MENGUAK RAHASIA BESAR

Oleh Pada Thursday, 8 October, 2009 11:16 AM. Under Hikmah  

gempa-2“Indonesia terus ditimpa bencana, kalau menurutmu bagaimana?” Ali bertanya pada Kalam disela-sela kesibukannya mencuci pakaian. Kalam yang dari tadi menyimak siaran radio Elsinta hanya terdiam, ia kelihatannya khusyuk dalam menyimak setiap perkembangan reportase gempa dari Padang. Mendadak Kalam menyeletuk reflek, “Wuh…korbannya sampai ribuan, ingin aku berangkat ikut jadi relawan kesana.” Dari radio terdengar penyiar menyampaikan tentang reportase jumlah korban yang terus bertambah, dan beberapa orang mengalami luka ringan dan berat. Bangunan-bangunan roboh menenggelamkan ratusan manusia.

Sarapan yang dari tadi sudah siap dihadapannya sampai sekitar seperempat jam tak disentuhnya. Ia terus ingin tahu perkembangan kabar bencana. Dari mulai kabar para korban yang terjepit di sela-sela reruntuhan bangunan, padamnya listrik, karena tumbangnya beberapa tower listrik; telah hadirnya beberapa tenaga medis dari beberapa provinsi yang sudah mencapai ribuan perawat dan dokter.

“Bagaimana kalau kita ikut jadi relawan ke sana?” tanya Kalam kepada Ali.

“Lho….pertanyaanku tadi berlum dijawab, malah sampeyan balik bertanya.” Pakaian yang bertumpuk di ember rendaman mulai dikucek-kucek sampai bersih, sebelum akhirnya nanti diecur.

“Emang tadi Ali bertanya apa?”

“Uuuuuhh….kuping opo cantolan” Ali meledek, karena tenyata pertanyaannya tadi tak didengar Kalam.

“Sueeeer….aku tadi gak dengar pertanyaane sampeyan, mungkin terlalu asyik dengar siaran Elsinta. Tolong tadi pertanyaannya diulangi.”

“OK….menurutmu kenapa Indonesia terasa seperti dihujani bencana, alias bencana seperti tak mandeg-mandeg mengunjungi bumi Indonesia ini.” Sebelum Ali mengatupkan mulutnya, Kalam sudah mendahului jawabnnya.

“Karena Indonesia akan menjadi bangsa yang unggul menjadi bangsa pemimpin dunia.” Jawab Kalam meyakinkan.

“Apa hubungannya bencana dengan keunggulan bangsa Indonesia.”

“Ya jelas ada dong…seperti dikatakan Allah bahwa setelah kesulitan akan datangan kemudahan-kemudahan, maka setelah kehancuran-kehancuran ini insya Allah bangsa Indonesia akan mengalami kejayaan-kejayaan sebagaimana kejayaan pertama kali sebelum kejayaan peradaban mesopotamian pada lima milenium yang lalu. Maka yang paling baik dilakukan bangsa Indonesia ketika ditimpa bencana, langsung mengingat kebaikan-kebaikan yang akan kita panen di hari-hari mendatang karena hari ini kita telah menanam kesabaran, optimisme dan kerja keras.”

“Bisa aja kamu ini…bukan kah bencana ini bagian dari adzab Allah kepada bangsa Indonesia?” pancing Ahkam dengan pertanyaan datar.

“Kalau menurutku tidak. Kan….secara geologis mengatakan bahwa lempengan bumi Australia dan Indonesia menggeliat, sehingga karena menggeliatnya bumi tentunya terjadi getaran yang akan menyebabkan roboh bangaunan-bangunan. Bangunan yang roboh biasanya akan memakan korban manusia yang ditimpanya. Sebenarnya gempa bumi itu tidak akan memakan korban kalau seandainya kita semua berdiri di padang pasir atau tanah lapang. Jadi jangan sampai kita menyalahkan bumi yang sedang menggeliat, karena kebanyakan korban itu tertimpa bangunan yang dibikin manusia sendiri.” Mulutnya berbusa-busa, kelihatannya ia juga tak mau berhenti berpendapat mengenai bencana yang baru saja menimpa saudara-saudara kita di Padang. Matahari mulai menampakkan sinarnya. Cucian sudah menjadi perasan, pertanda akan segera di jemur di pelataran. Suara lantang simbah juga mempercepat proses mencucinya Ali,

Wis cepet dijemur cuciane, ora usah kakean ngopot.” Suara lantang Simbah membuat kedua cucu itu memperlambat suaranya. Mereka pun segera mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Ali terus berfikir tentang apa yang dikatakan oleh kakaknya. Dalam hatinya mengurai pikiran-pikiran tentang bencana yang baru sehari terjadi. Ia mulai terngingan kata-kata. Bahasa hatinya mengungkapkan.

“Kalau begitu….yang mengadzab manusia itu manusia sendiri. Dari dulu air itu mengalir dari atas ke bawah kemudian meresap ke tanah. Itu bahasa alam atau sunatullah. Tetapi karena pori-pori tanah yang ada di perkotaan sudah ditutup dengan lapisan-lapisan semen. Maka air akan memilih jalan alternatif tanpa melalui tanah. Sehingga air akan menyapu apa saja dan melalui yang bukan jalannya, Tapi manusia menuduh air menjadi biang kerok banjir, padahal manusia sendiri yang telah mendzolimi kehadiran air di bumi ini. Mungkin bumi juga begitu, karena dia juga makhluk, mungkin ya….kepingin menggeliat.” Ali kelihatan bahagia karena baru saja seperti mendapat ilham pemikiran tentang bahasa alam yang kurang dipahami manusia. Ia segera mungkin menyelesaikan prosesi penjemuran pakaian. Ia sudah tak sabar lagi ingin menemui kakak dan menyampaikan pemikirannya. Ali dengan gamblang menyampaikan pemikirannya yang datang barusan ketika ia menjemur. Kalam menimpali pendapat adiknya.

“Ya…benar. Kalau bumi punya speaker tentu dia akan woro-woro kepada semua manusia. Dan sebenarnya bumi telah memberi aba-aba melalui pertanda alam sebagai pengumuman tentang kemungkinan menggeliatnya di hari tertentu. Misalnya kalau gunung akan meletus. Biasanya keluar wedus gembelnya, hewan-hewan yang mempunyai habitat di sekitar gunung juga mulai turun gunung. Demikian juga dengan gempa pasti di awali dengan pertanda mego malang yang seperti huruf i memanjang dan menyilang di atas daerah lokasi gempa. Aku sudah menyaksikan sendiri waktu di Jogja dulu.” Sambil memegangi radio tuanya Kalam masih tetap kukuh untuk mempertahankan gelombang Elshinta yang menyiarkan liputan-liputan news and talk nya. Mendengar pernyataan itu, Ali jadi langsung nyambung.

“Oooo….ya dulu waktu sehari sebelum gempa di Cilacap juga ada pertanda yang ganjil. Rombongan kelelawar keluar dari sarangnya pada siang hari. Gak mungkin kan….kelelawar keluar pada siang bolong….berjamaah lagi. Apakah mungkin karena manusia sekarang yang sudah sedemikian materialis dan rasional, maka bahasa alam yang sir itu sudah tidak di titeninya.”

“Mending dititeni dianggap aja tidak.” Tiba-tiba Kalam menyela dengan celetukan.

“Ya…mungkin kita semua sekarang sudah kehilangan ilmu titen seperti nenek moyang kita dulu.” Sambung Ahkam bersahutan. Bunyi klentang-klenting suara gelas menghiasi diskusi pada pagi itu. Ahkam bikin teh manis yang disukainya. Satu stoples opak pohong wonosobo menemani mereka berdua. Bunyi gemeretak pecahnya opak digigit gigi laksana gemeretak geliatan bumi.

“Dulu Mbah Haji Ilyas itu saking titennya, dia tahu orang yang sudah mekasi (orang yang segera akan meninggal dunia).” Simak yang dari tadi iris-iris bawang dan mengolah masakan jadi ikut nimbrung ngomong menyampaikan tentang berbagai kelebihan orang tua jaman dulu.

“Memang orang dulu itu jarang yang sekolah. Karena memang jarang kesempatan untuk sekolah. Tetapi laku perihatin (perih ning batin) nya luar biasa. Sehingga mereka mempunyai daya linuwih peka terhadap bahasa-bahasa alam. Makanya tak jarang di antara mereka yang mampu meramal tentang keadaan-keadaan, kondisi-kodisi yang akan terjadi.” Ali dan Kalam terdiam menyimak tutur kata Ibunda yang biasanya mereka ambil sari katanya. Di sela-sela mendengarkan ucapan-ucapan Simak, mereka menyeruput wedang teh bandulan, sambil kletak-kletik memakan opak Wonosobo. Setelah Simak menyudahi tutur katanya, Kalam menyambung meneruskan pembicaraan.

“Setuju Aku sama Simak. Orang dulu itu lebih maju dibandingkan kita dalam urusan ilmu. Karena mereka menguasai ilmu masa depan. Mereka dapat memprediksi kondisi alam, keadaan manusia yang akan datang. Sedangkan manusia sekarang hanya menguasai ilmu masa lalu dan sekarang. saya lihat juga buku-buku pelajaran yang ada sekarang ini membahas ilmu-ilmu, dan menuturkan sesuatu yang sudah terjadi. Keterbatasan ilmu sekarang adalah tidak bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan.” Ali yang dari tadi mendengarkan tak kuasa lagi menahan mulutnya yang mingkem.

“makanya Mbah Marijan terkenal saat merapi batuk. Justru masyarakat lebih percaya bertanya tentang merapi kepada beliau ketimbang kepada ahli vulcanologi, karena Mbah Marijan tahu persis kemana arah lahar akan meleleh, kapan merapi benar-benar akan meletus. Sehingga ketika Sri Sultan menyarankan Mbah Marijan untuk turun gunung, beliau malah menolaknya. Saat masyarakat menghendaki beliau menyelamatkan diri dari punggung merapi, Mbah Marijan malah dawuh : sing kudu ati-ati iku wong kidul. Ternyata pernyataannya itu benar. Beberapa hari setelah Mbah Marijan mengucapkan kata-kata saktinya, Gempa belanda Jogja bagian selatan yang berpusat di pertemuan Kali Oya dan Kali Opak di Imogiri Bantul.”

Kalam baru akan mulai menyantap sarapannya. Sego megono dengan gorengan tempe sudah menjadi kebiasaan menu sarapan tiap pagi. Tapi terpaksa Kalam beberapa kali harus menghentikan sarapannya, karena Ahkam terus saja mengajak diskusi yang berkelanjutan.

“terus apa yang tadi sampeyan sampaikan tentang bangsa Indonesia yang akan jaya memimpin dunia itu maksudnya apa?” Ahkam baru teringat kata-kata awal kakaknya. Ia mengerutkan dahi tanda penasaran. Dari pada nanti jadi kepikiran mending ditanyakan.

“pemikiran itu berdasarkan hadist Nabi yang mengatakan bahwa orang yang ditimpa bencana itu karena dua hal: pertama untuk menyucikan manusia dari dosa-dosanya. Kedua manusia yang terkena musibah akan diangkat derajatnya oleh Allah. Maka berbahagialah bangsa yang sering terkena musibah seperti Indonesia ini.”  Terang Kalam dengan tenang.

“terus kok bakal memimpin dunia?”

“ya….jelas. karena kita telah menjalani semua musibah yang menimpa kaumnya Nabi Siapa saja. Banjir bandang yang sering melanda Indonesia itu termasuk bencana yang menimpa umatnya Nabi Nuh. Kekeringan juga bagian dari ancaman yang dulu menjadi bencana umatnya Nabi Yusuf. Intinya cobaan bangsa Indonesia itu sudah lengkap seperti cobaanya Nabi dan Kaumnya, maka sudah seharunya bangsa Indonesia akan diangkat melebihi umat-umat Nabi masa lalu.”

Paesan, 08 Oktober 2009

Ahmad Saifullah

Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

About


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Tags: