludah, di satu keluarga sedang menantikan daging qurban. dari pagi hingga sore daging yang ditunggu-tunggu belum juga datang, mereka sudah mempersiapkan tusukan sate, arang dan bumbu-bumbunya, jam  16:30 daging pun datang, tanpa menunggu komanda anak yang paling besar langsung mengeksekusi daging, dipotong,diiris dijadikan sate:

“wah jadi 11 tusuk mak” kata anak paling besar

“yo wis lee dibakar”

Sementara kakaknya membakar sate, adik-adiknya yang berjumlah 5 bergerombol mengelilingi “pembakaran sate” seakan mereka tidak rela aroma sate terbang melintasi mereka. Sate pun matang, tanpa menunggu lama, sate pun ludes, wajah mereka berseri bahagia.

Keesokan harinya pas berangkat sekolah mereka berpapasan dengan anak pemuka masyarakat yang kemarin, kali ini dia “njambal” (makan lauk tanpa nasi) daging sambil jalan kesekolah;

“daging qurbanmu masih banyak ya?punya saya sudah habis kemarin,Cuma jadi 11 tusuk”

“punyaku masih buaaaanyak, dikulkas masih beberapa plastik, 1 minggu biasanya belum habis”

Itulah sekelumit catatan kecil dari idul qurban dikampung penulis, tokoh dan pemuka mendapat jatah  lebih banyak dan prioritas utama. Malahan bagi anak-anak kyai yang masih dipesantren, hari raya idul qurban adalah hari pesta daging, mereka akan mengajak teman-teman santrinya untuk pesta sate, sebab jatah orang tuanya tentu lebih banyak dan lebih dulu. Apakah ini salah? Bukan salah atau benar, yang perlu dijawab adalah, kemana nurani kita?

semoga kejadian serupa tidak terjadi ditempat lain.(zid)

Share on :

About

Blogger yang selamanya jadi murid ... ... ... ...

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site