Definisi Takabbur & Penjelasannya

Tanbihun- Secara bahasa, takabbur adalah: merasa paling mulia (serba bisa, paling hebat), adapun secara istilah yaitu menetapkan sesuatu pada dirinya terhadap segala sifat yang baik dan luhur karena memiliki harta yang banyak atau ilmu yang tinggi.[1] Dari pengertian diatas, takabbur dapat diartikan merasa atau menganggap diri besar dan tinggi yang disebabkan oleh adanya kebaikan atau kesempurnaan pada dirinya, baik berupa harta, ilmu atau yang lainnya.[2] Inti dari perbuatan takabbur dalam pengertian diatas adalah merasa sombong karena harta dan kepandaian yang dimiliki seseorang[3]. Kelebihan yang dimiliki seseorang (baik kekayaan atau ilmu) bisa menjadikan sombong sekiranya tidak dilandaskan kepada syariat, tetapi sebaliknya seandainya ia letakkan sebuah keyakinan itu merupakan satu kelebihan yang datangnya daripada Allah SWT, sesuai dengan syariat rasulullah seperti halnya orang yang menjadi imam dalam shalat atau seorang khatib yang membacakan khutbah sehingga menduduki posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang mengikutinya[4], maka ia bukan termasuk sifat takabbur. Malahan, seseorang akan mendapatkan pahala sekiranya ia takabbur karena faktor ketaatan dia (menghina kepada pelaku maksiyat), dengan memuliakan segala perintah syariat Allah melalui syariat rasulullah, seperti para ulama telah menegaskan:

كَمَا أَنَّ التَّسْلِيْمَ بِالْحَقِّ شَرْعِيَّةْ  وَالْإِسْتِكْبَارَ عَنِ الْبَاطِلِ إِيْمَانٌ لَهْ

“Takabbur adalah menolak kebenaran ilmu (agama Islam), dan menghina manusia yang tidak ada keburukannya”.

sebagaimana  ulama mengatakan:

وَالْكِبْرُ هُوَ بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْصُ النَّاسِ

Sombong atau takabbur, adalah sikap menolak kebenaran dan menghina manusia, akan menjadi tabir pemisah antara seorang hamba dengan surga di akhirat nanti.

Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya seorang laki-laki menginginkan pakaian dan sandal (selipar)-nya bagus.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah, Dia menyukai keindahan. Takabbur itu menolak kebenaran dan menghinakan manusia.” (HR. Muslim).

Takabbur, seperti yang diungkapkan Imam Ghazali, merupakan penghalang antara seorang hamba dengan berbagai akhlak mulia selama di dunia. Dalam kitabnya Ihya’ ulum al-Diin, beliau telah membagi takabbur kepada tiga bagian:

  1. Jika kesombongan itu terhadap Allah, yaitu tidak tunduk kepada perintah-Nya, maka itulah kemusyrikan yang sempurna.
  2. Jika kesombongan itu kepada para utusan, yaitu tidak tunduk kepada orang seperti mereka, maka itu juga kemusyrikan yang sempurna.
  3. Jika kesombongan kepada orang lain agar mereka tunduk dan menghormati. Ini juga menentang kebesaran Allah, sebab tidak seorang pun selain Allah yang layak ditaati.

Ketiga bagian ini sama seperti yang dijelaskan oleh Syeikh Ahmad Rifa’i dalam kitabnya Ri’ayah al-Himmah bahwasanya perbuatan ini merupakan penyakit hati yang bisa mengakibatkan dosa besar, termasuk diantaranya menghina kepada orang-orang shaleh atau kepada orang-orang yang dijadikan sebagai suri tauladan (istilah sekarang orang alim adil[5]), seperti yang telah diterangkan oleh para ulama:

وَالْكِبَرُ عَلىَ الصَّالِحِيْنَ وَاَئِمَّةِ الدِّيْنِ حَرَامٌ مَّعْدُوْدٌ مِنَ الْكَبَائِرِ وَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ الذُّنُوْبِ الْقَلْبِيَّةِ

 Bahkan ia bisa tergolong menjadi kafir sekiranya dia (dengan takabbur) sampai menghina agama Allah SWT, Ulama menjelaskan:

وَأَنَّ التَّسْلِيْمَ بِالْبَاطِلِ السَّيِّئَةْ   وَالْإِسْتِكْبَارَ عَنِ الْحَقِّ كُفْرٌ لَهْ

Dalam makna generiknya, kata takabbur semakna dengan ta’azhzum, yakni menampak-nampakkan keagungan dan kebesarannya, merasa agung dan besar, adalah lawan kata daripada tawaddu’ atau rendah hati. Para ulama mengategorikannya sebagai salah satu jenis penyakit hati. Banyak manusia yang telah menjadi mangsa penyakit hati ini. Allah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 146:

سَأَصْرِفُ عَنْ آَيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ

 “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku”.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كاَنَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

 “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya memendam sebiji sawi dari sifat sombong”. (HR.Muslim)

Penyakit hati umumnya dipicu oleh kesalahan persepsi tentang keberadaan dirinya. Bahwa dirinya memiliki keunggulan yang melekat dalam asal kejadiannya atau dalam etnisitasnya. Iblis menjadi sombong karena merasa asal usul kejadiannya dari bahan yang mulia, yaitu api. Berbeda dengan manusia yang bahannya dari lumpur yang hina, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah[6]:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia(Adam) Engkau ciptakan dari tanah”.

Orang yahudi juga menjadi sombong karena dirinya secara etnis memiliki keunggulan. “Kami adalah bangsa pilihan Tuhan”. Kesalahan persepsi dasar tentang dirinya itu kemudian melahirkan sejumlah sikap yang salah pula yang menyebabkan skala kesombongan semakin meluas. Antara lain menimbulkan kekacauan dalam penilaian dan tolak ukur kemuliaan manusia seperti pandangan kemuliaan seseorang terletak pada harta kekayaan yang dimilikinya, meskipun dia itu ahli maksiat.

Dalam surah Saba’ ayat 35-37, Allah berfirman:

وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (35)

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (36)

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آَمِنُونَ (37)

 “Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (dari pada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diadzab. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang di kehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi (dalam surga)”.

Ketika kesombongan semakin mengkristal pada diri seseorang, maka takabbur merasa lebih tinggi dari hamba-hamba Allah yang lain, dan akan semakin membumbung tinggi. Ia akan sampai pada tahap merasa dirinya paling suci. Allah menyindir orang-orang seperti ini dalam firmannya[7]:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Janganlah kamu sekalian mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”.

Penafsiran ayat diatas, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Athaillah As-Sakandary dalam kitabnya Al-Hikam, orang-orang yang merasa dirinya suci (tawadhu’) dan menganggap bahwa hanya dirinya sendiri yang tidak takabbur, maka sebenarnya ia adalah (bukti) seorang yang benar-benar takabbur:

فَمَتَى أَثْبَتَ لِنَفْسِكَ تَوَاضُعًا  فَأَنْتَ الْمُتَكَبِّرُ حَقًّا تَرَفُّعًا

Sifat tawadhu’, sebagai lawan kata dari takabbur merupakan sifat yang hadir dalam diri seseorang yang selalu memandang segala sesuatu (kelebihan harta dan ilmu) itu merupakan satu anugerah Allah, selalu menjunjung tinggi terhadap apa yang telah Allah ciptakan melalui segala penyempurnaan ciptaan-Nya, dan apapun selain daripada keluhuran dan kesempurnaan-Nya adalah bersifat kurang, seperti ulama menjelaskan:

اَلتَّوَاضُعُ الْحَقِيْقِيُّ هُوَ مَاكَانَ نَاشِيًا عَنْ شُهُوْدِ عَظَمَتِهِ

وَتَجَلَّى صِفَتَهُ بِأَنْ يَرَى كَمَالِ الْحَقِّ وَأَنَّ كُلَّ مَا سِوَاهُ نَاقِصٌ

Orang-orang yang tawadhu’ selalu menilai kelebihan yang ada dalam dirinya merupakan pemberian Allah, walaupun kadang secara lahirnya (melalui perbuatan) orang memandang ada sifat takabbur dalam dirinya, padahal hatinya tetap berpegang teguh bahwa apa yang ia miliki semuanya adalah sebuah pencapaian yang Allah telah berikan padanya karena ianya merupakan satu keistimewaan baginya, hal yang demikian tidaklah tergolong takabbur seperti uraian ulama[8]:

وَمَتَى لَمْ تَرَ لِنَفْسِكَ قَدْرًا بِوَجْهٍ فَأَنْتَ الْمُتَوَاضِعُ

وَإِنْ كَانَ ظَاهِرُ حَالِكَ فِى أَقْصَى دَرَجَاتِ التَّكَبُّرِ

Sufyan al-Tsauri[9], pernah mengatakan:

كل معصية عن شهوة فانه يرجى غفرانـها، و كل معصية عن الكبر فانه لا يرجى غفرانـها

لأن معصية ابليس كان اصلها من الكبر فيما زلة آدم كان اصلها من الشهوة

Peluang untuk mendapatkan ampunan (maghfirah) bagi kemaksiatan yang dipicu syahwat sangat besar, sedangkan harapan untuk memperoleh ampunan-Nya bagi kemaksiatan yang bersumber dari kesombongan, sangat kecil. Sesungguhnya kemaksiatan Iblis berakar pada kesombongan sedangkan ketergelinciran Adam bersumber dari syahwat”.

Takabbur ada tanda-tandanya seperti penyakit lain yang ada simptomnya, seperti:

  1. Memandang kecil usaha atau kemampuan orang lain. Orang yang takabbur hanya menganggap dirinya saja yang hebat dan betul, orang lain semuanya salah.

  2. Sibuk mencari kesalahan orang lain sehingga lupa akan kekurangan dirinya. Baginya tujuannya itu adalah murni dan berdiri atas nama kebenaran.

Jiwa yang tidak subur dengan iman dan zikir memang akan seperti ini. Karena tidak mungkin lidah yang basah dengan zikir dan munajat, ada waktu untuk menyingkap kesalahan saudaranya yang lain. Kita lupa dengan bunyi hadith:

“Barangsiapa yang menutup keaiban seorang Muslim di dunia, Allah akan menutup keaibannya di Dunia dan Akhirat”.

Secara ringkas, dapat dihimpunkan perkara-perkara yang menyebabkan sifat takabbur, seperti:
1. Ilmu

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

 “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, iaitu orang-orang yang beriman.” (Surah al-Syu‘ara: 215).

Selain itu, kewajiban mereka yang berilmu itu beramal dengan ilmunya. Jadi akan menjadi sebuah lelucon sekiranya mereka yang berilmu itu bersifat buruk dengan sikap takabburnya. Karena ia mengetahui, rasul SAW pernah bersabda:

Bahwasanya yang terlebih sangat tersiksa manusia pada hari kiamat, yaitu mereka orang-orang ‘alim yang tiada memberi manfaat daripada ilmunya (tidak mengamalkan ilmunya)”. (HR Tabrani dan Baihaqi).

2. Amal Ibadat

Ada di kalangan ahli ibadah memiliki sifat takabbur disebabkan banyaknya amal ibadah yang dilakukannya. Mereka ini merasa sebaik-baik manusia yang paling layak mendapat rahmat dari Allah. Mereka tidak dapat memanfaatkan amal ibadah yang dilakukan untuk menempa sifat-sifat mulia dan menjauhi sifat takabbur. Ada juga diantara mereka yang apabila sudah terlalu takjub dengan amal ibadahnya, mereka merasa bahwa manusia lain yang kurang amal ibadahnya akan binasa, padahal rasulullah SAW telah bersabda: “Jika kamu mendengar seorang mengatakan semua orang binasa, maka dialah yang lebih binasa.”

3. Nasab Keturunan

Ada sebagian manusia bersifat takabbur disebabkan oleh nasab keturunannya. Dia bermegah-megah dengan kemuliaan keturunannya dan memandang rendah orang lain yang tidak mempunyai nasab keturunan sepertinya. Mereka merasa keturunannya terdiri daripada salihin, ‘amilin, hartawan, bangsawan dan sebagainya. Dari Abu Dzar r.a. katanya:“Pada suatu hari aku bercakap-cakap dengan seorang, kataku: “Wahai anak si hitam.” Rasulullah SAW segera menegur, sabdanya: “Wahai Abu Dzar! Tidak ada kelebihannya bagi anak si putih ke atas anak si hitam. ”Mendengar teguran itu, Abu Dzar pun segera membaringkan badannya seraya berkata kepada orang yang dikatakan anak si hitam, “Bangunlah dan pijak mukaku ini.” (HR. Ibn Mubarak dan Ahmad).

4. Paras Rupa Dan Kehebatan Fisikal

Kecantikan dan kehebatan rupa paras serta kehebatan fizikalnya menjadikan seseorang sombong, sehingga timbul dalam dirinya rasa takjub dengan keindahan wajah dan kehebatan rupa paras dan fisiknya. Padahal rasul SAW telah mengingatkan:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلىَ صُوَرِكُمْ وَلاَ أَجْسَامِكُمْ , وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلىَ قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan perawakanmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan tingkah lakumu”. (Hadith riwayat Ahmad, Muslim dan Ibn Majah).

5. Harta Kekayaan

Sifat ini biasa dimiliki oleh para pembesar dan saudagar kaya. Mereka memandang rendah kepada golongan fakir miskin, serta menganggapnya bahwa mereka adalah orang-orang bodoh yang malas berusaha. Dari Ibn ‘Abbas r.a. dari Nabi SAW,bersabda: “Aku melihat ke dalam syurga, maka kulihat sebagian besar penghuninya adalah orang-orang fakir. Aku melihat ke dalam neraka, maka kulihat sebahagian besar penghuninya adalah orang-orang kaya dan perempuan.” (HR. Imam Ahmad).

Allah berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ

 وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Dan hendaklah kamu beribadah kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa dan kaum kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan jiran tetangga yang dekat dan jiran tetangga yang jauh dan rakan sejawat dan orang musafir yang terlantar dan juga hamba yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong takabbur dan membanga-banggakan diri”.

Selain itu, dalam surah Luqman ayat 7:

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آَيَاتُنَا الْقُرْأنُ وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, berpalinglah dia dengan angkuhnya, seolah-olah ada penyumbat pada kedua telinganya, maka gembirakanlah dia[10] dengan balasan azab yang tidak terperi sakitnya.

Cukuplah segala firman-firman Allah, hadith rasululullah dan perkataan ulama diatas menjadi sebaik-baik peringatan untuk kita resapi dan amalkan. Amin.

Shollallahu ‘Ala Muhammad Wa Aalihi

Ibnu Dahlan El-Madary

Kuala Lumpur, 17 Dzulqa’dah 1432H/15 October


[1] Syeikh Ahmad Rifa’I, Riayah Akhir, Bab Ilmu Tasawuf, Korasan 22, halaman 11, baris 8-11, bisa juga dilihat dalam karangan beliau lainnya dalam kitab Abyan al-Hawaaij, Juz VI, halaman 14

[2] Shodiq Abdullah, Islam Tarjumah: Komunitas, Doktrin dan tradisi, RaSAIL: Semarang, Desember 2006, halaman 139

[3] DR. Abdul Djamil, Perlawanan Kiai Desa: Pemikiran dan Gerakan Islam KH.Ahmad Rifa’I Kalisalak, LKiS: Yogyakarta, Januari 2001, halaman 154

[4] Ri’ayah Akhir  dan Asn al-Miqashad, beliau menjelaskan mengenai hal ini dalam topiknya tentang ilmu tasawuf

[5] Istilah Alim Adil adalah mereka para khalifah Allah (ulama) yang memiliki sifat-sifat terpuji dan bebas daripada sifat-sifat tercela.

[6] Surah Al-A’raf ayat 12

[7] Surah An-Najm ayat 32

[8] Syeikh Ahmad Rifa’I, Riayah Akhir, Bab Ilmu Tasawuf, Korasan 22, halaman 17, baris 10-11.

[9] Sufyan al-Tsauri (97-161 H). Nama lengkapnya adalah Sufyan bin Said bin Masruq al-Tsauri. Ia dijuluki Amirul Mu`minin dalam bidang hadith. Beliau lahir dan dibesarkan di Kufah. Pada zaman al-Manshur pernah ditawari untuk menjadi Qadhi namun beliau menolaknya. Beberapa kitab karangan beliau yang masyhur yaitu: Al-Jami’ al-Kabir, Al-Jami’ al-Shaghir, Al-Fara`idh. Imam Ibnu Al-Jauzi pernah menulis satu kitab mengenai riwayat hidupnya beliau.

[10] Gembira disini hanya untuk mengejek-ejeknya

About admin
Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com
BACA JUGA!close