Perkembangan Kasus Tahlil Haram

Tanbihun.com – Perkembangan masalah kelompok oknum rifaiyah yang mengharamkan,tahlil,ziarah kubur,membaca al-barzanji, masih sangat menarik dicermati. Karena ini menyangkut amaliyah yang sudah menjadi amaliyah mayoritas jamaah rifaiyah.

“saya membaca diinternet,tentang kasus pengharaman tahlil di wilayah semarang,itu hanya beberapa oknum,bukan pengurus rifaiyah” begitu kata pak sudardji selaku ketua DPW Rifaiyah Jawa tengah dalam sambutan pada pengajian peringatan isra’ mi’raj di Cepokomulyo Gemuh Kendal. Lebih lanjut beliau menegaskan, Insya Alloh dalam waktu dekat masalah ini akan segera tuntas”.

Faham ini kelihatannya memang sengaja dihembuskan dan disebar luaskan, dan buktinya faham ini sudah menyebar,yang baru terlihat selain disemarang,adalah di temanggung,dan pekalongan.

Bahkan dipekalongan sudah beredar foto copy kitab Syaikh Ahmad Rifa’i yang menjadi acuan “pengharaaman” tahlil. Untuk persisnya kami sampai tulisan ini di upload belum bisa mendapatkan copyannya, kepada kawan2 di pekalongan,kalau bisa tolong dicari dan ditulis disini,biar bisa kita diskusikan.

Bunyi dari nadhomnya kira2 begini endi becike wong podo tahlilan # Rame2 dzikir kerono kadunyan. Itu sepenggal nadhom yang diingat oleh Ustadz Rifai ketika beliau mengisi tausyiah pengajian rajaban di Pekalongan, namun sayang beliau tidak mendapatkan copyannya.

Sebenarnya bukan masah pengharamannya yang dipermasalahkannya,orang mau tahlil atau tidak itu hak azazi masing2,namun ketika paham itu dihembuskan dan dengan menghakimi kelompok lain yang tidak sepaham dengan sebutan “bid’ah”, maka itu menimbulkan keresahan ditengah masyarakat. Kalau memang menurutnya tahlil itu haram ya haram saja jangan menghakimi orang lain, sebab ini masih wilayah yang memang terbuka pintu khilaf. Bukankah semua punya landasan dalil dari para ulama’ salaf?

Kalau pengusung anti tahlil dari kalangan rifaiyah ini memang mempunyai jiwa ilmiah, anggap saja ini undangan dari kami, ayo kita gelar diskusi terbuka membahas masalah ini.paling tidak lewat blog ini.

Yang mempunyai pedapat, silahkan diskusikan disini.

Baca Juga:

Bah’tsul Masa’il Tentang Tahlilan Batal?

(Update) Bah’tsul Masa’il Tentang Tahlilan Batal?

Melaknat Tahlilan Mendukung Tahlil

Konsep Bid’ah Dalam Perspektif KH Ahmad Rifa’i

Inilah Kitab Yang Memuat Anjuran KH.Ahmad Rifa’i Untuk Ziarah Kubur Dan Kirim Do’a

Kitab ADABUZZIARAH Karya KH.Ahmad Rifa’i,Membahas Tata Cara Ziarah Beserta Do’anya

127 Comments on Perkembangan Kasus Tahlil Haram

  1. wah maksudnya kok jadi puter2 gemana tu? Tahlilan itu munculnya adalah kirim do’a orang mati yang biasa dilakukan di tempat orang yang meninggal, ters aku mau nanya maksud tahlilan itu ibadah atau naluri ( budaya ) karena kalau ibadah justru harus mendatangkan dalil, sebagai mana yang di sepakati para ulama’ setiap ibadah itu harom kecuali ada dalil yang memerintahkan, dan masalah ini sudah jelas medianaya saja dilarang ,trs ibadahnya ndak ada dalilnya kan ? ya udah sebetulnya ndak masalah serampangan atau tidak tapi semua harus berpangku pada dasar qo’idah yang telah mapan. okey

  2. mas…upin..? yg ganteng tujuan tahlilan itu kan kirim doa orang yg sudah mati tohh,terus apa bedanya ditempa walimah sama di tempat kluwarga orang mati..? wongyo yg di bca dan pelaksanaanya jugasama terus bedanya di mana..?

  3. udah…..? sekarang tidak usah bahas itu lagi dan tidak usah ngecam sana sini entah itu orang nu ,rifaii,salafi, muhadiyah yg penting apa yg di kerjakan ada tuntunanya dari ROSULLULLOH itn sudah cukup, kita tidakusah fanatik sama kelompok malah nanti repot sendiri lohhh..?

    • kalo memang yang di permasalahkan soal tidak boleh mendoakan orang yang meninggal,bukankah ada juga ulama’ yang memperbolehkanya?! sebetulnya yang fanatik itu anda ato siapa?!!!!!!.. . tahlil,tahmid,dzikir,silaturrahmi,takziyah. kalo bukan tuntunan namanya apa?????…

  4. Alhamdulillah… kalalu teman2 sudah faham….matursuwon.

    • wah diskusinya panjang sekali, sy hany mau ikut sdkit komentar aja…! Ketahuilah kebenaran dulu, maka kamu akan tau siapa orangnya, tapi syaratnya harus iklas dan singkirkan hawa nafsu dan kedepankan obyektivitas, karena dalam hati yang paling dalam sebenarnya tau siapa yang benar, diatas semuanya sudah jelas kesimpulannya, tp hanya saja untukk mengakuinya kadang kita tutupi dengan bebagai alasan yang kita buat sendiri.

  5. Bicara denganorang yang ndak mudeng memang susah ko, mosok tidak bisa bedakan antara membaca tahlil, tahmid dan silaturrhmi dengan ritual tahlilan yasinan dan selametan yang di dalamnya di bumbui dengan bacaan – bacaan di atas. Saya kira orang yang cerdas akan faham ndak usah pakai logika puter2. dan terserah semua si mau milih apa dan mau berbicara apa ndak ada yang melarang , masuk agama islam saja ndak ada paksaan.

    • pak nur,makanya mendingan translite kitab2 Syaikhina ke bahasa Indonesia, ini lebih bermanfaat.daripada berdebat tentang hal yang ga akan selesai2 diperdebatkan. apa ga capek? apa kata dunia?

    • masalahnya bukan mudeng gak mudeng bos,.. ente kira amalan yasinan,tahlilan,manaqib,dll ntu ada dengan sendirinya???, njiplak darimanakah warga Rifa’iyah/nahdliyin dapet amalan ntuh?!ngarang sendiri2kah?!ato dari Guru2 mereka?!..
      mungkinkah Ulama’ sekelas Annawawi,Syaih Kholil,KH hasym asy’ari, syaiH Ahmad Rifa’i dan sejumlah ulama’ lain tak mampu berbuat banyak so’al “Bid’ah/haram” seperti yang ente fatwakan?!…mungkinkah Para Ulama’ sekelas beliau2 tak sanggup menyampaikan kebenaran seperti yang ente mangsut?!.

  6. @Abu Fikri……ente mustinya dalami agama dg benar, hingga isi otak ente ngga cuman berisi tabdi’, takfir dan macem2 terhadap sodara ente yg muslim juga. Kirim pahala buat mayyit kan udah diuraikan diatas, oleh kang ustadz abidun dan mas rifai. kalo ente rujukannya cuman fatwa2 ben baz, utsaimin dan albani saja tanpa melihat kajian ulama lain, maka ente akan jadi katak dalam tempurung. apakah didunia ini yg paling bener cuma kelompok ente …???

  7. demen nih ane…. ketahuan watak aslinya ya.
    kalau gak ada isu yg kontrofersial, komentar gak rame….
    ayo admin up load tulisan yg agak nylenih dikit, biar ihkwan2 pada bermunculan kemabli. ane tuh suka baca komentar, kadang isinya mah kagak dibaca…. hahahaha….
    siapa ngangkata isu ” wiridan berjamaah bakdo sholat dengan angawaruhi” yg menjadi pakem wiridane wong tarjumah, pasti banyak komentar deh….
    matur nuwun

  8. Seringkali ada beberapa teman yang hoby nya suka menganggap orang lain “ora mudeng”, mereka menganggap yang mudeng hanya dirinya dan teman- temannya sendiri. Beda dengan para Ulama Mujtahid, walau kadang terjadi perdebatan diantara mereka, pernahkah mereka menganggap Ulama lain ora mudeng? Ingat perdebatan Imam Ahmad bin Hambal dengan gurunya yakni Imam Syafi’i tentang apakah kafir hukumnya Tarikus Sholah? Atau tentang masalah sampai tidaknya pahala bacaan Qur’an kepada si mayit? Mereka nggak pernah tuh saling menganggap lawan bicaranya ora mudeng?

  9. Ini perkara yang sudah ada dari dulu kok pada diributkan disini, yang menulis blog jg orang2e belum faham betul akan islam, kemudian di hati orang2 yang menulis masih belum bisa membeaskn diri dari penyakit2 hati,maksiat pikiran, mulut dan penyangka buruk kepada orang. Mulai sekarang nafsi-nafsi saja jangan saling menuding, toh nanti di akherat akan ketahuan mana yang benar dan mana yang salah. kalo yakin pada sesuatu itu harus seyakin2nya jangan sampek goyah. sampek ainul yakin dan Haqqul yakin. jika sdh begitu telusuri hati perbuatan apa cocok dengan lisan.. jika sdh cocok dan akhlakul karimah berarti kamu benar. agama yang benar itu agama yang bisa membuat pemeluknya aman tentram dan orang2 disekitar jg tentram dan malah memanfaati bagi yang lain.

  10. MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 DI SURABAYA
    TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”
    39 menit yang lalu · Suka
    Dewi Sekar Berbau Ancaman Berbohong Atas Nama Rasulullah dan cara menyampaikan hadits bila statusnya masih diragukan (shohih atau tidak)
    Diringkas dari Kitab Syarah Imam Muslim, karangan Imam Nawawi.

    Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Rib’i bin Hirasy bahwa Ali radhiyallaahu `anhu berkata dalam khuthbahnya:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaini wa sallam bersabda, “Janganlah kalian berdusta dengan mengatasnarna-kan diriku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta dengan mengatasnamakan aku, maka dia akan masuk neraka.1 “

    (1). Hadits ini juga sesuai yang disebutkan Imam Bukhari (1/106) dari jalur Manshur, dari Rib’i bin Hirasy, dari Ali. Disebutkan juga oleh At-Tirmidzi (V/2660), An-Nasa’i pada pernbahasan tentang Ilmu dalam Sunan Al Kubra dan juga Ibnu Majah (1/31).

  11. syahid Anshori // 29 March 2012 at 8:19 am // Reply

    Menggaris bawahi Bunyi dari nadhomnya kira2 begini endi becike wong podo tahlilan # Rame2 dzikir kerono kadunyan..Bukan hanya tahlil, Ibadah dalam bentuk apapun yg mengharapkan dunia/kadunyan tidak akan ada baiknya

  12. Ibnu Rajab al Hambali di dalam bukunya “Fadhlu Ilmu Salaf ‘Ala Ilmu Kholaf ” (Keutamaan Ilmu Ulama Dulu Atas Ilmu Ulama Kontemporer ) menulis : ‘’Beginilah, sesungguhnya orang-orang sekarang banyak tertipu, mereka mengira bahwa siapa yang banyak bicara dan berdebat serta berpolemik dalam masalah-masalah keagamaan, pasti lebih pandai dari pada yang tidak bisa seperti itu.
    Pendapat seperti ini hanyalah berasal dari kebodohan belaka. Lihatlah kepada para senior sahabat Nabi saw, seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Muadz, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit , ternyata perkataan ( riwayat ) mereka lebih sedikit dari perkataan (riwayat) Ibnu Abbas, akan tetapi walaupun begitu mereka lebih pandai darinya. Begitu juga para Tabi’in, perkataan (tulisan) mereka lebih banyak dari sahabat, tetapi para sahabat lebih pandai daripada mereka, begitu juga para Tabi’ut Tabi’in, mereka lebih banyak bicaranya dari Tabi’in, tapi para Tabi’in lebih pandai dari mereka.
    Karena keilmuan tidaklah diukur dengan banyaknya riwayat maupun tulisan, akan tetapi hakekat ilmu itu adalah cahaya yang tertancap dalam hati seseorang, sehingga dia bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan.’’

  13. Perpecahan Paham Umat adalah Sunnatulloh

    Alloh SWT menjadikan kaum muslimin itu tidak hanya satu kelompok saja. Dalam Islam terdapat banyak kelompok dimana antara satu kelompok dengan kelompok yang lain saling bertentangan dan berbeda pendapat.
    Sebelum Islam suku Quraisy dipimpin oleh empat kelompok, yaitu Bani Hasyim, Bani Mutholib, Bani Naufal dan Bani Abdi Syamsin. Keempat kelompok ini terbagi menjadi dua kelompok. Pertama kelompok yang ingin mengembalikan Izzul ‘Arab melalui Islam yaitu dengan mempersiapkan kelahiran Nabi yang ditunggu-tunggu, mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Hal ini mereka ketahui melalui isyaroh Alloh SWT yang diterima oleh Abdul Mutholib (kakek baginda Nabi sendiri) berupa digalinya sumur zam-zam yang menjadi salah satu sumber kehidupan suku Quraisy dan penduduk Makkah pada umumnya, karena sumur zam-zam tidak akan digali kecuali pada zaman Nabi yang terakhir (Nabi Muhammad SAW). Adapun zam-zam yang ada pada masa Nabi Isma’il AS adalah mata air atau sendang (danau) bukan sumur. Sebagai rasa terima kasih, bangsa Arab ingin mengangkat Abdul Mutholib sebagai raja atau pemimpin sebagai penghormatan, tetapi beliau menolak dan mengatakan: “Jadikan saja aku sebagai Syaikhu Makkah, yang mana kalian tidak akan memutuskan suatu perkara apapun kecuali setelah kalian meminta pendapatku terlebih dahulu”.
    Maka dibangunlah Darun Nadwah yang mana orang Arab tidak akan memutuskan suatu masalah apapun kecuali di Darun Nadwah. Karena jasa besar Bani Hasyim dan Bani Mutholib kepada Abdul Mutholib inilah ketika Rasulullah SAW ditanya: “Wahai Rosululloh bagaimanakah kami membaca sholawat pada anda?”, maka beliau menjawab: “Katakan:

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد

    Yang dimaksud dengan kalimat (آل) pada hadist diatas adalah Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Tidak ada dalam satu ayat al-Qur’an ataupun hadist yang menyinggung tentang shalawat pada sahabat, hanya saja dalam al-Qur’an Alloh berfirman :

    وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

    Artinya : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar “. (QS. At-Taubah: 100)

    Jadi untuk Sahabat bukanlah dengan solawat tapi Istirdho’ yaitu ucapan رضي الله عنه. Ucapan ini juga diberikan para auliya’, karena dalam ayat diatas disebutkan (وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ).
    Kelompok kedua adalah kelompok yang ingin mengembalikan izzul ‘Arab melalui ‘Aribah (kesukuan Arab), yang mana hal ini bertentangan dengan Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Tapi anehnya orang yang merasakan bahwa Muhammad akan menjadi Nabi akhir zaman adalah Sayyidah Khodijah Al-Kubro RA murid dari Waroqoh bin Nauval. Dalam Taurat yang dipelajarinya dari Waroqoh bin Nauval ia meyakini bahwa Nabi akhir zaman itu harus pernah menginjakkan kaki di gunung Sinai, karena antara satu Nabi dan yang lain itu pasti ada kesinambungan sebagaimana itu tersiratkan pada permulaan surat At-Tin yang berbunyi:

    وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ، وَطُورِ سِينِينَ ، وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

    Artinya : “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman”. (QS. At-Tin: 1-3)

    Pada lafald (التِّين) Allah memberi isyarat pada Nabi Adam AS dan Nabi-Nabi setelahnya sampai Nabi Nuh AS, karena menurut pendapat yang mu’tamad, syajaroh yang mana Nabi Adam AS dilarang mendekatinya adalah syajaroh Tin. Sedang (وَالزَّيْتُونِ) memberi isyarat pada Nabi Nuh AS dan Nabi-Nabi setelahnya. Adapun ( وَطُورِ سِينِينَ ) yang berarti gunung Thur Sinai merupakan isyarat bagi Nabi Ibrahim AS sampai pada Nabi Muhammad SAW, yang juga diisyarahi dengan ( وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ) yaitu Makkah al-Mukarromah.
    Sayyidah Khodijah menunggu dan berharap-harap sampai ketika Nabi Muhammad berdagang untuknya ke Syam (Syiria). Ia pun semakin yakin bahwa Muhammadl adalah Nabi akhir zaman karena perjalanan menuju syam itu melewati gunung Sinai. Lalu ia pun melamar Rosululloh SAW.
    Ketika ia sudah menjadi istri Rosululloh ia masih menunggu. Tapi ketika umurnya mencapai 50 tahun dan umur Rosululloh mencapai 35 tahun Khodijah sering kelihatan termenung karena belum ada tanda-tanda beliau akan diangkat menjadi seorang Nabi. Hal ini diketahui oleh Rosululloh, lalu beliau bertanya kepada Khodijah: “Ada apa gerangan yang menjadikanmu kelihatan sering termenung wahai Khodijah? ”
    Khadijah menjawab: “Tidak ada apa-apa wahai Muhammad. Aku hanya berpikir bahwa umurku sudah 50 tahun, sedangkan engkau masih 35 tahun. Dan diluar sana masih banyak gadis-gadis cantik yang lebih menawan dariku”. Ia menutupi apa sebenarnya yang dipikirkan olehnya.
    Rosululloh SAW dengan tegas menjawab: “Tidak ada satupun diatas bumi ini dan dibawah langit yang aku cintai kecuali engkau wahai Khodijah”.
    Alloh SWT menetapkan bahwa ternyata orang yang yang dapat memahami ini semua adalah Sayyidah Khodijah yang merupakan murid dari Waroqoh, sedang Waroqoh adalah putra dari Naufal yang notabene bermusuhan dengan Bani Hasyim dan Bani Muthollib. Dari sini bisa kita ambil pelajaran bahwa ilmu itu lebih unggul dari pada sekedar cinta tanpa landasan ilmu, disamping juga memberikan pemahaman bagi kita bahwa semua yang terjadi didunia ini memang murni kehendak Alloh SWT. Karena kalau hal tersebut tidaklah murni kehendak- Nya, maka semestinya yang mengetahui hal tersebut adalah dari Bani Hasyim dan Muthollib, karena merekalah orang-orang yang mempersiapkan kelahiran Nabi yang ditunggu-tunggu.
    Dalam setiap masa yang dilalui oleh sebuah pemerintahan islam pasti ada hijau (Ahlus Sunnah) dan ada yang biru (selain Ahlus Sunnah). Pada jaman Rasulullah ada Abdulloh Bin Ubay, pemimpin kaum munafiq, yaitu orang-orang yang berusaha merongrong islam dari dalam. Rosululloh tidak pernah memusuhi mereka, bahkan ketika Sayyidina Umar ingin membunuhnya dan meminta ijin pada Rosululloh, beliau pun menjawab: “Bagaimana jika nanti orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabatnya sendiri?”
    Dalam setiap peperangan beliau selalu mengajak kaum munafiq, baik dalam perang Badar ataupun perang yang lain. Dan anehnya setiap peperangan yang diikuti oleh orang munafiq pasti Alloh memberi kemenangan seperti pada perang Badar. Dalam perang ini sebenarnya kaum muslimin tidak hanya berjumlah 313 orang, tapi lebih. Hanya saja tidak ditulis dalam sejarah kerena selebihnya adalah orang munafiq. Sebaliknya jika kaum munafiq tidak ikut dalam perang, seperti dalam perang Uhud maka kaum muslimin kalah, walaupun kekalahan tersebut juga karena kaum muslimin sendiri.

    Pada masa Khulafa’ ar-Rosyidun muncul golongan-golongan seperti Khawarij dan yang lain. Pada masa Bani Umayyah ada kelompok yang tidak senang dengan Ahlul Bait. Daulah Abbasiyyah sebagian pemimpinnya adalah kholifah yang berfaham Mu’tazilah.
    Para Salafuna As-Soleh tidak menghadapi perbedaan tersebut dengan kekerasan ataupun kebencian yang berlebihan sampai melebihi kebenciannya kepada orang Kafir. Sikap ini seharusnya juga kita praktekan pada masa sekarang. Kita sebagai orang muslim yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah harus tahu segala dan benar-benar meyakini bahwasanya kebaikan (al-khoir) dan kejelekan (as-syarr) itu dari Alloh, dalam arti setiap sesuatu pasti mempunyai dua sisi; kebaikan dan kejelekan. Tidak bisa kita katakan murni baik dan tidak ada jeleknya, begitu juga sebaliknya. Wallahu A’lam

  14. belajarlah kepada rasulullah shollallahu alaihi wasallam, keempat anak beliau wafat dikala beliau masih hidup tp kita ga pernah dapatkan keterangan sepotongpun beliau dan sahabat sahabatnya tahlilan…siapa yang benar???!

  15. bukan Tahlil pak yag haram .. definisi Tahlil sendiri tu apa sihh?? yang bilang haram tu dasarnya apa?? apa ada ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist yang menerangkan kalau itu haram? kalau ada mohon dicantumkan.. Trimakasih

    • sebenarnya kagak usah bingung ikutin aja para Habaib alias keturunan nabi bagaimana caranya mereka beribadah ..cukup gitu aja kok repot..

  16. Tutuk Joilendra // 30 May 2012 at 8:16 pm // Reply

    Tidaklah usah merasa pandai atau paling benar dalam beribadah,sampai datang kiamat tak akan selesai masalah khilafiyah didiskusikan, kita telah diajarkan oleh Alloh kalau kita tidak sepaham dengan amalan seseorang ucapkanlah lana ‘a’maluna walakum a’malukum. Kecuali orang tersebut dalam beramal ada unsur syirik baru kita perlu diskusikan.

  17. Usut supaya tuntas karena ini menyangkut masalah ummat.Beri penjelasan bagi mereka yang anti tahlil.Kalau membicarakan bid’ah,semua orang Indonesia bid’ah,yaitu bid’ah tempat,bid’ah berpakaian,bid’ah makanan,bid’ah pergaulan,bid’ah berbahasa,dan seratus bid’ah lainnya.

  18. edi winoto // 19 July 2012 at 2:54 pm // Reply

    membaca tahlil adalah dzikir yang paling afdholtetapi tahlilan tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, shohabat, tabi’in dan abba’uttabiin , terjsadinya karena tradisi Hindu sebelum Islam datang di Nusantara,sekarang sebagai seorang muslim mana yang benar pilihan mengikuti Rosulllah yang tidak pernah tahlilan atau mengikuti orang Hindu yang memperingati 3,7,40 hari kematian ? Monggo dipenggalih

  19. menurut saya kalau memang ada nadhom seperti itu (endi becike wong podo tahlilan # Rame2 dzikir kerono kadunyan) mungkin yg dimaksud bukan menghukumi tahlil itu haram. tapi mungkin yg dimaksud adalah: jika tahlil yg dilakukan semata2 diniatkan untuk mencari harta dunia, maka mereka itu tidak mendapatkan kebaikan akherat.

  20. malik abdullah // 9 August 2012 at 9:04 pm // Reply

    Berzikir dengan kalimat2 toyyibah: tahlil, tahmid, takbir, tasbih, etc. dianjurkan sebanyak-banyaknya (zikran katsiira). Yang tidak termaktub dalam Quran dan tak diteladankan Nabi saw adalah berpaket-paket ala tahlilan dengan media a, b, c, dst dan dengan bilangan sekian2. Taat dan patuh pada Allah dan rasul-Nya, dengan koridor Quran akan memperjelas kepada muslim, mana yang benar2 perintah dan mana yang dikarang-karang manusia. Nabi saw adalah uswatun hasanah bagi muslim. Jangan sampai muslim ikut2an meniru ajaran nonmuslim yang memang sudah out of date (Lihat dan simak QS 3: 31 dan 32). Semoga maklum.

    • KEBENARAN ITU HANYA MILIK ALLAH, KALIAN YANG YAKIN KE TAHLIL SILAHKAN, YANG TIDAK Y SILAHKAN. TOH SEMUA PUNYA HADIST YANG DUKUNG HAL TERSEBUT.JALANKAN SAJA PERINTAH ALLAH DENGAN BENAR, SHALAT WAJIB DAN SUNNAH, MEMBACA ALQURAN. BUKANKAH SEMUA TAHU, UMAT ISLAM AKAN TERBAGI MENJADI 73 GOL. YANG 72 NERAKA N 1 SURGA.
      Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu tentang perpecahan ummat, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
      وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ فِي رِوَايَةٍ : مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
      “Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”.
      (HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)

  21. ass. wr. wb.
    maaaf para ajengan, kyai semua,,,
    untuk membahas masalah khilafiyah memang tidak akan habisnya, yg harus kita lakukan adalah faham tentang Islam itu sendiri, bukan berarti bahwa maslah ubudiyh itu diabaikan, hanya saja bagimana jika pemikiran kita – kita alihkan untuk menjaga aqidah ummat yg sedng diracuni pemahaman ideologi sesat seperti saat ini adalah kapitalisme sedang bercokol, nasionalisme sedang mengkotak-kotakkan ummat Islam menjadi bagian negara yg kecil dengan batas negara fiksi, dalih HAM yg salah sehingga atas dasar HAM sang keparat itu menghina ROSUL yg mulia,,tidakkah terfikir untuk bersatu hancurkan kapitalisme dan ganti dengan ideologi Islam?? bukan Islam yg harus menyesuaikan dgn jaman tapi jaman yg harus menyesuaikan dengan Islam!
    Para ajengan, kyai, sudah pada mafhum bahwa ummat ini akan jaya ketika memiliki institusi yg dipimpin oleh seorang amirul mukminin denga dasar Islam??
    “apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan mengkafiri sebagian yang lain??” (alqur’an)
    segala macam persoalan yg muncul, baik persoalan individu atau masyarakat sejatinya karena tidak diterapkannya hukum2 Alloh SWT secara kaffah!!
    Ummat sengaja dijebak dalam persoalan yg bersifat ikhtilaf (bkn berarti tdk penting) bertengkar mslh tahlil, qunut dll, tpi cuek saja ketika hukum Alloh SWT dicampakkan bahkan dianggap hukum yg negatif,,??
    Sesungguhnya sebutan Islam radikal, Islam teroris itu hanya didengungkan dari mulut busuk musuh Alloh SWT untuk memadamkan cahya ISlam, sesungguhnya bangsa dan penguasa arogan itu akan dihinakan (maaf seperti Ghadafi yg mati dengan cara hina)
    Para ajengan, kyai,,saatnya kita bangkit dari kotak-kotak buatan penjajah musuh Alloh SWT itu..mari kita bersatu,,
    tidak ada satu maslahpun yg tidak bisa diselesaikan dg Islam,,
    Hukum Islam sudah jelas, uqubat, jinayat dll,,
    Musuh Alloh swt sengaja membuat suasana kisruh yg berkepanjangan slh satunya dg menghembuskan mslh ihkitilaf itu sehingga kita lengah dengan serangan ideologi dan tsaqofah asing,,

    syukron, alfaqir

    • Noer Moehammad // 3 October 2012 at 6:06 am // Reply

      Kata Gusdur ; “gitu aja koq repot”.. Pernyataan ini spertinya sangatlah populis untuk para pendebat. ingat gk kita firman Allah; “Amalmu untukmu dan Amalku bagiku” jadi ngapain repot2 ngurusi orang yg sdh punya pegangan masing2 toh yang nerima amal kita kan bukan sampeyan jadi gitu aja koq repot. Awassss…!!!! Jgn kita sibuk ngurusi amal orang tapi amal kita sendiri belum jelas apakh berterima disisi Allah atau tidaak… Come on akhi wa ukhti bercepatlah untuk MUHASABAH DIRI, ojo kedumen. Wassalam.

  22. Alhamdulillah, banyak yang pinter. Jadi bisa ikut ngaji.

  23. Manusia diciptakan melebihi makhluk lainnya, kelebihan itu adalah AKAL. Sebagai petunjuk / Pegangan Umat Islam adalah Al Quran dan Sunnah Rasulullah. Semua Amal Ibadah adalah tergantung dari Niat…. Makan dan minum saja yang mubah bisa menjadi pahala asal dengan niat yang benar ATAU Rajin pergi kemesjid ikut Sholat Berjamaah tapi niatnya kalau pulang dapat sandal baru untuk diambil. (silahkan dipikirkan menurut Anda).
    Lalu Bagaimana dengan yang bertahlil yang mempunyai banyak mengandung nilai ibadah, diantaranya mengabulkan hajat, zikir kepada Allah, menegakkan syiar Islam, dan banyak lainnya.
    Semua itu sekali lagi tergantung Niat dan Ilmu.

    Ingatlah banyak firman Allah yang menyebut “Ber akal, berfikir, Ingatlah” dan lain-lainnya.

    • perdebatan ini ada manfaatnya setidaknya buat nambah-nambah ilmu,tapi hati-hati bagi yang kurang faham agama akibatnya jadi pusing mau ikut coment ga nyambung,maka hati-hati yang baru belajar agama jangang belajar di internet bisa nyasar,lebih baik belajar di kampung masing-masing .

  24. Maaf saya dari Semarang, teman kita yang dari Semarang dan sudah mengingkari ajaran-ajaran yang berkembang di Rifai’iyah…itu sudah dianggap mufaroqoh oleh KH Su’di. Teman-teman bisa berbeda pandangan, tetapi budaya dan nilai-nilai yang didakwahkan oleh KH Ahmad Rifa’i tetap harus dilestarikan.

    • Agama ku agama ku…
      keyakinan q keyakinan q…
      luw luw ..dan gwe.. gwe…
      kita berbeda,,,
      tapi tujuan kita Alloh,
      di dunia ini banyak aliran nu , syiah, muhammdiyah dll…
      tapi aliran itu cuma jalan, cuma tumpakan…
      dan tujuan kita tetap sama Alloh, Nabi kita sama Nabi Muhammad SAW, Rukun iman sama, rukun islam sama, ….
      yang merasa dirinya paling benar itu orang yang sombong, walawpun dalil kuat,,,
      buat apa…
      belum tentu kamu di anggap benar sama Alloh,
      jika tujuan kita Alloh…
      Apapun jalannya..
      tak ada yang salah,…
      Alloh yang akan memperhitungkannya….
      Makanya beljarlah tauhid….
      belajarlah hakikat,,,
      jangan cuma syariat aja yang di tonjolkan…
      syariat itu cuma bungkus…
      dalil di hapalin…
      tapi tidak di amalkan…
      orang lain di anggap kafir…
      tapi dia ga memperdulikan kalo dia kafir,,,,
      sudahlah tujuan kita Alloh,,,
      Hidupkan islam lewat aliran masing masing,
      tunjukan pada dunia kalo islam itu kuat, islam itu akur…

      TAhlilan,…. Lanjutkand…..

  25. hahahaha ini lah yng diinginkan orang-orang zionis,
    zionis menang…..
    zionis israil yahudi terbahaq-bahaq menertawakan orang-2 Islam yang saling mengharamkan hasil ijtihad
    oatau apalah itu namanya. (aku wong bodo)
    Eh bodo tenan wong Islam saiki jare wong yahudi

  26. Kalau kita menyimak fatwa Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani, tradisi tahlilan telah berkembang sejak sebelum abad ketujuh Hijriah, Dalam kitab Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah disebutkan: “Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka: “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendo’akan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illa billaah) dan shalawat kepada Nabi Saw. Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah (pendekatan diri kepada Allah) dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi Saw. Bersabda: “Sesungguhrrya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengansekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil: “Silakan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepadaMu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah Saw. dan hamba-hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22 halaman 520)

  27. sy suka membaca sejarah apa saja, termasuk sejarah

    kehidupan Rosululloh SAW. Beliau memiliki 6 anak.

    Pertama laki2 bernama Qosim (meninggal sewaktu

    masih kecil), yang empat orang perempuan, termasuk

    Fatimah dan yg terakhir Ibramim (meninggal sewaktu

    masih kecil).
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

    meninggal tidak satupun di TAHLILI, kl di do’akan

    sudah pasti, karena mendo’akan orang tua,

    mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan

    yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

    untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
    Apakah para sahabat BODOH….,
    Apakah para sahabat menganggap NABI hewan….

    (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan…
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan….
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

    yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

    pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

    mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

    Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

    berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi

    TAHLILAN Gus..”
    sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro

    putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

    dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

    lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan

    monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2

    daharan e…”
    mereka menjawab: “nggih Gus…”.

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

    sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

    kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

    wajib…??
    dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul

    masalah…
    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

    tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

    disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga

    nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

    ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

    dll.

    Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini,

    berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an

    silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

    santri harus dinomor satukan..
    sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

    tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah

    nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan

    Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

    Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

    shaf…

    Untuk saudara2 salafi…, jangan terlalu keras

    dalam berpendapat…
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

    lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

    khusus sholat jama’ah…
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

    do’akan saja yg baik…
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

    sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

    berkenan…
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

    jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman

    Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
    Amin ya Robbal Alamin

  28. Pada rame ya,, bahasa mantik juga ada parah,,, makanya jangan taklid dulu,selidiki sejarah adanya ibadah ibadah baru, yang tidak ada syariatnya bila dilakukan nanti kan sia sia ibadahnya karena bodoh dalam beragama,, terus membodohi umat juga bila dasarnya tidak ada,.

  29. SAYA BACA COMMENT2NYA SDH SALING EJEK SAJAH
    APA SDH TDK ADA CARA YG LEBIH BIJAKSANA DAN BAHASA YG SANTUN UNTK MENYIKAPI HAL-HAL SEPERTI INI,
    SULIT MENCARI KEBENARAN PLNG MDH ITU MENYALAHKAN……

    wasallam wr.wb…

    • Assalamualaikum
      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

      “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
      Apa Tujuan kita bertahlillan bagi/ saat zat yang mengalami kematian?
      Bagi saudara-saudari seiman yang ingin bertahlilan : monggo kerso, tidak/ belum ada (orang) yang melarang
      Bagi saudara-saudari seiman yang tidak ingin bertahlilan. juga tidak ada yang memaksa.
      Jika itu dosa karena bid’ah, dosa ditanggung pribadi-pribadi sendiri.
      Tapi jika Saudara-saudari seiman bisa meluangkan waktu untuk membayangkan apa yang terjadi ke anak cucu kita, jika kita mencontohkan yang salah maka mereka juga akan salah. Terus seperti itu sampai kegenerasi selanjutnya.
      jadi sebelum menentukan pilihan, pikirkan dengan ilmu dan guru yang benar.
      Biasakan hal yang benar bukan membenarkan hal yang Biasa.
      Bagi saudara-saudari seiman yang menganggap perihal tahlillan ini main-main dengan komentar-komentar yang nyelenah nyeleneh mengenai Al quran dan sunnah
      وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

      “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab: ”Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah: 65-66)
      Wassalam
      Reply

  30. Makasih infonya .

    Salam kenal

  31. Tahlilan ditempat kematian kita bisa melihat dari 2 sisi niatnya : Tahlilan tidak haram tidak bid`ah, sebab ada dasar hukumnya yaitu Ta`ziah (menghibur yang hidup bagi keluarga yang ditinggalkan.
    1. Jika niatnya ta`ziah menghibur dan berdo`a, malah merupakan aplikasi pengembangan dari kebajikan, mengucap kalimat Toyyibah dengan Laa ilaha illallaahu yang sebelumnya Diawali baca quran, Fatihah, Al Ikhlas, An Naas, ayat qursi, AlBaqoroh, banyak sekali perintah dalam quran, ( Al Ahzaab .42,43) Muhammad: 19, dan berdo`a( AlBaqoroh.186)
    itu sudah terbiasa diucap seluruh umat Islam yang beriman, sedangkan berdo`a masalah sampai atau tidak bukan urusan manusia, serahkan saja urusannya kepada Allah, tidak pusing ya kan, yang penting dalam bertaziah seorang mukmin melaksanakan apa yang dilakukan rasul, adapun dibuat acara tahlil atau tidak tergantung urusannya keikhlasan dengan yang terkena musibah, jika ikhlas ya Allah yang membalasnya bukan manusia.
    2. Jika Tahlilnya hanyalah bukan menghibur yang hidup tetapi kultus dengan yang sudah mati, sudah jelas hukum musyrik berlaku, karena mengucapkan tahlilnya bukan karena Allah tetapi karena yang mati.
    Tambahan kebajikan bukan shalat, zakat, puasa dan haji saja, akan tetapi seorang mukmin mengucapkan kalimat toyyibah adalah ucapan yang baik disisi Allah, mengapa kita tidak lakukan sepanjang itu kebajikan. Banyak orang-orang yang mengaku Islam sangat picik dalam berfikir yang ditiru hanya menambah istri, yang enak-enak saja ditiru, sementara dalam menambah kebaikan ucapan yang baik dimana ada kesempatan tidak dilakukannya disangkanya Bid`ah, Wakhuluqin naas bikhuluqin hasanin(sabda Nabi saw), jika pedagang baso, boleh-boleh saja ia menjual es, krupuk, dan mie ayam, begitulah cara beragama yang baik, disesuaikan dengan situasinya pasti cocok dengaan Al Quran

3 Trackbacks & Pingbacks

  1. Perkembangan Definisi Bid'ah | Tanbihun Online
  2. Salafi Wahabi Pendusta Catut Nama Imam Syafi’i Untuk Mengharamkan Tahlilan dengan tujuan melaknat NU ! Syi’ah bela NU « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Brunei.. Web ini membantu N.U dan Rakyat Malaysia
  3. Salafi Wahabi Pendusta Catut Nama Imam Syafi’i Untuk Mengharamkan Tahlilan dengan tujuan melaknat NU ! Syi’ah bela NU « web syi'ah imamiyah ushuliyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Brunei.. Web ini membantu N.U dan Rakyat Malaysia mel

Leave a comment

Your email address will not be published.

*