TANBIHUN ONLINE

Mutiara Terpendam Dari Muqaddimah Riayatal Himmah

 Breaking News
  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Tanbihun.com- Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan...
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Tanbihun.com- “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri...
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com- Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa...
  • Petunjuk Nabi saw Tentang Konflik Yaman (antara hijrah dan iqomah) Tanbihun.com- al iimaanu Yamaanun wal hikmatu Yamaniyyatun, Yaman adalah poros dan gambaran kuatnya iman dan hikmah.. Hingga Nabi saw pun menegaskannya Ditengah konflik perang “saudara seislam”, banyak ijtihad ulama dalam...
  • Kartini apa ‘Aisyah? Tanbihun.com- Jika Kartini dianggap mendobrak kejumudan berpikir wanita, Aisyah yg jauh-jauh hari melawan mainstream Jahiliah yang mendiskreditkan wanita. sampai beliau mengatakan: وقالت عائشة نعم النساء نساء الأنصار لم يمنعهن الحياء...
October 21
21:03 2012

Tanbihun.com - Beliau adalah Syaikh Ahmad Rifa’i yang selalu menekankan kepada seorang Mukalaf untuk mempelajari ilmu Ushuliddin, Fiqih dan Tashawuf.  Yang beliau tulis dengan “Wajib saben mukalaf ngumpulaken ngilmu telung parkoro” [Wajib bagi seorang mukalaf untuk mempelajari tiga ilmu].

Ada satu nadhoman dari muqaddimah beliau [salah satunya dalam kitab Riayatal Himmah] yang sebelumnya saya berfikir itu adalah mukadimah yang biasa ternyata tersirat nasihat mutiara kata yang sangat indah.

Nadhom itu berbunyi “Wajib syukur ing Allah pangeran kagenah”.  [Wajib bersyukur kepada Allah Tuhan yang haq]

Bahwa kalimah tadi bisa memberi artian sebelum kita memulai aktifitas jangan pernah lupa jika  sudah selayaknya kita harus mendahulukan rasa syukur kepada Allah.

Juga seakan beliau ingin menyampaikan “Dahulukanlah rasa syukur kepada Allah sebelum engkau memulai aktifitas yang padanya kamu akan menjumpai berbagai hal. Ada ketidak puasan, selalu merasa kurang, rasa kecewa, suka membanding-bandingkan nikmat kepada orang lain dan lain sebagainya.”

Terlebih adalah rasa syukur  akan nikmat Iman karena ini yang sering dilupa, hingga tak jarang saat melakukan ibadah seolah hanya menjadi rutinitas lahir yang biasa dan tidak mempunyai ruh dalam beribadah.

Bagaimana seorang mukalaf bisa merasakan nikmatnya talabul ‘ilmi jika dalam hatinya masih menyimpan ketidak puasan dengan nikmah yang sudah Allah beri?

Bagaimana seorang mukalaf bisa menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, jika masih selalu merasa kurang dengan pemberianNya?

Apa jadinya jika rasa syukur atas semua yang seorang mukalaf miliki itu sudah sudah tidak ada dalam hatinya?

Maka, diwajibkan bagi kita [hususnya mukalaf] untuk dapat bisa bersyukur kepada Allah. Karena dengan bersyukur kita tidak akan menemukan sikap berburuk sangka kepada Allah Azza Wa Jalla.

Wallahua’lam

Tags
Share

Artikel Terkait

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

Latest Comments

Melu nimbrung... amber Olih tambah ilmu ...

Assalamu'alaikum W W Kepada Admin Yth. ini sangat bagus sekali karena masyarakat luas bisa menikmati hasil karya...

maaf izin share, terima kasih :) ...