Tanbihun.com- Pagi itu Ahmad memacu kuda besinya menuju sawah yang terletak di kampung sebelah, Setelah hampir 30 menit Ahmad menyabuti rumput yang tumbuh disela-sela tanaman jagung ia istirahat dibawah pohon pisang, dibukanya bekal makanan kecil dan minuman air putih. Sejenak pikirannya melayang membawanya ke masa lalu, disana ia melihat bapak dan ibunya sedang bercocok tanam, tiba-tiba seperti ada bisikan lirih “Lihatlah nak, kamu menanami sawah yang dulu ditanami bapak-ibumu, adakah perbedaan diantara kamu dan mereka?”
Ahmad tertegun, sudah hampir 1 minggu ini pikirannya terusik, entah dari mana asal-muasalnya, rasa itu selalu hadir terutama saat ahmad berada di sawah. Dalam alam pikirannya dia bertanya-tanya, “kedua orang tuaku hanya bertani, menanami sawah yang sama dengan yang saat ini aku tanami, tapi beliau terbilang mapan ekonominya, hasil pertaniannya bukan hanya cukup untuk menghidupi anak-anaknya, bahkan cucu-cucunya, lebih mengherankan lagi bapak mempunyai beberapa ekor sapi, 2 sapi dijual dan uangnya diberikan untuk modal usahaku”.
Itulah kenangan ingatan masa-lalu yang kini menghantui ahmad, 2 ekor lembu modal dari bapaknya menjadi modal yang menghantarkan ahmad menjadi pengusaha sukses, puluhan anak-buah membantu usahanya, rumah, sawah, kebun, mobil sudah dapat dinikmati, tapi pada akhirnya semua itu lenyap, ahmad jatuh bangrut, semua terjual ludes, tinggallah sawah warisan orang tuanya, yang sekarang ia tanami jagung.
Inikah Keberkahan Itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu berhenti pada sebuah jawaban, yaitu kalimat berkah. Ia teringat pelajaran di pesantren saat ia masih remaja, kata Gurunya ;
البركة هى زيادة الخيرفى ذات الخير
“berkah adalah bertambahnya kebaikan pada sesuatu yang baik”
Meskipun sedikit, kalau ada keberkahan dari Alloh maka bisa cukup, sebaliknya walaupun banyak tanpa berkah didalamnya, akan dirasakan kurang, kurang dan kurang. Dalam bahasa jawa disebut “NGGRAGAS”, Yaitu tamak bin rakus tak kenal puas atau cukup.
Dulu ahmad bergelimang harta, namun itu tidak menambahi kebaikan baginya, kekayaannya malah menjauhkan dirinya dari orang tua dan saudara-saudaranya, harta bendanya menjelma menjadi kesombongan yang menjulang tinggi, ia merasa semua bisa dicapai dengan uang, ia merasa hartanya takkan habis sampai tujuh turunan, ia lupa, kalau Alloh mampu membuatnya kaya, tentu DIA juga mampu membuatnya miskin kembali. Dan itulah yang kini dirasakan ahmad. Beruntunglah ahmad masih diberi “kesadasar” hingga ia menyadari kesalahannya, baik kepada Alloh, orang tua maupun saudara-saudaranya yang dulu pernah disakitinya, meskipun kini kedua orang tuanya telah tiada.
Dengan urai air mata ahmad menggenggam tanah sawah didepannya, sambil berbisik “ditanah inilah dulu bapk-ibuku meneteskan keringatnya saat bekerja untuk menghidupi aku, bapak….. ibu… ma’afkan kebodohan dan kesalahan anakmu ini”.


