Dari kepolosan wajahnya sebenarnya menyimpan ribuan tanda tanya, “aku ingin seperti dia, aku ingin pinter ngaji, aku ingin menjadi orang yang shalih kelak, tapi bagaimana caranya? Kok mereka bisa ya?”
Mungkin seperti itulah yang ada dalam fikiran si bocah.
Hari itu merupakan hari yang bersejarah baginya, karena si bocah mulai masuk pesantren. Dengan tekad kuat, dalam hatinya “mungkin ini salah satu jalannya untuk menjadi orang yang pinter ngaji…”.
Setiap materi pelajaran dengan tekun dia pelajari, meski banyak yang kurang ia fahami.
Pada suatu malam dia amat tertarik mendengar perbincangan para seniornya,
“jum’at kemarin ustadz ngasih ijazah apalagi?”
“amalan asma’ul husa sama karomah..”
Mendengar percakapan seniornya si bocah tambah penasaran,
“amalan asma’ul husa sama karomah..?? ilmu apa itu ya??”, dengan mengendap-endap sang bocah membuntuti para seniornya,
“sedang apa mereka?” si bocah tampak takjub,
“wahh, mereka sedang latihan silat..!!! hebat nih”
Hari demi hari si bocah makin tertarik untuk belajar ilmu kanuragan, hingga tiap malam dia selalu mendekati salah satu seniornya supaya mahu ngajarin. Ternyata kemauannya didukung, hingga dia pun diajak sowan (silaturrahim) kesalah satu yang katanya sudah ahli dibidang kejadugan (olah kanuragan).
“le… ini kamu amalin ya..”
“injih mbah…”
“tapi jangan lupa, biar bagus nanti kamu beli kemenyan putih yo..”
Si bocah tampak kelihatan sumringah.
Keesokan harinya, ada salah satu teman kakaknya yang belum lama menyelesaikan mesantren dari daerah lain berkunjung, si bocah pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu,
“kak, nyari kemenyan putih tu di mana sih?”
“meh buat ngapain…?”
“gini kak, aku dapat ijazah suruh ngamalin wirid ini… supaya reaksinya cepet harus pakai kemenyan putih..”
Sambil geleng-geleng kepala,
“buat apa kayak gituan…? Sini tak nasihatin, ilmu seperti itu paling mudah dipelajari.. jangan terburu-buru, utamain belajar baca dan mahamin kitab dulu… karena itu yang terpenting”,
Si bocah sedikit kecewa,
“jangan hawatir, entar kalau sudah waktunya aku yang akan ngajarin… jangan sia-siain waktu kamu dengan melajari ilmu-ilmu seperti itu…”
Dengan tanpa mendebat ahirnya sang bocah menuruti nasihat teman kakaknya, dan mengurungkan niatnya.
Hingga ahirnya si bocah mulai tumbuh dewasa, disela-sela waktu luangnya dia pun sedikit demi sedikit mulai mempelajari kanuragan dan hal-hal yang berhubungan dengan perkara gaib. Sebenarnya dia berbakat mempelajari ilmu itu, tapi rupanya ia sedikit bimbang,
“apa sih manfaatnya aku mempelajari ilmu ini?”
Rupanya dia tidak menemukan ketentraman setelah belajar meski hanya sedikit, dan pencarian jati diri pun dimulai.
Hari itu dia terlihat mengurung dikamar, sambil tertunduk lesu matanya tak bergeming dari tulisan hingga kedua pipi bersimbah peluh airmata. Kisah hikmah para shalafusshalih yang ia baca membuat hatinya bergetar, rasa takut, rasa syukur campur aduk jadi satu.
Dia membandingkan perjalanan spiritual yang sudah dialami tidak ada apa-apanya, cobaan hidup yang datang silih berganti ternyata juga belum ada apa-apanya, dibanding perjalanan spiritual manusia-manusia shalih dizaman dulu.
Waktu terus menuntun diumurnya yang menginjak 20 tahun, setelah tamat dia pun hijrah kepesantren lain. Semakin dia mendalami ilmu agama semakin pula dia merasa bahwa dirinya teramat kotor dengan tumpukan dosanya, hingga ia sampai berfikir,
Apakah ibadahku selama ini engkau terima Ya Robb…
Betapa sombongnya dahulu hamba pernah berkata, ‘ini semua aku niati demi menegakkan kalimah-Mu’
Padahal hati ini teramat jauh dari niat itu, karena kabodohan hati ini mengerti
akan kata ihlas yang semata hanya untuk-Mu..
Juga ketika Engkau uji seonggok daging ini dengan ketetapan takdir-Mu,
Hati ini merasa sudah lebih tinggi diatas mahluk lain,
Entah tangisan apa yang aku cucurkan?
Entah ketakutan apa yang aku rasakan?
Entah niat ibadah seperti apa yang sudah aku kerjakan?
Sering si bocah yang sekarang sudah beranjak dewasa ini menangis ketika mendengar muhasabah dari gurunya, hingga tak jarang kitabnya lusuh dengan tetesan airmata.
Sering si bocah yang sudah beranjak dewasa ini menyendiri disudut kamar menangisi tumpukan dosanya, ia tidak menghiraukan kawan-kawan disampingnya yang rame dengan bercanda.
Rupanya dia sangat menghawatirkan akan satu hal,
“apakah ketika aku sudah tidak dipesantren lagi aku masih bisa merasakan kenikmatan seperti ini…?” desahnya sembari menutup kitab yang ia pangku.
amalan ilmu kedigdayaan,ajian paling gampang dipelajari,ilmu menyan putih,ilmu kadigdayan,Ilmu ilmu gaib yang paling mudah dipelajari,gemblengan ilmu spiritual,campur aduk: ILMU KANURAGAN,Belajar ilmu kanuragan paling mudah di pelajari,ajian yg paling mudah dipelajari



Saat kerusuhan melanda negeri ini pada tahun 1998, anak saya meminta izin untuk belajar ilmu kedigdayaan, agar “tan tedas tapak paluning pande tinatah gurindo. tinumbak lakak- lakak di bedil mecicil”.
Saya katakan:” maukah saya ajari ilmu yang lebih tinggi?.
Anak saya penasaran: “ilmu apakah itu?”. “Ilmu SLAMET”, Jawab saya.
Ya, ilmu slamet tingkatannya lebih tinggi dari ilmu kadigdayan yang lain. Bukankah seseorang yang ditembak tepat dimatanya, tapi sedetik sebelum itu dia terjatuh dan SELAMAT dari terkena sambaran peluru? Bukankah seseorang yang tak mempan ditembak, kalau dia digantung atau tak dikasih makan akhirnya mati juga?
Allah kadang suka mentertawakan dunia ini. Negara- negara yang sangat mengandalkan kesaktiannya akhirnya terbukti kalah dan terjajah dari negara yang mengutamakan penalarannya. Bukankah Iraq yang terkenal dengan karpet terbang Aladin dan Jin Ifrit nya sering diobrak abrik musuh bahkan kini hancur ditangan Amerika? Bukankah negara India terkenal dengan Magic Faqirnya, dan ternyata terjajah ratusan tahun oleh Inggris? Bukankah tanah Jawi dengan keris Nogo Sosro dan Sabuk Inten nya terpaksa harus berada 350 tahun dibawah telapak kaki negara yang jumlah penduduknya hanya 8% nya (16.570.000 jiwa sensus 2007), yakni Belanda?
Anda Ingin belajar ilmu “SELAMET”? Mari saya ijazahin ! Bacalah do’a” Allohumma antas Salaam…….” dan seterusnya DENGAN SEPENUH HATI. Insya Allah selamet dunia akherat. Amiin.
ibn khasbullah: Beruntung sekali mereka yang menjadi putra bapak, karena sebagai seorang remaja/pemuda yang masih sangat labil jiwanya membutuhkan nasihat2 bijak seperti yg sudah diutarakan diatas, tak jarang sifat tempramental (remaja/pemuda) mesti sudah tahu nasihat itu benar, tapi jarang yang bisa terima hanya karena cara menasehatinya kurang begitu kami sukai…..