TANBIHUN ONLINE

Perkembangan Filsafat Pasca Al-Ghazali

 Breaking News
  • Kisah Kang Santri (True Story Bag.2) TANBIHUN.COM- Setahun berselang aku pulang ke rumah. Kisahnya berawal ketika aku menelpon salah satu saudaraku di Jakarta, lalu saudaraku itu memberikan nomer telponku kepada ayahku Allohu yarhamuh. Girang luar biasa...
  • Tetaplah Semangat Dalam Segala Kondisi TANBIHUN.COM- Kenapa Aku selalu merasa sedih? Kamu tidak sedih, hanya kurang semangat.dan itu bisa mencair lagi seiring dengan pikiranmu yang lebih positif. Tapi Aku belum bisa mencapai hal yang aku...
  • Masihkah Kau Meratap Didinding facebook? TANBIHUN.COM- Mark Zuckerberg, seorang anak muda Yahudi ingin membawa tradisi Yahudi dengan Tembok Ratapan nya ke ranah dunia maya dengan menciptakan Facebook. Disana setiap orang bisa meratap dan mengungkapkan uneg-unegnya,...
  • Kisah Kang Santri (True Story. Bag. 1) TANBIHUN.COM- Jakarta terlalu bising dan memekakkan telinga untuk kelas orang kampong udik sepertiku. Aku yang biasa nyaman dengan suara cicit burung pipit dan sorak burung gagak, merasa pening dan mual...
  • The Power Of Love (The Story of Mamo Zain) TANBIHUN.COM- Mamo, pemuda malang sebagai pekerja di satu istana. Allah mengujinya dg mencintai putri istana, Zain. Cinta itu tumbuh bersemi di dalam hati kedua pemuda pemudi itu. Sudah bisa ditebak,...
May 13
04:33 2011
A. Pendahuluan

Filsafat adalah Illmu pengetahuan yang mempersoalkan hakikat dari segala ‎yang ada. Kata filsafat atau falsafat dalam bahasa Arab berasal dari bahasa ‎Yunani philosophia yang secara harfiah berarti cinta kepada pengetahuan atau ‎cinta kepada kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada pengetahuan atau ‎kebijaksanaan disebut philosophos atau dalam bahasa Arab failosuf (filsuf). ‎Pencinta pengetahuan atau kebijaksanaan adalah orang yang menjadikan ‎pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau orang mengabdikan ‎hidupnya kepada pengetahuan. Istilah philosophia dan philosophos pertama kali ‎digunakan oleh phythagoras (582-507 SM), tetapi istilah ini menjadi populer dan ‎lazim dipakai pada masa Sokrates (469-399 SM) dan Plato (427-347 SM).‎ ‎  ‎Sedangkan Filsafat menurut  Prof.Dr. HM. Amin Abdullah adalah methodology ‎berfikir, yaitu berfikir kritis-analisis dan sistematis. Filsafat lebih mencerminkan ‎proses berpikir dan bukan sekedar produk pemikiran.‎

Pemikiran filosofis masuk ke dalam Islam melalui falsafat Yunani yang ‎dijumpai ahli-ahli fikir Islam di Suria, Mesopotamia, Persia dan Mesir. ‎Kebudayaan dan falsafat Yunani datang ke daerah-daerah itu dengan ekspansi ‎Alexander Yang Agung ke Timur di abad ke-empat sebelum Kristus. Politik ‎Alexander untuk menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia meninggalkan bekas ‎besar di daerah-daerah yang pernah dikuasainya dan kemudian timbullah pusat-‎pusat kebudayaan Yunani di Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antioch di Suria, ‎Jundisyapur di Mesopotamia dan Bacra di Persia.‎
Al-Qur’an secara tegas telah memberi kemungkinan bagi pemikiran filosfis ‎‎. Di dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menyuruh manusia untuk ‎menggunakan daya nalarnya dengan menjadikan alam semesta sebagai obyek ‎pikirannya. Ayat-ayat Al-Qur’an itu, disamping mendorong timbulnya ilmu ‎pengetahuan yang amat berguna buat kemakmuran hidup manusia juga ‎merangsang munculnya pemikiran filosofis dalam Islam. ‎

B. Al-Ghazali Sebagai Filsuf

Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali terkenal dengan nama Al-Ghazali ‎adalah merupakan ulama’  yang hebat pada zaman itu dan termasuk salah satu ‎imam madzhab .Syafi’i. Beliau dilahirkan di Thus salah satu kota di Khurosan ‎pada tahun 450 H/1058 M, dan belajar berbagai ilmu di tempat kelahirannya, ‎kemudian  mencari ilmu ke Neisabur,  dan sejak kecil pada diri beliau sudah ‎terlihat tanda-tanda kecerdasan dan  kehebatan yang luar biasa. Dia menguasai ‎ilmu kalam (theologi) dan menekuni ilmu filsafat, inilah yang menjadi sebab al-‎Ghazali dipercaya Perdana Mentri Nidzom al Mulk  untuk mengurus sepenuhnya ‎Madrasah Nidzomiyah yang dibangun di Baghdad. Ketika beliau berumur 33 ‎tahun sudah menduduki tempat yang terhormat diantara ulama, masa itu. Dalam ‎dunia filsafat beliau dijuluki Khujjatul Islam dan Zainuddin.‎

Al-Ghazali menjadi guru besar di Madrasah Nidzomiyah  selama empat ‎tahun dan di waktu itulah ia mengarang buku Maqasid Al Falasifah (pemikiran ‎Kaum Filosof) yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin dengan judul Logic et ‎Philosophia Al gazelis Arabis di tahun 1145 M, oleh Dominicus Gundissalinus. ‎Bukunya yang termashur tentang falsafat Tahafut Al-Falasifah (Kekacauan ‎Pemikiran Filosof-filosof) juga dikarang di periode ini. ‎
Dalam mempelajari filsafat, al-Ghazali menemukan argument-argumen ‎filosofis yang dipandangnya menyalahi ajaran Islam. Karena itu, ia menyerang ‎kaum filsuf yang diungkapkannya dalam bukunya Maqasid al-Falasifah, .

Lalu ‎untuk memperjelas kritiknya terhadap filsuf itu, ia menulis buku Tahafut al-‎Falasifah. Dalam buku itu al-Ghazali mengkritik 10 pendapat filsuf yang ‎mengatakan bahwa :‎

  1. ‎Tuhan tidak mempunyai sifat.‎
  2. ‎Tuhan mempunyai subtansi sederhana (basit) dan tidak mempunyai ‎hakikat (mahiyah)‎
  3. ‎Tuhan tidak mempunyai perincian (juz’iyah)‎
  4. ‎Tuhan tidak dapat diberi sifat jenis (aljins/genus) dan al-fasl (spesies)‎
  5. ‎Planet-planet adalah bintang yang bergerak dengan kemauan
  6. ‎Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iyah (rincian).‎
  7. ‎Hukum alam tidak berubah.‎
  8. ‎Pembangkitan jasmani tidak ada.‎
  9. ‎Alam ini tidak bermula.‎
  10. ‎Alam ini kekal.‎

Bahkan al-Ghazali berpendapat bahwa tiga diantara 10 pendapat filsuf di atas, ‎yaitu alam kekal (tidak bermula), tuhan tidak mengetahui rincian-rincian dan ‎pembangkitan jasmani tidak ada, dapat membawa kepada kekufuran.

C. Pengaruh Filsafat Al-Ghazali

Akibat serangan Al-Ghazali terhadap pemikiran filsafat sebelumnya, meski ‎tidak sepenuhnya tepat dan benar, respon masyarakat muslim terhadap filsafat ‎menjadi berkurang, sehingga menyebabkan kelesuan berfikir dan berijtihad di ‎kalangan umat Islam. Sejak pertengahan abad ke 12 M, hampir semua khazanah ‎intelektual Islam justru selalu menyerang dan memojokkan filsafat, baik sebagai ‎sebuah pendekatan, metodologi maupun disiplin keilmuan.‎
Meski demikian, kajian dan pemikiran filasafat, sesungguhnya tidak benar-‎benar hilang oleh serangan al-Ghazali, filsafat Islam tetap berkembang. Apa yang ‎dianggap sebagai kematian filsafat oleh sebagian orang hanya terjadi di kalangan ‎sunni, khususnya Asy’ariyah. Pada bagian lain di dunia Islam, filsafat justru ‎menemukan arah baru dan semakin membumbung tinggi. ‎

Mengenai serangan al-Ghazali terhadap filsafat, ada beberapa hal yang ‎patut dicermati, yaitu: ‎

  1. ‎Bahwa ia sesungguhnya hanya menyerang persoalan metafisik, khususnya ‎metafisika al-Farabi dan Ibnu Sina yang neo platonisme, tidak menyerang ‎pemikiran filsafat secara keseluruhan. Sebab, di bagian lain al Ghozali tetap ‎mengakui pentingnya logika atau epistemologi dalam pemahaman dan ‎penjabaran ajaran-ajaran agama. Bahkan dalam al-Mustashfa fi ulum al-fiqh, ‎sebuah kitab tentang kajian hukum, al-Ghazali menggunakan epistemologi ‎filsafat, yakni burhani untuk melendingkan doktrin dan gagasannya.‎
  2. ‎Bahwa tuduhan al-Ghazali terhadap doktrin al-Farabi dan Ibn Sina adalah ‎tidak tepat. Dalam tulisannya, al-Ghazali menilai bahwa ajaran al-Farabi dan ‎Ibn Sina, juga para filosof lain yang senada, telah jatuh dalam kekufuran, ‎karena mengajarkan tentang keqadiman alam, kebangkitan ruhani dan ‎ketidaktahuan Tuhan terhadap hal-hal yang partikular (juziyat). Padahal, kedua ‎tokoh filosof muslim ini sebenarnya tidak menyatakan persis seperti yang ‎dituduhkan. Tentang keqadiman alam misalnya, apa yang dimaksudkan ‎dengan qadim adalah karena alam tidak muncul dalam waktu tertentu. Apa ‎yang disebut sebagai “waktu” atau “zaman” muncul bersamaan dengan alam. ‎Tidak ada istilah waktu atau zaman sebelum munculnya alam. Kebersamaan ‎alam dengan waktu, atau tidak didahuluinya alam oleh waktu tertentu inilah ‎yang dimaksud qadim oleh para filosof, dan keqadiman alam ini tetap tidak ‎sama dengan keqadiman Tuhan, karena Tuhan qadim bi dzatihi, qadim dengan ‎diriNya sendiri tanpa berhubungan dengan ruang dan waktu atau yang lain. ‎Dengan kata lain, keqadiman alam hanya berhubungan dengan waktu tetapi ia ‎hadits (temporal) dibanding keqadiman Tuhan. Di sini telah terjadi salah ‎faham atau perbedaan pengertian tentang istilah-istilah yang digunakan antara ‎al-Ghazali dengan para filosof (sebelumnya).‎
  3. Tentang penilaian al-Ghazali pada al-Farabi dan Ibn Sina dalam kaitannya ‎dengan Aristoteles. Dalam al-Munqid, al-Ghazali membagi filsafat Yunani ‎dalam tiga bagian; materialisme (dahriyun), natrualisme (thabiiyyun) dan ‎theisme (ilahiyyun). Kelompok materialisme adalah mereka yang mengingkari ‎Sang Pencipta (Tuhan) seraya menyatakan bahwa semesta wujud dengan ‎sendirinya. Golongan ini dianggap sebagai tidak beragama. Ini mungkin ‎ditunjukkan pada para filosof Yunani purba. Golongan naturalisme adalah ‎mereka yang meyakini kekuatan material dan bahwa apa yang telah mati tidak ‎akan kembali, sehingga tidak ada hari kebangkitan dan pembalasan. Ini ‎ditujukan pada tokoh seperti Demokritos dan para filosof  Ionia yang hanya ‎meyakini eksistensi material. Kelompok theisme adalah para filosof yang lebih ‎modern yang meyakini Sang Pencipta, seperti Socrates, Plato, Aristoteles dan ‎menurut al-Ghazali al-Farabi serta Ibn Sina sebagai pengikutnya.‎ ‎ ‎
  4. Dalam kitab “ Tarikh Falasifah Al Islam fil Masyriq wal Maghrib“ Muhammad ‎Luthfi mengemukakan: “Sesungguhnya sebagian ahli filsafat, seperti Ibnu ‎Rusyd tidaklah yakin kalau al-Ghazali serius dalam kritikannya, sesungguhnya ‎perbedaan antara dia  dan para filsafat hanyalah pada batas-batas tertentu, ‎sesungguhnya dia mencela mereka dalam ha-hal tertentu hanya untuk ‎memperkuat ahli sunnah. Musa bin Narbur menyebutkan: Sesungguhnya ‎setelah menulis kitab At Tahafut, al-Ghazali kemudian menulis risalah kecil ‎yang hanya diketahui oleh orang-orang dekat saja, yang berisi penolakan ‎kepada apa  yang dikemukakan mengenai kritikan kepada dasar-dasar filsafat. ‎

    Kitab tersebut adalah:‎   ‎رسالة وضعها أبو حامد بعد التّهافت ليكشف عن فكره للحكماء وفيها ‏مقاصد المقاصد واللبيب تكفية الإشارة.‏‎ “. ‎ Kitab ini berisi pembahasan yang sangat penting tetapi bahasanya sulit di ‎pahami oleh masyarakat umum, dimulai dengan membahas planet/tata surya ‎dan pergerakannya serta jiwanya, membahas penggerak pertama dan sifat-‎sifatnya kemudian membahas tentang jiwa, dan di situ tidak ada bahasan yang ‎menghina filsafat seperti pada kitab At-Tahafut. Dia mengemukakan dalil-dalil ‎selayaknya seorang khukama’ bukan seorang ahli kalam, dan menetapkan dalil-‎dalil aqli tentang ketuhanan. Di akhir risalah ini al-Ghazali mengharamkan ‎untuk menerbitkannya (risalah ini) kecuali untuk ahli/orang yang jiwanya ‎memadai dan akalnya salimah, sesuai dengan hadits Nabi: ‎‏”خاطبوا النّاس على ‏قدر عقولهم“.‏‎ .‎

D. Filsafat Pasca Al-Ghazali
‎1. Ibnu Thufayl ( 1105 – 1185 M )

Ibnu Thufayl  adalah seorang filosof , disamping dia seorang dokter juga ‎ahli di bidang geografi, juga seorang penyair dari Andalusia. Tulisan-‎tulisannya yang sampai ke tangan kita hanya dalam bidang filsafat. ‎Diantaranya kisah “Hayy bin Yaqzhan” yang sangat berpengaruh terhadap ‎dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan.. Kisah itu menggambarkan ‎perkembangan akal manusia yang hidup sendirian di sebuah pulau. Melalui ‎berbagai kekuatan fitrahnya yang benar, dia dapat mencapai tingkat ‎filosofis dan melihat Tuhan.‎

Kisah ini telah ditejemahkan ke berbagai bahasa di Eropa. Orang-orang ‎non muslim pun banyak yang mencurahkan perhatiannya untuk mengkaji ‎kisah itu, suatu perhatian yang belum pernah diberikan kepada buku ‎filsafat bangsa Arab yang lain.‎

‎“Hayyi bin Yaqzhan”, merupakan kisah yang pertama dalam filsafat dan ‎sastra Arab. Ketika membuat risalah mengenai simbol-simbola kesufian, ‎Ibnu Sina juga menulis judul yang sama bahkan meminjam istilah Ibnu ‎Thufayl untuk kisah pengembaraan imajinasinya tentang tingkatan makrifat ‎dan cara pencapaiannya. Khayalan Ibnu Thufayl mengembara ketika ‎mengisahkan “Hayy” yang dilahirkan yatim piatu disebuah pulau yang ‎tidak dihuni manusia. Hayy diasuh dan disusui serta dirawat oleh seekor ‎kambing. Ketika kambing betina itu mati, Hayy mulai mempertanyakan ‎kematian itu. Dibenaknya tersimpan berbagai persoalan mengenai ada dan ‎tiada, ruh dan jasad. Ketika berusia lima puluh tahun, melalui akalnya, ‎Hayy sampai kepada suatu pemahaman yang lengkap mengenai Allah swt. ‎dan alam Semesta.‎

Dari kisah tersebut dapat ditangkap bahwa makrifat itu ada tiga macam : ‎makrifat akliyah, makrifat batiniyah, dan makrifat lahiriah. Begitu pula ‎tingkatan manusia : ada filosof, ada sufi, dan ada pula orang awam. Batas-‎batas syariat dan hal-hal yang sifatnya lahiriah dari syariat tersebut ‎hanyalah merupakan jalan yang tidak boleh tidak harus dilalui oleh orang ‎awam, kelompok mayoritas manusia di dunia ini, yang belum mampu ‎mencapai ke tingkat filosof atau sufi.‎

‎2.‎  Ibnu Rusyd ( 1126 – 1198 M ) ‎

Ibnu Rusyd adalah seorang filosof dia juga ahli fiqh dari Andalusia, ‎disamping dia juga seoang dokter. Disamping dia menulis dalam bidang ‎kedokteran juga dia menulis dalam bidang fiqh. Namun kesuksesannya ‎yang paling penting adalah di bidang filsafat. Dalam bidang ini paling ‎tidak ada dua macam kesuksesannya yang diraihnya yaitu : Syarah ‎‎(penjelasan) ibnu Rusyd terhadap karya Aristoteles dan bakat aslinya.‎

Dia adalah pemberi syarah terbesar bagi filsafat Aristoteles. Dia brhasil ‎membedakan antara filsafat inti dan pemikiran Neo Platonisme, pada saat ‎para filosof Arab sebelumnya mencampuradukkan antara keduanya, serta ‎menisbatkan pendapat orang lain kepada Aristoteles. Ada tingkatan syarah ‎yang diberikan oleh ibnu Rusyd, yang sengaja dia tujukan untuk tiga ‎kelompok pembacanya : para pemula, kaelompok sedang,dan kelompok ‎lanjut dalam mengkaji filsafat.‎

Meskipun ibnu Rusyd bukan orang muslim pertama yang memberikan ‎syarah untuk buku Aristoteles, dialah pensyarah terbaik dan paling ‎berpengaruh pada peradaban Eropa yang begitu cepat meninggalkan para ‎pensyarah terdahulu dari bangsany sendiri. Mereka juga mulai mengkaji ‎buku-buku terjemahan ibnu Rusyd ke dalam bahasa Ibrani, dan bahasa ‎Latin, sebelum mengkajinya dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani. ‎Bahkan ada diantara buku-buku Aristoteles yang asli hilang, dn belum ‎sampai ke tangan para pemikir EAropa kecuali syarah yang diberikan oleh ‎ibnu Rusyd atau para filosof Arab yang lain, atau melalui buku ‎terjemahannya.‎

Dapat dikatakan bahwa syarah yang diberikan oleh ibnu Rusyd atas ‎filsafat Aristoteles sngat sarat dengan pemikiran. Hal itu boleh jadi karena ‎dalam bidang filsafat dia memiliki modal yang cukup, khususnya yang ‎berkaitan dengan peroblema keterkaitan antara filsafat dan agama. ‎Pendapat-pendapat di seputar masalah ini ituangkan dalam dua bukunya : ‎Tahafut al-Tahafut, sebagai jawaban atas buku al-Ghazali, dan Fashl al-‎Maqal fi ma bayn al-syari’ah wa al-Hikmah min al-Ittishal, dua buku yang ‎sangat penting.‎

Dalam buku Fashl al- Maqal, dia berusaha membuktikan keberadaan Allah ‎melalui hukum kausalita, karena tidak ada sesuatu yang ada tanpa ‎musabab. Semua sebab beraturan hingga sebab pertama, yakni pembuat ‎alam semesta. Atau sebab penciptaan yang selalu bergerak dan terus ‎berganti secara tak diduga sebagai hasil perubahan yang terjadi dari waktu ‎ke waktu. Dari pernyataan ibnu Rusyd yang paling berharga adalah : ‎Warisan pemikiran Yunani tidak ada yang bertentangan dengan Islam., ‎sebagaimana dikatakan ; “Sesungguhnya hakekat itu hanya satu. ‎Manusialah yang menggambarkan bentuknya bermacam-macam”.‎

‎3.‎  Ibnu Al-Arabi ( 1164 – 1248 M )‎

Filosuf berikutnya adalah Ibnu al-Arabi (560-638 H/1164-1240 M)  yang ‎merupakan orang pertama yag mengembangkan ide tentang alam semesta ‎sebagai ’macro anthropos (al-Insan al-akbar) atau macro-persona (as-syakhs ‎al-akbar). Manusia dinamakan micro-anthropos (al-insan as-shoghir). ‎Doktrin ini adalah kebalikan dari ide tentang makrokosmos dan ‎mikrokosmos. Dalam dokrin pertama, alam semesta dipolakan pada ‎manusia, sedang dalam ide makrokosmos dan mikrokosmos, manusialah ‎yang digambarkan menurut pola alam semesta.‎

Doktrin tentang realita multi-tingkatan dengan dunia imaginasi di ‎tengahnya ini, merupakan perkembangan yang khas dalam Islam abad ‎pertengahan, dan diterima oleh mayoritas besar kaum sufi ortodoks. ‎Doktrin ini memberikan ethosnya yang khas kepada banyak mistisisme ‎Islam. Akhirnya, doktrin ini melakukan reaksi kembali terhadap filsafat ‎dan menemukan dasar rasional dan perumusan filosofisnya dalam abad 11  ‎H/17 M dalam karya Shadaruddin asy-Syirozi, arsitek sistem filsafat besar ‎yang terakhir dalam Islam. Mulla Sandra (demikian umumnya Muhammad ‎Shadaruddin di kenal), setelah menerima dari Suhrawardi doktrin monistik ‎tentang tingkatan-tingkatan Wujud dalam batasan-batasan lebih atau ‎kurang, lalu mengembangkan doktrinnya sendiri tentang kognisi dan sifat ‎ruh manusia. ‎

Setelah penolakan (kritikan) al-Ghazali terhadap filsafat, pada abad ke 7 ‎H/13 M sendiri muncul sejumlah penulis-penulis dan kritikus-kritikus filsafat yang ‎terkemuka, yang sementara mempertahankan filsafat pada umumnya, namun ‎menerima pandangan-pandangan ortodoksi dalam masalah dogma yang paling ‎kritis dan sensitif. ‎

Kontroversi filsafat salah satunya dipicu adanya ketegangan segitiga antara ‎theologi, tradisionis/ortodoks/ahl al-hadits dan filsafat. Kadang-kadang ‎ketegangan tersebut meletus menjadi gelombang  serangan keras kelompok ‎tradisionis terhadap intelektualisme. Ahlu-al Hadits ini menemukan ungkapan ‎momentalnya dalam abad ke 8 H/14 M dalam karya Ibnu Taymiyah yang kaya, ‎terutama dalam karyanya yang penting “Keserasian antara Tradisi yang Benar ‎dengan Bukti-bukti Akal“, Taymiyah  mengkritik keras thesis-thesis baik para ‎filosof maupun theolog. Di Universitas agama yang termasyhur di Mesir, al-Azhar, ‎filsafat dikeluarkan dari sylabus selama berabad-abad  dan baru dimasukkan ‎kembali setelah tibanya fajar modernisme Islam menjelang akhir abad kesembilan ‎belas melalui usaha-usaha pembaharu revolusioner Jamaluddin al-Afghani dan ‎muridnya Muhammad Abduh.‎ ‎ ‎

Sebenarnya, suatu kelompok, termasuk diantaranya tokoh filosof-theolog ‎terkemuka Qadhi Abu’l Tsana al-Urmawi (w. 684 H/1285 M) telah menegaskan ‎bahwa doktrin tentang Tuhan haruslah dipisahkan dari doktrin tentang wujud, ‎yang mestinya merupakan jelajah yang lebih layak bagi metafisika kalam. Akan ‎tetapi pendapat ini ditolak oleh para theolog yang merasa iri atas hak khusus ‎filsafat atas masalah-masalah tertentu dengan alasan bahwa hal itu akan ‎menyebabkan munculnya suatu sains super yang akan melebihi kalam.‎

Ketegangan ini terus berlanjut, sampai ahirnya para pembela filsafat ‎menghapuskan kesimpulan-kesimpulan tertentu dari kesimpulan-kesimpulan anti ‎dogmatis yang lebih ekstrim dari filosof-filosof klasik. Kegiatan neo filosofis ini ‎terutama sekali hidup subur sejak abad ke 7 H/13 M ketika hubungan baik antara ‎filsafat dan theologi telah dikukuhkan kembali di atas dasar yang pasti dan telah ‎memperoleh kembali keseimbangan tertentu.

Teori filsafat tentang wahyu kenabian yang melihat dalam diri Nabi ‎adanya suatu roh dan kecerdasan yang tinggi, yang mampu berhubungan dengan ‎kecerdasan Universal atau Malikat tertinggi, tidaklah sama sekali ditolak, ‎sebaliknya beberapa dari unsur-unsurnya yang baru, khususnya perfeksionisme ‎intelektual Nabi, dimasukkan ke dalam doktrin kalam. Tetapi sifat wahyu, yang ‎secara esensial dinyatakan intelektual, dan terutama ide bahwa agama hanyalah ‎bentuk simbolis dari kebenaran intelektual ini, ditolak.‎

Juga yang termasuk warisan paling penting yang ditinggalkan oleh ajaran ‎filosofis ini bagi Islam dan yang tanpa ragu-ragu diterima oleh ortodoksi adalah ‎pembagian wujud menjadi wujud yang mesti (wajibul wujud) dan wujud yang ‎tergantung (mumkinul wujud), yang memberikan manfaat besar bagi pembuktian-‎pembuktian kalam tentang eksistensi Tuhan; alam semesta yang tercipta sebagai ‎efek yang tergantung memerlukan eksistensi Tuhan, yaitu wujud yang mesti, ‎sebagai penyebabnya.‎

Dengan demikian, terbukalah dua jalan di mana filsafat dapat beroperasi, ‎dan kedua-duanya (kalam dan ortodoks)  memang ditembus oleh filsafat. Jalan ‎pertama adalah melanjutkan spekulasi filosofis, walaupun dikecam keras oleh ‎ortodoksi, dan mencari bagi dirinya suatu medium yang heterodoks. Medium ini ‎ditemukan dalam pemikiran sufi yang bersifat filosofis, suatu kenyataan yang tak ‎syak lagi ditunjang oleh kecenderungan-kecenderungan mistik dalam pemikiran ‎filosof-filosof islam sendiri. Alternatif yang lain adalah menghentikan ide untuk ‎menghasilkan sistem tandingan bagi theologi sejauh menyangkut dogma agama, ‎dan lebih baik bekerja di dalam sistem ortodoks. Ekspansi kalam menjadi ‎kumpulan pemikiran yang sistematis yang meliputi epistemologi dan metafisik, ‎suatu ekspansi yang pertama kali muncul dalam karya filosof theology Fakhruddin ‎ar-Razi (w.606 H/1209 M). Akan tetapi di dalam sistem ini ternyata ditemukan ‎ruang yang sangat luas bagi penggunaan penalaran spekulatif, suatu kegiatan yang ‎mempunyai karir yang hidup dan kaya selama berabad-abad, tetapi baru sedikit ‎sekali dipelajari oleh kesarjanaan modern; dan sepanjang yang terlihat hanya ‎berhenti pada penolakan al-Ghazali terhadap filsafat. Kalam ortodok telah ‎menerima doktrin filosofis tentang wujud yang mesti dan wujud yang ‎tergantung.‎

Pendukung-pendukung tradisi filosofis mengembangkan doktrin mereka ‎dengan mengemukakan pembedaan-pembedaan lebih jauh dan menyatakan bahwa ‎Wujud memiliki dua aplikasi yang berbeda. Dalam satu arti, ia berarti wujud yang ‎khusus dari sesuatu, dan dalam artian ini istilah tersebut adalah ekuivokal, karena ‎dalam hal ini segala sesuatu adalah khas. Dan konsekuensinya, wujud khas Tuhan, ‎mengalir ke dalam eksistent-eksistent yang lain, yang tak bisa diketahui.Tetapi ‎dalam arti yang lain, wujud adalah suatu ide yang abstrak, yang digeneralisir dari ‎eksisitent-eksistent yang aktual. Konsep yang abstrak ini mestilah univokal karena ‎ia diterapkan kepada Tuhan dan kepada makhluk. Wujud dalam artian yang kedua ‎ini, adalah obyek yang patut diselidiki oleh metafisika.‎

Kemudian muncul tradisi filosofis baru yang bermula dengah karya ‎syihabuddin as-Suhrawardi (w. 587 H‎    ‎/1191 M), pendiri “illuminasi ‎Filosofis”, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Sufi Ibnu al-Arabi, dan ‎mencapai perumusan akhirnya dalam karya monumental Shadaruddin as-Syirazy ‎‎(w. 1050 H/1640 M), yang berjudul “Empat Perjalanan“. Doktrin fundamental ‎dari tradisi ini adalah prinsip “tingkatan-tingkatan wujud, yaitu suatu doktrin ‎pantheisme yang dibangun diperinci di atas dasar teori Neoplatonik tentang ‎emanasi . Teori besar lainnya yang erat hubungannya dengan prinsip “tingkatan-‎tingkatan wujud“ adalah teori kognisi yang meneguhkan persamaan pikiran dan ‎wujud. Dari kedua teori ini timbul doktrin ketiga yang lalu memainkan peranan ‎sentral dalam pandangan dunianya yang relegius, yang perkembangannya ‎memperoleh sumbangan yang esensial dari pemikiran Sufi, yaitu doktrin tentang ‎‎“alam misal“(’Alam al-Misal’), yakni suatu dunia citra-citra ontologis di mana ‎realitas spiritual dari ’alam atas’ mengambil bentuk citra-citra konkrit, dan di mana ‎jasad-jasad kasar dari alam materi ini ’alam bawah’ berubah menjadi jasad-jasad ‎halus dan citra-citra. As-Suhrawardi juga mengkritik thesis Ibnu Sina mengenai ‎pembedaan antara esensi dan eksistensi, menyingkirkan dasar pembedaan yang ‎dibuat para filosof antara Tuhan dan manusia, menyangkal pembedaan antara ‎kemungkinan dan kemustian, menyerang ide dualitas antara materi dan bentuk, ‎menolak semua kategori-kategori Aristoteles. ‎

Kemudian muncul zaman baru dengan tampilnya Sayid Jamaluddien ‎Afghani (1254-1315 H/1838-1897 M) yang diikuti oleh muridnya Syikh ‎Muhammad Abduh (1265-1323 H./1849/1905 M), yang mengibarkan bendera ‎kebangkitan Dunia Islam.‎

Dan masih banyak lagi teori-teori filsafat yang dirilis dan dihasilkan oleh ‎filsuf-filsuf pasca al-Ghazali utamanya hubunganya dengan Theolog dan ‎Mistik/ortodoks. Dengan demikian, filsafat dalam Islam tidaklah mati dengan ‎kritik Al-Ghazali, sebagaimana diduga oleh para sarjana modern. Sebaliknya, ia ‎terus bergetar hidup, tetapi sifatnya berubah secara radikal karena pengaruh ‎mistisme. Dari usaha yang bersifat rasional untuk memahami sifat realita obyektif, ‎ia berubah menjadi usaha spiritual untuk hidup serasi dengan realita tersebut. ‎Maka filsafat sesudah al-Ghazali berkembang dalam sebuah arah yang baru dan ‎penting, yang dapat dinamakan filsafat keagamaan yang murni atau agama ‎filosofis.  Perkembangan ini, walaupun dalam perjalanannya sangat dipengaruhi ‎oleh sufisme dan gaya pemikirannya, tetapi tetap dibedakan dari sufisme. Karena, ‎fenomena yang telah kita sebut agama filosofis ini, walaupun sering ‎mengidentikkan dokrin-doktrinnya dengan doktrin-foktrin sufi, terutama Sufisme ‎spekulatif, tetapi bercirikan argumentasi rasional dan proses-proses pemikiran yang ‎logis dan murni intelektual. Sedangakan Sufisme semata-mata mengandalkan ‎pengalaman atau intuisignostik dan lebih mempergunakan imajinasi puitis proses-‎proses rasional.‎

Kritikan al-Ghazali kepada Filsafat tidak lepas dari rasa prihatinya ‎terhadap keadaan pada waktu itu, dia memprotes keras dalam hatinya akan ‎peristiwa yang tidak sehat, yang berkembang dan menguasai hidup (terpecah) ‎kepada berbagai agama, berbagai mazhab dan aliran, sedang masing-masing ‎bertahan bukan dengan akalnya tetapi karena semata-mata bertaklid kepada nenek ‎moyangnya. Masing-masing tidak mengalah, merasa dirinya benar dan ‎mengatakan kepercayaannya berasal dari Tuhan sedang orang lain salah semata, ‎sehingga timbul cekcok dan permusuhan. Golongan falsafah bertegang urat leher ‎memegang pendiriannaya karena semata-mata fanatik kepada nama filosuf-filosuf ‎yang mendahuluinya seperti socrates, hippocrates, Plato, Aristoteles dan lain-lain ‎dan menganggap bahwa orang-orang yang tidak mengemukakan nama-nama itu ‎adalah bodoh.‎

Al Ghazali mengutuk golongan taklid buta kaum agama maupun fanatik ‎dogmatis kaum terpelajar. “Sadarilah wahai saudara! Kata al-Ghazali “Kalau anda ‎berpegang kepada suatu kebenaran karena hanya menengok orangnya saja (baik ‎Imam maupun filosuf) dengan tidak bersandar kepada fikiran anda sendiri, maka ‎anda akan sia-sia belaka. Seorang yang ahli hanyalah sebagai matahari atau lampu ‎yang sanggup menimbang dan memutuskan sendiri. Tetapi kalau anda sendiri ‎memang buta, maka apalah gunanya lampu atau matahari itu.  karena dengan ‎taklid atau fanatik saja akan hancurlah dia secara total.‎

Dalam suasana pertentangan tersebut, al-Ghazali tidak ikut larut di ‎dalamnya dan tidak memihak salah satu, tetapi al-Ghazali berusaha keras untuk ‎menemukan titik temu antara kelompok yang berbeda pendapat tersebut. Seperti ‎yang dikemukakan oleh DR. Akbar Ahmed: “Al-Ghazali berhasil mempertemukan ‎tiga aliran: teologi, filsafat dan mistik. Dengan demikian ia pun berhasil mengahiri ‎pertentangan antara pengikut ketiga aliran tersebut“. ‎

Selaras apa yang di kemukakan oleh Dr. Sulaiman Dunya: “Adapun ‎kitab-kitab Imam Al-Ghazali, dikarenakan ia berbicara kepada orang banyak, maka ‎beliau mengikat di suatu tempat dan melepaskannya di tempat lain. Menutupi ‎sesuatu, lalu membukanya. ‎

Imam Al Ghazali berkata dalam Kitab Al Munqidz min Adh Dhalal: ‎‎“Sesungguhnya i’tikad beliau (filosuf) sama dengan kaum ahli tasawuf. Sebab, ‎masalahnya adalah setelah dilakukan pengkajiannya akan mengetahuinya secara ‎terperinci.‎ ‎“.‎
Keyakinan akan pesatnya perkembangan filsafat pasca al-Ghazali ‎dibuktikan  dengan pesatnya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan ‎dalam Islam. Seperti yang diungkapkan oleh Will Durant:“Filsafat dapat ‎diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan ‎infantri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ‎ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak untuk kegiatan keilmuan. ‎Setelah itu pengetahuanlah yeng membelah gunung dan merambah hutan, ‎menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.‎ ‎ ‎

E. Analisis

Al-Ghazali bukanlah seperti yang digambarkan oleh sebagaian orang ‎terutama oleh para orientalis barat, dimana mereka memahami al-Ghazali sebagai ‎penyebab kemunduran berfikir bagi umat Islam atau dianggap sebagai pelopor ‎faham skeptis. Kritikan bahkan serangan al-Ghazali terhadap filsafat tidaklah ‎berarti al-Ghazali anti terhadap filsafat, tetapi lebih pada menempatkan  filsafat ‎tepat pada posisinya.‎

Tidak bisa dipungkiri, kita sebagi umat Islam dalam mengemban amanat ‎sebagai Abdullah dan Khalifatullah membutuhkan filsafat, seperti apa yang ‎dinyatakan oleh Fazlur Rahman:“Bagaimanapun juga, filsafat merupakan alat ‎intelektual yang terus menerus diperlukan. Untuk itu, ia harus boleh berkembang ‎secara alamiah, baik untuk pengembangan filsafat itu sendiri maupun untuk ‎pengembangan disiplin-disiplin keilmuan yang lain. Hal itu dapat dipahami, karena ‎filsafat menanamkan kebiasaan dan melatih akal-pikiran untuk bersikap kritis-‎analitis dan mampu melahirkan ide-ide segar yang sangat dibutuhkan, sehingga ‎dengan demikian, ia menjadi alat intelektual yang sangat penting untuk ilmu-ilmu ‎yang lain, tidak terkecuali agama dan teologi. Karena itu, orang yang menjauhi ‎filsafat dapat dipastikan akan mengalami kekurangan energi dan kelesuhan darah ‎dalam arti kekurangan ide-ide segar dan lebih dari itu, ia berarti telah melakukan ‎bunuh diri intelektual.‎ ‎ ‎

Seperti halnya yang dikatakan Ali Syariati:“Keyakinaan yang benar tidak ‎bisa tumbuh kecuali dari pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang benar ‎tidak bisa lahir kecuali dari cara berfikir yang benar, sementara cara berpikir yang ‎benar hanya bisa terjadi dari metode berpikir yang benar. Artinya, metodologi ‎adalah sesuatu yang sangat penting. Siapa yang tidak menguasai metodologi ‎berarti tidak akan mendapatkan sesuatu secara benar dan tidak akan bisa ‎mengembangkan apa yang dimiliki.‎

Disamping itu masih ada pemahaman dan cara studi yang salah terhadap ‎filsafat, dimana kajian filsafat hanya dilihat dari aspek sejarahnya dan sedikit ‎sekali dikaji dalam aspek persoalan/subtansinya.‎ ‎ Filsafat harus difahami sebagai ‎salah satu bentuk methodologi ilmu pengetahuan dan jangan dikaburkan filsafat ‎sebagai faham/aliran.‎ ‎ ‎

Dengan pemahaman kita yang benar terhadap al-Ghazali maka filsafat akan ‎terus tumbuh dan berkembang yang menghasilkan ilmu pengetahuan sejalan ‎dengan tuntutan zaman. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Luthfi  dalam ‎kitab “Tarikh Filasifah al Islam fi al Masyriq wa al Maghrib” bahwa: Al Ghazali ‎tidak begitu nampak pengaruhnya dalam hal Tasawuf tetapi pengaruh yang besar ‎adalah dalam hal filsafat.‎ ‎ ‎

F.  Kesimpulan.‎
  1. ‎Al-Ghazali adalah ilmuwan sejati yang mampu menguasai bahkan memadu ‎berbagai ilmu pengetahuan seperti teologi, tasawuf dan filsafat.‎

  2. Untuk menjaga kelestarian dan kemurnian ilmu pengetahuan  al-Ghazali ‎melontarkan anti thesis terhadap teori-teori filsafat yang akan menghasilkan ‎sintesis.‎
  3. Pasca al-Ghazali filsafat berkembang pesat dan itu bermuara pada lahirnya ‎berbagai ilmu pengetahuan dalam Islam.‎
  4. Tokoh filsafat sesudah Al-Ghazali diantaranya Adalah Ibnu Thufayl, dia ‎seorang filosof, disamping seorang pakar Geografi dan seorang penyair dari ‎Andalusia, bukunya dalam bidang filsafat yang tekenal yang sampai di ‎tangan kita  adalah tentang kisah “Hayy bin Yaqzhan” yang merupakan  ‎kisah pertama dalam filsafat dan sasta Arab.‎
  5. Juga tokoh filsafat lainnya yaitu : Ibnu Rusyd, dia seorang dokter dan alhi ‎fiqh. Kesuksesannya yang paling penting ialah di bidang filsafat, dalam ‎bidang ini paling tidak ada dua macam kesuksesan yang diraihnya, yaitu ‎Syarah (penjelasan) Ibnu Rusy terhadap karya Aristoteles, dan bakat aslinya.‎
  6. Tokoh filsafat berikutnya adalah Ibnu Al-Farabi, yang merupakan orang ‎pertama yang mengembangkan ide tentang alam semesta, yaitu : – Makro ‎Antropos ( alam semesta dipolakan pda manusia ), dan – Mikro Antropos ( ‎manusia di gambarkan menurut pola alam semesta ).‎
  7. Kita sebagai Umat Islam harus menyikapi filsafat secara bijak karena untuk ‎menjadikan Al Islamu ya’lu wala  yu’la alaihi membutuhkan metodologi ‎berfikir yang benar (filsafat).‎

DAFTAR  PUSTAKA

Abdullah, Amin dkk. 2000. Mencari Islam Studi Islam Dengan Berbagai ‎Pendekatan. Yogyakarta: Tiara Wacana.‎
Akbar, Ahmed. 1992. Citra Muslim Tinjauan Sejarah dan Sosiologi. Jakarta: ‎Erlangga.‎
Dewan Redaksi Ensikopedi Islam. 1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar ‎Baru Van Hoeve.‎
Dunya, Sulaiman. 2002. Al Haqiqat Pandangan Hidup  Imam Al Ghazali. ‎Surabaya: Pustaka Hikmah Perdana.‎
Husayn Ahmad Amin. 2001. Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam. Bandung: ‎Remaja Rosda Karya.‎
Luthfi, Muhammad. tt. Tarih Falasifah Al Islam Fil Masyriq wal Maghrib. Baerut: ‎Al Maktabah Al Ilmiyah
Nasution, Harun. 1984-985. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI ‎Press. ‎
Rahman, Fajzlur. 1984. Islam. Bandung: Pustaka.‎
Sholeh, A. Khudori. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka ‎Pelajar. ‎
Suriasumantri Jujun S. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: ‎Pustaka Sinar Harapan.‎
Zainal Abidin, Ahmad H. 1975. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali. Jakarta: Bulan ‎Bintang.‎

Oleh : Hozaini Geresis

Related Articles

1 Comment

  1. Idrus Abidin
    Idrus Abidin March 22, 19:57

    sikap kaum ortodoksi terhadap filsafat Aristoteles dan kajian mereka ttng filsafat Islam yang seharusnya bisa dilihat di linnk berikut :
    http://idrusabidin.blogspot.com/2012/06/sikap-ahlu-sunnah-terhadap-logika.html#more

    Reply to this comment

Write a Comment

Latest Comments

ya ditunggu,semoga tidak lupa ..... hehehhe.... :) ...

menunggu sambungannya :) ...

Al-Faqir mohon halalnya MP3 manaqib dan doa yang sy unduh, terima kasih semoga bermanfaat JAZAKUMULLAH...