Karena Diampuni, Ia Bertobat | Media Dakwah Rifaiyah

Karena Diampuni, Ia Bertobat

Januari 27th 2010 | Posted by em.yazid

tobatOleh KH A Hasyim Muzadi

Syahdan, seseorang mendatangi majelis pengajian Rabi’ah Al-Adawiyah. Kepada salah seorang wanita sufi terbesar dalam Islam itu, ia membuat testimoni seputar kehidupannya. Ia akui betapa sudah terlalu jauh meninggalkan Allah SWT dan sudah tak terhitung lagi dosa yang dia perbuat, baik dosa-dosa kabaair (dosa-dosa besar) maupun dosa soghooir (dosa-dosa kecil). Maka, dia mencoba mengukur ragam-ragam kesalahannya.

Di ujung kelelahan pengembaraannya itu, ia merasakan bukannya kesadaran positif yang muncul, melainkan malah merasa semakin jauh dari ketidaktaatan kepada Allah SWT. Lalu, dia bertanya, apakah kalau pada akhirnya ia bertobat Allah SWT akan mengampuninya. ”Tidak!” jawab Rabi’ah. Ia tercekat. Serasa palu godam menerjang dadanya. ”Tetapi, apabila Dia mengampunimu, engkau akan bertobat,” ujar Rabi’ah.

Jawaban Rabi’ah ini sungguh membuat nurani siapa saja akan bergetar. Jawaban itu merombak seluruh sendi kesadaran kita tentang pertobatan dan pengampunan. Selama ini, kita selalu menutup pintu bagi pemaknaan tunggal atas pertobatan dan pengampunan. Biasanya, kita beranggapan bahwa kalau kita bertobat atas dosa-dosa, lalu Allah SWT akan serta-merta mengampuni kita.

Padahal, menurut perspektif Rabi’ah, seseorang memerlukan kualifikasi tertentu untuk bisa melakukan pertobatan sehingga memperoleh pengampunan. Dalam pandangan Rabi’ah, pertobatan datang setelah turunnya pengampunan dan bukan sebaliknya. Jadi, kalau Allah SWT telah mengampuni kita, demikian konstatasi Rabi’ah, kita akan dianugerahkan kesempatan untuk menyampaikan pengakuan akan dosa dalam bentuk pertobatan.

Maknanya pula, pertobatan yang tulus baru akan muncul setelah kita mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Karena itu pulalah, dunia eskatologi Islam nyaris pada satu kata tentang maqam tobat. Tobat berada pada maqam paling awal bagi mereka yang ingin pulang kembali kepada Tuhannya. Kalau maqam ini didapat, seseorang bertobat bukan lagi atas dosa yang dilakukan, melainkan atas kelalaian dan kealpaan yang membuat pengabdiannya kepada Allah SWT terganggu.

InnalLaaha yuhibbut tawwaabinna wa yuhibul mutathohhirin. ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS al-Baqarah [2]:222].

At-Taa-ib minadz dzanbi kaman la dzanba lahuu. ”Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.” (HR Ibnu Hibban). Begitulah seharusnya kita menikmati pertobatan sebagai sebuah jalan pulang terbaik bagi kita kepada Allah SWT./republikaonline

Artikel Terkait

Sisi Lain Dari Dosa dan Maksiat

Tidak sepatutnya bagi seorang hamba hanya melihat lahiriyyah perwujudan dari keta'aan atau maksiat, sebaliknya lihatlah isi atau hakikatnya. Karena wujudnya ta'at bukan berarti pertanda diterimanya amal ibadah atau keta'atan itu sendiri, karena dalam ta'at ada bahaya yang mengancam bisa berupa riya atau ujub. Begitu juga dengan maksiat, tidak [...]

Katanya Zuhud, Koq Mobilnya Banyak?

Pagi itu Kyai Makmun seperti biasanya memberikan kuliah pagi kepada santri-santrinya, pagi ini sampailah pada bab pembahasan tentang zuhud " Begitulah anak-anakku, zuhud adalah berpalingnya hati dari semua yang bersifat duniawiyah, baik itu halal apalagi yang syubhat dan haram " semua santrinya mendengarkan penjelasan kyai makmun dengan [...]

Dialog Dengan Akal

Jika engkau melihat setiap bunga mawar segar yang menjadi mutiara taman ini, maka itulah sekuntum kumbang jika engkau memetiknya, maka itulah duri pandanglah lilin dari kejauhan, jangan mendekat, sebab, meski kelihatan seperti cahaya, sesungguhnya ia adalah api. ( Baha'uddin Amuli ) Berikut adalah dialog antara 'Umar [...]

Nasehat Syaikh ar-Ra’is Abu ‘Ali ibn Sina kepadaku

Ketahuilah! من وجد العِرفان كأنه لا يجده بل يجد المعروف به فقد خاض لُجَّة الوصول. Barangsiapa telah menemukan kearifan, ia terlihat seperti tidak pernah menemukannya, kendati yang ia temukan tampak sebagai sesuatu yang nyata. Yang demikian, karena ia tenggelam dalam lautan pertemuan [...]

One Response to “Karena Diampuni, Ia Bertobat”

commenter

Taubat adalah pokok pangkal segala kebaikan.

[Balas]

Leave a Reply:

Name (required):
Mail (will not be published) (required):
Website:
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA

Jangan Lupa Jawab Ini:

Copyright @ 2010 Media Dakwah Rifaiyah | Tegakkan | Syariat | Tharikat | Hakikat | Hubungi Kami | fbkcl twt