Tanbihun – Ini lanjutan dari Artikel Cobaan Hidup bagian ; 1. Telinga kita tentu tidak asing dengan kalimat “Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuannnya”, mata kita juga sering menagkap kalimat ini,mungkin saat kita curhat tentang problem yang sedang kita hadapi,kalimat tadi bisa saja dikirim teman kita lewas SMS. Mungkin kalimat itu kita pilih untuk menentramkan sahabat kita yang sedang dirundung cobaan hidup.
Apakah dengan kalimat itu lantas hati kita jadi tenang,menerima dan menjalani bagian cobaan hidup dengan lapang dada? kala cobaan-cobaan itu belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan berkurang, atau malah semakin bertambah, hati kita mungkin bertanya-tanya, batasan kemampuan yang dimaksud ini siapa yang menentukan? saya benar-benar sudah merasa tidak sanggup lagi menanggung derita ini? apakah ini tidak melebihi batas kemampuan saya?
Penulis teringat kala membantu orang-orang untuk memprogram ulang hape mereka yang terserang virus, hapenya tiba-tiba saja sering mengirim sms sendiri,ada yang menu player musicnya tidak mau jalan dan sebagainya. Setelah dilihat,faktanya hape yang terjangkit virus memang sudah memakai OS (operating System),dan dari sanalah terdapat celah yang dipakai virus untuk masuk dan mengacakan systemnya,jalan terakhir jika format tidak juga mampu mengembalikan hape ke posisi normal,maka harus di program ulang, dalam dunia service hape disebut reflashing.
Penulis jadi berpikir, mungkin yang dimaksud kemampuan dalam kalimat diatas adalah semacam fitur atau system yang ada dalam diri manusia,tapi tentu tidak seperti hape, semakin canggih dan banyak fiturnya,maka semakin banyak ancaman error dan virusnya, berbeda dengan hape yang cuma didukung java, dia aman dari virus,meskipun tetap ada kerusakan-kerusakan yang siap menanti. namun yang pasti aman dari virus. Begitu pun manusia, semakin banyak pengetahuannya,pengalamannya,hartanya,akalnya,pengaruhnya,maka akan semakin kuat pula cobaan-cobaan yang akan diterimanya, yang perlu digaris bawahi, orang-orang yang sekelas hape java takkan pernah diuji dengan virus seperti hape yang memakai OS, sekali lagi mungkin inilah yang dimaksud dengan “batas kemampuan”.
Allah takkan pernah menimpakan ujian kepada kita secara ngawur, pasti sudah diukur dengan kemampuan kita, semakin tinggi keinginan, semakin keras saat ia jatuh, semakin banyak penghormatan yang diberikan orang kepadanya, semakin mudah dia tersinggung saat ada 1 orang saja yang dalam pandangannya meremehkan dirinya. Ketika ia berbicara,ada 1 orang saja yang dilihatnya mengantuk,maka ia akan marah besar,karena baginya itu merupakan wujud penghinaan.
Berbeda dengan orang yang sudah terbiasa bebas tanpa penghormatan, istilahnya “dia datang disatu majlis tidak pernah disebut namanya,dia absen juga orang takkan pernah tahu”. Baginya diremehkan orang itu sudah hal yang biasa,dia merasa caci-maki orang itu belum seberapa,kalaulah Allah membukakan semua aibnya,pastilah semua makhluq akan berpaling darinya dengan umpatan,bahkan sumpah serapah.
marilah kita syukuri, …. apapun masalah yang sedang kita hadapi, apapun cobaan yang saat ini menyelimuti jiwa-raga kita, berusahalah untuk menyematkan rasa syukur, berterima kasih kepada Allah atas kemurahan dan kasih sayang-Nya, aib-aib kita,kebohongan-kebohongan kita,niat buruk kita,sampai detik ini masih banyak yang ditutupi-Nya. iringi rasa syukur ini dengan istighfar,mohon ampun pada-Nya, mungkin tanpa kita sadari kita pernah berprasangka buruk kepada-Nya atau berbuat dholim pada diri sendiri dengan menenggelamkan diri kedalam lautan masalah tanpa bisa mearaih hikmah dan pelajaran dari sana.
“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu serta peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam sorga yang telah Engkau janjikan kepada mereka dari orang-orang shalih di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sungguh Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari balasan kejahatan. Sebab orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu, sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Mukmin: 7-9)
by: debu jalanan



[...] diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan. * Kedua, motivasi belajar dari faktor eksternal, yaitu dapat berupa rangsangan dari orang lain, [...]