1:37 pm - Sabtu,20 Mei 7550

Belajar Dari Kematian Mbah Surip

Selasa, 4 Agustus 2009 23:38 | Hikmah | 0 Comment | Read 197 Times

Kematian mbah Surip yang tiba-tiba membuat ribuan penggemarnya terhenyak, kaget, dan menangis. Orang yang tengah berada dipuncak ketenarannya itu dipanggil Alloh yang Maha Kuasa dengan cara mendadak. Alloh Swt telah memperlihatkan otoritasNya, bahwa tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang mampu untuk melawan kehendakNya termasuk mbah Surip. Niat tulus untuk membuat album Ramadhon hanya menjadi sebuah cita-cita semata yang tak akan pernah terealisasikan selamanya. Kehendak untuk menjadi wali nikah bagi putri tercintanya tidak pernah terwujud. Sebab mau tidak mau ia harus memenuhi panggilan sang penciptanya.

Kematian Mbah Surip selayaknya menjadi Ibroh bagi kita bahwa kematian itu selalu mengintai dan siap menghampiri kita setiap saat. Bersedih dan merasa kehilangan atas kepergian Mbah Surip adalah sah-sah saja karena itu bagian dari rahmat, akan tetapi hanya merasa sedih saja tanpa berusaha mengambil pelajaran apapun dari peristiwa itu adalah sebuah kebodohan.

Fudhoyil Bin Iyad pernah berkata,” Kafaa bil mauti wa’iidho.” Cukuplah kematian yang menjadi nasehat. Kalau kita sadar dan bisa mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa kematian maka kita akan menjadi hamba Alloh selalu lurus dan berusaha menjalankan perintah Alloh.

Akan tetapi yang terjadi dimasyarakat kita adalah peristiwa kematian yang menimpa saudara kita, selalu dianggap sebagai sebuah peristiwa alam yang wajar, sehingga tidak akan membawa imbas apapun terhadap kejiwaaannya. Ibnu Athoillah memberikan nasehat kepada kita,” Janganlah anda merasa aman dari kematian setiap saat, sekalipun anda dibentengi oleh dinding dan kawalan penjaga, ketahuilah bahwa anak panah kematian tidak pernah meleset dari sasarannya, sekalipun ia berlindung dibalik benteng dan baju besinya.

Oleh sebab itu Alloh swt menyeru hambanya agar datang menghadapNya dengan membawa bekal taqwa,” Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa.” Bukan malah seperti yang disindirkan oleh Nabi Saw, wa ka’annal mauta fiiha ‘ala ghoirina kutiba.” Seakan-akan kematian itu hanya akan menimpa orang lain.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kematian mbah surip.

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

Tagged with:

bagaimana cara mengambil pelajaran dari sebuah kematian (1),dibalik meninggalnya mbah surip (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner