TANBIHUN ONLINE

Mutiara Terpendam Dari Muqaddimah Riayatal Himmah

 Breaking News
  • Kisah Kang Santri (True Story Bag.2) TANBIHUN.COM- Setahun berselang aku pulang ke rumah. Kisahnya berawal ketika aku menelpon salah satu saudaraku di Jakarta, lalu saudaraku itu memberikan nomer telponku kepada ayahku Allohu yarhamuh. Girang luar biasa...
  • Tetaplah Semangat Dalam Segala Kondisi TANBIHUN.COM- Kenapa Aku selalu merasa sedih? Kamu tidak sedih, hanya kurang semangat.dan itu bisa mencair lagi seiring dengan pikiranmu yang lebih positif. Tapi Aku belum bisa mencapai hal yang aku...
  • Masihkah Kau Meratap Didinding facebook? TANBIHUN.COM- Mark Zuckerberg, seorang anak muda Yahudi ingin membawa tradisi Yahudi dengan Tembok Ratapan nya ke ranah dunia maya dengan menciptakan Facebook. Disana setiap orang bisa meratap dan mengungkapkan uneg-unegnya,...
  • Kisah Kang Santri (True Story. Bag. 1) TANBIHUN.COM- Jakarta terlalu bising dan memekakkan telinga untuk kelas orang kampong udik sepertiku. Aku yang biasa nyaman dengan suara cicit burung pipit dan sorak burung gagak, merasa pening dan mual...
  • The Power Of Love (The Story of Mamo Zain) TANBIHUN.COM- Mamo, pemuda malang sebagai pekerja di satu istana. Allah mengujinya dg mencintai putri istana, Zain. Cinta itu tumbuh bersemi di dalam hati kedua pemuda pemudi itu. Sudah bisa ditebak,...
October 21
21:03 2012

Tanbihun.com - Beliau adalah Syaikh Ahmad Rifa’i yang selalu menekankan kepada seorang Mukalaf untuk mempelajari ilmu Ushuliddin, Fiqih dan Tashawuf.  Yang beliau tulis dengan “Wajib saben mukalaf ngumpulaken ngilmu telung parkoro” [Wajib bagi seorang mukalaf untuk mempelajari tiga ilmu].

Ada satu nadhoman dari muqaddimah beliau [salah satunya dalam kitab Riayatal Himmah] yang sebelumnya saya berfikir itu adalah mukadimah yang biasa ternyata tersirat nasihat mutiara kata yang sangat indah.

Nadhom itu berbunyi “Wajib syukur ing Allah pangeran kagenah”.  [Wajib bersyukur kepada Allah Tuhan yang haq]

Bahwa kalimah tadi bisa memberi artian sebelum kita memulai aktifitas jangan pernah lupa jika  sudah selayaknya kita harus mendahulukan rasa syukur kepada Allah.

Juga seakan beliau ingin menyampaikan “Dahulukanlah rasa syukur kepada Allah sebelum engkau memulai aktifitas yang padanya kamu akan menjumpai berbagai hal. Ada ketidak puasan, selalu merasa kurang, rasa kecewa, suka membanding-bandingkan nikmat kepada orang lain dan lain sebagainya.”

Terlebih adalah rasa syukur  akan nikmat Iman karena ini yang sering dilupa, hingga tak jarang saat melakukan ibadah seolah hanya menjadi rutinitas lahir yang biasa dan tidak mempunyai ruh dalam beribadah.

Bagaimana seorang mukalaf bisa merasakan nikmatnya talabul ‘ilmi jika dalam hatinya masih menyimpan ketidak puasan dengan nikmah yang sudah Allah beri?

Bagaimana seorang mukalaf bisa menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, jika masih selalu merasa kurang dengan pemberianNya?

Apa jadinya jika rasa syukur atas semua yang seorang mukalaf miliki itu sudah sudah tidak ada dalam hatinya?

Maka, diwajibkan bagi kita [hususnya mukalaf] untuk dapat bisa bersyukur kepada Allah. Karena dengan bersyukur kita tidak akan menemukan sikap berburuk sangka kepada Allah Azza Wa Jalla.

Wallahua’lam

Tags
Share

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

Latest Comments

ya ditunggu,semoga tidak lupa ..... hehehhe.... :) ...

menunggu sambungannya :) ...

Al-Faqir mohon halalnya MP3 manaqib dan doa yang sy unduh, terima kasih semoga bermanfaat JAZAKUMULLAH...