Setiap Kita Berpotensi Menjadi Waliyullah | Media Dakwah Rifaiyah

Setiap Kita Berpotensi Menjadi Waliyullah

Desember 1st 2009 | Posted by em.yazid

sunanbunangsunandrajatSebagai awalan, sering saya tadabbur setelah membaca kisah para salafusholih
“bagaimana caranya seorang hamba bisa  setaqwa itu pada Robb-Nya?”.
Menilik kembali pada Ushuliddin bahwa tingkatan waliyulloh terbagi menjadi tiga bagian
berupa waliyulloh awam, waliyulloh khowas dan waliyulloh khowasul khowas sebenarnya kita
tergolong  derajat yang mana? pertama,kedua, atau yang ketiga?. Bagaimana mungkin seorang hamba
mengharapkan naiknya kedudukan disisi Tuhan-Nya sementara ia sendiri tidak tahu ia berada ditingkat
derajat yang mana? Banyak dari kita yang haus akan pemahaman seperti ini, bahkan tak jarang saking
banyaknya pemahaman- pemahaman yang masuk menjadi sebuah kefatalan dalam pemikiran.

Seperti kata penyair “cengkurai tak kan tampak ketika bias keraguan dari kejahilan tiada aturan”, sama halnya
ketika kita asik bercumbu dengan dzikir dan doa kita memohon derajat yang setinggi-tingginya tapi
ketika cahaya doa itu mulai nampak lagi-lagi  ketidak tahuanlah yang menghilangkan, ‘ketidak tahuan’
inilah yang sulit dipelajari melalui teori. karena ‘ketidak tahuan’ disini hanya bisa dipelajari oleh
hati. Sebagaimana firman Alloh ” Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila
Rosul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (605). Ketahuilah bahwa sesungguhnya
Alloh membatasi antara manusia dan hatinya (606). Dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan
(Q.S 8:24).

Kita ingat kembali kisah Ibnu Hajar teori ilmiah mana yang bisa menjelaskan mengapa beliau
mendapat derajat semulia itu? sedang Imam Ghozali mendapat kemuliaan disisi Alloh melalui sebab
menyelamatkan seekor lalat yang jatuh ketinta saat beliau menulis. Kalau hanya beresepsi pada
titik poin kisah beliau tanpa memandang dari tiga unsur ilmu Ushuliddin, Fiqih, Tashawuf
kita hanya akan mendapat satu wacana “semua kan sudah Alloh yang ngatur” disinilah derajat
ke-khowasan di uji sebelum khowashul khowas didapat.

Sembari menyempurnakan ikhtiar, kita yang masih berkutat bahkan merasa bangga dengan keawaman, yang
lahir dari rasa ketidak mampuan untuk mencapai tingkatan khowas, sepatutnya kita tanya kembali
apakah seorang mukallaf yang sudah mempelajari Ushuliddin, Fiqih dan Tashawuf masih dikategorikan
pada tingkatan waliyulloh awam?

Oleh : Farid Imdad

Artikel Terkait

Sisi Lain Dari Dosa dan Maksiat

Tidak sepatutnya bagi seorang hamba hanya melihat lahiriyyah perwujudan dari keta'aan atau maksiat, sebaliknya lihatlah isi atau hakikatnya. Karena wujudnya ta'at bukan berarti pertanda diterimanya amal ibadah atau keta'atan itu sendiri, karena dalam ta'at ada bahaya yang mengancam bisa berupa riya atau ujub. Begitu juga dengan maksiat, tidak [...]

Katanya Zuhud, Koq Mobilnya Banyak?

Pagi itu Kyai Makmun seperti biasanya memberikan kuliah pagi kepada santri-santrinya, pagi ini sampailah pada bab pembahasan tentang zuhud " Begitulah anak-anakku, zuhud adalah berpalingnya hati dari semua yang bersifat duniawiyah, baik itu halal apalagi yang syubhat dan haram " semua santrinya mendengarkan penjelasan kyai makmun dengan [...]

Karena Diampuni, Ia Bertobat

Oleh KH A Hasyim Muzadi Syahdan, seseorang mendatangi majelis pengajian Rabi'ah Al-Adawiyah. Kepada salah seorang wanita sufi terbesar dalam Islam itu, ia membuat testimoni seputar kehidupannya. Ia akui betapa sudah terlalu jauh meninggalkan Allah SWT dan sudah tak terhitung lagi dosa yang dia perbuat, baik dosa-dosa kabaair (dosa-dosa [...]

Dialog Dengan Akal

Jika engkau melihat setiap bunga mawar segar yang menjadi mutiara taman ini, maka itulah sekuntum kumbang jika engkau memetiknya, maka itulah duri pandanglah lilin dari kejauhan, jangan mendekat, sebab, meski kelihatan seperti cahaya, sesungguhnya ia adalah api. ( Baha'uddin Amuli ) Berikut adalah dialog antara 'Umar [...]

Nasehat Syaikh ar-Ra’is Abu ‘Ali ibn Sina kepadaku

Ketahuilah! من وجد العِرفان كأنه لا يجده بل يجد المعروف به فقد خاض لُجَّة الوصول. Barangsiapa telah menemukan kearifan, ia terlihat seperti tidak pernah menemukannya, kendati yang ia temukan tampak sebagai sesuatu yang nyata. Yang demikian, karena ia tenggelam dalam lautan pertemuan [...]

Leave a Reply:

Name (required):
Mail (will not be published) (required):
Website:
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA

Jangan Lupa Jawab Ini:

Copyright @ 2010 Media Dakwah Rifaiyah | Tegakkan | Syariat | Tharikat | Hakikat | Hubungi Kami | fbkcl twt