Tanbihun Online

Perkembangan Filsafat Pasca Al-Ghazali

Perkembangan Filsafat Pasca Al-Ghazali

Perkembangan Filsafat Pasca Al-Ghazali
May 13
04:33 2011
A. Pendahuluan

Filsafat adalah Illmu pengetahuan yang mempersoalkan hakikat dari segala ‎yang ada. Kata filsafat atau falsafat dalam bahasa Arab berasal dari bahasa ‎Yunani philosophia yang secara harfiah berarti cinta kepada pengetahuan atau ‎cinta kepada kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada pengetahuan atau ‎kebijaksanaan disebut philosophos atau dalam bahasa Arab failosuf (filsuf). ‎Pencinta pengetahuan atau kebijaksanaan adalah orang yang menjadikan ‎pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau orang mengabdikan ‎hidupnya kepada pengetahuan. Istilah philosophia dan philosophos pertama kali ‎digunakan oleh phythagoras (582-507 SM), tetapi istilah ini menjadi populer dan ‎lazim dipakai pada masa Sokrates (469-399 SM) dan Plato (427-347 SM).‎ ‎  ‎Sedangkan Filsafat menurut  Prof.Dr. HM. Amin Abdullah adalah methodology ‎berfikir, yaitu berfikir kritis-analisis dan sistematis. Filsafat lebih mencerminkan ‎proses berpikir dan bukan sekedar produk pemikiran.‎

Pemikiran filosofis masuk ke dalam Islam melalui falsafat Yunani yang ‎dijumpai ahli-ahli fikir Islam di Suria, Mesopotamia, Persia dan Mesir. ‎Kebudayaan dan falsafat Yunani datang ke daerah-daerah itu dengan ekspansi ‎Alexander Yang Agung ke Timur di abad ke-empat sebelum Kristus. Politik ‎Alexander untuk menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia meninggalkan bekas ‎besar di daerah-daerah yang pernah dikuasainya dan kemudian timbullah pusat-‎pusat kebudayaan Yunani di Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antioch di Suria, ‎Jundisyapur di Mesopotamia dan Bacra di Persia.‎
Al-Qur’an secara tegas telah memberi kemungkinan bagi pemikiran filosfis ‎‎. Di dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menyuruh manusia untuk ‎menggunakan daya nalarnya dengan menjadikan alam semesta sebagai obyek ‎pikirannya. Ayat-ayat Al-Qur’an itu, disamping mendorong timbulnya ilmu ‎pengetahuan yang amat berguna buat kemakmuran hidup manusia juga ‎merangsang munculnya pemikiran filosofis dalam Islam. ‎

B. Al-Ghazali Sebagai Filsuf

Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali terkenal dengan nama Al-Ghazali ‎adalah merupakan ulama’  yang hebat pada zaman itu dan termasuk salah satu ‎imam madzhab .Syafi’i. Beliau dilahirkan di Thus salah satu kota di Khurosan ‎pada tahun 450 H/1058 M, dan belajar berbagai ilmu di tempat kelahirannya, ‎kemudian  mencari ilmu ke Neisabur,  dan sejak kecil pada diri beliau sudah ‎terlihat tanda-tanda kecerdasan dan  kehebatan yang luar biasa. Dia menguasai ‎ilmu kalam (theologi) dan menekuni ilmu filsafat, inilah yang menjadi sebab al-‎Ghazali dipercaya Perdana Mentri Nidzom al Mulk  untuk mengurus sepenuhnya ‎Madrasah Nidzomiyah yang dibangun di Baghdad. Ketika beliau berumur 33 ‎tahun sudah menduduki tempat yang terhormat diantara ulama, masa itu. Dalam ‎dunia filsafat beliau dijuluki Khujjatul Islam dan Zainuddin.‎

Al-Ghazali menjadi guru besar di Madrasah Nidzomiyah  selama empat ‎tahun dan di waktu itulah ia mengarang buku Maqasid Al Falasifah (pemikiran ‎Kaum Filosof) yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin dengan judul Logic et ‎Philosophia Al gazelis Arabis di tahun 1145 M, oleh Dominicus Gundissalinus. ‎Bukunya yang termashur tentang falsafat Tahafut Al-Falasifah (Kekacauan ‎Pemikiran Filosof-filosof) juga dikarang di periode ini. ‎
Dalam mempelajari filsafat, al-Ghazali menemukan argument-argumen ‎filosofis yang dipandangnya menyalahi ajaran Islam. Karena itu, ia menyerang ‎kaum filsuf yang diungkapkannya dalam bukunya Maqasid al-Falasifah, .

Lalu ‎untuk memperjelas kritiknya terhadap filsuf itu, ia menulis buku Tahafut al-‎Falasifah. Dalam buku itu al-Ghazali mengkritik 10 pendapat filsuf yang ‎mengatakan bahwa :‎

  1. ‎Tuhan tidak mempunyai sifat.‎
  2. ‎Tuhan mempunyai subtansi sederhana (basit) dan tidak mempunyai ‎hakikat (mahiyah)‎
  3. ‎Tuhan tidak mempunyai perincian (juz’iyah)‎
  4. ‎Tuhan tidak dapat diberi sifat jenis (aljins/genus) dan al-fasl (spesies)‎
  5. ‎Planet-planet adalah bintang yang bergerak dengan kemauan
  6. ‎Jiwa planet-planet mengetahui semua juz’iyah (rincian).‎
  7. ‎Hukum alam tidak berubah.‎
  8. ‎Pembangkitan jasmani tidak ada.‎
  9. ‎Alam ini tidak bermula.‎
  10. ‎Alam ini kekal.‎

Bahkan al-Ghazali berpendapat bahwa tiga diantara 10 pendapat filsuf di atas, ‎yaitu alam kekal (tidak bermula), tuhan tidak mengetahui rincian-rincian dan ‎pembangkitan jasmani tidak ada, dapat membawa kepada kekufuran.

C. Pengaruh Filsafat Al-Ghazali

Akibat serangan Al-Ghazali terhadap pemikiran filsafat sebelumnya, meski ‎tidak sepenuhnya tepat dan benar, respon masyarakat muslim terhadap filsafat ‎menjadi berkurang, sehingga menyebabkan kelesuan berfikir dan berijtihad di ‎kalangan umat Islam. Sejak pertengahan abad ke 12 M, hampir semua khazanah ‎intelektual Islam justru selalu menyerang dan memojokkan filsafat, baik sebagai ‎sebuah pendekatan, metodologi maupun disiplin keilmuan.‎
Meski demikian, kajian dan pemikiran filasafat, sesungguhnya tidak benar-‎benar hilang oleh serangan al-Ghazali, filsafat Islam tetap berkembang. Apa yang ‎dianggap sebagai kematian filsafat oleh sebagian orang hanya terjadi di kalangan ‎sunni, khususnya Asy’ariyah. Pada bagian lain di dunia Islam, filsafat justru ‎menemukan arah baru dan semakin membumbung tinggi. ‎

Mengenai serangan al-Ghazali terhadap filsafat, ada beberapa hal yang ‎patut dicermati, yaitu: ‎

  1. ‎Bahwa ia sesungguhnya hanya menyerang persoalan metafisik, khususnya ‎metafisika al-Farabi dan Ibnu Sina yang neo platonisme, tidak menyerang ‎pemikiran filsafat secara keseluruhan. Sebab, di bagian lain al Ghozali tetap ‎mengakui pentingnya logika atau epistemologi dalam pemahaman dan ‎penjabaran ajaran-ajaran agama. Bahkan dalam al-Mustashfa fi ulum al-fiqh, ‎sebuah kitab tentang kajian hukum, al-Ghazali menggunakan epistemologi ‎filsafat, yakni burhani untuk melendingkan doktrin dan gagasannya.‎
  2. ‎Bahwa tuduhan al-Ghazali terhadap doktrin al-Farabi dan Ibn Sina adalah ‎tidak tepat. Dalam tulisannya, al-Ghazali menilai bahwa ajaran al-Farabi dan ‎Ibn Sina, juga para filosof lain yang senada, telah jatuh dalam kekufuran, ‎karena mengajarkan tentang keqadiman alam, kebangkitan ruhani dan ‎ketidaktahuan Tuhan terhadap hal-hal yang partikular (juziyat). Padahal, kedua ‎tokoh filosof muslim ini sebenarnya tidak menyatakan persis seperti yang ‎dituduhkan. Tentang keqadiman alam misalnya, apa yang dimaksudkan ‎dengan qadim adalah karena alam tidak muncul dalam waktu tertentu. Apa ‎yang disebut sebagai “waktu” atau “zaman” muncul bersamaan dengan alam. ‎Tidak ada istilah waktu atau zaman sebelum munculnya alam. Kebersamaan ‎alam dengan waktu, atau tidak didahuluinya alam oleh waktu tertentu inilah ‎yang dimaksud qadim oleh para filosof, dan keqadiman alam ini tetap tidak ‎sama dengan keqadiman Tuhan, karena Tuhan qadim bi dzatihi, qadim dengan ‎diriNya sendiri tanpa berhubungan dengan ruang dan waktu atau yang lain. ‎Dengan kata lain, keqadiman alam hanya berhubungan dengan waktu tetapi ia ‎hadits (temporal) dibanding keqadiman Tuhan. Di sini telah terjadi salah ‎faham atau perbedaan pengertian tentang istilah-istilah yang digunakan antara ‎al-Ghazali dengan para filosof (sebelumnya).‎
  3. Tentang penilaian al-Ghazali pada al-Farabi dan Ibn Sina dalam kaitannya ‎dengan Aristoteles. Dalam al-Munqid, al-Ghazali membagi filsafat Yunani ‎dalam tiga bagian; materialisme (dahriyun), natrualisme (thabiiyyun) dan ‎theisme (ilahiyyun). Kelompok materialisme adalah mereka yang mengingkari ‎Sang Pencipta (Tuhan) seraya menyatakan bahwa semesta wujud dengan ‎sendirinya. Golongan ini dianggap sebagai tidak beragama. Ini mungkin ‎ditunjukkan pada para filosof Yunani purba. Golongan naturalisme adalah ‎mereka yang meyakini kekuatan material dan bahwa apa yang telah mati tidak ‎akan kembali, sehingga tidak ada hari kebangkitan dan pembalasan. Ini ‎ditujukan pada tokoh seperti Demokritos dan para filosof  Ionia yang hanya ‎meyakini eksistensi material. Kelompok theisme adalah para filosof yang lebih ‎modern yang meyakini Sang Pencipta, seperti Socrates, Plato, Aristoteles dan ‎menurut al-Ghazali al-Farabi serta Ibn Sina sebagai pengikutnya.‎ ‎ ‎
  4. Dalam kitab “ Tarikh Falasifah Al Islam fil Masyriq wal Maghrib“ Muhammad ‎Luthfi mengemukakan: “Sesungguhnya sebagian ahli filsafat, seperti Ibnu ‎Rusyd tidaklah yakin kalau al-Ghazali serius dalam kritikannya, sesungguhnya ‎perbedaan antara dia  dan para filsafat hanyalah pada batas-batas tertentu, ‎sesungguhnya dia mencela mereka dalam ha-hal tertentu hanya untuk ‎memperkuat ahli sunnah. Musa bin Narbur menyebutkan: Sesungguhnya ‎setelah menulis kitab At Tahafut, al-Ghazali kemudian menulis risalah kecil ‎yang hanya diketahui oleh orang-orang dekat saja, yang berisi penolakan ‎kepada apa  yang dikemukakan mengenai kritikan kepada dasar-dasar filsafat. ‎

    Kitab tersebut adalah:‎   ‎رسالة وضعها أبو حامد بعد التّهافت ليكشف عن فكره للحكماء وفيها ‏مقاصد المقاصد واللبيب تكفية الإشارة.‏‎ “. ‎ Kitab ini berisi pembahasan yang sangat penting tetapi bahasanya sulit di ‎pahami oleh masyarakat umum, dimulai dengan membahas planet/tata surya ‎dan pergerakannya serta jiwanya, membahas penggerak pertama dan sifat-‎sifatnya kemudian membahas tentang jiwa, dan di situ tidak ada bahasan yang ‎menghina filsafat seperti pada kitab At-Tahafut. Dia mengemukakan dalil-dalil ‎selayaknya seorang khukama’ bukan seorang ahli kalam, dan menetapkan dalil-‎dalil aqli tentang ketuhanan. Di akhir risalah ini al-Ghazali mengharamkan ‎untuk menerbitkannya (risalah ini) kecuali untuk ahli/orang yang jiwanya ‎memadai dan akalnya salimah, sesuai dengan hadits Nabi: ‎‏”خاطبوا النّاس على ‏قدر عقولهم“.‏‎ .‎

D. Filsafat Pasca Al-Ghazali
‎1. Ibnu Thufayl ( 1105 – 1185 M )

Ibnu Thufayl  adalah seorang filosof , disamping dia seorang dokter juga ‎ahli di bidang geografi, juga seorang penyair dari Andalusia. Tulisan-‎tulisannya yang sampai ke tangan kita hanya dalam bidang filsafat. ‎Diantaranya kisah “Hayy bin Yaqzhan” yang sangat berpengaruh terhadap ‎dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan.. Kisah itu menggambarkan ‎perkembangan akal manusia yang hidup sendirian di sebuah pulau. Melalui ‎berbagai kekuatan fitrahnya yang benar, dia dapat mencapai tingkat ‎filosofis dan melihat Tuhan.‎

Kisah ini telah ditejemahkan ke berbagai bahasa di Eropa. Orang-orang ‎non muslim pun banyak yang mencurahkan perhatiannya untuk mengkaji ‎kisah itu, suatu perhatian yang belum pernah diberikan kepada buku ‎filsafat bangsa Arab yang lain.‎

‎“Hayyi bin Yaqzhan”, merupakan kisah yang pertama dalam filsafat dan ‎sastra Arab. Ketika membuat risalah mengenai simbol-simbola kesufian, ‎Ibnu Sina juga menulis judul yang sama bahkan meminjam istilah Ibnu ‎Thufayl untuk kisah pengembaraan imajinasinya tentang tingkatan makrifat ‎dan cara pencapaiannya. Khayalan Ibnu Thufayl mengembara ketika ‎mengisahkan “Hayy” yang dilahirkan yatim piatu disebuah pulau yang ‎tidak dihuni manusia. Hayy diasuh dan disusui serta dirawat oleh seekor ‎kambing. Ketika kambing betina itu mati, Hayy mulai mempertanyakan ‎kematian itu. Dibenaknya tersimpan berbagai persoalan mengenai ada dan ‎tiada, ruh dan jasad. Ketika berusia lima puluh tahun, melalui akalnya, ‎Hayy sampai kepada suatu pemahaman yang lengkap mengenai Allah swt. ‎dan alam Semesta.‎

Dari kisah tersebut dapat ditangkap bahwa makrifat itu ada tiga macam : ‎makrifat akliyah, makrifat batiniyah, dan makrifat lahiriah. Begitu pula ‎tingkatan manusia : ada filosof, ada sufi, dan ada pula orang awam. Batas-‎batas syariat dan hal-hal yang sifatnya lahiriah dari syariat tersebut ‎hanyalah merupakan jalan yang tidak boleh tidak harus dilalui oleh orang ‎awam, kelompok mayoritas manusia di dunia ini, yang belum mampu ‎mencapai ke tingkat filosof atau sufi.‎

‎2.‎  Ibnu Rusyd ( 1126 – 1198 M ) ‎

Ibnu Rusyd adalah seorang filosof dia juga ahli fiqh dari Andalusia, ‎disamping dia juga seoang dokter. Disamping dia menulis dalam bidang ‎kedokteran juga dia menulis dalam bidang fiqh. Namun kesuksesannya ‎yang paling penting adalah di bidang filsafat. Dalam bidang ini paling ‎tidak ada dua macam kesuksesannya yang diraihnya yaitu : Syarah ‎‎(penjelasan) ibnu Rusyd terhadap karya Aristoteles dan bakat aslinya.‎

Dia adalah pemberi syarah terbesar bagi filsafat Aristoteles. Dia brhasil ‎membedakan antara filsafat inti dan pemikiran Neo Platonisme, pada saat ‎para filosof Arab sebelumnya mencampuradukkan antara keduanya, serta ‎menisbatkan pendapat orang lain kepada Aristoteles. Ada tingkatan syarah ‎yang diberikan oleh ibnu Rusyd, yang sengaja dia tujukan untuk tiga ‎kelompok pembacanya : para pemula, kaelompok sedang,dan kelompok ‎lanjut dalam mengkaji filsafat.‎

Meskipun ibnu Rusyd bukan orang muslim pertama yang memberikan ‎syarah untuk buku Aristoteles, dialah pensyarah terbaik dan paling ‎berpengaruh pada peradaban Eropa yang begitu cepat meninggalkan para ‎pensyarah terdahulu dari bangsany sendiri. Mereka juga mulai mengkaji ‎buku-buku terjemahan ibnu Rusyd ke dalam bahasa Ibrani, dan bahasa ‎Latin, sebelum mengkajinya dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani. ‎Bahkan ada diantara buku-buku Aristoteles yang asli hilang, dn belum ‎sampai ke tangan para pemikir EAropa kecuali syarah yang diberikan oleh ‎ibnu Rusyd atau para filosof Arab yang lain, atau melalui buku ‎terjemahannya.‎

Dapat dikatakan bahwa syarah yang diberikan oleh ibnu Rusyd atas ‎filsafat Aristoteles sngat sarat dengan pemikiran. Hal itu boleh jadi karena ‎dalam bidang filsafat dia memiliki modal yang cukup, khususnya yang ‎berkaitan dengan peroblema keterkaitan antara filsafat dan agama. ‎Pendapat-pendapat di seputar masalah ini ituangkan dalam dua bukunya : ‎Tahafut al-Tahafut, sebagai jawaban atas buku al-Ghazali, dan Fashl al-‎Maqal fi ma bayn al-syari’ah wa al-Hikmah min al-Ittishal, dua buku yang ‎sangat penting.‎

Dalam buku Fashl al- Maqal, dia berusaha membuktikan keberadaan Allah ‎melalui hukum kausalita, karena tidak ada sesuatu yang ada tanpa ‎musabab. Semua sebab beraturan hingga sebab pertama, yakni pembuat ‎alam semesta. Atau sebab penciptaan yang selalu bergerak dan terus ‎berganti secara tak diduga sebagai hasil perubahan yang terjadi dari waktu ‎ke waktu. Dari pernyataan ibnu Rusyd yang paling berharga adalah : ‎Warisan pemikiran Yunani tidak ada yang bertentangan dengan Islam., ‎sebagaimana dikatakan ; “Sesungguhnya hakekat itu hanya satu. ‎Manusialah yang menggambarkan bentuknya bermacam-macam”.‎

‎3.‎  Ibnu Al-Arabi ( 1164 – 1248 M )‎

Filosuf berikutnya adalah Ibnu al-Arabi (560-638 H/1164-1240 M)  yang ‎merupakan orang pertama yag mengembangkan ide tentang alam semesta ‎sebagai ’macro anthropos (al-Insan al-akbar) atau macro-persona (as-syakhs ‎al-akbar). Manusia dinamakan micro-anthropos (al-insan as-shoghir). ‎Doktrin ini adalah kebalikan dari ide tentang makrokosmos dan ‎mikrokosmos. Dalam dokrin pertama, alam semesta dipolakan pada ‎manusia, sedang dalam ide makrokosmos dan mikrokosmos, manusialah ‎yang digambarkan menurut pola alam semesta.‎

Doktrin tentang realita multi-tingkatan dengan dunia imaginasi di ‎tengahnya ini, merupakan perkembangan yang khas dalam Islam abad ‎pertengahan, dan diterima oleh mayoritas besar kaum sufi ortodoks. ‎Doktrin ini memberikan ethosnya yang khas kepada banyak mistisisme ‎Islam. Akhirnya, doktrin ini melakukan reaksi kembali terhadap filsafat ‎dan menemukan dasar rasional dan perumusan filosofisnya dalam abad 11  ‎H/17 M dalam karya Shadaruddin asy-Syirozi, arsitek sistem filsafat besar ‎yang terakhir dalam Islam. Mulla Sandra (demikian umumnya Muhammad ‎Shadaruddin di kenal), setelah menerima dari Suhrawardi doktrin monistik ‎tentang tingkatan-tingkatan Wujud dalam batasan-batasan lebih atau ‎kurang, lalu mengembangkan doktrinnya sendiri tentang kognisi dan sifat ‎ruh manusia. ‎

Setelah penolakan (kritikan) al-Ghazali terhadap filsafat, pada abad ke 7 ‎H/13 M sendiri muncul sejumlah penulis-penulis dan kritikus-kritikus filsafat yang ‎terkemuka, yang sementara mempertahankan filsafat pada umumnya, namun ‎menerima pandangan-pandangan ortodoksi dalam masalah dogma yang paling ‎kritis dan sensitif. ‎

Kontroversi filsafat salah satunya dipicu adanya ketegangan segitiga antara ‎theologi, tradisionis/ortodoks/ahl al-hadits dan filsafat. Kadang-kadang ‎ketegangan tersebut meletus menjadi gelombang  serangan keras kelompok ‎tradisionis terhadap intelektualisme. Ahlu-al Hadits ini menemukan ungkapan ‎momentalnya dalam abad ke 8 H/14 M dalam karya Ibnu Taymiyah yang kaya, ‎terutama dalam karyanya yang penting “Keserasian antara Tradisi yang Benar ‎dengan Bukti-bukti Akal“, Taymiyah  mengkritik keras thesis-thesis baik para ‎filosof maupun theolog. Di Universitas agama yang termasyhur di Mesir, al-Azhar, ‎filsafat dikeluarkan dari sylabus selama berabad-abad  dan baru dimasukkan ‎kembali setelah tibanya fajar modernisme Islam menjelang akhir abad kesembilan ‎belas melalui usaha-usaha pembaharu revolusioner Jamaluddin al-Afghani dan ‎muridnya Muhammad Abduh.‎ ‎ ‎

Sebenarnya, suatu kelompok, termasuk diantaranya tokoh filosof-theolog ‎terkemuka Qadhi Abu’l Tsana al-Urmawi (w. 684 H/1285 M) telah menegaskan ‎bahwa doktrin tentang Tuhan haruslah dipisahkan dari doktrin tentang wujud, ‎yang mestinya merupakan jelajah yang lebih layak bagi metafisika kalam. Akan ‎tetapi pendapat ini ditolak oleh para theolog yang merasa iri atas hak khusus ‎filsafat atas masalah-masalah tertentu dengan alasan bahwa hal itu akan ‎menyebabkan munculnya suatu sains super yang akan melebihi kalam.‎

Ketegangan ini terus berlanjut, sampai ahirnya para pembela filsafat ‎menghapuskan kesimpulan-kesimpulan tertentu dari kesimpulan-kesimpulan anti ‎dogmatis yang lebih ekstrim dari filosof-filosof klasik. Kegiatan neo filosofis ini ‎terutama sekali hidup subur sejak abad ke 7 H/13 M ketika hubungan baik antara ‎filsafat dan theologi telah dikukuhkan kembali di atas dasar yang pasti dan telah ‎memperoleh kembali keseimbangan tertentu.

Teori filsafat tentang wahyu kenabian yang melihat dalam diri Nabi ‎adanya suatu roh dan kecerdasan yang tinggi, yang mampu berhubungan dengan ‎kecerdasan Universal atau Malikat tertinggi, tidaklah sama sekali ditolak, ‎sebaliknya beberapa dari unsur-unsurnya yang baru, khususnya perfeksionisme ‎intelektual Nabi, dimasukkan ke dalam doktrin kalam. Tetapi sifat wahyu, yang ‎secara esensial dinyatakan intelektual, dan terutama ide bahwa agama hanyalah ‎bentuk simbolis dari kebenaran intelektual ini, ditolak.‎

Juga yang termasuk warisan paling penting yang ditinggalkan oleh ajaran ‎filosofis ini bagi Islam dan yang tanpa ragu-ragu diterima oleh ortodoksi adalah ‎pembagian wujud menjadi wujud yang mesti (wajibul wujud) dan wujud yang ‎tergantung (mumkinul wujud), yang memberikan manfaat besar bagi pembuktian-‎pembuktian kalam tentang eksistensi Tuhan; alam semesta yang tercipta sebagai ‎efek yang tergantung memerlukan eksistensi Tuhan, yaitu wujud yang mesti, ‎sebagai penyebabnya.‎

Dengan demikian, terbukalah dua jalan di mana filsafat dapat beroperasi, ‎dan kedua-duanya (kalam dan ortodoks)  memang ditembus oleh filsafat. Jalan ‎pertama adalah melanjutkan spekulasi filosofis, walaupun dikecam keras oleh ‎ortodoksi, dan mencari bagi dirinya suatu medium yang heterodoks. Medium ini ‎ditemukan dalam pemikiran sufi yang bersifat filosofis, suatu kenyataan yang tak ‎syak lagi ditunjang oleh kecenderungan-kecenderungan mistik dalam pemikiran ‎filosof-filosof islam sendiri. Alternatif yang lain adalah menghentikan ide untuk ‎menghasilkan sistem tandingan bagi theologi sejauh menyangkut dogma agama, ‎dan lebih baik bekerja di dalam sistem ortodoks. Ekspansi kalam menjadi ‎kumpulan pemikiran yang sistematis yang meliputi epistemologi dan metafisik, ‎suatu ekspansi yang pertama kali muncul dalam karya filosof theology Fakhruddin ‎ar-Razi (w.606 H/1209 M). Akan tetapi di dalam sistem ini ternyata ditemukan ‎ruang yang sangat luas bagi penggunaan penalaran spekulatif, suatu kegiatan yang ‎mempunyai karir yang hidup dan kaya selama berabad-abad, tetapi baru sedikit ‎sekali dipelajari oleh kesarjanaan modern; dan sepanjang yang terlihat hanya ‎berhenti pada penolakan al-Ghazali terhadap filsafat. Kalam ortodok telah ‎menerima doktrin filosofis tentang wujud yang mesti dan wujud yang ‎tergantung.‎

Pendukung-pendukung tradisi filosofis mengembangkan doktrin mereka ‎dengan mengemukakan pembedaan-pembedaan lebih jauh dan menyatakan bahwa ‎Wujud memiliki dua aplikasi yang berbeda. Dalam satu arti, ia berarti wujud yang ‎khusus dari sesuatu, dan dalam artian ini istilah tersebut adalah ekuivokal, karena ‎dalam hal ini segala sesuatu adalah khas. Dan konsekuensinya, wujud khas Tuhan, ‎mengalir ke dalam eksistent-eksistent yang lain, yang tak bisa diketahui.Tetapi ‎dalam arti yang lain, wujud adalah suatu ide yang abstrak, yang digeneralisir dari ‎eksisitent-eksistent yang aktual. Konsep yang abstrak ini mestilah univokal karena ‎ia diterapkan kepada Tuhan dan kepada makhluk. Wujud dalam artian yang kedua ‎ini, adalah obyek yang patut diselidiki oleh metafisika.‎

Kemudian muncul tradisi filosofis baru yang bermula dengah karya ‎syihabuddin as-Suhrawardi (w. 587 H‎    ‎/1191 M), pendiri “illuminasi ‎Filosofis”, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Sufi Ibnu al-Arabi, dan ‎mencapai perumusan akhirnya dalam karya monumental Shadaruddin as-Syirazy ‎‎(w. 1050 H/1640 M), yang berjudul “Empat Perjalanan“. Doktrin fundamental ‎dari tradisi ini adalah prinsip “tingkatan-tingkatan wujud, yaitu suatu doktrin ‎pantheisme yang dibangun diperinci di atas dasar teori Neoplatonik tentang ‎emanasi . Teori besar lainnya yang erat hubungannya dengan prinsip “tingkatan-‎tingkatan wujud“ adalah teori kognisi yang meneguhkan persamaan pikiran dan ‎wujud. Dari kedua teori ini timbul doktrin ketiga yang lalu memainkan peranan ‎sentral dalam pandangan dunianya yang relegius, yang perkembangannya ‎memperoleh sumbangan yang esensial dari pemikiran Sufi, yaitu doktrin tentang ‎‎“alam misal“(’Alam al-Misal’), yakni suatu dunia citra-citra ontologis di mana ‎realitas spiritual dari ’alam atas’ mengambil bentuk citra-citra konkrit, dan di mana ‎jasad-jasad kasar dari alam materi ini ’alam bawah’ berubah menjadi jasad-jasad ‎halus dan citra-citra. As-Suhrawardi juga mengkritik thesis Ibnu Sina mengenai ‎pembedaan antara esensi dan eksistensi, menyingkirkan dasar pembedaan yang ‎dibuat para filosof antara Tuhan dan manusia, menyangkal pembedaan antara ‎kemungkinan dan kemustian, menyerang ide dualitas antara materi dan bentuk, ‎menolak semua kategori-kategori Aristoteles. ‎

Kemudian muncul zaman baru dengan tampilnya Sayid Jamaluddien ‎Afghani (1254-1315 H/1838-1897 M) yang diikuti oleh muridnya Syikh ‎Muhammad Abduh (1265-1323 H./1849/1905 M), yang mengibarkan bendera ‎kebangkitan Dunia Islam.‎

Dan masih banyak lagi teori-teori filsafat yang dirilis dan dihasilkan oleh ‎filsuf-filsuf pasca al-Ghazali utamanya hubunganya dengan Theolog dan ‎Mistik/ortodoks. Dengan demikian, filsafat dalam Islam tidaklah mati dengan ‎kritik Al-Ghazali, sebagaimana diduga oleh para sarjana modern. Sebaliknya, ia ‎terus bergetar hidup, tetapi sifatnya berubah secara radikal karena pengaruh ‎mistisme. Dari usaha yang bersifat rasional untuk memahami sifat realita obyektif, ‎ia berubah menjadi usaha spiritual untuk hidup serasi dengan realita tersebut. ‎Maka filsafat sesudah al-Ghazali berkembang dalam sebuah arah yang baru dan ‎penting, yang dapat dinamakan filsafat keagamaan yang murni atau agama ‎filosofis.  Perkembangan ini, walaupun dalam perjalanannya sangat dipengaruhi ‎oleh sufisme dan gaya pemikirannya, tetapi tetap dibedakan dari sufisme. Karena, ‎fenomena yang telah kita sebut agama filosofis ini, walaupun sering ‎mengidentikkan dokrin-doktrinnya dengan doktrin-foktrin sufi, terutama Sufisme ‎spekulatif, tetapi bercirikan argumentasi rasional dan proses-proses pemikiran yang ‎logis dan murni intelektual. Sedangakan Sufisme semata-mata mengandalkan ‎pengalaman atau intuisignostik dan lebih mempergunakan imajinasi puitis proses-‎proses rasional.‎

Kritikan al-Ghazali kepada Filsafat tidak lepas dari rasa prihatinya ‎terhadap keadaan pada waktu itu, dia memprotes keras dalam hatinya akan ‎peristiwa yang tidak sehat, yang berkembang dan menguasai hidup (terpecah) ‎kepada berbagai agama, berbagai mazhab dan aliran, sedang masing-masing ‎bertahan bukan dengan akalnya tetapi karena semata-mata bertaklid kepada nenek ‎moyangnya. Masing-masing tidak mengalah, merasa dirinya benar dan ‎mengatakan kepercayaannya berasal dari Tuhan sedang orang lain salah semata, ‎sehingga timbul cekcok dan permusuhan. Golongan falsafah bertegang urat leher ‎memegang pendiriannaya karena semata-mata fanatik kepada nama filosuf-filosuf ‎yang mendahuluinya seperti socrates, hippocrates, Plato, Aristoteles dan lain-lain ‎dan menganggap bahwa orang-orang yang tidak mengemukakan nama-nama itu ‎adalah bodoh.‎

Al Ghazali mengutuk golongan taklid buta kaum agama maupun fanatik ‎dogmatis kaum terpelajar. “Sadarilah wahai saudara! Kata al-Ghazali “Kalau anda ‎berpegang kepada suatu kebenaran karena hanya menengok orangnya saja (baik ‎Imam maupun filosuf) dengan tidak bersandar kepada fikiran anda sendiri, maka ‎anda akan sia-sia belaka. Seorang yang ahli hanyalah sebagai matahari atau lampu ‎yang sanggup menimbang dan memutuskan sendiri. Tetapi kalau anda sendiri ‎memang buta, maka apalah gunanya lampu atau matahari itu.  karena dengan ‎taklid atau fanatik saja akan hancurlah dia secara total.‎

Dalam suasana pertentangan tersebut, al-Ghazali tidak ikut larut di ‎dalamnya dan tidak memihak salah satu, tetapi al-Ghazali berusaha keras untuk ‎menemukan titik temu antara kelompok yang berbeda pendapat tersebut. Seperti ‎yang dikemukakan oleh DR. Akbar Ahmed: “Al-Ghazali berhasil mempertemukan ‎tiga aliran: teologi, filsafat dan mistik. Dengan demikian ia pun berhasil mengahiri ‎pertentangan antara pengikut ketiga aliran tersebut“. ‎

Selaras apa yang di kemukakan oleh Dr. Sulaiman Dunya: “Adapun ‎kitab-kitab Imam Al-Ghazali, dikarenakan ia berbicara kepada orang banyak, maka ‎beliau mengikat di suatu tempat dan melepaskannya di tempat lain. Menutupi ‎sesuatu, lalu membukanya. ‎

Imam Al Ghazali berkata dalam Kitab Al Munqidz min Adh Dhalal: ‎‎“Sesungguhnya i’tikad beliau (filosuf) sama dengan kaum ahli tasawuf. Sebab, ‎masalahnya adalah setelah dilakukan pengkajiannya akan mengetahuinya secara ‎terperinci.‎ ‎“.‎
Keyakinan akan pesatnya perkembangan filsafat pasca al-Ghazali ‎dibuktikan  dengan pesatnya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan ‎dalam Islam. Seperti yang diungkapkan oleh Will Durant:“Filsafat dapat ‎diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan ‎infantri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ‎ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak untuk kegiatan keilmuan. ‎Setelah itu pengetahuanlah yeng membelah gunung dan merambah hutan, ‎menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.‎ ‎ ‎

E. Analisis

Al-Ghazali bukanlah seperti yang digambarkan oleh sebagaian orang ‎terutama oleh para orientalis barat, dimana mereka memahami al-Ghazali sebagai ‎penyebab kemunduran berfikir bagi umat Islam atau dianggap sebagai pelopor ‎faham skeptis. Kritikan bahkan serangan al-Ghazali terhadap filsafat tidaklah ‎berarti al-Ghazali anti terhadap filsafat, tetapi lebih pada menempatkan  filsafat ‎tepat pada posisinya.‎

Tidak bisa dipungkiri, kita sebagi umat Islam dalam mengemban amanat ‎sebagai Abdullah dan Khalifatullah membutuhkan filsafat, seperti apa yang ‎dinyatakan oleh Fazlur Rahman:“Bagaimanapun juga, filsafat merupakan alat ‎intelektual yang terus menerus diperlukan. Untuk itu, ia harus boleh berkembang ‎secara alamiah, baik untuk pengembangan filsafat itu sendiri maupun untuk ‎pengembangan disiplin-disiplin keilmuan yang lain. Hal itu dapat dipahami, karena ‎filsafat menanamkan kebiasaan dan melatih akal-pikiran untuk bersikap kritis-‎analitis dan mampu melahirkan ide-ide segar yang sangat dibutuhkan, sehingga ‎dengan demikian, ia menjadi alat intelektual yang sangat penting untuk ilmu-ilmu ‎yang lain, tidak terkecuali agama dan teologi. Karena itu, orang yang menjauhi ‎filsafat dapat dipastikan akan mengalami kekurangan energi dan kelesuhan darah ‎dalam arti kekurangan ide-ide segar dan lebih dari itu, ia berarti telah melakukan ‎bunuh diri intelektual.‎ ‎ ‎

Seperti halnya yang dikatakan Ali Syariati:“Keyakinaan yang benar tidak ‎bisa tumbuh kecuali dari pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang benar ‎tidak bisa lahir kecuali dari cara berfikir yang benar, sementara cara berpikir yang ‎benar hanya bisa terjadi dari metode berpikir yang benar. Artinya, metodologi ‎adalah sesuatu yang sangat penting. Siapa yang tidak menguasai metodologi ‎berarti tidak akan mendapatkan sesuatu secara benar dan tidak akan bisa ‎mengembangkan apa yang dimiliki.‎

Disamping itu masih ada pemahaman dan cara studi yang salah terhadap ‎filsafat, dimana kajian filsafat hanya dilihat dari aspek sejarahnya dan sedikit ‎sekali dikaji dalam aspek persoalan/subtansinya.‎ ‎ Filsafat harus difahami sebagai ‎salah satu bentuk methodologi ilmu pengetahuan dan jangan dikaburkan filsafat ‎sebagai faham/aliran.‎ ‎ ‎

Dengan pemahaman kita yang benar terhadap al-Ghazali maka filsafat akan ‎terus tumbuh dan berkembang yang menghasilkan ilmu pengetahuan sejalan ‎dengan tuntutan zaman. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Luthfi  dalam ‎kitab “Tarikh Filasifah al Islam fi al Masyriq wa al Maghrib” bahwa: Al Ghazali ‎tidak begitu nampak pengaruhnya dalam hal Tasawuf tetapi pengaruh yang besar ‎adalah dalam hal filsafat.‎ ‎ ‎

F.  Kesimpulan.‎
  1. ‎Al-Ghazali adalah ilmuwan sejati yang mampu menguasai bahkan memadu ‎berbagai ilmu pengetahuan seperti teologi, tasawuf dan filsafat.‎

  2. Untuk menjaga kelestarian dan kemurnian ilmu pengetahuan  al-Ghazali ‎melontarkan anti thesis terhadap teori-teori filsafat yang akan menghasilkan ‎sintesis.‎
  3. Pasca al-Ghazali filsafat berkembang pesat dan itu bermuara pada lahirnya ‎berbagai ilmu pengetahuan dalam Islam.‎
  4. Tokoh filsafat sesudah Al-Ghazali diantaranya Adalah Ibnu Thufayl, dia ‎seorang filosof, disamping seorang pakar Geografi dan seorang penyair dari ‎Andalusia, bukunya dalam bidang filsafat yang tekenal yang sampai di ‎tangan kita  adalah tentang kisah “Hayy bin Yaqzhan” yang merupakan  ‎kisah pertama dalam filsafat dan sasta Arab.‎
  5. Juga tokoh filsafat lainnya yaitu : Ibnu Rusyd, dia seorang dokter dan alhi ‎fiqh. Kesuksesannya yang paling penting ialah di bidang filsafat, dalam ‎bidang ini paling tidak ada dua macam kesuksesan yang diraihnya, yaitu ‎Syarah (penjelasan) Ibnu Rusy terhadap karya Aristoteles, dan bakat aslinya.‎
  6. Tokoh filsafat berikutnya adalah Ibnu Al-Farabi, yang merupakan orang ‎pertama yang mengembangkan ide tentang alam semesta, yaitu : – Makro ‎Antropos ( alam semesta dipolakan pda manusia ), dan – Mikro Antropos ( ‎manusia di gambarkan menurut pola alam semesta ).‎
  7. Kita sebagai Umat Islam harus menyikapi filsafat secara bijak karena untuk ‎menjadikan Al Islamu ya’lu wala  yu’la alaihi membutuhkan metodologi ‎berfikir yang benar (filsafat).‎

DAFTAR  PUSTAKA

Abdullah, Amin dkk. 2000. Mencari Islam Studi Islam Dengan Berbagai ‎Pendekatan. Yogyakarta: Tiara Wacana.‎
Akbar, Ahmed. 1992. Citra Muslim Tinjauan Sejarah dan Sosiologi. Jakarta: ‎Erlangga.‎
Dewan Redaksi Ensikopedi Islam. 1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar ‎Baru Van Hoeve.‎
Dunya, Sulaiman. 2002. Al Haqiqat Pandangan Hidup  Imam Al Ghazali. ‎Surabaya: Pustaka Hikmah Perdana.‎
Husayn Ahmad Amin. 2001. Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam. Bandung: ‎Remaja Rosda Karya.‎
Luthfi, Muhammad. tt. Tarih Falasifah Al Islam Fil Masyriq wal Maghrib. Baerut: ‎Al Maktabah Al Ilmiyah
Nasution, Harun. 1984-985. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI ‎Press. ‎
Rahman, Fajzlur. 1984. Islam. Bandung: Pustaka.‎
Sholeh, A. Khudori. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka ‎Pelajar. ‎
Suriasumantri Jujun S. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: ‎Pustaka Sinar Harapan.‎
Zainal Abidin, Ahmad H. 1975. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali. Jakarta: Bulan ‎Bintang.‎

Oleh : Hozaini Geresis

About Author

admin

admin

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

Related Articles

Hubungi Kami:

Admin1:
Admin2:
Admin3:
Admin4:
Admin5:
Admin6:

Home Office :
Jl.Napak Tilas No.2 Cepokomulyo Gemuh
Kendal Jawa Tengah 51356
Email: admin@tanbihun.com
Phone: +62 85781738844

Who's Online

110 visitors online now
Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site