Tanbihun.com- Setiap insan tentunya dianjurkan mengambil sisi positif dari semua kejadian yang menimpa. Agar tidak terjerumus ke lembah dosa dan pengkhianatan kepada nikmat Alloh atau tidak ridha dengan ujian-Nya. Oleh karena itu, mereka harus pandai bersyukur ketika mendapat karunia dan pandai mencari hikmah di balik bencana-Nya. Hal ini, juga berlaku dalam musibah pesawat SUKHOI dan pesawat Fokker 27 TNI AU baru-baru ini.
Apabila kita merenungkan QS. Yunus: 22-23, Allah swt. menyinggung kepada kita. Bagaimana seandainya satu rombongan nahkoda kapal menyusuri lautan dan mereka terdampar atau khawatir hampir tenggelam disebabkan kencangnya angin, terpaan ombak, dan serangan topan. Kemudian mereka hampir berputus asa dan menyerah dengan takdir, lalu Allah swt. menyelamatkan mereka sampai ke daratan dengan sempurna. Namun, mereka mengkhianati nikmat Allah dan tidak mau mensyukuri, bahkan menganggap kekuatan abadi adalah dalam kecanggihan tehnologi dan ilmu pengetahuan. Mereka lupa ada ‘Dzat Maha Kuat’ yang telah memberikan uluran tangan kasih-Nya kepada mereka semua.
Begitulah Allah swt., di balik bencana Dia mengingatkan kepada kita semua bahwa apa pun canggihnya tekhnologi, penemuan-penemuan ilmiah, dan segudang alat-alat detektor bencana, atau yang lain. Itu semua tidak akan pernah bisa menandingi Tangan Alloh Yang Maha Mulia itu.
Dalam QS. Yasin: 41-44, Allah swt. lebih menegaskan pentingnya bertafakkur saat berkendara baik di daratan, di lautan, maupun di angkasa. Yaitu andaikan Dia mau, niscaya Dia mampu menenggelamkan, menjatuhkan, dan membinasakan kita semua. Namun, karena rahmat dan karunia, kita tetap hidup saat berada di darat, di laut, maupun di angkasa luar.
Ayat ini menarik, karena al-Qur’an mengisyaratkan kendaraan selain di darat dan di laut yang sama bisa berjalan dengan keduanya. Inilah yang perlu direnungkan bagi kita. Dalam mengambil ibroh dan pelajaran, tentunya kita harus kembali kepada al-Qur’an.
Jika kita berusaha mengkontekstualkan ayat di atas, dapat ditarik pemahaman sebagai berikut:
Pertama, kemajuan tekhnologi bukan berarti melenyapkan Alloh seperti keyakinan kaum komunis. Sebab, ternyata ada bukti bahwa secanggih apa pun, kekuataanya tidak akan pernah menghindari bencana. Oleh karenanya, justru dengan adanya tekhnologi ini perlu kita menambahkan keyakinan Maha Kesempurnaan Dzat Yang Kuasa yang telah memberi akal fikiran manusia untuk berbuat dan mencari fasilitas kehidupannya. Inilah khalifah yang diisyaratkan dalam banyak ayat-Nya. Bukan malah melenyapkan dan menafikan ketuhanan-Nya.
Kedua, adanya bencana itu murni ujian Allah swt., tidak karena murni kesalahan seorang hamba. Bagaimana pun juga apabila kita melihat kronologi dan persiapan yang dilakukan pihak pelaksana, itu tidak bisa kita serta merta melimpahkan kesalahan kepada mereka. Lebih baik kita berdoa kepada-Nya semoga para arwah pengendara pesawat itu dilimpahkan karunia dan pahala oleh Allah swt., ketimbang kita selalu mencaci maki pelaksana, pilot, dan pihak yang bersangkutan tidak ada habisnya. Memang kadang kesalahan melahirkan kedengkian dan kemarahan, namun lebih arif mestinya jika kadang kita juga berhati lunak agar tidak membuat runyam perkara.



saya sangat sedih melihat puisi atau gmbar2 trsebut