TANBIHUN ONLINE

Perkembangan Kasus Tahlil Haram

 Breaking News
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com- Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa...
  • Petunjuk Nabi saw Tentang Konflik Yaman (antara hijrah dan iqomah) Tanbihun.com- al iimaanu Yamaanun wal hikmatu Yamaniyyatun, Yaman adalah poros dan gambaran kuatnya iman dan hikmah.. Hingga Nabi saw pun menegaskannya Ditengah konflik perang “saudara seislam”, banyak ijtihad ulama dalam...
  • Kartini apa ‘Aisyah? Tanbihun.com- Jika Kartini dianggap mendobrak kejumudan berpikir wanita, Aisyah yg jauh-jauh hari melawan mainstream Jahiliah yang mendiskreditkan wanita. sampai beliau mengatakan: وقالت عائشة نعم النساء نساء الأنصار لم يمنعهن الحياء...
  • Pengajian Bab Nikah ...
  • Video: Rebana Sifate Murid ...
July 21
16:58 2009

Tanbihun.com – Perkembangan masalah kelompok oknum rifaiyah yang mengharamkan,tahlil,ziarah kubur,membaca al-barzanji, masih sangat menarik dicermati. Karena ini menyangkut amaliyah yang sudah menjadi amaliyah mayoritas jamaah rifaiyah.

“saya membaca diinternet,tentang kasus pengharaman tahlil di wilayah semarang,itu hanya beberapa oknum,bukan pengurus rifaiyah” begitu kata pak sudardji selaku ketua DPW Rifaiyah Jawa tengah dalam sambutan pada pengajian peringatan isra’ mi’raj di Cepokomulyo Gemuh Kendal. Lebih lanjut beliau menegaskan, Insya Alloh dalam waktu dekat masalah ini akan segera tuntas”.

Faham ini kelihatannya memang sengaja dihembuskan dan disebar luaskan, dan buktinya faham ini sudah menyebar,yang baru terlihat selain disemarang,adalah di temanggung,dan pekalongan.

Bahkan dipekalongan sudah beredar foto copy kitab Syaikh Ahmad Rifa’i yang menjadi acuan “pengharaaman” tahlil. Untuk persisnya kami sampai tulisan ini di upload belum bisa mendapatkan copyannya, kepada kawan2 di pekalongan,kalau bisa tolong dicari dan ditulis disini,biar bisa kita diskusikan.

Bunyi dari nadhomnya kira2 begini endi becike wong podo tahlilan # Rame2 dzikir kerono kadunyan. Itu sepenggal nadhom yang diingat oleh Ustadz Rifai ketika beliau mengisi tausyiah pengajian rajaban di Pekalongan, namun sayang beliau tidak mendapatkan copyannya.

Sebenarnya bukan masah pengharamannya yang dipermasalahkannya,orang mau tahlil atau tidak itu hak azazi masing2,namun ketika paham itu dihembuskan dan dengan menghakimi kelompok lain yang tidak sepaham dengan sebutan “bid’ah”, maka itu menimbulkan keresahan ditengah masyarakat. Kalau memang menurutnya tahlil itu haram ya haram saja jangan menghakimi orang lain, sebab ini masih wilayah yang memang terbuka pintu khilaf. Bukankah semua punya landasan dalil dari para ulama’ salaf?

Kalau pengusung anti tahlil dari kalangan rifaiyah ini memang mempunyai jiwa ilmiah, anggap saja ini undangan dari kami, ayo kita gelar diskusi terbuka membahas masalah ini.paling tidak lewat blog ini.

Yang mempunyai pedapat, silahkan diskusikan disini.

Baca Juga:

Bah’tsul Masa’il Tentang Tahlilan Batal?

(Update) Bah’tsul Masa’il Tentang Tahlilan Batal?

Melaknat Tahlilan Mendukung Tahlil

Konsep Bid’ah Dalam Perspektif KH Ahmad Rifa’i

Inilah Kitab Yang Memuat Anjuran KH.Ahmad Rifa’i Untuk Ziarah Kubur Dan Kirim Do’a

Kitab ADABUZZIARAH Karya KH.Ahmad Rifa’i,Membahas Tata Cara Ziarah Beserta Do’anya

Artikel Terkait

0 Comments

  1. em.yazid
    em.yazid July 21, 17:18

    Belajarlah dari Syaikh Ahmad Rifa’i, beliau dengan tegas mengatakan “utawi rukune islam iku sawiji beloko”, tapi sepanjang pengetahuan saya, belum pernah dijumpai dalam kitab2 beliau yang menyalahkan “rukun islam 5″. itu karena beliau begitu menghormati ijtihad ulama’ lain, sebab masalah rukun islam itu terbuka khilafiyah, tidak seperti orang2 sekarang,ilmu belum seberapa sudah merasa benar sendiri.

    Reply to this comment
  2. Rifai
    Rifai July 21, 17:30

    Dalam ushul Fiqh..ada hal yang ga boleh di Ijtihadkan lagi yaitu yang sudah Qoth’iyyuts tsubuut dan Qoth’iyyud dalaalah..sedangkan perkara yang masih bersifat Dzonniyyud dalaalah masih sah untuk diperdebatkan….kalau semua orang memahami hal ini maka tentunya akan bersikap tasamuh terhadap segala jenis perbedaan

    Reply to this comment
  3. ramaperdana
    ramaperdana July 21, 20:04

    sebaiknya disammbut dengan kepala dingin,apapun penomena yang ada adalah sebuah rahmad,agar senantiasa dapat berfikir secara sehat.
    kalo dibahas secara ilmiah saya tidak setuju,apapun alasannya agama tidak akan sampai apabia dibahas secara alamiah,keblinger nanti.
    berfikir ilmiah punya hukun yang tidak bisa ditembus agama.
    kalo mau dibahas secara ikmiah materi bendanya apa,padahal dalam kajian ilmiah harus ada benda yang bisa diselidiki,coba anda buka madilog-nya tan malaka,bagaimana hukum logika/imiah bekerja.agama itu dogma bukan matter/benda yang diseidiki.

    Reply to this comment
    • em.yazid
      em.yazid July 21, 20:23

      @ramaperdana, “dengan kepala dingin” riilnya bagaimana bos?(aku sakit gara2 kepala sering kedinginan,mode kidding :ON)
      Maksud saya ilmiah itu dikaji dengan dasar dalil yang jelas,seperti kita ketahui rifaiyah itu pengambilan dasar berpatokan pada 4 : Al-Qur’an,Hadits,Ijma’Qiyas.
      Kasih kami pencerahan bos,

      Reply to this comment
  4. ramaperdana
    ramaperdana July 21, 20:20

    saya mengajak semua pihak agar tidak melangkah terlalu jauh terhadap hukum agama,sekali lagi agama adalah dogma,bukan benda yang punya sifat,ukuran,warna,berat jenis,dan kepastian yang dapat dikaji denagn cara ilmiah.
    dalam kajian filsafat heggel,engel,marx selalu di tekankan bahwa agama adalah hasi pikiran manusia,bukan agama yang menciptakan manusia tapi manusialah yang menciptakan agama dalam angan-angannya.
    pikiran bekerja atas dasar subyek-subyek yang ditangkap bukan denngan indra manusia tapi dengan hayalan manusia,dari sebongkah otak.
    saya tidak akan pernah setuju apabila agama dikaji dengan hukum ilmiah,tapi agama di kaji dengan hasil musyawarah(baca:ijmak).

    Reply to this comment
    • Rifai
      Rifai July 21, 20:25

      @ramaperdana, woww…kereeen..antum ternyata mendalam juga ilmu filsafatnya..saya setuju bahwa kajian ilmiah itu ada standartnya dan ada materi yg dikajinya…Maksud kang Yazid adalah membahasnya dengan menggunakan dalil2 yang shorih jelas, valid dan akuntabel…kalo wong jowo bilang emang dianggap ILMIAH LAAAHH…so bukan ilmiah menurut yang antum kemukakan…
      MANA TULISAN ARTIKELNYA MAS RAMA..AKU TUNGGU DI EMAILKU KOK…..

      Reply to this comment
    • em.yazid
      em.yazid July 21, 20:32

      @ramaperdana, heggel,engel,marx>>>>> sopo kuwi koq koyo wong londho kabeh jenenge?
      terus kalau ulama mengatakan :”Dien adalah peraturan dari Tuhan untuk manusia” jadi salah bos?
      Kalau manusia yang menciptakan agama,hebat donk !!! sampeyan sudah menciptakan berapa agama kalau boleh tahu?
      jadi ingat Kama qola kho ping ho, saya masih penasaran dan menunggu jawaban dari mas ramaperdana, langkah konkrit “dengan kepala dingin” itu bagaimana?

      Reply to this comment
  5. asikin
    asikin July 21, 21:59

    untuk diskusi boleh2 saja, and semua sangat terbuka untuk di kritisi, masalah amaliahnya ya terserah masing2, sesuai dengan alur yang diyakininya. mungkin itu yang indah.
    hasil diskusi tidak harus diikuti oleh semua yg terlibat. silakan beda pendapat, silakan punya tafsir yang berbeda, karna kita di ciptakan juga berbeda. itu sunnatullah kan? gak usah takut pengikut akan terkikis, masing2 kita bisa tahu mana yg mesti diamalkan.
    banyak dari kita mungkin punya pikiran beda dengan pakem yang selama ini dianut, sehingga kadang untuk menjaga kebersamaan, kita menulis sesuai pakem tersebut.
    ikhwan dari semarang itu salah satu yang berani melawan pakem ini.
    matur nuwun

    Reply to this comment
    • em.yazid
      em.yazid July 21, 22:20

      @asikin, setuju !!! yang kita yakini,ya amalkan saja,ga’ usah pakai menghakimi orang lainlah.
      Yang perlu saya koreksi dari mas asikin,rifaiyah secara organisasi mungkin tidak takut “terkikis” pengikutnya,karena tidak semua murid mbah rifa’i masuk organisasi rifaiyah.
      Yang dipermasalahkan,acara menghakimi jamaah yg tidak sepaham,kalau ini dibiarkan,akan menimbulkan keresahan dimasyarakat. dan itu sudah terjadi di semarang.
      Kalau saya pribadi ga’ ambil pusing,mau tahlil monggo,yg haram silahkan.
      Kalau tidak diredam,yang terjadi di masyarakat awam adalah saling ejek,dan menghakimi dirinya yang benar.
      Pada dasarnya saya sangat menghormati orang2 yang anti tahlil,tapi yang saya tidak setuju,jika itu menjadi bahan untuk mengecap bid’ah orang yang tahlilan.
      Kalau kita2 yang disini,insya Alloh sdh terbiasa dg perbedaan,tp masyarakat awam blm bs sepenuhnya menerima perbedaan itu.
      Yang tidak mau tahlil ya sudah,ga’ usah nyari2 dalil segala macam,kita semua sudah tahu kan?
      Sekali lagi saya tekankan,jangan menghakimi dan melabel org lain dg “bid’ah” dalam lingkup masalah agama yg memang terbuka khilafiyahnya.

      Reply to this comment
  6. asikin
    asikin July 22, 17:27

    itu mungkin tafsir serulah manusia kpd jalan Tuhanmu bil hikmah, artinya yang smart klo mengajak orang itu ya mas. semoga saja gak ada sensasi-sensasi lain, dimasyarakat kita ya. yang muda hrs bisa memahami pakem alur pikir masyarakat.
    tapi mungkin juga harus difikirkan, mengkritisi kelompok mapan, dengan cara yang smart, cerdas, santun dan bisa diterima.

    Reply to this comment
  7. khumaeni
    khumaeni July 22, 18:02

    Ayat-ayat Allah swt bisa berupa kauliyah dan kauniyah. Kalau ingin berma`rifat kepada Allah bisa melalui firman2 Allah dan melalui alam. Adalah haqqul yakin tidak ada pertentangan di dalam nya. Selama ini Allah masih menganugerahkan ane untuk tetap lebih memperkuat ma`rifat kepada Allah lewat sains mikroskopik setelah sedikit sekali di bekali qauliyah. Islam adalah addin bukan sekedar agama (kalau ada salah arti mohon diluruskan ustadz) sebagaimana yang lain.
    Saudara2 kita di Rifaiyah masih berkutat pada masalah-masalah ini. Masalah yang terjadi di Kebontaman Semarang, di Purwosari, di Siwalan Rowosari dll. Tidak merasakan bagaimana pemuda rifaiyah di cuci otaknya dengan pemikiran liberal. di cuci agar meniru style barat. Di dakwahi setiap hari dengan sajian TV. Digiring untuk berpikir sekularistik dengan membedakan dunia dan akhirat. Coba lihat kampung kita, sudah tidak seramai dulu ketika ba`da maghrib anak2, remaja2 berduyun2 ngaji di tempat pak Kyai. Saya usul dengan konkrit bahwa majelis syuro Rifaiyah benar2 bisa bekerja dengan optimal untuk membuat kondisi tenang antar anggota jamaah. Membuat fatwa yang menentramkan masyarakat dengan tetap berdasar pada Alquran, hadits, ijma` dan qiyas…
    Btw Kang Rifai katanya pengen me link kan dengan Kabid Riset, ditunggu yah..

    Reply to this comment
    • Rifai
      Rifai July 22, 21:33

      @khumaeni, saya juga berusaha mencari Info, tapi belom dapet…bagi sahabat lain yang punya info tentang Kabid Riset Rifaiyah silahkan di share disini…sumonggo..

      Reply to this comment
  8. ramaperdana
    ramaperdana July 23, 18:33

    saya tidak mengatakan saya bisa menciptakan agama,tapi orang-orang atheis bilang demikian,saya tahu atheis bukan berarti saya atheis donk…,….
    manusia boleh belajar apa saja,tidak terbatas pada pengetahuan agama aja to,
    salam untuk kang rifai,aku baru menyiapan posting yang extrim,tapi masih harus saya pertimbangkan kelayakannya,nanti kalau terjadi salah paham hasilnya malah very very extrim

    Reply to this comment
    • Rifai
      Rifai July 23, 19:29

      @ramaperdana, wahhh jangan terlalu extrim mas….ntar warga kita malah muntah2….kasih yang lunak2 dulu sambil dilatih untuk bisa menyikapi sebuah perbedaan dengan sangat arif…okeee

      Reply to this comment
  9. maspem
    maspem July 23, 23:23

    ekstim no eskrim yess!!!

    Reply to this comment
  10. ibnu main
    ibnu main July 31, 17:51

    ya kita harus hormati perbedaan. dari sejak dahulu pra sahabat banyak yang berbeda pendapat, juga para ulama islam setelahnya.

    tapi, menurut saya, adalah hak seseorang ketika melihat suatu perbuatan itu bid’ah menurut pemahamannya, ia mengatakan itu bid’ah karena memang itulah ilmu ia sampai kepdanya. meskipun demikian, hormat-menghormati harus saling dijaga ketika masalahnya masih dalam ruang lingkup ijtihadiah.

    suatu ketika, dalam sebuah perjalanan utsman tidak mengqashar shalat, lantas ibnu mas’ud mengatakannya bid’ah. utsman tetap pada pendiriannya. ia mengimami shalat dengan tidak menqashar dan ibnu mas’ud tetap mau jadi makmum.

    liht juga kisah imam syafi’i yang tidak qunut subuh ketika ia berada di antara murid-murid abu hanifah di irak demi menghargai pendapat abu hanifah dan murid-muridnya.

    tetapi, kadang-kadang orang tidak berilmu mudah memvonis pihak lain yang tidak sependapat dengannya sebagai pihak yang keluar dari ahli sunnah dan lainn sebagainya. sikap ini hampir menghinggapi siapa sja dan kelompok apa saja, kecuali yang dibersihkan allah dari sikap fanatik.

    ikhwan fillah, hindarilah ta’asub dalam suatu pendapat.

    tapi, untuk upaya penelitian, marilah kita berupaya untk adil, meskipun terhadap orang yang tidak kita senangi.
    allah berfirman, walaa yajrimannakum syana`aanu qaumin an la ta’dilu, i’dilu huwa ‘arabu li at-taqwa.

    kita berupaya untuk mencari kebenaran, dari siapapun datangnya kebenaran itu.

    Imam syfi’i berkata, “Sungguh kaum muslimin telah sepakat bahwa ketika telah jelas bagi seseorang snnah rasulullah, maka tidak ada hak baginya untuk meninggalkannya demi mengikuti pendapat seseorang.” (I’lamul Muwaqq’in).
    perhatikanlah, imam syafi’i mengatakannya ijma’ dan beliau mengukuhkannya dengan kata qad (sungguh).

    barangkali dapat memberi manfaat, untuk masalah acara tahlilan, lihatlah dalam kitab i’anatut-thalibin bagian akhir dari bab jenazah. ini kitab yang banyak dipunyai santri. di situ dilansir pendapat mufti makkah dari empat mazhab tentang masalah ini. silahkan bka bagi yang belum membacanya. wallau a’lam

    untuk rama perdana yang ingin posting tulisa ektrim, silahkan, nanti akan kita bahas bersama. seperti apa ekstimnya.

    salam damai

    Reply to this comment
    • Rifai
      Rifai August 01, 12:45

      @ibnu main, ( suatu ketika, dalam sebuah perjalanan utsman tidak mengqashar shalat, lantas ibnu mas’ud mengatakannya bid’ah. utsman tetap pada pendiriannya. ia mengimami shalat dengan tidak menqashar dan ibnu mas’ud tetap mau jadi makmum.) alangkah indahnya yaaa klo seperti mereka, tidak saling mengkafirkan….Ibnu mas’ud tetep mau makmum sama Utsman meskipun beliau mengatakan perbuatan utsman itu bid’ah….ada ga yaaa orang yang mengatakan tahlil itu bid’ah tapi tetep masih mau tahlilan…hemmmmm…ditunggu realisasinya dehhhh….yang penting kepala tetep adem en jgn mengatakan saudara kita bukan ahlu sunnah, apa lagi kafiir..wal iyadzu billah min dzalik

      Reply to this comment
  11. asikin
    asikin July 31, 21:34

    kita punya pandangan seperti sampean semua mas(semoga). dalam ranah diskusi, biarlah berkembang saling ektrim2an. warna kita memang sudah macem2. dan yang patut di syukuri bahwa walaupun warna sudah beda2, kita tetap masih mau ngaku warga tarjumah, entah sama orang tarjumahnya masih di akui apa tidak, lha wong pola fikir bahkan mazhabnya sudah beda sama pakem tarajumah. klo di test ngapalin tanbihun mungkin juga udah gak lancar lagi…. hahahaha.
    dalam pencarian untuk menuju kesempurnaan, sering kita bertransformasi menjadi beda dengan yg dulu. dan kita harus berhusnuzzon semoga semua kita menuju pada titik yang sama.
    semakin banyak yang ditahui, akan semakin bijak melihat keaneka ragaman warna. ibarat seorang naik ke angkasa, semakin tinggi dia naik, bumi yang yang dilihat akan semakin luas.
    semoga diskusi kita kian hari akan menjadi lebih bijak. artinya setiap hari kita berusaha bermi’roj. dan berusha menuju maqom yang lebih tinggi.
    matur nuwun

    Reply to this comment
  12. ibn khasbullah
    ibn khasbullah August 01, 09:41

    Kita sungguh- sungguh sangat butuh dengan ustadz- ustadz yang memiliki nuansa pemikiran luas seperti Kang Ibnu main dan kang Asikin, yang sangat yakin akan keabsahan pengamalan mereka, namun sekaligus tidak menganggap yang berbeda dengan mereka adalah pasti salah. Nuansa keyakinan seperti ini tidak sama dengan TA’ASSHUB yang menganggap dirinya paling benar. Bukankah Allah telah menyatakan: Walaa tuzakkuu anfusakum”= ” Jangan kalian menganggap diri kalian paling suci…”. Ta’asshub hanya boleh satu- satunya dalam hal Islam- non Islam, inipun masih harus dalam kerangka pagar “Lakum diinukum waliya diin” yang maknanya juga menghormati mereka yang tidak memerangi kita.
    Contoh- contoh kisah perbedaan para sahabat yang seperti diceriterakan oleh Kang Ibnu main perlu diperbanyak untuk memperkaya wawasan. Saya juga ingat kisah tatkala kaum muslimin dikhianati oleh orang Yahudi Madinah tatkala perang Ahzab terjadi.
    Waktu itu telah disepakati “Ikatan Perjanjian /pakta Pertahanan Bersama” antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi Bani Quroidhoh. Kaum muslimin bertanggung jawab menghadapi musuh “Face- to face”, sedang kaum Yahudi bertanggung jawab mempertahankan pintu gerbang belakang kota Madinah. Namun kenyataannya kaum Yahudi berkhianat dengan membuka gerbang belakang kota Madinah, untung segera diketahui Sofiyyah. Maka setelah perang selesai Nabi memerintahkan untuk menghukum tindakan pengkhianatan Bani Quroidhoh terhadap perjanjian pakta pertahanan bersama tersebut. Nabi bersabda,.. saat itu setelah selesai sholat dhuhur:” Siapapun yang mengaku ber-iman kepada Allah dan Rasulnya berangkatlah ke perkampungan Bani Quroidhoh, jangan berhenti (dalam riwayat lain: jangan sholat ashar) kecuali kalau sudah sampai disana!”.Berangkatlah seluruh pasukan kaum muslimin…Baru sampai ditengah jalan, sholat ashar tiba..begitu matahari mulai menguning, mulailah terjadi perbedaan pendapat dan adu argumentasi diantara mereka. sebagian pasukan berhenti untuk sholat ashar..Dasar mereka: sholat itu tiang agama, sedang perintah Nabi agar jangan berhenti dst itu adalah untuk menyatakan: Harus bersegera- jangan ditunda.Kelompok pasukan ini sampai di sasaran sesudah Isya’. Sebagian pasukan lagi tidak melakukan sholat ashar tapi terus ke sasaran yang dituju karena mengamalkan secara “Letter lijk” sabda Nabi. Mereka cepat sampai disasaran dan sholat ashar disaat sudah habis maghrib. (Lihat kisah dan masalahnya pada sohih bukhori- sebagian Ulama berpendapat hukum sholat jama’ belum turun). Setelah perang Bani Quroidhoh selesai mereka bertanya kepada Nabi, mana diantara mereka yang benar dan mana yang salah?
    Ternyata jawaban Nabi adalah bukan jawaban benar/ salah, tapi merupakan Kaedah Umum / Adagium yang luar biasa dan berlaku untuk segala keadaan; dulu, kini dan masa mendatang: “Manij tahada Fa ashooba falahuu ajrooni, wamanij tahada fa akhtho’a falahuu ajrun waahidun” = ” barang siapa ber- ijtihad, dan ternyata ijtihadnya sesuai, maka ia dapat dua pahala, dan barang siapa berijtihad ternyata ijtihadnya salah, maka ia dapat satu pahala..”. Tentu saja ijtihadnya harus dilakukan oleh orang yang berwenang dan selalu mengacu pada Allah dan Rasulnya, bukan ijtihad tanpa dasar.

    Reply to this comment
  13. Tetua Adat
    Tetua Adat August 01, 17:14

    Lha opo gegeran mbahas tahlilan???
    kancane sudah pada mikir kemajuan,lha iki malah kembali ke masa lalu,kapan bisa maju rifaiyah?

    Reply to this comment
    • Lilis S Tambak
      Lilis S Tambak April 11, 06:42

      @Tetua Adat,

      Betul mbah aku setuju komentar njenengan saya jadi teringat sama lagunya mbak yuni sara:

      Sepanjang kita
      Masih terus begini
      Takkan pernah ada
      Damai bersenandung.

      Kemesraan antara
      Kita berdua
      Sesungguhnya keterpaksaan saja

      Senyum dan tawa
      Hanya sekedar saja
      Sebagai pelengkap
      Sempurnanya sandiwara.

      Berawal dari manisnya
      Kasih sayang
      Terlanjut kita hanyut
      Dan terbuai

      Ku coba bertahan
      Mendampingi dirimu
      Walau kadang kala
      Tak seiring jalan

      Ku cari dan slalu
      Ku cari jalan terbaik
      Agar tiada penyesalan
      Dan air mata

      Berbagai masalah terkadang tak bisa di selesaikan dengan logika,walaupun kita sudah berusaha semaksimal mungkin.
      Alternatif terbaik adalah coba buka forum diskusi antar pemuda rifaiyyah dan organisasi lain walaupun saya pesimis tidak akan menemukan titik persamaan,karena ini menyangkut khilafiyah.Tapi setidaknya kita tahu siapa yang paling alim di antara kalian.

      Kalau hanya bermujadalah di dunia maya seperti ini,itu berarti hanya kamuflase saja.

      A GOOD BEGINNING IS HALF BATTLE……?????????????? Pati

      Reply to this comment
  14. ibnu main
    ibnu main August 02, 11:42

    @rifai
    he he…
    mas, realisasinya perlu ditimbang antara maslahat dan mafsadah, lebih besar mana di antara keduanya. dan untuk hal ini mestinya tidak sembarangan, harus merujuk kepada kaedah-kaedah syara’ dan nasihat-nasihat para ulama.
    untuk bab ini saya teringat dengan salah satu bab dalam kitab I’lamul Muwaq’qin yang terkenal itu. bab tersebut membahas
    perubahan fatwa dan hukum karena melihat
    zaman, waktu, kondisi, tempat, kebiasaan dan lain sebagainya.

    suatu ketika, ibnu umar akan shalat jamaah di sebuah masjid. tetapi di situ terdapat seruan tatswib (seruan selain adzan, seperti ash-shalah….ash-shalah). apa kata ibnu
    umar? ia berkata, ukhruj bina min hadzal-mubtadi': marilah kita tinggalkan pelaku bid’ah ini!
    di dalam kitab fatawa mu’ashirah karya syekh yusuf qardhawi ketika ditanya mengenai kaedah emas syekh Rasyid Ridha: kita saling tolong menolong dalam hal yang kita sepakati dan kita saling memaafkan dalam hal yang kita perselisihkan. syekh
    qardawi menjelaskan dengan sangat bagus dan beliau menegaskan bahwa bid’ah itu beringkat-tingkat. oleh karena itu, cara penyikapannya pun berbeda-beda.

    syaikhuna ahmad rifai dalam kitab syarihul iman dan abyanal hawaij bersikap keras terhadap masalah bid’ah. bahkan beliau menyebutkan hadits-hadits tentang hal itu walaupun kualitasnya sepengetahuan saya dhaif atau maudhu’.

    maka untuk kasus tahlilan saya sarankan kepada teman-teman, biarlah yang tidak ikut tahlilan tetap pada pendiriannya. jangan gampang kita mengecap bukan ahli sunnah. hati-hatilah masalah cap mengecap.
    juga saya sarankan kepada pihak-pihak yang selama ini mungkin sedang semangat mengikuti salaf shaleh, untuk tidak ceroboh dalam melemparkan kata-kata bid’ah kepada pihak lain yang tidak sepaham.

    marilah kita ambil pelajaran dari Imam Malik yang kitab Muwatha`-nya ingin dijadikan undang-undang di seluruh negara islam oleh khalifah Ja’far al-manshur (riwayat yang lain menyebutkan harun ar-rasyid), tetapi imam malik tidak mau. beliau menjelaskan bahwa para sahabat telah tersebar ke mana-mana dan mereka pun berselisih.
    dari sini sya menangkap, imam malik tidak mau memaksakan pendapatnya meskipun beliau adalah imam yang sangat gigih untuk ittiba’ lis-sunnah dan memerangi bid’ah. wallahu a’lam.

    @ibnu khasbullah
    ya pak yai, kita tidak boleh ta’assub. suatu saat mungkin saya akan membuat tulisan tentang kenapa para ulama itu berselisih. atau pak yai saja yang membuatnya. monggo..:) biar ada pencerahan untuk teman-teman. kami tunggu…

    @tetua adat
    kita tidak mungkin mengingkari fakta perselisihan masalah tahlilan dan masalah-maslah lainnya. maka perlu ada pembahasan ilmiah asalah adab-adab diskusi dijaga. dalam hal ini kita bisa merujuk syarat-syarat diskusi yang diterangkan syekh ghazali dalam kitab ihya ulumuddin atau bidayatul hidyah. kayaknya ustadz rifai pernah menyinggung hal ini.

    tetapi, saya juga tidak setuju kalo tenaga dan pikiran kita habiskan untuk masalah ini. kita harus punya cakrawala yang luas, terutama bagaimana kita memajukan islam melalaui rifaiyah. kita identifikasi, mana yang sangat penting, penting, dan tidak penting. bukankah syaikh ahmad rifai sering menegaskan adanya fiqih prioritas? mana fardhu yang mudhayya’, muwassa’ dan lain sebagainya. kita ingat kata-kata beliau: tinggal wajib milahur sunnah. wallahu a’lam

    mohon maaf bila ada kata-kata yang salah ato tidak berkenan di hati.

    salam damai:)

    Reply to this comment
    • rifai
      rifai August 02, 20:48

      @ibnu main, hemmm…makasih atas masukannya yg luar biasa….setelah berdiskusi panjang..ternyata kita sepakat bahwa untuk saling menghormati dalam urusan tahlilan atau kirim pahala bacaan qur’an untuk mayyit….kalau kita mau sedikit sadar saja, bahwa masalah ini telah menjadi pembahasan para ulama2 ahlu sunnah ratusan tahun silam dan mereka telah sepakat untuk tidak sepakat. Bagi pecinta ilmu tentu mereka tidak asing dengan ulama yg menentang tahlilan atau kirim pahala bacaan qur’an…di barisan mereka ada Imam Syafi’i, Imam Syaukani, Ibnu Qayyim al jauzi dll..sementara ulama2 yang memperbolehkannya pun bejibun ada Imam Ahmad, Imam Nawawi, Ibnu Taymiyah dll..terus kenapa mesti dipersoalkan..???.
      Jika kita sepakat untuk saling menghormati, maka jangan sampai terucap kata bid’ah bagi orang yg suka tahlilan dan jangan pula terucap kata bukan ahlu sunnah bagi mereka yg dk tahlilan. Enak kan..??? jadi masyarakat ga resah githu looohhh….

      Reply to this comment
    • sai
      sai April 04, 23:54

      bener-bener..perbedaan adalah rahmat..

      Reply to this comment
  15. ibn khasbullah
    ibn khasbullah August 02, 20:02

    akuuuur!!!!!

    Reply to this comment
  16. ibnu main
    ibnu main August 03, 19:14

    untuk berdiskusi dengan orang yang berbeda pendapatnya, al-hamdulillah sya sudah terbiasa, mulai dari yang sangat liberal hingga ekstra-tekstual. maka perbedaan pendapat di sini sya sudah biasa. masalah ini bagi orng yang tidak nyambung akan menjadi permusuhan, seolah antara kafir dengan muslim.

    sekadar mengingatkan, untuk masalah tahlilan, sebenarnya tidak hanya masalah bacaan qur`an sampai ato tidak. jumhur mengatakan sampai, termasuk ibnu Qayyim dalam kitab ar-ruh. dalam kitab syarah shahih muslim nawawi mendukung pendapat syafi’i dan melemahkan pendapt yang mengatakan sampai. ibnu taimiyah dalam kitab ikhtiyar ilmiyah rujuk dari pendaptnya dan beliau mengatakan bahwa yang lebih utama adalah mengikuti salaf-shalih di mana nabi dan pra sahabat tidak melakukannya.

    di samping masalah itu, juga masalah ahlul-mayyit membuat makanan untuk para pelawat selama berhari-hari. sepengetahuan saya hal ini dilarang oleh para ulama, terutama syafi’iyah, paling tidak makruh. justeru ahlul musibah dibuatkan makanan karena mereka sedang susah dan sibuk, sesuai dengan sabda nabi yang memerintahkan, ketika ja’far meninggal, agar keluarganya dibuatkan makanan karena mereka sedang didera musibh.

    di tetangga saya, ada yang untuk membiayai acara ini mereka mengeluarkan dana sebesar 40 juta, bahkan ada yang sampai jual tanah. hal ini sudah tidak asing lagi. entah di daerah lain.

    sementra masalah shadaqah yang pahalanya dihadiahkan kepada mayat, hal ini disekapati para ulama sampai. dan tidak harus ato wajib pada hari-hari tertentu, karena untuk penentuan harus menggunakan dasar perintah atau anjuran dari syara’.

    dan masalah-masalah lain. namun, acara tersebut bagi kebanyakan orang dianggap sebgai ukuran seseorang itu ahli sunnah ato bukan…walakinna aktsarannasi la ya’lamun. shadaqallahul ‘azhim

    Reply to this comment
    • abdul
      abdul February 27, 11:06

      aku kurang setuju dengan pernyataan anda gara2 sedekah ke atas mayit hingga menghabiskan dana jutaan dan menjual tanah,.
      untuk maqom orang umum itu sangat memperberat tapi untuk maqom2 orang khusus itu tidak apa2.

      kalo menulis itu disertai fakta dan ada dasarnya biar tidak tambah masalah karena mulutmu harimaumu. jika tidak mengerti jangan ikut bicara karena tambah salah kaprah.

      Reply to this comment
  17. Rifai
    Rifai August 03, 22:44

    Berarti kita selesaikan dulu masalah kirim pahalanya, sebab setau saya emang para ulama berbeda pendapat dan sampai saat inipun saya menilai argumentasi dan landasanya juga kuat semuanya…tambahan info Ibnu Hajjar Al Asqolani juga termasuk yang mengatakan bacaan qur’an itu manfaat bagi mayyit loh..lihat al fath…so ngapain kita saling ngotot..
    Oke saya sependapat dg anda bahwa menghidangkan makanan untuk tamu atau orang lain dirumah orang yg terkena musibah itu makruh, bahkan An Nawawi dalam Al Majmu’ menganggapnya bid’ah. Hanya saja saya nemu sebuah hadits niiih..mungkin bisa kita bikin bahan diskusi? Khorojna ma’a Rasulillah fi janaazatin fa lamma roja’a istaqbalahu da’i imroatahu fa jaa’a wa jii’a bith tho’am fa wadho’a yadahu wawadhoal qaumu fa akaluu wa rasulullohi saw yaluukul luqmata fi fiihi. HR Ahmad
    matur nuwuun

    Reply to this comment
  18. ibn khasbullah
    ibn khasbullah August 05, 08:47

    Kita harus dudukkan masalah pada tempat dan konteks yang semestinya. Jangan dicampur aduk.
    Menghidangkan makanan dari harta waris anak yatim, jelas haramnya.Ini kita sepakat. Sehingga kalau saya, pasti saya tanya dulu: ada harta anak yatim yang dipakai tidak. Kalau ada, saya pindahkan tahlilnya ke musholla, tanpa hidangan.
    Kalau ditempat saya, makanan untuk hidangan tahlil itu sodaqoh dari handai tolan. Bahkan untuk hidangan satu minggu ada berlebih. Ini sebagai bentuk memberikan makan kepada Ahlul musibah sesuai sunnah Rasulullah + para tamunya sesuai hadist yang dinukil oleh mas Rifa’i (Mohon takhrijnya mas).Yang masak juga para tetangga, bukan sohibul musibah.
    Memberikan hidangan sampai ngutang 40 juta itu isrof, terlarang, kita juga sepakat. Ada disuatu daerah Ustadznya(?) tawar menawar untuk beaya tahlil 40 hari. Ini jelas bid’ah fasidah.Kita juga sepakat. Jadi jangan yang dilarang itu tahlilnya, tapi yang “sepakat” melanggar hukum syara’ itu yang kita kuliti. Seumpama kalau ada durian yang satu lajur ada ulatnya, jangan seluruh durian dibuang! Yang ber- ulat saja kita buang. Kalau ada orang solat Jum’at bebatalan, bukan solat jum’atnya yang kita larang, tapi kita ajak jama’ahnya untuk memperbaiki dan belajar kaifiyat sholatnya agar solat jum’atnya benar.Tapi diskusi ini memang penting untuk membuka mata kita agar tersadar mungkin ada kekeliruan yang mungkin diperbaiki.
    Satu lagi kebiasaan ditempat saya yang alhamdulillah sudah berjalan dengan baik, yaitu setelah tahlil selalu dibingkai dengan taushiyah Dzikrul maut.

    Reply to this comment
    • Rifai
      Rifai August 05, 09:02

      @ibn khasbullah, sepakat pak…saya cuma nemu haditsnya pak….mari kita diskusikan bersama…
      @ Kang Main….mengenai waktu untuk berkirim sedekah buat mayyat emang ga ada petunjuk khususnya, namun kapan si mayyat sangat membutuhkan shodaqoh ( yaitu pada masa 7 hari setelah kematiannya) terdapat dalam hadits riwayat Ahmad dari riwayat Thowus dengan jalan Mursal, namun Al Hafidz As Suyuthi menerimanya sebagai hujjah, silahkan antum Ruju’ dalam al hawi lil fatawiy..

      Reply to this comment
      • santri cyber
        santri cyber August 05, 16:15

        @Rifai,
        kalau di daerah pati memang terlalu mewah untuk pelaksanaan prosesi kematian.
        Yang nyolatin dikasih duit,yang layat juga, belum lagi di rumah “motong” kambing kalau yang ekonomi lemah cukup “wedus kacang”, tapi kalau yang mampu bisa 2 ekor lho…..

        Reply to this comment
  19. ibnu main
    ibnu main August 06, 20:14

    @rifai
    untuk masalah pahala bacaan sampe ato tidak, saya tidak terlalu mempermasalahkan. bagi saya, yang lebih penting untuk didiskusikan adalah bagaimana tuntunan rasulullah dan para sahabat berkaitan dengan kegiatan setelah adanya kematian.
    dan sudah maklum bahwa tradisi yang ada adalah orang-orang datang di rumah ahlul musibah tidak hanya sekali, tetapi berturut-turut sampai tujuh hari, kemudian diulang pada hari keempatpuluh, seratus, setahun dan setiap tahun berikutnya. di situ juga kebanyakan ahlul musibah memasak makanan dan jamuan untuk jamaah yang datang. apakah hal ini ada tuntunannya dari syara’? saya melihat banyak yang memaksakan diri untuk tetap menyelenggarakannya walaupun
    keadaan ekonominya sedang tidak mendukung. apakah ini sesuai dengan agama islam yang menginginkan kemudahan?

    anda menyebutkan hadits berikut:
    Khorojna ma’a Rasulillah fi janaazatin fa lamma roja’a istaqbalahu da’i imroatahu fa jaa’a wa jii’a bith tho’am fa wadho’a yadahu wawadhoal qaumu fa akaluu wa rasulullohi saw yaluukul luqmata fi fiihi. HR Ahmad

    tanggapan:
    Hadits Ibnu Kulaib diriwayatkan: Baihaqi, Sunan Kubra (5/335) dan Dala`il an-Nubuwwah (7/79), Abu Nu’aim, Ma’rifat ash-Shahabah (21/315), Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, (10/101), Ahmad, Musnad Ahmad (49/161), Daruquthni, Sunan Daruqutni (11/129).
    Dalam semua referensi tadi tidak ditemukan adanya kata Da’i Imra`atih. maaf anda menyebutkan dai imra`atuhu, semoga saja salah tulis. yang benar adalah da’i imra`atihi karena kedudukannya sebagai mudhaf ilaih.

    dalam semua riwayat yang saya sebutkan tadi tertulis DA’I IMRA`ATIN. bedanya sangat jauh. kalo ini artinya pengundang perempuan.dia berbentuk nakirah yang faedahnya masih umum.
    ini berbeda dengan yang anda sebutkan DA’I IMRA`ATIHI: pengundang isteri mayat. memang redaksi yang anda sebutkan ada dalam kitab misykatul mashabih. tetapi kitabini bukan referensi hadits. di situ pengarangnya mengatakan bahwa hadits ini riwayatkan abu dawud. tetapi jika diteliti dalam sunan abu dawud, yang ada hanya DA’I IMRA`IN. bahkan dalam musnad ahmad seperti yang anda sebutkan, disebutkan DA’I IMRA`ATIN MIN QURAIYS.. jadi bukan isteri mayat yang memberikan jamuaan kepada nabi dan para sahabat. dengan demikian hadits ini tidakbisa dijadikan hujjah untuk suguhan ahlul musibah kepada orang-orang yang tahlilan. lihat lebih jelasnya dalam kitab TUHFATUL AHWADZI.

    mengenai hadits thawus saya sudah membacanya dalam kitab al-hawi lil-fatawai. di situ dibahas secara panjang lebar. begitu juga Ibnu Hajar Al-Haitmi dalam al-fawata al-fiqhiyah al-kubra.
    yang berkata dalam hadits tersebut adlaah Thawus, bukan sahabat ato nabi. namun mereka menjadikannya sebagai hadits mursal karena masalah yang dibicarakan di luar logika.

    inti dari hadits tersebut adalah orang mukmin diuji di dalam kubur selama tujuh hari. karena itu mereka mensunnahkan untuk bersedekah selama tujuh hari tersebut.

    tanggapan:
    kehujjahan hadits mursalah masih diperdebatkan oleh banyak ulama. menurut jumhurmuhadditisn mereka tidak memakainya, karena syarat hadits shahih itu perwawinya harus bersambung sampai kepada rasulullah.
    imam ghazali di dalam kitab al-mustshfa menyangkal hadits mursal sebagai hujjah, karena bisa jadi hal ini dari sesama taab’in atau shabat belum jelas.
    dalam kaedah ushul dikatakan, ad-dalil idza tatharraqa ilaihi ihtimal saqatha bihi al-istidlal. suatu dalil jika masih tersusupi kemungkinan, maka gugurlah istidlal dengannya.
    seandainya kita sepakati hal itu, tetapi bertentangan hadits nabi yang memerintahkan agar ahlul musibah yang diberi santunan.
    juga bertentangan dengan hadits ibnu jarir al-bajali yang berkata, ” “Kami memandang berkumpul di (kediaman) keluarga mayat dan pembuatan makanan oleh keluarga mayat (untuk disuguhkan kepada hadirin) sebagai bagian dari niyâhah (ratapan).” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

    kemudian dalam hadits thawus tadi disebutkan mereka mensunnahkan memberikan makanan hanya sebatas tujh hari. manakah dalil untuk hari yang kempat puluh, seratus dan seterusnya.

    ah, bagi yang mengkaji kitab-kitab fiqih, cuku syafi’iyah saja akan tidak asing dengan kecaman para ulama mengenai hal ini.

    @ibnu khasbullah
    sampa berhari-hari itu? dalam kitab-kitab fiqih syafi’iyah disebutkan bhawa markruh acara seperti itu. cukup sekali saja atu paling banter tiga hari. dalam sebuah hadits, walaupun kualitasnya tidak bagus (tetpi didukng hadits lain yang shahih) disebutkan bahwa at-ta’ziyatu marrah. takziah hanya sekali.
    bukankah Imam syafi’i berkata, ““Aku membenci ma`tam yaitu perkumpulan untuk kematian, meskipun tidak terdengar tangisan di antara mereka; karena hal ini memperbarui kesedihan dan menambah beban biaya, di samping karena atsar yang telah kami sebutkan di depan (mengisyaratkan hadits ibnu jarir al-bajali di atas).” (Al-Umm, 1/279)

    Reply to this comment
    • Rifai
      Rifai August 06, 21:23

      @ibnu main, yo yoi kang main memang teliti..saya yg nulis aja ga ngehh…thanx ya…koreksinya..kalo saya pribadi sepakat dg As Suyuti ketika beliau mengatakan bahwa sebuah perkara yang bukan hasil ijtihad dan itu dikeluarkan oleh tabi’in pasti berasal dari sahabat dan sahabat dari Nabi, sebab sangat tidak mungkin seorang tabiin mengada2 terhadap urusan seperti itu…( tolong koreksi lagi…alasan itu ada ngga di Al Hawi ). Hadits mursal itu jelas Dhoif, namun ketika mursalnya berkaitan dg hal2 yang ghaib maka ia bernilai marfu’ mursal ( Begitu kata As Suyuti ) Kalo ente menggunakan perkataan Al Ghozali sebagai wakil dari jumhur muhadditsin saya agak keberatan bukan karena meremehkan beliau yang memang luar biasa, akan tetapi beliau sendiri dalam kitabnya Qonun Ta’wil hal 16 berkata .” Bidhoo’ati fi ilmil haditsi Muzjaatun. (pemahamanku di dalam ilmu hadits sedikit ).
      Terus kalo ente bilang hadits itu ihtimal, mana ihtimalnya ustadz..??? sebab setau saya sebuah hadist memang tidak bisa dijadikan hujjah apabila ihtimal (mengandung kemungkinan2 )di dalam redaksinya (matannya) , sebab kalo dalam sanad bukan ihtimal lagi namanya. Wallohu a’lam.
      Intinya saya sepakat dg ente bahwa hidangan dari ahlul mayyit untuk tamu itu dilarang para ulama’ minimal makruh lihat al mughni li ibni qudaamah 2/215, ianah 2/145-147. terus bagaimana kalo acara itu tanpa menghidangkan makanan…??? dan bagaimana dg anjuran Mbah Rifa’i dlm kitab abyanal..??? :)

      Reply to this comment
    • Tetua Adat
      Tetua Adat August 07, 01:38

      @ibnu main,
      Saya cuma mau tanya sama ibnu main ini, sampeyan ini penganut paham wahaby? kalau ya, berarti diskusi ini tidak akan pernah selesai,karena memang sudah dari sononya tdk akur.
      semoga saja ibnu main ini bukan orang alim yang mbingung,mau ikut wahaby tapi tidak punya nyali.kalau mmg iya akui saja kang !!!dengan begitu kita jelas berhadapan dengan ideologi apa?kalau abu-abu seperti ini, percuma saja, saya siap berdiskusi dengan anda kalau anda sudah berani mengakui,mau mbahas hadist,ushul fiqh atau apapun insya Alloh,semoga daya hafal saya masih bisa memuaskan anda.
      Kalau ente belum berani membuka diri,saya jadi penonton saja.
      Semoga ibnu main bukan anaknya main2.(kidding)

      Reply to this comment
  20. Joko Bodo
    Joko Bodo August 06, 22:04

    Do laopo….wong mabh Rifa’i wes ngandaake ning biyanal kok…opo sampeyan2 iku luwih ngalim po dibanding mbah Rifa’i…wes ora usah geger. Ibnu Syihah dalam kitab Daful auham an masalatil qiroah kholfal imam berkata : sing intine…bocah saiki lagi ngaji satu dua kitab hadits, wes pethunthungan nyalah2ake ulama, padahal deweke ora ngerti opo hadits iku di manshukh opo mulgho’, opo piye….nek masalah agama diserahno karo wong sing koyo ngono rusak agomo reeekkk…sing penting iku ngamal ono ngilmune…nek dadi santrine mbah rifa’i terus manut karo pituwone simbah moso salah….amppuuuuuuunnn deh cah saiki…keminter.

    Reply to this comment
    • Tetua Adat
      Tetua Adat August 07, 01:45

      @Joko Bodo,
      Saya usul kepada admin atau siapa saja yang pro tahlil jangan dilayani ibnu main ini,selama Ts belum mengakui ideologinya,karena tanpa kejelasan, diskusi ini tdk akan bertemu dg ujungnya.
      Dasare wis ora sarujuk,dijarne wae la’ wes kang,buktinya betapa banyak propaganda2 wahaby tapi mana hasilnya? malah semakin dibenci masyarakat.nanti saya kirim artikel untuk membongkar wahaby,tapi harus di posting ya?

      Reply to this comment
  21. ibn khasbullah
    ibn khasbullah August 07, 10:30

    Sabar kang ibnu main, sabar kang Tetua adat dan Joko Bodo. Biasa….. voltase naik sedikit. Namanya saja masalah khilafiyah.Nggak akan rampung kalau dibahas. Tapi saya yakin mubahatsah ini besar manfaatnya untuk kita.
    Nah,… kalau sampai permusuhan, ini memang yang dikehendaki oleh musuh- musuh Islam. Kaum muslimin jadi nggak konsentrasi lagi pada masalah kemajuan Islam. Mau mbangun madrasah saja susah, ..pijer ditanya dulu, yang mau mbangun madrasah “jenggoten” tidak? (padahal dulu banyak santri2 mbah Rifa’i pakai jenggot juga, seperti mbah mastur Limpung, Mbah Adnawi Sapugarut). Pijer ditanya: yang mau mbangun musolla celananya ngatung tidak? (padahal dulu santri2 mbah Rifa’i pakainya “Celana Rifa’en” yang ngatung itu). Lha wong, sahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar saja beda pendapat soal cara mandi janabatnya wanita yang bergelung? Coba hayo.. mana yang benar, pendapat Abdullah bin Abbas atau Abdullah bin Umar? Dua- duanya sahabat nabi lho!!!

    Reply to this comment
    • Tetua Adat
      Tetua Adat August 07, 22:13

      @ibn khasbullah,
      Pada dasarnya kita2 yang disini sebagian besar sudah tahu dan paham soal maslah khilafiyah tahlilan,kirim do’a,ziarah kubur dll.Saya heran sama kang ibnu main,koq getol bgt mbahas ini,padahal sampai kapan pun dibahas tdk akan pernah ketemu.
      yang terpenting saat ini adalah saling menghormati,bukan mencari dalil2 untuk memperkuat argumennya,karena yang pro juga bukan orang bodoh yang tanpa dasar landasan dalil,bagi saya diskusi masalah ini sia2 kalau tujuan mempertahankan pendapat.
      Kalau diteruskan hanya akan memperuncing khilafiyah.atau kang main ini cuma bisa membahas bab tahlil doang?

      Reply to this comment
      • sawasanganam
        sawasanganam August 08, 03:30

        @Tetua Adat, maaf beribu maaf. Piasau cukur jika depegang tukang cukur akan menghasilkan uang (sebagai sarana pekerjaan). tatapi jika dipegang tukang batu (maaf; kuli bangunan) akan tumpul, gak bermanfaat dan mungkin malah menciderai kuli bangunana tersebut.

        Sama halnya dengan dengan diskusi. Diskusi adalah wacana. Wacana bukan realita. Jika wacana adalah realita, mungkin yang muncul adalah cakar-cakaran. Realita bergesekan dengan lingkungan. Lingkungan berhubungan dengan etika sosial dan segala embel2 nya.

        Saya hanyalah seorang pengunjung bi blog / web ini. Kebetulan tertarik dan syukurnya mendapat manfaat dari perbedaan pendapat dari para master disini.

        Saya lebih condong untuk berfikir yang terbaik belum tentu yang cocok. Tetapi yang cocok (umumnya) yang terbaik baginya. Semoga ada ratusan atau ribuan pengunjung lain yang berposisi seperti saya (belajar melihat dari 4 arah mata angin)

        Reply to this comment
  22. Redaksi
    Redaksi August 07, 23:02

    to all:
    ( sehari tidak buka website,ketinggalan info )
    Terima kasih urun rembuknya,kami mengapresiasi pendapat2 anda sekalian.
    Kami cuma bisa berkata ” itulah manusia,kita harus mempersiapkan diri untuk berbeda dan menerima perbedaan,karena dilihat dari segi apa saja kita memang memiliki perbedaan”
    Semoga masing2 kalau sudah menemukan pijakan yang shahih,hendaknya saling menghormati,jangan sampai energi habis untuk membahas persoalan yang sebenarnya sudah jelas (jelas berbeda).

    Teruslah berdiskusi,bongkar semua perbendaharaan ilmu kita,tapi ingat ! perbedaan itu akan selalu ada.
    Wallahu A’lam Bisshowab.

    Reply to this comment
  23. asikin
    asikin August 09, 15:47

    mbah tetua adat…. biarkan saja diskusi ini berkembang lintas mazahab, itu akan memperkaya wawasan kita. kita2 sdh biasa kok mbah…. jangan mengajak ke satu alur… lha klo satu alur ya gak ada perdebatan. lebih indah diskusi di sini, dari pada klo diskusi di masjid, disini gak ada yang marah. paling klo marah gak buka internet dulu, nnt klo dah cool, pasti dibuka lagi, dan berkomnetar dengan santun. iya kan.
    nanti tanbihun cominity akan buat perpustakaan, yang berisi refensi2 lintas mazhab.
    kalo sdh bisa melihat masalah lintas mazhab pasti akan lebih arif melihat warna yg ada ini. ternyata khazanah ilmu Islam sangat luas sekali. masalah amaliah itu mah masalah kita masing2. belum tentu kang main yang mengkritisi tahlilan, gak hafal tahlil, siapa tahu malah di kampungnya dia paling khusuk klo mimpin tahlil. saya baca kang main dan kang ibnu kasbullah msh satu induk, diskusinya belum seramai di milis2 lain, yg sdh lintas mazhab.
    bagaimana mbah tetua adat….
    maturnuwun mbah.

    Reply to this comment
  24. maspem
    maspem August 14, 08:38

    @tetua adat: wong apa yang dikatakan ibnu main, ibnu khasbullah, mas rifai itu kan jelas, kitab rujukannya juga disebutkan, kalau misalnya sampeyan punya hujjah untuk membantahnya kan disumangga’ake to mas admin? kita jangan terjebak dalam pengkotak-kotakan aliran lah, toh yang disampaikan ibnu main sejau yang aku baca bukan pendapat dari ibnu taimiyyah misalnya, tetapi juga kitab2 yang kita baca bersama.
    kalau misalnya tetua adat melihat kesalahan dari ibnu main kan bisa diluruskan, tanpa harus mengatakan “saya siap berdiskusi dengan anda … mau mbahas hadist,ushul fiqh atau apapun insya Alloh,semoga daya hafal saya masih bisa memuaskan anda”
    kalau seandainya ibnu main salah dan anda menunjukkan hujjah yang tepat, boleh jadi ibnu main menerima atau menolaknya. jika ia menerima ‘hidayah’ dari Allah lantaran anda bukannkah bagi anda itu lebih baik dari dunia seisinya dan jika ibnu main menolak maka bukankah kewajiban anda hanya menyampaikan, dan hidayah tidak lain
    datangnya dari Allah.
    damai mbah!!!

    Reply to this comment
  25. ibnu main
    ibnu main August 18, 10:12

    @rifai
    ….kalo saya pribadi sepakat dg As Suyuti ketika beliau mengatakan bahwa sebuah perkara yang bukan hasil ijtihad dan itu dikeluarkan oleh tabi’in pasti berasal dari sahabat dan sahabat dari Nabi, sebab sangat tidak mungkin seorang tabiin mengada2 terhadap urusan seperti itu…( tolong koreksi lagi…alasan itu ada ngga di Al Hawi )….
    Tanggapan:
    Ya, alasan tersebut memang ada, tetapi tidak ada kata-kata “Sangat tidak mungkin”. Tidak hanya tabi’in. Sahabat juga demikian. Dan jelas sahabat kedudukannya lebih tinggi daripada tabi’in. Semua sahabat adil, sementara tabi’in itu ada yang adil dan ada yang tidak adil. Demikianlah yang telah ditetapkan para ahli hadits. Adapun alasannya adalah karena husnuzh-zhan dengan mereka.
    Akan tetapi, marilah kita simak perkataan al-Hafizh al-Iraqi di bawah ini:
    وكثيراً ما شنّع ابنُ حزم في “المحلى” على القائلين بهذا ، فيقولُ : عهدناهم يقولون لا يُقالُ : مثلُ هذا من قبل الرأي . ولإنكارِهِ وجهٌ ؛ فإنَّهُ وإنْ كان لا يقالُ مثلُهُ من جهةِ الرأي ، فلعلَّ بعضَ ذلك سمعَهُ ذلك الصحابيُّ من أهل الكتابِ . وقد سمعَ جماعةٌ من الصحابةِ من كعب الأحبارِ ، ورَوَوا عنه كما سيأتي
    “Seringkali Ibnu Hazm di dalam al-Muhalla memberikan kritikan yang tajam terhadap orang-orang yang berpendapat seperti ini (kehujjahan perkataan sahabat dalam hal yang tidak ada ruang ijitihad di dalamnya). Ia berkata, ‘Kami mengenal mereka mengatakan, ‘Hal seperti ini tidak dikatakan dengan jalan rasio.’ Pengingkaran Ibnu Hazm ini memiliki alasan (untuk dibenarkan), karena walaupun hal seperti itu tidak dapat dikatakan dengan jalan pendapat (rasio), bisa jadi sahabat tersebut mendengar sebagiannya dari Ahlul Kitab. Dan sungguh segolongan sahabat telah mendengar dari Ka’ab bin al-Akhbar (Ahlul Kitab yang masuk Islam) dan meriwayatkan darinya sebagaimana yang akan diterangkan nanti.” Al-Hafizh al-Iraqi, Syarh at-Tabshirah wa at-Tadzkirah. 1/71.
    Di sini dengan sangat jelas al-Iraqi mendukung Ibnu Hazm yang mengkritik pengambilan hujjah dari perkataan sahabat yang bukan bagian dari perkara yang dapat diijtihadi.
    As-Sam’ani berkata,
    أما قولهم إن حسن الظن بهم واجب قلنا: نعم، يجب علينا إحسان الظن بهم ويجب علينا أيضا أن لا نضيف إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قولا وفعلا إلا عن تثبت ولا ثبت فى هذا الخبر الذى تظنون ثبوته وعلى أنهم لم يكونوا معصومين عن السهو والغلط
    “Adapun perkataan mereka bahwa husnuzh-zhan terhadap mereka (para sahabat) adalah wajib, maka kami katakan, benar kita wajib berbaik sangka terhadap mereka. Tetapi, kita juga wajib untuk tidak menyandarkan perkataan atau perbuatan kepada Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam kecuali dengan jalan yang akurat. Dan ternyata tidak ada keakuratan dalam berita yang kalian sangka akurat. Di samping itu, mereka tidaklah maksum dari kealpaan dan kesalahan.” As-Sam’ani, Qawathi’ul Adillah, 1/389.

    ….Hadits mursal itu jelas Dhoif, namun ketika mursalnya berkaitan dg hal2 yang ghaib maka ia bernilai marfu’ mursal ( Begitu kata As Suyuti ) Kalo ente menggunakan perkataan Al Ghozali sebagai wakil dari jumhur muhadditsin saya agak keberatan bukan karena meremehkan beliau yang memang luar biasa, akan tetapi beliau sendiri dalam kitabnya Qonun Ta’wil hal 16 berkata .” Bidhoo’ati fi ilmil haditsi Muzjaatun. (pemahamanku di dalam ilmu hadits sedikit )…..
    Tanggapan:

    Dengan kedhaifan yang jelas tersebut sudah menjadi alasan yang kuat bagi kita untuk tidak menjadikannya sebagai hujjah. Masalah hadits Thawus yang sedang kita bahas sebenarnya begini. Thawus berkata tanpa menyandarkannya kepada Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam. Dan karena yang dikatakannya termasuk hal-hal yang tidak dapat dikatakan dengan pendapat ia, maka dianggap mursal marfu’ dengan alasan berbaik sangka terhadapnya. Dan kata-kata marfu’ bukanlah jaminan validitas sebuah riwayat. Ada marfu’ yang shahih dan tidak shahih. Sementara hadits mursal termasuk hadits dhaif. Dan memang demikianlah jumhur muhadditsin dan fuqaha berpendapat.
    Betul, al-Ghazali bukan ahli di bidang hadits dan ini sekaligus menjadi bukti bahwa kita tidak boleh ta’ashub kepada seorang ulama. Artinya, ketika pendapat ulama tersebut tertanya keliru, dan bertentangan dengan hadits Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, maka kita wajib meningalkan pendapat tersebut. Inilah maksud perkataan Imam Syafi’i, “Jika sebuah hadits shahih, maka itulah madzhabku.” Atau perkataan beliau yang lain, “Jika kalian melihat pendapatku bertentangan dengan hadits, maka ambillah hadits tersebut dan lemparkanlah pendapatku ke pagar.”
    Adapun saya mengutip pendapat al-Ghazali tersebut, karena masalah yang kita bicarakan sudah masuk dalam bahasan ilmu ushul fiqih. Jika pembahasan sudah pada tahap, apakah suatu dalil itu dapat dipergunakan sebagai hujjah atau tidak, itu masuk bahasan ilmu ushul fiqih, seperti juga dalil tentang syar’u man qablana, amal ahlul Madinah, maslahah mursalah dan seterusnya. Dan tidak diragukan lagi, kitab al-Mustashfa karya beliau tadi adalah kitab di bidang ushul fiqih yang sangat penting dan diakui semua pihak
    Walaupun demikian, saya akan mengutip pendapat para pakar hadits tentang hadits mursal. Di antaranya adalah Ibnu Shalah. Ia berkata seperti berikut ini:
    وما ذكرناه من سقوط الاحتجاج بالمرسل والحكم بضعفه هو المذهب الذي استقر عليه آراء جماهير حفاظ الحديث ونقال الآثر: وقد تداولوه في تصانيفهم. وفي صدر صحيح مسلم: المرسل في أصل قولنا وقول أهل العلم بالأخبار ليس بحجة. وابن عبد البر – حافظ المغرب – ممن حكى ذلك عن جماعة أصحاب الحديث.
    “Apa yang telah kami sebutkan berupa gugurnya pengambilan hujjah dengan hadits mursal dan hukum dhaifnya adalah madzhab yang telah ditetapi oleh pendapat mayoritas para pakar hadits dan para ahli atsar. Dan sesungguhnya madzhab ini telah sering mereka tulis dalam karya-karya mereka. Di awal Shahih Muslim disebutkan, ‘Hadits mursal menurut pendapat kami yang asli dan pendapat para ulama hadits bukanlah hujjah.’ Ibnu Abdilbarr, seorang hafizh kawasan Islam bagian barat, termasuk orang yang meriwayatkan hal tersebut dari kelompok ahli hadits.” Muqaddimah Ibnu Shalah, 1/9.
    Ibnu Hajar mengatakan,
    وإنَّما ذُكرَ في قسم المردود ؛ للجهل بحال المحذوف ؛ لأنَّه يحتمل أن يكون صحابياً ، ويحتمل أن يكون تابعياً ، وعلى الثاني يحتمل أن يكون ضعيفاً ، ويحتمل أن يكون ثقة ، وعلى الثاني يحتمل أن يكون حمل عن صحابي ، ويحتمل أن يكون حمل عن تابعي ، وعلى الثاني فيعود الاحتمال السابق.
    “Sesungguhnya hadits mursal dikategorikan sebagai hadits mardud (ditolak kehujjahannya) adalah karena tidak diketahuinya keadaan perawi yang tidak disebutkan. Mungkin saja perawi tersebut adalah seorang sahabat dan mungkin juga seorang tabi’in. Dan jika ia adalah seorang tabi’in, bisa jadi ia adalah perawi yang dhaif dan bisa jadi ia perawi yang tsiqah. Dan jika ia seorang perawi yang tsiqah, bisa jadi ia meriwayatkannya dari seorang sahabat dan bisa jadi ia meriwayatkannya dari seorang tabi’in. Jika ia meriwayatkannya dari seorang tabi’in, maka akan terjadi kemungkinan seperti semula (yakni adakalanya tabi’in yang dhaif atau tabi’in yang tsiqah). Dr. Mahir Yasin al-Fahl, Muhadharat fi Ulumil Hadits, hlm. 22. perkataan Ibnu Hajar ini dikutip dari Syarh an-Nukhbah.
    Dari sini jelas, mereka tidak memakai hadits mursal tanpa membeda-bedakan jenis isi haditsnya. Memang bisa jadi apa yang disampaikan itu benar, tetapi demi kehati-hatian dalam menisbatkan sesuatu kepada Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, kita tidak menisbatkannya kepada Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam kecuali dengan jalan yang valid.
    Apakah Anda mengira hadits yang disampaikan perawi yang dhaif itu mesti salah? Tidak mesti salah alias bisa jadi yang hadits yang disampaikan itu benar. Tetapi, karena kriteria hadits shahih yang telah disepakati adalah perawinya harus tsiqah, maka kita tidak menerima hadits dari perawi dhaif tersebut. Begitu juga masalah yang kita bicarakan di sini. Bisa jadi memang benar yang disampaikan oleh seorang tabi’in itu berasal dari Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam. Tetapi, kemungkinan yang lain pun yang sangat besar muncul, yaitu kemungkinan ia meriwayatkannya dari sahabat, atau dari tabi’in atau tabi’it-tabi’in. Sehingga riwayat yang selain dari sahabat perlu diteliti lagi, apakah dia tsiqah atau tidak. Masih ada kemungkinan untuk keterputusan sanad yang masuk dalam kategori hadits dhaif dan disebut dengan hadits munqathi’ (bukan mursal lagi).

    …..Terus kalo ente bilang hadits itu ihtimal, mana ihtimalnya ustadz..??? sebab setau saya sebuah hadist memang tidak bisa dijadikan hujjah apabila ihtimal (mengandung kemungkinan2 )di dalam redaksinya (matannya) , sebab kalo dalam sanad bukan ihtimal lagi namanya. Wallohu a’lam…..

    Tanggapan:
    Ihtimal yang dapat menggugurkan istdlal dengan suatu hadits ditinjau dari segi sanad dan matan. Karena itulah, lahir kritik sanad dan kritik matan. Apabila sebuah hadits dapat diterobos oleh salah satu kritik tersebut dengan ihtimal yang kuat, maka ia tidak dapat dijadikan hujjah. Untuk ihtimal yang berkaitan dengan sanad, silakan cermati uraian para pakar hadits di atas. Dan itulah menjadi sebab kenapa hadits mursal itu dikategorikan hadits dhaif, yakni karena tidak memenuhi syarat hadits shahih yang sanadnya harus bersambung dari awal hingga akhir.
    Kemudian ihtimal dari matan pun muncul. Dan ini sebenarnya yang menjadi sandaran untuk penghidangan kepada para pelayat oleh ahlul musibah. Di dalam hadits Thawus tersebut dikatakan, fa-kanu yastahibbuna an yuth’ama ‘an al-mayyit tilka al-ayyam. Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Kubra dan as-Suyuthi mengatakan bahwa redaksi seperti ini sejenis dengan perkataan tabi’in: kanu yaf’alun. Artinya dulu mereka melakukan. Yakni para sahabat melakukan pada zaman Nabi atau setelah Nabi, seluruh sahabat atau sebagiannya saja. Masih timbul ihtimal-ihtimal. Bahkan, Imam Suythi sendiri berkata dalam kitab Tadirb ar-Rawi,
    ولو قال: كانُوا يَفْعلون, فقال المُصنِّف في «شرح مسلم» :لا يدلُّ على فعل جميع الأمَّة, بل البعض, فلا حُجَّة فيه, إلاَّ أن يُصرِّح بنقله عن أهل الإجماع, فيَكُون نقلاً له.
    “Jika seorang tabi’in berkata, ‘Mereka pernah melakukan,’ maka al-Mushannif (Imam Nawawi) mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, ‘Tidak menunjukkan atas perbuatan seluruh umat, akan tetapi sebagiannya saja. Karena itu, perkataan tersebut tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali ia menerangkan dengan jelas bahwa ia menukilnya dari ahli ijma’, sehingga perkataannya tersebut merupakan nukilan dari ijma’.’” Al-Hafizh as-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi, 1/128.
    Dalam riwayat Thawus tersebut tidak diterangkan secara jelas bahwa hal itu merupakan riwayat ijma’ para sahabat.
    Ibnu Hajar al-Haitami sendiri yang mensahihkan sanad hadits Thawus tidak menjadikannya sebagai hujjah untuk perjamuaan kematian. Bahkan, beliau berkata seperti di bawah ini:
    وَمَا اعْتِيدَ مِنْ جَعْلِ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا لِيَدْعُوا النَّاسَ عَلَيْهِ بِدْعَةٌ مَكْرُوهَةٌ كَإِجَابَتِهِمْ لِذَلِكَ لِمَا صَحَّ عَنْ جَرِيرٍ.
    “Adapun kebiasan keluarga mayat membuat perjamuan makanan untuk mengundang manusia (agar datang) kepadanya adalah bid’ah yang makruh. Begitu juga memenuhi undangan mereka, karena berdasarkan hadits shahih dari riwayat Jarir.” Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, 11/440.

    …..Intinya saya sepakat dg ente bahwa hidangan dari ahlul mayyit untuk tamu itu dilarang para ulama’ minimal makruh lihat al mughni li ibni qudaamah 2/215, ianah 2/145-147.
    Tangapan:
    Ketika suatu hadits itu jelas, maka tidak ada jalan lain kecuali kita menerimanya dan ini sebagai bukti taslim seseorang kepada hukum syara’. Syekh Ahmad Rifai’i sering mengulang-ulang masalah taslim ini. Memang sering terasa berat karena tradisi yang sudah turun-temurun. Tetapi, bagi yang sadar taslim adalah syarat sah iman dan takut akan akhirat, maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti hukum syara’ telah jelas baginya, apapun resiko yang akan timbul.

    ….. terus bagaimana kalo acara itu tanpa menghidangkan makanan…??? dan bagaimana dg anjuran Mbah Rifa’i dlm kitab abyanal..??? ……
    Tanggapan:
    Dari yang saya pahami itu juga termasuk dalam larangan. Adapun hujjah-hujjahnya adalah sebagai berikut:
    1. Hadits Jarir bin Abdillah al-Bajali. Ia berkata:
    كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ.
    “Kami menganggap berkumpul kepada keluarga mayat dan membuat perjamuan makanan setelah penguburannya termasuk bagian dari niyahah.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
    Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata, “Hadits ini adalah shahih.”
    2. Penafsiran Umar bin Khat Radhiyallahu Anhu..
    عن طلحة قال: قدم جرير على عمر رضي الله عنهما فقال: هل يناح قِبلكم على الميت ؟ قال: لا. قال : فهل تجتمع النساء عندكم على الميت ، ويطعم الطعام ؟ قال: نعم. فقال: تلك النياحة.
    Diriwayatkan dari Thalhah bahwa ia berkata, “Jarir datang kepada Umar Radhiyallahu Anhu. Lantas Umar bertanya, ‘Apakah dilingkungan kalian mayat diratapi?’ Jarir menjawab, ‘Tidak.’ Umar bertanya lagi, ‘Apakah perempuan di antara kalian berkumpul kepada mayat dan terdapat perjamuan makanan?’ Jarir menjawab, ‘Ya.’ Umar berkata, ‘Itulah niyahah (ratapan).’” Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/487.
    Sanad riwayat ini shahih.
    3. Larangan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
    عن قيس قال: أدركتُ عمر بن عبد العزيز يمنع أهل الميت الجماعات يقول: ترزؤون وتغرمون.
    Diriwayatkan dari Qais bahwa ia berkata, “Aku menemukan Umar bin Abdul Aziz melarang keluarga mayat dari (mengadakan) perkumpulan-perkumpulan seraya berkata, ‘Kalian ditimpa musibah dan didenda!’” Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/487.
    Sanad riwayat ini hasan.
    4. Perkataan para ulama.
    Imam Syafi’i berkata,
    وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بَكَاءٌ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيْهِ مِنَ الْأَثَرِ.
    “Aku membenci ma`tam, yaitu perkumpulan untuk kematian, meskipun tidak terdengar tangisan di antara mereka; karena hal ini memperbarui kesedihan dan menambah beban biaya, di samping karena atsar yang telah kami sebutkan di depan.” 1/279.
    Imam Nawawi berkata,
    وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة هذا كلام صاحب الشامل ويستدل لهذا بحديث جرير بن عبد الله رضى الله عنه قال ” كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياحة ” رواه احمد بن حنبل وابن ماجه باسناد صحيح.
    “Adapun keluarga mayat membuat perjamuan makanan dan pengumpulan manusia kepadanya, tidak ada dasar riwayatnya sama sekali. Perbuatan tersebut adalah bid’ah, bukan sunnah. Demikian perkataan penulis kitab asy-Syamil. Kesimpulan hukum seperti ini diambil dari dalil hadits Jarir bin Abdillah Radhiyallahu Anhu…….” 5/311.
    Di halaman yang lain Imam Nawawi berkata,
    وأما الجلوس للتعزية، فنص الشافعي والمصنف وسائر الاصحاب على كراهته، قالوا: يعني بالجلوس لها أن يجتمع أهل الميت في بيت فيقصدهم من أراد التعزية، قالوا: بل ينبغي أن ينصرفوا في حوائجهم فمن صادفهم عزاهم، ولا فرق بين الرجال والنساء في كراهة الجلوس لها.
    “Adapun duduk untuk takziah, Imam Syafi’i, al-Mushannafi (asy-Syairazi), dan seluruh Ashhab (Syafi’iyah) menegaskan kemakruhannya. Mereka mengatakan, yang dimaksudkan dengan duduk untuk takziah adalah keluarga mayat berkumpul di rumah, lalu orang-orang yang ingin takziah datang kepada mereka. Mereka mengatakan, hendaknya mereka (keluarga mayat) menuju kepada kebutuhan-kebutuhannya. Orang yang menemui mereka, bertakziah kepada mereka. Tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan dalam hukum makruh duduk untuk takziah.” Nawawi, al- Majmu’, 5/306.
    Dan, perkataan ulama-ulama Syafi’iah yang lain. Bahkan di dalam kitab I’anah ath-Thalibin dikutip fatwa mufit tanah Haram Makkah dari empat madzhab yang kesemuanya sepakat dengan kesimpulan hukum di atas.
    ……dan bagaimana dg anjuran Mbah Rifa’i dlm kitab abyanal..???…..
    Tanggapan:
    Siapapun akan mengakui Syekh Ahmad Rifai sebagai ulama. Tidak hanya itu beliau adalah orang rela terjun di rakyat bawah dengan mengarang kitab-kitab berbahasa Jawa, sementara ulama-ulama Jawa lainnya asyik duduk di menara gading dengan mengarang kitab-kitab berbahasa Arab. Toh demikian, selain Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam adalah bukan makshum. Karena itu, sudah wajar jika mengalami kesalahan atau lupa.
    Muktamar NU ke-5, tgl 7 September 1930 di Pekalongan pernah membahas shadaqah dengan nomor 101, yang di dalam kitab Abyanal Hawaij disebut dengan shadaqah sulthanah. Dan jawabannya adalah berikut ini.

    Jawaban: Hadits dan atsar tersebut tidak boleh dipergunakan sebagai dalil, karena terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kedustaannya (maudhu’) dan tidak terdapat di dalam kitab-kitab shahih. Bahkan tidak ada kitab yang dinamakan Mathali’ul Daqa’iq….(Ahkamul Fuqaha, hlm. 91)

    Toh demikian, di dalam kitab mbah Rifai tersebut tidak disebutkan adanya perintah untuk mengadakan perkumpulan seperti yang sudah berlaku. Wallahu a’lam.

    Reply to this comment
    • rifai
      rifai August 18, 11:45

      @ibnu main, Thanx tanggapannya..Mas main kalo mau membahas hadits mursal mestinya ente membahasnya secara menyeluruh, jangan diambil sepotong2 yang memperkuat alibi ente semata…masalahnya kita yg mau belajar hadits biar tidak tergiring pada satu opini..seolah2 para ulama’ sepakat menolak kehujjahan hadits mursal tersebut…maaf…mungkin ente kelupaan untuk membuka kitab Taisir Mushtholahil Hadits karya DR Mahmud Thohan yaaa…disitu sangat jelas dibahas tentang kehujjahan hadits mursal….(klo dalam kitab saya di hal 72 ) Menurut sang doktor Para Muhadditsin berbeda pendapat tentang hukum dan kehujjahan hadits mursal. Dan secara garis besar pendapat ulama tentang hadits mursal ini terbagi jadi 3 :
      1. Dhoif Marduud sebagaimana yg ente katakan tadi, ini pendapat jumhur muhadditsin dann mayoritas ulama’ ushul dan ulama’ fiqih.
      2. Shohih dan bisa dijadikan hujjah, ini menurut imam 3 yaitu Abu Hanifah,Malik dan Ahmad dalam riwayat yg masyhurnya.
      3. Dapat diterima dengan Syarat…artinya Shahih dg beberapa syarat ini adalah pandapat Syafi’i dan sebagian dari ahlil ilmi.
      Silahkan ente ruju’ sendiri dan syukur2 mau menterjemahkannya secara komplet untuk saya yg bodo ini. Adapun kehujjahan Hadits Thowus yg di bawakan As Suyuthi di muka, bukanlah sebuah ke”ngawuran beliau, beliau sudah berusaha menjelaskannya secara panjang lebar tentang hal tersebut dalam perspektif hadits ( saya dg segenap ekbodohan saya menerimanya sebagai sebuah hujjah …klo ente meragukannya itu hak ente lhoo..hehehe ). Maaf saya klo njawabi spontan teruusss..bahkan kadang ga pegang rujukan, klo ada bahasa yg slip sedikit mohon diluruskan, karna hafalan saya yg jelek.
      Mengenai penghidangan untuk para tamu harap ga usah dibahas lagi..karena kita sepakat untuk itu..jadi membuang2 waktu saja…
      Terus terang saya masih bingung dg Ihtimal dalam sanad….hadits yg ihtimal sanadnya disebut hadits apa ya…????. (maaf sebab setau saya untuk ihtimal hanya urusannya dg Matan ), kalo ente bilang dalam kritik hadits harus dilakukan secara sanad dan matan..maka saya sepakat 20000000 % sebab itu sudah dilakukan oleh para ulama terdahulu termasuk Ibnu asakir yg mengoreksi matan Bukhori.
      Mengenai Acara 7 hari- 40 hari dalam kitab biyanal disitu simbah tidak membahas Math’am lho, atau menganjurkan jamuan segala…jadi ente jgn seret maslah math’an dan jamu2an kesana, menurut saya itu amrun khorij…
      Yg terakhir…..uraiannya jgn kepanjangan dan bertele2 ya mas Ustadz….jadi Liyer euy mbacanya..hehehhe….

      Reply to this comment
    • tirto
      tirto March 22, 16:44

      @ibnu main, iya nih bertele2,,,antum ngeributin tahlil haramlah,bid’ahlah,,,coba yang mabok n yang g sholt g antum rebutin???? “jangan merasa pintar tapi pintar merasa”

      Reply to this comment
  26. Joko Bodo
    Joko Bodo August 18, 20:04

    Oalah ampuuun deh..masalah ini lagi..ini lagi..kagak ada yg lain apa…??? Gini aja mas Fai..mas Ma’in diajak ketemuan aja….diajak diskusi berdua..mau berantem2 deh sekalian. wong masalah jadul kok dibahas terus. opo ora bosen ?. Mohon mas Fai ga usah melayani, ntar juga diem sendiri !!!

    Reply to this comment
    • rifai
      rifai August 18, 20:18

      Wew….kalo saya ketemu ama Ibnu Main malah rangkul2an, wong beliau ini sahabat baik saya, kita saling mengenal. Dalam dunia nyata saya pernah bertukaR pikiran dg beliau dan memang beliau ini alim banget, luas pandangannya dan pecinta sunnah yg mumpuni, saya mbantah ini bukan nandingi beliau lho..tapi dalam rangka ngaji. Nah mari kita dengarkan dan simak dg seksama uraian dari kang Main. Tapi ingat kita harus tetep dingin ga boleh menghujat ataupun membenci. Kita warga Rifaiyah memang harus terbiasa dg alam perbedaan kayak gini. Ini sangat bagus buat pembelajaran berfikir kita..bukan begitu kawan ?

      Reply to this comment
  27. ibnu main
    ibnu main August 19, 09:48

    @rifai,
    saya, menyebutkan pendapat yang kuat saja. kalo dibahas semuanya tambah panjang lagi nanti..kan saya sudah menyebutkan menurut jumhur…itu artinya ada yang lain…kalo ada yang menguatkan yang lain, moggo..
    titik berat hadits thawus sebenarnya pada masalah fitnah kubur, dan masalah ini didukung oleh hadits-hadits lain yang kuat. dan untuk masalah perjamuan sendiri sampean sudah sepakat.
    ihtimal sanad? silakan rujuk prkataan ibnu hajar yang telah saya kutip. di situ beliau mengatakan,
    وإنَّما ذُكرَ في قسم المردود ؛ للجهل بحال المحذوف ؛ لأنَّه يحتمل أن يكون صحابياً ، ويحتمل أن يكون تابعياً ، وعلى الثاني يحتمل أن يكون ضعيفاً ، ويحتمل أن يكون ثقة
    jadi, di sini beliau memakai kata yahtamilu berulangkali…
    ya, kita di sini saling tukar pendapat dan pengalaman, juga saling mengingatkan. maaf kalo terlalu panjang lebar dan membosankan.
    hadits tentang shaqah sulthanah itu sering dijadikan alasan, maka saya bahas juga..
    mas rifai, dah selesai takhrij hadits-hadits di kitab mbah rifa’i? itu sangat penting dan ini sebagai bentuk penghargaan terhadap kitab beliau. kalo ada orang yang menolaknya biarin ja…

    @joko bodo
    masalah itu banyak sekali dan akan selalu muncul. kami sudah biasa berdiskusi dengan mas rifai kok..kalo sampe berantem itu sikap orang bodo.
    imam syafi’i meninggal juga gara-gara dipukul orang bodo yang fanatik dengan madhzab malik di mesir. ktika itu lawan debat syafi’i kalah, maka pendukungnya memukul beliau, di saat orang-orang pergi.

    Reply to this comment
  28. Azil Ibnu Anshori
    Azil Ibnu Anshori September 22, 08:13

    “sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niatnya”…. Agama itu mudah jangan dipersulit akan tetapi juga jangan dipermudah.

    Reply to this comment
  29. Herdoni Wahyono
    Herdoni Wahyono March 14, 15:59

    Tahlil itu kan membaca “Laa ilaha illallah”
    kok dihukumi haram, mana dalilnya ? Perbedaan paham atau pendapat adalah hal yang wajar. Namun hendaknya pendapatnya jangan sampai ditunggangi oleh hawa nafsunya untuk merasa benar dan menang sendiri. Kita menghormati pendapat dan paham orang lain. Masing-masing pihak mempunyai landasan hukumnya baik yang tertera di Kitab Al Quran maupun Hadits Nabi. Kita hendaknya berpedoman pada “bagimu amalmu, bagiku amalku”.

    Reply to this comment
  30. musthofa
    musthofa March 22, 20:51

    kalau aq sich gk mempermasalakan. toh itu hak tiap2 orang. yang penting waktu aq ngaji dulu, bahwa tahlil itu bkn bid’ah ya tak lakoni. trsrh orang mo blg apa. yang aq anggap bnr ya udah. toh aq jg gk prnh jelek2in org yang gk mo tahlil kok. Walana a’maluna walana a’malukum.

    sepertinya nasehat hasan al banna ada benernya juga, “Jangan banyak berdebat dalam hal apapun, karena bersikap hipokrit tidak akan pernah mendatangkan kebaikan”

    buat yang gk setuju, ya aq anggap itu sebagai rahmat karena perbedaan itu adalah rahmat. kita sama ingin beribadah kepada Allah SWT, tp mgkn caranya yang berbeda2.

    Reply to this comment
  31. rofiqoh al-aswaja
    rofiqoh al-aswaja April 07, 19:27

    masalah tahlilan adalah masalah khilafiyah tak perlu di perdebatkan,mas mas sing rumongso wong nahdliyyin,sing sabar wae yo menerima orang ber hujjah semacam itu.Barangkali mereka masih berlapis hijjab,bagi orang2 yang masih ragu tentang dalil syar’i ttg tahlilan temuilah kyai kyai atau ulama’ yang benar2 ahli kitab dan atau nahwu shorof atau nahwu wadlih….Janganlah anda belajar kpd ulama’ “cassing”
    atau ulama’ yang ahli dalam kitab “KITAB TERJEMAH DALAM BAHASA INDONESIA” kui mengko malah ora karu2an,sampean bingung….wayahe biso dzikir marang Alloh,malih jok2ke ning omah wae koyo wong mendo…….!!!!!!!!!!!
    Aku pingin weruh hadits2 yang mengHARAMkan tahlilan ?????
    Paling paling yo : kullu bid’atun dolalatun
    Atau kalau enggak :’jika ada yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada urusannya sama sekali dengan kami,maka amaln tsb tertolak’
    WASPADALAH WAHAI SAUDARA SAUDARAKU,ANTEK WAHABIYAH SEDANG MENJAMUR DITENGAH TENGAH KITA,SEIRING DG MENINGGALNYA PARA KYAI.TUJUAN MEREKA HANYALAH SATU,MENGGALANG MASSA SEBANYAK MUNGKIN DENGAN BERHUJJAH YANG MACAM MACAM.KUATKAN HATI DENGAN BANYAK SHOLAT,DZIKIR DAN MENGAJI KEPADA GURU YANG BENAR.BRAVO NU.BRAVO ASWAJA…UNTIL END OFF THE DAY NU WILL NEVER DIE.

    Reply to this comment
  32. rofiqoh al-aswaja
    rofiqoh al-aswaja April 07, 19:31

    Mbah rifa’i kuwi sopo toooooo ??????Aku jik asing mendengar nama kui,aku ra kenal !!!!!!!!

    Reply to this comment
  33. JAYA
    JAYA April 13, 08:38

    jago kandang

    Reply to this comment
  34. JAYA
    JAYA April 13, 09:53

    ayo tunjukkan nyalimu ajo ubatubet . yang perlu aktifitas umat .mana pendidikan SD,SMP SMA PT kok pada loyo . yang jelas sekarang perlu otak kreatif . kita tahu Syeh A Rifai sudah membuat sekolah walau dengan bambu .kok muridnya membuat sekolah dengan bambu saja tidak bisa saling jegal. NU Tahlilan . Manakiban . Rifaiyah syarat-syaratan Muhamadiyah keberadaban dengan sekolah, rumahsakit Ekonomi umat.
    Dari suber orang tua tahlilan ada setelah belajar ke NU pulang membawa amalan baru di lingkungan rifaiyah. Jangankan Tahlilan, yang jelas sunah seperti tarowih saja haram kalau ada qodlo mubadarah,demikian pula haji lunga mekah . lan harom moco quran tanpo ilmu , Apa yang tahlil sudah tidak punya qodlo mubadarah .bagaimana tahlilan dimasyarakat komplek campur aduk la wong cino pindah toko be tahlilan .Demikian juga yang telah membaca tafsir ibnu katsir .kitab an nawawi dll yang mengatakan tidak sampainya pahala bacaan al quran padahal itu madzhab syafii tulen. Coba Duwite Warisane sing bener diwaris syukur kanggo sekolahan ,rumasakit men ajo podo nganggur . Nek dietung kegiatan orang terbanyak ngurusi mati. padahal mati wis ora usah diurusi, sing urip sing diurusi. Rifaiyah sing ora sekolah, ora mondok mlarat.Ngurusi mati . ano kontrak moco Quran .Duwit.Ngajeake pacetan , mangan yen dietung dikumpulake biso kanggo gawe sekolahan , rumah sakit . barnge katok . generasine dadi apik maso ora entuk pahala malah akeh.

    Reply to this comment
    • em.yazid
      em.yazid April 13, 10:11

      @JAYA,
      ditunggu ideidenya,saya rasa sumber yg anda sebutkan itu layak dipaparkan dengan jelasn disini, biar bisa dibuat tambahan wawasan.
      keto’e kang jaya ini semangate pol-polan, tapi kaya’nya kurang jalan2 dech….karena beliau belum tahu kalau sudah banyak sekolah2 rifaiyah baik MI,MTS ataupun Aliyah.

      masalah tahlilan yg campur aduk itu tidak bisa buat mengharamkan tahlilannya, apa kalau haji dalam keadaan masih punya qodho mubadaroh terus Haji itu haram? tidakkan? yang haram itu penggaweane ( perilakunya) karena masih punya kewajiban yg mendesak.
      silahkan yang lainnya melanjutkan. saya lagi terkesima dengan kang jaya……….. salam kang jaya !

      Reply to this comment
  35. JAYA
    JAYA April 13, 10:15

    ajo diplintir wahabi, salafi sing sadar bae .coba baca kitab Imam Syatibi i’tishom , muwafaqot, ibnu katsir ,hadits yang mu’tabar imam nawawi ,sejarah Syeh A.Rifai di Mekah dan Mesir . ojo melu-melu NU . Syeh sudah berhasil sesuai jamannya . sekarang marilah umat agar beradab,dan sejahtera berkebudayaan

    Reply to this comment
  36. rifai
    rifai April 13, 19:23

    wahh..seneng aku liat generasi Rifaiyyah yg penuh semangat kayak mas Jaya..ditunggu kiprahnya mas…klo mau bahas tahlilan saya rasa sudah selesai…yg penting sekarang seperti kata njenengan…ayo bangun rifaiyyah dg kerja nyata…

    Reply to this comment
  37. hus
    hus June 05, 01:18

    bedanya antara NU dan WAHABI :
    1. NU pake peci WAHABI ga pake peci
    2. NU pake sarung WAHABI pake celana nanggung
    3. NU mengikuti zaman, maslahah mursalah, istihsan WAHABI cuma pake hadist.
    4. NU ga pernah nyalahin orang WAHABI nyalahin orang melulu.
    5. NU tawadlu dengan ilmunya WAHABI sombong dengan ilmu pengennya ngacak-ngacak terus apa yang sudah ulama NU gariskan
    6. NU menganggap WAHABI adalah orang yang pantas dibimbing. WAHABI menganggap NU kurang islamnya jadi harus di ISLAMKAN lagi

    Reply to this comment
    • Muhammad nursidin
      Muhammad nursidin October 06, 10:04

      بسم الله الرحمن الرحيم

      Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur’an dan mengutus Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penjelas dan pembimbing untuk memahami Al Qur’an tersebut sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia. Semoga Allah subhanahu wata’ala mencurahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa menerima kebenaran hakiki.

      Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan disertai do’a-do’a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah “Tahlilan”.

      Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.

      Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif, tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Namun pada dasarnya menu hidangan “lebih dari sekedarnya” cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan, memang demikianlah kenyataannya.

      Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan, hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: “wajib”) untuk dikerjakan dan sebaliknya, bid’ah (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan.

      Para pembaca, pembahasan kajian kali ini bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka yang suka tahlilan, namun sebagai nasehat untuk kita bersama agar berpikir lebih jernih dan dewasa bahwa kita (umat Islam) memiliki pedoman baku yang telah diyakini keabsahannya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.

      Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman (artinya):
      “Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59)

      Historis Upacara Tahlilan

      Para pembaca, kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?

      Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.

      Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.

      Tahlilan dalam Kaca Mata Islam
      Acara tahlilan –paling tidak– terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:

      Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur’an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do’a-do’a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.
      Kedua: Penyajian hidangan makanan.
      Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam.
      Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.

      1. Bacaan Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.
      Memang benar Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarakan?

      Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
      “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

      Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

      مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

      “Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)

      Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

      Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)

      Para pembaca, ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):

      “Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)

      Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

      Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

      Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)

      Lebih ditegaskan lagi dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

      مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

      “Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)

      Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi:

      فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ

      “Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”

      Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’i:

      مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

      “Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.

      Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi’i tentang hukum bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
      “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya”. (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).

      2. Penyajian hidangan makanan.
      Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)

      Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi’i dalam masalah ini. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi’i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi’i. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248): “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)

      Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi’i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi’i diatas didalam kitabnya Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: “Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid’ah –pent).

      Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi’i?

      Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:

      اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ

      “Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)

      Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu ‘a’lam.

      Reply to this comment
    • Muhammad nursidin
      Muhammad nursidin October 09, 12:10

      Nu yang sering nyalahin orang rifa’iyah kayaknya, yang menuduh orang rifa’iyah mati jadi celeng juga orang NU, yang benci terhadap rukun islam satunya orang Rifa’iyah juga orang NU, yang membuat keputusan surat larangan mengamalkan kitab Riayatal Himmat no 012 di kejaksaan tinggi demak juga orang Nu.yang membakar kitab Rifa’iyah di kabupaten Purworejo juga orang Nu. Ramah banget ya!

      Reply to this comment
      • hasyim
        hasyim October 09, 12:21

        malah kagak nyambung dengan pembahasan. koq malah mengobarkan kebencian to mas? masalh yg sampeyan utarakan itu seandainya pernah ada itu kan “OKNUM” jangan mengeneralisir Ormasnya dong. piss dech …….

        Reply to this comment
        • Muhammad nursidin
          Muhammad nursidin October 11, 20:44

          Ma’af ya saya hnya nanggapi dari mas Hus says yang katanya Wahabi hanya nyalahin orang dan sangat sombong adapun NU sangat tawaddu’ dan ndak pernah nyalahin orang, itu oknum atau apa namanya ya saya ndak tahu. Baru baru ini ada berita santer di daerah kalimantan mengatasnamakan warga nahdloh menganggap mrtad orang yang berpedoman rukun islam satu, itu aku juga ndak tahu oknum atau apa ya! trimakasih.

          Reply to this comment
      • Benere kang di Luru
        Benere kang di Luru October 11, 00:17

        Stop..Stop Kekerasan!! atau apapun yang menumbuhkan benih Perpecahan.Sobat.. Bukankah perbeda’an itu adalah rahmat?! atau sampai kapan Umat Islam akan makin terpuruk? bukankah Telah jelas Rasulullah mengatakan Muslim satu dengan yang lainya adalah daudara?!sampai kapan kita hanya bisa mencari pembenaran sepihak demi menyalahkan pihak lain? saya kira baik NU,WAHABI,Rifa’iyah,Salafy,Muhammadiyah atau apapun namanya , semua meyakini bahwa yang di anut adalah suatu kebenaran.kembali ke masalah Tahlil, bagi pihak yang beranggapan bahwa Tahlil itu perlu,silahkan.bagi pihak yang menghukumi Haram alangkah bijaksana jika tidak menyalahkan pihak lain, bagi pihak yang masih ragu2 Da’ maa yuriibuka ila maa laa yuriibuka.dengan demikian akan tercipta kerukunan antar sesama muslim.hingga Islam menjadi kokoh laksana Bangunan. Khoirukum Anfa’ukum Linnas.jelas musuh kita bersama adalah Zionis Yahudi..silahkan cari musuh kesana,karna tak ada yang mengangkat kita sebagai POLISI Allah disini.

        Reply to this comment
  38. juni
    juni June 05, 01:31

    untuk masalah TAHLIL ..masalah ini dah selesai ..hasilnya seperti ini :

    1. cari letak keharamannya.. kemudian hindari
    2. cari letak maslahatnya … kemudian kerjakan..
    3. GODOGlah sehingga menjadi sebuah rangkaian ibadah yang apik yang dapat dikerjakan dari pihak PRO dan KONTRA

    Reply to this comment
    • Muhammad nursidin
      Muhammad nursidin October 06, 09:51

      Mengamalkan yang jelas di syariatkan saja belum tentu selesai seumur hidup kok malah berusaha mengamalkan yang masih sengketa ( iktilaf ) sepekulasi dalam iobadah kan malah ndak karuan. Menurut saya sih ayo kita lakukan yang jelas -jelas sudah di syariatkan. ayo ramekan sholat jama’ah ramekan kan tholabulilmi ramekan silaturrohmi dan lain-lain.

      Reply to this comment
  39. juni
    juni June 05, 23:52

    untuk elbih jelasnya mengenai tahlilan ini silakan kunjungi blog temen saya…http://salafytobat.wordpress.com/2008/07/31/dalil-tentang-tahlilan-riwayat-thawus-al-yamani-tabiin/

    Reply to this comment
  40. Rifai Ahmad
    Rifai Ahmad June 07, 12:28

    mas Juni..itu kan sudah kami bahas di atas…bahwa pendapat Thowus bin kaisan al yamani itu ada di kitab al hawi lil fatawi jilid 2…silahkan cek lagi diatas pada diskusi kami…matur nuwun

    Reply to this comment
  41. hanan
    hanan July 08, 11:23

    Tahlil itu sunnah tapi tahlilan bid’ah. sudahlah jangan membahas tahlilan. sekraang bahas pemerintah yang menggunakan hukum thoghut sekarang.

    Reply to this comment
  42. Muhammad nursidin
    Muhammad nursidin October 11, 20:56

    Berkumpul di Rumah Si Mayit untuk Makan, Minum, dan Baca Al Qur’an
    Januari 6, 2009 pukul 1:00 pm | Ditulis dalam Hukum Islam | 5 Komentar
    Tag: Selamatan Kematian, tahlilan, Yasinan

    Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz
    Diterjemahkan oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST

    rumah2Seorang ulama besar Saudi Arabia dan pernah menjabat sebagai Ketua Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhuts wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanyakan:

    Di beberapa negeri, jika seseorang meninggal dunia, maka akan berkumpul di rumah si mayit (orang yang meninggal) tadi selama tiga hari, lalu mereka menunaikan shalat (lima waktu) di situ dan mereka mendoakan mayit tersebut. Apa hukum dari perbuatan semacam ini?

    Jawaban:
    Ketahuilah bahwa berkumpul-kumpul di rumah si mayit untuk makan, minum, atau membaca Al Qur’an termasuk perkara yang diada-adakan yang tercela (baca: bid’ah). Begitu pula mengerjakan shalat lima waktu di rumah (bagi kaum pria) tidak diperbolehkan, bahkan seharusnya para pria menunaikan shalat lima waktu di masjid secara berjama’ah.
    Seharusnya yang dilakukan adalah melakukan ta’ziyah di rumah si mayit dan mendoakan mereka serta memberikan kasih sayang kepada mereka yang ditinggalkan si mayit.
    [Ta’ziyah adalah memberi nasehat kepada keluarga si mayit untuk bersabar dalam musibah dan berusaha menghibur mereka, pen]
    Adapun berkumpul-kumpul untuk menambah kesedihan (dikenal dengan istilah ma’tam) dengan membaca bacaan-bacaan tertentu (seperti membaca surat yasin ataupun bacaan tahlil), atau membaca do’a-do’a tertentu atau selainnya, ini termasuk bid’ah.

    Seandainya perkara ini termasuk kebaikan, tentu para sahabat (salafush sholeh) akan mendahului kita untuk melakukan hal semacam ini.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah melakukan hal ini. Dulu di antara salaf yaitu Ja’far bin Abi Tholib, Abdullah bin Rowahah, Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhum, mereka semua terbunuh di medan perang. Kemudian berita mengenai kematian mereka sampai ke telinga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari wahyu. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian mereka pada para sahabat, para sahabat pun mendoakan mereka, namun mereka sama sekali tidak melakukan ma’tam (berkumpul-kumpul dalam rangka kesedihan dengan membaca Al Qur’an atau wirid tertentu).
    Begitu pula para sahabat dahulu tidak pernah melakukan hal semacam ini. Ketika Abu Bakr meninggal dunia, para sahabat sama sekali tidak melakukan ma’tam. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 13/211)

    Reply to this comment
  43. Sastrawan
    Sastrawan October 12, 09:04

    Kang Ustadz Nursidin yg terhormat….masalah itu kan udah di bahas panjang lebar oleh kang main dan kang Rifai di atas dan saya rasa kalo njenengan berfikiran jernih pasti bisa menyimpulkan…..saya tau anda pengagum Bin Baz dan kawan2nya, tapi anda juga tdk dapat menutup mata donk dari pendapat Ibnu taymiyyah, Ibnu Qoyyim,An Nawawi dsb….apa anda mau maksain pendapat anda dengan copy paste fatwa Ben Baz tersebut…???. saya setuju dg gaya diskusi kang main dan kang rifai yang mencoba menggali dalil langsung dari sumbernya dan terlepas dari taashub….silahkan dibaca lagi komentar2 sebelumnya kang ustadz…..

    Reply to this comment
  44. Aku Bocah bagus
    Aku Bocah bagus October 13, 09:16

    Insya Alloh saya tidak berangkat dari gemar menggemar, semoga tulisan saya ini ikhlas tidak ada tendensi apa2.
    Mari kita simak dan perhatikan perkataan Ulama’ ahlul Ilmi mengenai masalah tahlilan dan selamatan kematian ini:
    1. Perkataan Al Imam Asy Syafi’I, yakni seorang imamnya para ulama’, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela sunnah dan yang khususnya di Indonesia ini banyak yang mengaku bermadzhab beliau, telah berkata dalam kitabnya Al Um (I/318) :
    ” Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan .”
    ini yang biasa terjadi dan Imam Syafi’I menerangkan menurut kebiasaan yaitu akan memperbaharui kesedihan. Ini tidak berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak ! Perkataan Imam Syafi’I diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah. Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita’wil atau di Tafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa : ” beliau dengan tegas Mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”
    2. Perkataan Al Imam Ibnu Qudamah, dikitabnya Al Mughni ( Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

    ” Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah ( kesusahan ) diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah. Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya, ” Apakah mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !”
    3. Perkataan Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, dikitabnya : Fathurrabbani Tartib Musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) : ” Telah sepakat imam yang empat ( Abu Hanifah, Malik, Syafi’I dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya ( yakni berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit ) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram. Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alas an ta’ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini. Telah berkata An Nawawi rahimahullah, ‘Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alas an untuk Ta’ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi’I dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya ( perbuatan tersebut ).’ Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : Dibenci duduk-duduk ( ditempat ahli mayit ) dengan alas an untuk Ta’ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats ( hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”
    4. Perkataan Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang Bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy Syaamil dan ulama lainnya dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih.
    5. Perkataan Al Imam Asy Syairazi, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab : ” Tidak disukai /dibenci duduk-duduk ( ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.
    6. Perkataan Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, dikitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah ” Bid’ah yang jelek “. Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang beliau katakana shahih.
    7. Perkataan Al Imam Ibnul Qayyim, dikitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul ( dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi SAW.
    8. Perkataan Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut menyalahi sunnah.
    9. Perkataan Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab :
    ” Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” (Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139)
    10. Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain.” (Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal. 93 ).
    11. Perkataan Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi’I ( I/79), ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

    Reply to this comment
    • redhi
      redhi October 13, 14:02

      ah.. itu sih bukan dalil pengHaraman Tahlil..tapi himbauan untuk tidak lebih membebani keluarga mayyit.

      Reply to this comment
  45. Aku Bocah bagus
    Aku Bocah bagus October 13, 09:23

    Saudaraku saya tidak mau memaksa siapapun untuk mengikuti pendapat dan mengikuti madzhab bahkan daam beragama pun tidak ada paksaan,saya hanya menayampekan yang saya tahu sipa tahu ada yang membaca dan bermanfaat. Mari kita simak Hadits Shahih berikutini yang membahas tentang berkumpulnya seseorang di rumah ahli mayyit :
    Dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii, ” Kami ( yakni para Shahabat semuanya ) memandang/menganggap ( yakni menurut madzhab kami para Shahabat ) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”
    Sanad Hadits ini shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqat ( dapat dipercaya ) atas syarat Bukhari dan Muslim, bahkan telah di shahihkan oleh jama’ah para ulama’ Mari kita perhatikan ijma’/kesepakatan tentang hadits tersebut diatas sebagai berikut:
    1. Mereka ijma’ atas keshahihan hadits tersebut dan tidak ada seorang pun ulama’ ( sepanjang yang diketahui penulis-Wallahua’lam ) yang mendhaifkan hadits tersebut.
    2. Mereka ijma’ dalam menerima hadits atau atsar dari ijma’ para shahabat yang diterangkan oleh Jarir bin Abdullah. Yakni tidak ada seorang pun ulama’ yang menolak atsar ini.
    3. Mereka ijma’ dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas. Mereka dari zaman shahabat sampai zaman kita sekarang ini senantiasa melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma’kan oleh para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita kenal di negeri kita ini dengan nama ” Tahlillan atau Selamatan Kematian “.

    Reply to this comment
    • paijo
      paijo October 13, 12:42

      Oke kalo itu di rumah si mayyit, nha kalo tahlilan dlm acara2 yng lain misal acara walimah pye boz bagusa??

      Reply to this comment
  46. abdulloh
    abdulloh October 13, 20:26

    Ketahuilah umat ini tidak mungkin bisa keluar dari
    berbagai musibah yang menimpa , kecuali dengan kembali kepada sumber kejayaan
    dan kemuliaan . yaitu kembali pada Al-qur’an dan assunnah sesuai pemahaman
    ulam’ salaf dalam aqidah , manhaj dan tunduk kepada sabda Nabi Shollallohu
    Alai Wasallam :

    Reply to this comment
  47. abdulloh
    abdulloh October 21, 22:40

    Barang siapa yang meniti jalan untuk tholabul ‘Ilmi maka akan di mudahkan jalan menuju surga ( al-Hadits )

    Reply to this comment
  48. Hendrix
    Hendrix October 22, 00:01

    Nudah-nudahan dialok kita ini bermanfaat,Amien

    Reply to this comment
  49. Hendrix
    Hendrix October 22, 00:06

    sama saja,mas tidak ada bedanya di tempa orang mati atau orag walimah.

    Reply to this comment
    • upin
      upin October 22, 14:32

      letak kesama’anya dimana mr hendrix?? Qiyas macam apa yang di pakai???ah mengada ada saja.. jika hendak memakai dalil hadist yang di uraikan ” bocah bagus” diatas, saya kira terlalu cepat memvonis deh. coba lihat dulu asbabul wurudnya. toh kalo berkumpul dirumah mayyit dan menyiapkanya hidangan oleh keluarga mayat yang dihukumi ” bagian dari meratap ” yang haram. kenapa main pukul bahwa tahlil haram??..terlalu memaksakan dalil saya kira.

      Reply to this comment
  50. abidun
    abidun October 22, 09:05

    wah, masih panjang ya diskusinya :)

    Reply to this comment
  51. Abulfikri
    Abulfikri October 22, 22:40

    wah maksudnya kok jadi puter2 gemana tu? Tahlilan itu munculnya adalah kirim do’a orang mati yang biasa dilakukan di tempat orang yang meninggal, ters aku mau nanya maksud tahlilan itu ibadah atau naluri ( budaya ) karena kalau ibadah justru harus mendatangkan dalil, sebagai mana yang di sepakati para ulama’ setiap ibadah itu harom kecuali ada dalil yang memerintahkan, dan masalah ini sudah jelas medianaya saja dilarang ,trs ibadahnya ndak ada dalilnya kan ? ya udah sebetulnya ndak masalah serampangan atau tidak tapi semua harus berpangku pada dasar qo’idah yang telah mapan. okey

    Reply to this comment
  52. Hendrix
    Hendrix October 31, 12:14

    mas…upin..? yg ganteng tujuan tahlilan itu kan kirim doa orang yg sudah mati tohh,terus apa bedanya ditempa walimah sama di tempat kluwarga orang mati..? wongyo yg di bca dan pelaksanaanya jugasama terus bedanya di mana..?

    Reply to this comment
  53. Hendrix
    Hendrix October 31, 12:39

    udah…..? sekarang tidak usah bahas itu lagi dan tidak usah ngecam sana sini entah itu orang nu ,rifaii,salafi, muhadiyah yg penting apa yg di kerjakan ada tuntunanya dari ROSULLULLOH itn sudah cukup, kita tidakusah fanatik sama kelompok malah nanti repot sendiri lohhh..?

    Reply to this comment
    • upin
      upin November 01, 16:58

      kalo memang yang di permasalahkan soal tidak boleh mendoakan orang yang meninggal,bukankah ada juga ulama’ yang memperbolehkanya?! sebetulnya yang fanatik itu anda ato siapa?!!!!!!.. . tahlil,tahmid,dzikir,silaturrahmi,takziyah. kalo bukan tuntunan namanya apa?????…

      Reply to this comment
  54. abdulloh Abul Fikri AssamarQondi
    abdulloh Abul Fikri AssamarQondi November 01, 14:56

    Alhamdulillah… kalalu teman2 sudah faham….matursuwon.

    Reply to this comment
    • Aviv
      Aviv January 01, 20:18

      wah diskusinya panjang sekali, sy hany mau ikut sdkit komentar aja…! Ketahuilah kebenaran dulu, maka kamu akan tau siapa orangnya, tapi syaratnya harus iklas dan singkirkan hawa nafsu dan kedepankan obyektivitas, karena dalam hati yang paling dalam sebenarnya tau siapa yang benar, diatas semuanya sudah jelas kesimpulannya, tp hanya saja untukk mengakuinya kadang kita tutupi dengan bebagai alasan yang kita buat sendiri.

      Reply to this comment
  55. ABUL fIKRI Assamarqondi
    ABUL fIKRI Assamarqondi January 10, 07:34

    Bicara denganorang yang ndak mudeng memang susah ko, mosok tidak bisa bedakan antara membaca tahlil, tahmid dan silaturrhmi dengan ritual tahlilan yasinan dan selametan yang di dalamnya di bumbui dengan bacaan – bacaan di atas. Saya kira orang yang cerdas akan faham ndak usah pakai logika puter2. dan terserah semua si mau milih apa dan mau berbicara apa ndak ada yang melarang , masuk agama islam saja ndak ada paksaan.

    Reply to this comment
    • admin@Tanbihun
      admin@Tanbihun Author January 11, 21:00

      pak nur,makanya mendingan translite kitab2 Syaikhina ke bahasa Indonesia, ini lebih bermanfaat.daripada berdebat tentang hal yang ga akan selesai2 diperdebatkan. apa ga capek? apa kata dunia?

      Reply to this comment
    • upin
      upin January 13, 17:16

      masalahnya bukan mudeng gak mudeng bos,.. ente kira amalan yasinan,tahlilan,manaqib,dll ntu ada dengan sendirinya???, njiplak darimanakah warga Rifa’iyah/nahdliyin dapet amalan ntuh?!ngarang sendiri2kah?!ato dari Guru2 mereka?!..
      mungkinkah Ulama’ sekelas Annawawi,Syaih Kholil,KH hasym asy’ari, syaiH Ahmad Rifa’i dan sejumlah ulama’ lain tak mampu berbuat banyak so’al “Bid’ah/haram” seperti yang ente fatwakan?!…mungkinkah Para Ulama’ sekelas beliau2 tak sanggup menyampaikan kebenaran seperti yang ente mangsut?!.

      Reply to this comment
  56. Dewandaru
    Dewandaru January 12, 09:36

    @Abu Fikri……ente mustinya dalami agama dg benar, hingga isi otak ente ngga cuman berisi tabdi’, takfir dan macem2 terhadap sodara ente yg muslim juga. Kirim pahala buat mayyit kan udah diuraikan diatas, oleh kang ustadz abidun dan mas rifai. kalo ente rujukannya cuman fatwa2 ben baz, utsaimin dan albani saja tanpa melihat kajian ulama lain, maka ente akan jadi katak dalam tempurung. apakah didunia ini yg paling bener cuma kelompok ente …???

    Reply to this comment
  57. daman
    daman January 12, 12:50

    demen nih ane…. ketahuan watak aslinya ya.
    kalau gak ada isu yg kontrofersial, komentar gak rame….
    ayo admin up load tulisan yg agak nylenih dikit, biar ihkwan2 pada bermunculan kemabli. ane tuh suka baca komentar, kadang isinya mah kagak dibaca…. hahahaha….
    siapa ngangkata isu ” wiridan berjamaah bakdo sholat dengan angawaruhi” yg menjadi pakem wiridane wong tarjumah, pasti banyak komentar deh….
    matur nuwun

    Reply to this comment
  58. ciung
    ciung January 14, 09:03

    Seringkali ada beberapa teman yang hoby nya suka menganggap orang lain “ora mudeng”, mereka menganggap yang mudeng hanya dirinya dan teman- temannya sendiri. Beda dengan para Ulama Mujtahid, walau kadang terjadi perdebatan diantara mereka, pernahkah mereka menganggap Ulama lain ora mudeng? Ingat perdebatan Imam Ahmad bin Hambal dengan gurunya yakni Imam Syafi’i tentang apakah kafir hukumnya Tarikus Sholah? Atau tentang masalah sampai tidaknya pahala bacaan Qur’an kepada si mayit? Mereka nggak pernah tuh saling menganggap lawan bicaranya ora mudeng?

    Reply to this comment
  59. abdul
    abdul February 27, 11:14

    Ini perkara yang sudah ada dari dulu kok pada diributkan disini, yang menulis blog jg orang2e belum faham betul akan islam, kemudian di hati orang2 yang menulis masih belum bisa membeaskn diri dari penyakit2 hati,maksiat pikiran, mulut dan penyangka buruk kepada orang. Mulai sekarang nafsi-nafsi saja jangan saling menuding, toh nanti di akherat akan ketahuan mana yang benar dan mana yang salah. kalo yakin pada sesuatu itu harus seyakin2nya jangan sampek goyah. sampek ainul yakin dan Haqqul yakin. jika sdh begitu telusuri hati perbuatan apa cocok dengan lisan.. jika sdh cocok dan akhlakul karimah berarti kamu benar. agama yang benar itu agama yang bisa membuat pemeluknya aman tentram dan orang2 disekitar jg tentram dan malah memanfaati bagi yang lain.

    Reply to this comment
  60. Dewi Sekar
    Dewi Sekar March 16, 22:25

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 DI SURABAYA
    TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”
    39 menit yang lalu · Suka
    Dewi Sekar Berbau Ancaman Berbohong Atas Nama Rasulullah dan cara menyampaikan hadits bila statusnya masih diragukan (shohih atau tidak)
    Diringkas dari Kitab Syarah Imam Muslim, karangan Imam Nawawi.

    Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Manshur, dari Rib’i bin Hirasy bahwa Ali radhiyallaahu `anhu berkata dalam khuthbahnya:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaini wa sallam bersabda, “Janganlah kalian berdusta dengan mengatasnarna-kan diriku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta dengan mengatasnamakan aku, maka dia akan masuk neraka.1 “

    (1). Hadits ini juga sesuai yang disebutkan Imam Bukhari (1/106) dari jalur Manshur, dari Rib’i bin Hirasy, dari Ali. Disebutkan juga oleh At-Tirmidzi (V/2660), An-Nasa’i pada pernbahasan tentang Ilmu dalam Sunan Al Kubra dan juga Ibnu Majah (1/31).

    Reply to this comment
  61. syahid Anshori
    syahid Anshori March 29, 08:19

    Menggaris bawahi Bunyi dari nadhomnya kira2 begini endi becike wong podo tahlilan # Rame2 dzikir kerono kadunyan..Bukan hanya tahlil, Ibadah dalam bentuk apapun yg mengharapkan dunia/kadunyan tidak akan ada baiknya

    Reply to this comment
  62. Anam Jaya
    Anam Jaya March 31, 14:07

    Ibnu Rajab al Hambali di dalam bukunya “Fadhlu Ilmu Salaf ‘Ala Ilmu Kholaf ” (Keutamaan Ilmu Ulama Dulu Atas Ilmu Ulama Kontemporer ) menulis : ‘’Beginilah, sesungguhnya orang-orang sekarang banyak tertipu, mereka mengira bahwa siapa yang banyak bicara dan berdebat serta berpolemik dalam masalah-masalah keagamaan, pasti lebih pandai dari pada yang tidak bisa seperti itu.
    Pendapat seperti ini hanyalah berasal dari kebodohan belaka. Lihatlah kepada para senior sahabat Nabi saw, seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Muadz, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit , ternyata perkataan ( riwayat ) mereka lebih sedikit dari perkataan (riwayat) Ibnu Abbas, akan tetapi walaupun begitu mereka lebih pandai darinya. Begitu juga para Tabi’in, perkataan (tulisan) mereka lebih banyak dari sahabat, tetapi para sahabat lebih pandai daripada mereka, begitu juga para Tabi’ut Tabi’in, mereka lebih banyak bicaranya dari Tabi’in, tapi para Tabi’in lebih pandai dari mereka.
    Karena keilmuan tidaklah diukur dengan banyaknya riwayat maupun tulisan, akan tetapi hakekat ilmu itu adalah cahaya yang tertancap dalam hati seseorang, sehingga dia bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan.’’

    Reply to this comment
  63. Angga
    Angga March 31, 14:14

    Perpecahan Paham Umat adalah Sunnatulloh

    Alloh SWT menjadikan kaum muslimin itu tidak hanya satu kelompok saja. Dalam Islam terdapat banyak kelompok dimana antara satu kelompok dengan kelompok yang lain saling bertentangan dan berbeda pendapat.
    Sebelum Islam suku Quraisy dipimpin oleh empat kelompok, yaitu Bani Hasyim, Bani Mutholib, Bani Naufal dan Bani Abdi Syamsin. Keempat kelompok ini terbagi menjadi dua kelompok. Pertama kelompok yang ingin mengembalikan Izzul ‘Arab melalui Islam yaitu dengan mempersiapkan kelahiran Nabi yang ditunggu-tunggu, mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Hal ini mereka ketahui melalui isyaroh Alloh SWT yang diterima oleh Abdul Mutholib (kakek baginda Nabi sendiri) berupa digalinya sumur zam-zam yang menjadi salah satu sumber kehidupan suku Quraisy dan penduduk Makkah pada umumnya, karena sumur zam-zam tidak akan digali kecuali pada zaman Nabi yang terakhir (Nabi Muhammad SAW). Adapun zam-zam yang ada pada masa Nabi Isma’il AS adalah mata air atau sendang (danau) bukan sumur. Sebagai rasa terima kasih, bangsa Arab ingin mengangkat Abdul Mutholib sebagai raja atau pemimpin sebagai penghormatan, tetapi beliau menolak dan mengatakan: “Jadikan saja aku sebagai Syaikhu Makkah, yang mana kalian tidak akan memutuskan suatu perkara apapun kecuali setelah kalian meminta pendapatku terlebih dahulu”.
    Maka dibangunlah Darun Nadwah yang mana orang Arab tidak akan memutuskan suatu masalah apapun kecuali di Darun Nadwah. Karena jasa besar Bani Hasyim dan Bani Mutholib kepada Abdul Mutholib inilah ketika Rasulullah SAW ditanya: “Wahai Rosululloh bagaimanakah kami membaca sholawat pada anda?”, maka beliau menjawab: “Katakan:

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد

    Yang dimaksud dengan kalimat (آل) pada hadist diatas adalah Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Tidak ada dalam satu ayat al-Qur’an ataupun hadist yang menyinggung tentang shalawat pada sahabat, hanya saja dalam al-Qur’an Alloh berfirman :

    وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

    Artinya : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar “. (QS. At-Taubah: 100)

    Jadi untuk Sahabat bukanlah dengan solawat tapi Istirdho’ yaitu ucapan رضي الله عنه. Ucapan ini juga diberikan para auliya’, karena dalam ayat diatas disebutkan (وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ).
    Kelompok kedua adalah kelompok yang ingin mengembalikan izzul ‘Arab melalui ‘Aribah (kesukuan Arab), yang mana hal ini bertentangan dengan Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Tapi anehnya orang yang merasakan bahwa Muhammad akan menjadi Nabi akhir zaman adalah Sayyidah Khodijah Al-Kubro RA murid dari Waroqoh bin Nauval. Dalam Taurat yang dipelajarinya dari Waroqoh bin Nauval ia meyakini bahwa Nabi akhir zaman itu harus pernah menginjakkan kaki di gunung Sinai, karena antara satu Nabi dan yang lain itu pasti ada kesinambungan sebagaimana itu tersiratkan pada permulaan surat At-Tin yang berbunyi:

    وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ، وَطُورِ سِينِينَ ، وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

    Artinya : “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman”. (QS. At-Tin: 1-3)

    Pada lafald (التِّين) Allah memberi isyarat pada Nabi Adam AS dan Nabi-Nabi setelahnya sampai Nabi Nuh AS, karena menurut pendapat yang mu’tamad, syajaroh yang mana Nabi Adam AS dilarang mendekatinya adalah syajaroh Tin. Sedang (وَالزَّيْتُونِ) memberi isyarat pada Nabi Nuh AS dan Nabi-Nabi setelahnya. Adapun ( وَطُورِ سِينِينَ ) yang berarti gunung Thur Sinai merupakan isyarat bagi Nabi Ibrahim AS sampai pada Nabi Muhammad SAW, yang juga diisyarahi dengan ( وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ) yaitu Makkah al-Mukarromah.
    Sayyidah Khodijah menunggu dan berharap-harap sampai ketika Nabi Muhammad berdagang untuknya ke Syam (Syiria). Ia pun semakin yakin bahwa Muhammadl adalah Nabi akhir zaman karena perjalanan menuju syam itu melewati gunung Sinai. Lalu ia pun melamar Rosululloh SAW.
    Ketika ia sudah menjadi istri Rosululloh ia masih menunggu. Tapi ketika umurnya mencapai 50 tahun dan umur Rosululloh mencapai 35 tahun Khodijah sering kelihatan termenung karena belum ada tanda-tanda beliau akan diangkat menjadi seorang Nabi. Hal ini diketahui oleh Rosululloh, lalu beliau bertanya kepada Khodijah: “Ada apa gerangan yang menjadikanmu kelihatan sering termenung wahai Khodijah? ”
    Khadijah menjawab: “Tidak ada apa-apa wahai Muhammad. Aku hanya berpikir bahwa umurku sudah 50 tahun, sedangkan engkau masih 35 tahun. Dan diluar sana masih banyak gadis-gadis cantik yang lebih menawan dariku”. Ia menutupi apa sebenarnya yang dipikirkan olehnya.
    Rosululloh SAW dengan tegas menjawab: “Tidak ada satupun diatas bumi ini dan dibawah langit yang aku cintai kecuali engkau wahai Khodijah”.
    Alloh SWT menetapkan bahwa ternyata orang yang yang dapat memahami ini semua adalah Sayyidah Khodijah yang merupakan murid dari Waroqoh, sedang Waroqoh adalah putra dari Naufal yang notabene bermusuhan dengan Bani Hasyim dan Bani Muthollib. Dari sini bisa kita ambil pelajaran bahwa ilmu itu lebih unggul dari pada sekedar cinta tanpa landasan ilmu, disamping juga memberikan pemahaman bagi kita bahwa semua yang terjadi didunia ini memang murni kehendak Alloh SWT. Karena kalau hal tersebut tidaklah murni kehendak- Nya, maka semestinya yang mengetahui hal tersebut adalah dari Bani Hasyim dan Muthollib, karena merekalah orang-orang yang mempersiapkan kelahiran Nabi yang ditunggu-tunggu.
    Dalam setiap masa yang dilalui oleh sebuah pemerintahan islam pasti ada hijau (Ahlus Sunnah) dan ada yang biru (selain Ahlus Sunnah). Pada jaman Rasulullah ada Abdulloh Bin Ubay, pemimpin kaum munafiq, yaitu orang-orang yang berusaha merongrong islam dari dalam. Rosululloh tidak pernah memusuhi mereka, bahkan ketika Sayyidina Umar ingin membunuhnya dan meminta ijin pada Rosululloh, beliau pun menjawab: “Bagaimana jika nanti orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabatnya sendiri?”
    Dalam setiap peperangan beliau selalu mengajak kaum munafiq, baik dalam perang Badar ataupun perang yang lain. Dan anehnya setiap peperangan yang diikuti oleh orang munafiq pasti Alloh memberi kemenangan seperti pada perang Badar. Dalam perang ini sebenarnya kaum muslimin tidak hanya berjumlah 313 orang, tapi lebih. Hanya saja tidak ditulis dalam sejarah kerena selebihnya adalah orang munafiq. Sebaliknya jika kaum munafiq tidak ikut dalam perang, seperti dalam perang Uhud maka kaum muslimin kalah, walaupun kekalahan tersebut juga karena kaum muslimin sendiri.

    Pada masa Khulafa’ ar-Rosyidun muncul golongan-golongan seperti Khawarij dan yang lain. Pada masa Bani Umayyah ada kelompok yang tidak senang dengan Ahlul Bait. Daulah Abbasiyyah sebagian pemimpinnya adalah kholifah yang berfaham Mu’tazilah.
    Para Salafuna As-Soleh tidak menghadapi perbedaan tersebut dengan kekerasan ataupun kebencian yang berlebihan sampai melebihi kebenciannya kepada orang Kafir. Sikap ini seharusnya juga kita praktekan pada masa sekarang. Kita sebagai orang muslim yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah harus tahu segala dan benar-benar meyakini bahwasanya kebaikan (al-khoir) dan kejelekan (as-syarr) itu dari Alloh, dalam arti setiap sesuatu pasti mempunyai dua sisi; kebaikan dan kejelekan. Tidak bisa kita katakan murni baik dan tidak ada jeleknya, begitu juga sebaliknya. Wallahu A’lam

    Reply to this comment
  64. kamal
    kamal April 09, 05:38

    belajarlah kepada rasulullah shollallahu alaihi wasallam, keempat anak beliau wafat dikala beliau masih hidup tp kita ga pernah dapatkan keterangan sepotongpun beliau dan sahabat sahabatnya tahlilan…siapa yang benar???!

    Reply to this comment
  65. iant
    iant April 18, 15:55

    bukan Tahlil pak yag haram .. definisi Tahlil sendiri tu apa sihh?? yang bilang haram tu dasarnya apa?? apa ada ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist yang menerangkan kalau itu haram? kalau ada mohon dicantumkan.. Trimakasih

    Reply to this comment
    • ihsan
      ihsan May 14, 19:49

      sebenarnya kagak usah bingung ikutin aja para Habaib alias keturunan nabi bagaimana caranya mereka beribadah ..cukup gitu aja kok repot..

      Reply to this comment
  66. Tutuk Joilendra
    Tutuk Joilendra May 30, 20:16

    Tidaklah usah merasa pandai atau paling benar dalam beribadah,sampai datang kiamat tak akan selesai masalah khilafiyah didiskusikan, kita telah diajarkan oleh Alloh kalau kita tidak sepaham dengan amalan seseorang ucapkanlah lana ‘a’maluna walakum a’malukum. Kecuali orang tersebut dalam beramal ada unsur syirik baru kita perlu diskusikan.

    Reply to this comment
  67. Fahrurraji Asmuni
    Fahrurraji Asmuni June 16, 14:21

    Usut supaya tuntas karena ini menyangkut masalah ummat.Beri penjelasan bagi mereka yang anti tahlil.Kalau membicarakan bid’ah,semua orang Indonesia bid’ah,yaitu bid’ah tempat,bid’ah berpakaian,bid’ah makanan,bid’ah pergaulan,bid’ah berbahasa,dan seratus bid’ah lainnya.

    Reply to this comment
  68. edi winoto
    edi winoto July 19, 14:54

    membaca tahlil adalah dzikir yang paling afdholtetapi tahlilan tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, shohabat, tabi’in dan abba’uttabiin , terjsadinya karena tradisi Hindu sebelum Islam datang di Nusantara,sekarang sebagai seorang muslim mana yang benar pilihan mengikuti Rosulllah yang tidak pernah tahlilan atau mengikuti orang Hindu yang memperingati 3,7,40 hari kematian ? Monggo dipenggalih

    Reply to this comment
  69. Bareph
    Bareph August 06, 01:02

    menurut saya kalau memang ada nadhom seperti itu (endi becike wong podo tahlilan # Rame2 dzikir kerono kadunyan) mungkin yg dimaksud bukan menghukumi tahlil itu haram. tapi mungkin yg dimaksud adalah: jika tahlil yg dilakukan semata2 diniatkan untuk mencari harta dunia, maka mereka itu tidak mendapatkan kebaikan akherat.

    Reply to this comment
  70. malik abdullah
    malik abdullah August 09, 21:04

    Berzikir dengan kalimat2 toyyibah: tahlil, tahmid, takbir, tasbih, etc. dianjurkan sebanyak-banyaknya (zikran katsiira). Yang tidak termaktub dalam Quran dan tak diteladankan Nabi saw adalah berpaket-paket ala tahlilan dengan media a, b, c, dst dan dengan bilangan sekian2. Taat dan patuh pada Allah dan rasul-Nya, dengan koridor Quran akan memperjelas kepada muslim, mana yang benar2 perintah dan mana yang dikarang-karang manusia. Nabi saw adalah uswatun hasanah bagi muslim. Jangan sampai muslim ikut2an meniru ajaran nonmuslim yang memang sudah out of date (Lihat dan simak QS 3: 31 dan 32). Semoga maklum.

    Reply to this comment
    • hamba Allah
      hamba Allah September 20, 21:31

      KEBENARAN ITU HANYA MILIK ALLAH, KALIAN YANG YAKIN KE TAHLIL SILAHKAN, YANG TIDAK Y SILAHKAN. TOH SEMUA PUNYA HADIST YANG DUKUNG HAL TERSEBUT.JALANKAN SAJA PERINTAH ALLAH DENGAN BENAR, SHALAT WAJIB DAN SUNNAH, MEMBACA ALQURAN. BUKANKAH SEMUA TAHU, UMAT ISLAM AKAN TERBAGI MENJADI 73 GOL. YANG 72 NERAKA N 1 SURGA.
      Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu tentang perpecahan ummat, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
      وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ فِي رِوَايَةٍ : مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
      “Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”.
      (HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)

      Reply to this comment
  71. abu nabil
    abu nabil September 29, 21:07

    ass. wr. wb.
    maaaf para ajengan, kyai semua,,,
    untuk membahas masalah khilafiyah memang tidak akan habisnya, yg harus kita lakukan adalah faham tentang Islam itu sendiri, bukan berarti bahwa maslah ubudiyh itu diabaikan, hanya saja bagimana jika pemikiran kita – kita alihkan untuk menjaga aqidah ummat yg sedng diracuni pemahaman ideologi sesat seperti saat ini adalah kapitalisme sedang bercokol, nasionalisme sedang mengkotak-kotakkan ummat Islam menjadi bagian negara yg kecil dengan batas negara fiksi, dalih HAM yg salah sehingga atas dasar HAM sang keparat itu menghina ROSUL yg mulia,,tidakkah terfikir untuk bersatu hancurkan kapitalisme dan ganti dengan ideologi Islam?? bukan Islam yg harus menyesuaikan dgn jaman tapi jaman yg harus menyesuaikan dengan Islam!
    Para ajengan, kyai, sudah pada mafhum bahwa ummat ini akan jaya ketika memiliki institusi yg dipimpin oleh seorang amirul mukminin denga dasar Islam??
    “apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan mengkafiri sebagian yang lain??” (alqur’an)
    segala macam persoalan yg muncul, baik persoalan individu atau masyarakat sejatinya karena tidak diterapkannya hukum2 Alloh SWT secara kaffah!!
    Ummat sengaja dijebak dalam persoalan yg bersifat ikhtilaf (bkn berarti tdk penting) bertengkar mslh tahlil, qunut dll, tpi cuek saja ketika hukum Alloh SWT dicampakkan bahkan dianggap hukum yg negatif,,??
    Sesungguhnya sebutan Islam radikal, Islam teroris itu hanya didengungkan dari mulut busuk musuh Alloh SWT untuk memadamkan cahya ISlam, sesungguhnya bangsa dan penguasa arogan itu akan dihinakan (maaf seperti Ghadafi yg mati dengan cara hina)
    Para ajengan, kyai,,saatnya kita bangkit dari kotak-kotak buatan penjajah musuh Alloh SWT itu..mari kita bersatu,,
    tidak ada satu maslahpun yg tidak bisa diselesaikan dg Islam,,
    Hukum Islam sudah jelas, uqubat, jinayat dll,,
    Musuh Alloh swt sengaja membuat suasana kisruh yg berkepanjangan slh satunya dg menghembuskan mslh ihkitilaf itu sehingga kita lengah dengan serangan ideologi dan tsaqofah asing,,

    syukron, alfaqir

    Reply to this comment
    • Noer Moehammad
      Noer Moehammad October 03, 06:06

      Kata Gusdur ; “gitu aja koq repot”.. Pernyataan ini spertinya sangatlah populis untuk para pendebat. ingat gk kita firman Allah; “Amalmu untukmu dan Amalku bagiku” jadi ngapain repot2 ngurusi orang yg sdh punya pegangan masing2 toh yang nerima amal kita kan bukan sampeyan jadi gitu aja koq repot. Awassss…!!!! Jgn kita sibuk ngurusi amal orang tapi amal kita sendiri belum jelas apakh berterima disisi Allah atau tidaak… Come on akhi wa ukhti bercepatlah untuk MUHASABAH DIRI, ojo kedumen. Wassalam.

      Reply to this comment
  72. Selamet
    Selamet November 12, 22:27

    Alhamdulillah, banyak yang pinter. Jadi bisa ikut ngaji.

    Reply to this comment