Definisi Hasud Dan Penjelasannya

Tanbihun.com- Secara bahasa hasud adalah iri dengki, adapun secara istilah yaitu mengharapkan hilangnya kenikmatan yang dimiliki orang lain; baik dalam ilmu, harta benda ataupun ibadah, serta hal-hal lain yang membawa kebahagiaan pada orang yang tersebut.

Kata hasud berasal dari bahasa Arab, yaitu: Hasada-Yahsudu-Hasadan, yang artinya iri hati atau dengki. Sifat ini sangat berbahaya, dan bisa menyerang kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun tanpa pandang bulu, ras ataupun agama.

Rasulullah SAW bersabda:

“Terdapat tiga perkara yang dapat merusak seseorang yaitu sifat bakhil yang dituruti, nafsu yang dituruti dan merasa bangga dengan dirinya sendiri”.

Tanpa disadari sifat hasud merupakan dampak dari kekikiran, suatu sifat yang ada dalam diri seseorang untuk tidak ingin berbagi dan menyalurkan  rezeki pemberian Allah yang dimiliki kepada sesamanya. Orang yang hasud adalah mereka yang tidak rela terhadap seseorang yang mendapatkan nikmat dari Allah SWT, baik berupa harta, ilmu, kekuasaan, ataupun pujian dan sanjungan. Oleh karena itu, ia selalu berharap kepada orang lain untuk tidak mendapatkanya, walaupun nikmat itu juga tidak jatuh kepada dirinya. Syeikh Ahmad Rifai dalam kitabnya Riayah Al-Himmah Juz 2 korasan 22, halaman 19, baris 9 menjelaskan:

يَتَمَنَّى زَوَالَ النِّعْمَةِ عَلَى الْمُسْلِمِ

Yang dinamakan hasud yaitu mengharapkan hilangnya kenikmatan pemberian Allah SWT kepada orang-orang (Islam) yang telah mendapatkan kenikmatan.

Akan tetapi beliau menguraikan lebih jauh, bahwa kadang diperbolehkan mengharapkan hilangnya kenikmatan seseorang atas pemberian Allah, karena segala anugerah yang telah ia dapatkan hanya untuk membantu perbuatan yang sia-sia, seperti sengaja membantu untuk digunakan ke arah maksiyat dan kezaliman, sebagaimana beliau mengutip ungakapan ulama[1]:

وَيَجُوْزُ أَنْ يَحِبَّ زَوَالِ النِّعْمَةِ مِمَّا يَسْتَعِيْنُ عَلَى الظُّلْمِ وَالْمَعْصِيَّةِ

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ:أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ

كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:” Ketahuilah bahwa hasud itu memakan pahala amal baik, sebagaimana api memakan kayu bakar”.

Betapa bahayanya apabila sifat ini melekat dalam diri kita. Orang yang senantiasa bersifat hasud maka ia akan selalu tersiksa baik di dunia ataupun di akhirat, didunia batinnya akan merana karena dirinya tidak rela nikmatnya jatuh kepada orang lain, sedangkan di akhirat ia akan mendapatkan siksaan yang pedih atas apa yang ia perbuat.

Ulama hadits banyak yang meriwayatkan mengenai kesempurnaan iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya (seagama) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, diantaranya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ :

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (مُسْنَدْ أَحْمَدْ)

Dalam redaksi lain dijelaskan:

أَخْبَرَنَا عَبْدُ الله إبْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

قَالَ هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ (رَوَاهُ التِّرْمِيْذِىْ)

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa untuk menghilangkan sifat hasud, digambarkan sebuah perumpamaan seperti bagian tubuh kita sendiri, dan hanya karena kemilau dunia akan mengotori hati, maka kita akan lupa dengan kebesaran-Nya

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi

 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ (رَوَاهُ التِّرْمِيْذِيُّ)

 

Maka dari itu, supaya kita terhindar dari bahaya sifat hasud ini, mari kita renungkan makna dari firman Allah dalam Surah Ar-Ruum ayat 38:

فَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ

وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 

Artinya:

“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan[2]. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.

Ulama ahli tafsir sepakat dalam menafsirkan ayat diatas, bahwa satu jalan untuk membiasakan diri dalam rangka menjauhkan diri dari sifat hasud adalah dengan berbagi kenikmatan kepada golongan orang-orang yang memiliki hak di dalamnya (mustadh’afin).

Inilah sedikit goresan ‘tiada’ makna, namun melalui tulisan ini, semoga Allah mampu memberikan hidayah kepada orang-orang yang Ia kehendaki, dan kita termasuk dalam golongan tersebut. Amin.

Shollallahu ‘Ala Muhammad Wa Aalihi

 

Ibnu Dahlan El-Madary

Sumedang, Pondok Pesantren Ulum Al-Qur’an Al-Musthofa,

13 Rabiul Awal 1433H/5 February 2012: 22:37


[1] Syeikh Ahmad Rifa’i, Riayah Akhir, Bab Tasawuf, juz 2, Korasan 22 halaman 20 baris 2

[2] Yang berhak menerima zakat Ialah: 1. orang fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam Keadaan kekurangan. 3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. pada jalan Allah (sabilillah): Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

2 Comments on Definisi Hasud Dan Penjelasannya

  1. Terima Kasih Atas Ilmunya…

  2. makasih infox sob’. :)

1 Trackbacks & Pingbacks

  1. Rasulullah adalah guru ideal (1) | Tanbihun Online

Leave a comment

Your email address will not be published.

*