Perkembangan Pengertian Iman

Oleh Pada Monday, 14 September, 2009 11:01 PM. Under Hikmah  

salam-damaiProses Mengerti

Dulu, waktu aku masih kecil sudah tertanam rasa benci kepada umat agama lain, terutama kebangsaan Cina. Umat non Muslim keturunan Tionghoa banyak di Kecamatanku terutama mereka bermukim sekaligus usaha di pinggir jalan-jalan raya. Kebanyakan mereka menguasai pertokoan di daerah pasar pinggir jalan raya.

Sampai pada usia dua belas aku masih saja beranggapan bahwa mereka bisa saja dianiaya, bahkan di celakai. Entah siapa yang menebar isu diantara kelompokku, bahwa kata salah seorang teman pernah mendengar pengajian Ustadz A, katanya harta orang-orang Cina, halal untuk diambil. Isu itu langsung menancap di hati kita bertujuh yang setiap hari jalan-jalan di pasar. Atas dasar keyakinan kehalalan harta orang Cina itu, maka saya dan teman-teman sengaja mengelabui Cina agar beberapa barang jualan yang kami kehendaki bisa diambil dengan cuma-cuma tanpa sepengetahuan pemiliknya yang keturunan Cina itu. Jadi pekerjaan kami adalah mencuri barang dagangan milik Cina yang sudah kita anggap halal. Anehnya walaupun halal, perbuatan mengambil barang orang lain ini sempat memicu andrenalinku waktu itu. Aku berempat, kadang bertujuh mempunyai beberapa trik untuk mengelabui Cina, yang menurutku kafir itu.

Kesimpulan masa kecilku tentang orang yang kafir itu ialah Cina yang bermama sipit yang sering saya jumpai di Pasar Kedungwuni. Keyakinan ini tidak datang dengan sendirinya, karena aku juga termasuk pengikut majlis taklim Tarbiyatul Athfal yang mengajarkan tentang Tauhid, dan Fikih. Dari sana dan beberapa pengajian yang kami hadiri memberikan informasi bahwa Cina keturunan itu adalah kafir. Dari situ diambil kesimpulan oleh hati dan kelompokku bahwa semua dagangan orang kafir hukumnya halal.

Keyakinan ini membentuk perbuatan masa kecilku. Diantaranya dengan mencuri barang-barang dagangan milik Cina, sebagaimana yang saya sampaikan tadi. Juga setiap Ramadhan datang, kami menghabiskan uang untuk membeli petasan yang gede-gede untuk dilemparkan di gereja kedungwuni. Sehingga aku tahu sendiri dengan mata kepala beberapa genting gereja itu berhamburan pecah.

Kejahatanku atas mereka yang saya anggap kafir itu sangat banyak. Diantaranya merusak pekuburan Cina yang ada di daerah bong Cino. Beberapa bangunan pemakaman sering menjadi sasaran tangan-tangan jahil yang sengaja membawa batu untuk dilempar ke pemakaman Cina itu agar lambang-lambang salibnya hancur. Ketika tangan ini berhasil melempar batu dan mengenai simbol salib di atas pemakaman itu, maka rasa bangga mengalir dalam benakku, yang menenangkan lagi adalah janji pahala yang selalu mengalir bagi orang yang mau merusak salib.

Sampai di usia menginjak sekolah Tsnawiyah aku masih saja punya anggapan miring atas keyakinan mereka. Beberapa kali aku belanja kulakan dagangan untuk warung kelontong di pedagang Cina itu. Sebenarnya aku tak bermaksud untuk menipu mereka, tetapi kadang Cina yang sudah udzur memberikan pelayanan, sehingga ia tak jarang nyusuki dengan bilangan lebih. Spontan uang itu aku ambil tanpa ada ba bi bu konfirmasi. Tapi entah, untuk usia menjelang remaja ini, aku sudah mulai menimbang: mana uang halal dan yang haram. Aku bimbang, sehingga uang-uang susukan itu saya belikan buku-buku di Pasaraya Sri Ratu. O ya…waktu itu aku beli bukunya Hembing Wijaya Kusuma yang berjudul Hikmah Shalat. Setiap kali aku dapat kembalian lebih dari kakek Cina itu, aku tidak mengembalikannya tetapi membelikannya buku. Sekarang aku merasakan, buku itu kurang bermanfaat, karena shalatku sampai sekarang belum khusuk-khusuk amat. Mungkin ada kaitannya ya…..

Sampai masa belajar di Tsanawiyah berlangsung, aku mulai mempelajari tentang akhlak yang berhubungan dengan umat lain, selain Islam. Aku juga mulai dikenalkan macam-macam orang yang tidak beriman, dan mana orang non Muslim yang hak-haknya harus dilindungi. Juga pengertian tentang siapa saja mereka yang bisa diperangi, sehingga darah, jiwa, dan hartanya halal sebagai rampasan perang. Aku mulai dikenalkan dengan toleransi kepada mereka. Kepada orang-orang yang selama ini kami anggap sebagai kafir yang hartanya halal. Aku mulai menyesali perbuatanku masa-masa kecil. Sehingga setiap kali aku ada sisa saku sekolah selalu menyisihkan uang untuk saya masukkan ke Masjid, dan saya berniat agar uang yang masuk kotak infak ini menjadi amal jariyahnya Cik Met, Cik Njit, Kokoh Tua, Nyah Lelet yang tak muslim itu. Waktu itu, aku hanya berbuat yang demikian, tanpa harus berfikir: apakah bisa orang non muslim punya amal jariyah? Aku juga tak punya kapasitas pengetahuan sampai disitu.

Kebencianku kepada para kulit putih itu semakin berkurang, dan aku mulai berfikir tentang hakekat kekafiran yang diajarkan dalam Islam, juga hakekat keimanan seseorang. Jadi timbul pertanyaan dalam benakku: “Sesunggunya siapa yang berhak mendapat predikat orang yang beriman itu?” otomatis nanti pertanyaan itu akan mempunyai cabang pertanyaan lagi, yang terus aku mencarinya. Aku mulai sedikit-banyak membaca buku-buku di perpustakaan Daerah, di Toko Buku yang ada di Pasaraya Sriratu, dan tak jarang mengajak diskusi Kakaku yang mendalami ilmu di Pondok, juga dia kakak yang belajar di Studi Perbandingan Agama di IAIN Sunan Kalijaga.

Kata kakaku yang dari Pondok: bahwa orang non Muslim itu macam-macam karakternya, maka cara kita sebagai umat Muslim dalam memperlakukan mereka juga harus sesuai dengan karakter mereka. Ada diantara non Muslim yang harus dilindung Jiwa, Raga, Harta, Kehormatan, Keturunan, Agama, mereka, karena mereka masuk dalam perlindungan negara Islam, atau negara yang tak menamakan negara Islam tetapi melindungi mereka.

Karakter non Muslim seperti ini biasanya layaknya orang Islam pada umumnya. Mereka melakukan muamalat dengan orang-orang Islam, bahkan kalau jelang lebaran, beberapa diantara mereka menjajakan jatah THR bagi pelanggannnya yang Muslim. Kata kakaku, kita harus memperlakukan mereka sebagai layaknya manusia yang harus di hormati, di kasihi, dan dilindung segala hal yang mennyangkut hak hidup mereka. Kafir yang bisa diperangi itu adalah kafir yang mengusir umat Islam dari wilayahnya. Mereka yang menjajah dan menyerang umat Islam. Islam tidak mengajarkan untuk menyerang, tetapi membela diri. Itupun dalam koridor: harus tidak membunuh anak-anak, orang tua, janda-janda, tumbuh-tumbuhan, binatang ternak, dan mereka yang tidak terlibat atas penyerangan umat Islam.

Kakakku yang kedua, memberikan ulasan tetang bagaimana aku harus berlaku baik kepada setiap makhluk. “lihatlah pepohonan yang berbuah, ia mustahil pilih-pilih untuk memberikan buahnya terhadap siapaun, termasuk kelelawar malam,” demikian katanya bijak yang ia tuturkan kepadaku. Aku disuruh mencerna tentang arti kebaikan bagi manusia. Dia seakan pingin berkata, bahwa untuk berbuat baik itu harus diawali dari kejernihan hati dan ketulusan. Seandainya anda di tengah jalan menolong orang, maka bukan urusan anda untuk menanyakan identitasnya. Apakah dia Muslim atau tidak. Dengan membedakan identitas itu apakah anda juga akan membedakan pelayanan dan kasih sayangmu atas orang lain. Kalau ada jerit orang minta tolong, apakah anda harus berfikir lebih dulu tentang siapa anda dan siapa dia. Bagi falsafah pohon yang berbuah,  ia tak mengenal pembeda identitas yang menyempitkan hati manusia, sehingga ia harus pilah-pilih dalam setiap langkah.

Pengalaman penonjolan identitas sangat lekat dalam pengalamanku. Waktu aku masih duduk di bangku Tsanawiyah, pergolakan politik lima tahunan memicu konflik di Pekalongan, kuhsusnya jalur fanatik hijau yang berbasis di Kecamatan Buaran. Semua warna yang berbau kuning, harus dihijaukan. Termasuk tahu kuning di Pasar Banyurinp sempat ditumpahkan pemuda. Aneh juga kalau tahu berwarna hijau, nanti jadi tak laku kan….? konflik antara pemerintah dan sebagian warga yang mengusung partai kuning dengan kebanyakan masyarakat yang mengehendaki partai hijau ini berbuntut pada pembakaran toko-toko Cina. Mereka semua tanpa komando, spontan mengecat tokonya dengan warna hijau. Ada yang menyematkan kalimat Allahu Akbar di pintu depan toko mereka, supaya mereka para Cina mendapatkan perlindungan dari amukan warga.

Memasuki masa reformasi yang ditandai dengan pergantian pemerintahan dari Orde Baru menuju Orde Reformasi. Pergolakan justru semakin parah. Karena kalau dulu pergolakannya antara Kuning dan Hijau. Sekarang Hijau dan Hijau, yang anehnya mempunyai basis keagamaan yang sama. Teman karibku yang dulu duduk bareng di bangku Aliyah terpaksa kehilangan motor GL Pro, karena di bakar oleh teman-temannya sendiri yang tak sealiran politik. Gara-gara perbedaan garis politik ini sampai beberapa orang sempat harus pindah mushola untuk sekedar ikut jamaah shalat orang-orang yang sealiran politik dengannya.

Guruku Bahasa Inggris Tsanawiyah sempat di arak masa, tak sekedar itu ia di hadiahi bogem mentah bertubi-tubi, bahkan pelakunya ada yang muridnya sendiri, gara-gara di dalam kesempatan mengajarnya ia menyinggung-nyinggung masalah politik identitas yang membodohkan itu. Guru ngajiku ditinggal jamaahnya, gara-gara dalam satu kutipan ia berkata bahwa pada waktu perang Badar beberapa malaikat yang menolong pasukan nabi dengan mengenakan sabuk kuning (maaf kalau saya tidak lupa mengingatnya).

Waktu itu, tak lebih dalam benakku selalu membenarkan bahwa ulama berfungsi sebagai pemecah belah ummat. Para jurkam yang kena julukan KH. Itu selalu melontarkan kata-kata yang memancing emosi, permusuhan dengan pihak lain. Tetapi beberapa perkembangan terakhir ini masyarakat Pekalongan sudah tak lagi terkuras tenaganya untuk mengurusi politik aliran. Mereka sudah merasakan resikonya tentang perpecahan sanak kadang, menjauhnya teman-teman, dan terputusnya banyak tali silaturahmi telah mempersempit dunia riski mereka. Sehingga dalam benak warga Pekalongan sudah menomorsatukan persaudaraan yang dibina melalui bisnis-bisnis mereka. Paguyuban pasar tiban semakin marak, mereka saling membantu dalam berbagai hal diantara mereka. Peristiwa persaudaraan dan jalinan silaturahmi juha bisa kita lihat ketika Muktamar Thariqah Muktabarah berlangsung dengan segala penghormatan kepada tamu-tamu yang datang dari berbagai penjuru nusantara. Tidak hanya dengan ketulusan untuk menghormat tamu, tetapi resiko punya calon bakul batiknya yang baru menjadi harapan bersama bagi masa mendatang.

Kembali kepada hasil diskusiku dengan kakaku yang alumus IAIN itu. Ia bercerita tentang Nabi Isa yang ditanyai oleh orang-orang Heroedian tentang inti ajaran yang dibawa al-Masih, “Seandainya kamu bisa menyebutkan inti dari ajaran agama-agama, khususnya ajaran yang engkau bawa, dan benar. Maka kami tak keberatan untuk mengikuti seruanmu kepada jalan Tuhanmu,” demikian orang Herodian menantang kepada Isa AS. Maka Nabi Isa menjawab, “Inti ajaran ajaran agama yang aku bawa adalah: “Berbuatlah untuk orang lain, seperti apa yang kau harapkan dari kebaikan orang lain. Dan Janganlah engkau memperlakukan orang lain sebagiamana engkau tidak mau diperlakukan oleh orang lain.” Dalam kata mudahnya, seandainya kita tak mau di dzalimi, dimaki, dihina, oleh orang lain, maka seharusnya kita tak menghina, memaki, menzalimi orang lain. Kalau kita ingin mendapat apresiasi atas karya dan kerja keras kita, ya….kita harus lebih dulu mengapresiasi segala bentuk prestasi dan kerja keras teman dan musuh kita.

Ajaran yang disampaikan Isa al-Masih visinya sama dengan pernyataan Rasulullah yang mengajarkan bahwa “aku diutus dengan tujuan untuk menyempurnakan kemulyaan akhlaq manusia,” maka tak heran apabila ada beberapa ungkapan hadis yang mengatakan bahwa “sempurna-sempurnya orang yang beriman itu adalah mereka yang paling baik akhlaknya.” Terus disusul lagi pernyataan-pernyataan Nabi yang selalu mengaitkan antara kualitas iman dengan akhlak: “tidak beriman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” “tidak beriman seseorang, sehingga ia memulyakan tamunya.” “tidak beriman seseorang, kalau tidak mampu berkata benar, seandainya tidak mampu lebih baik diam,”  Rasulullah juga sempat bersumpah atas nama Allah sampai tiga kali dalam salah satu hadisnya. “demi Allah, tidak beriman demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, …..tetangga yang bikin resah (tidak aman) tetangganya dengan kejelekan-kejelekannya.”

Dari beberapa hadis yang selalu dihadapkan dimukaku, aku mulai mengerti, bahwa iman tidak hanya tashdiq bi ma jaa rasulullah (membenarkan segala yang datang dari Nabi) tetapi ia juga menjalankan dengan sepenuh hati. Maka seandainya ada orang Cina yang tulus berlaku baik kepada orang lain, dibandingkan Muslim yang perangainya meresahkan, aku lebih menganggap bahwa Cina itu lebih beriman dibandingkan muslim itu. Hal ini juga didukung dengar pernyataan nabi yang selalu terngiang dalam telinga, yang intinya berujar: “orang Islam itu adalah ia yang perbuatan dan ucapannya selalu membawa keselamatan (kemaslahatan) bagi orang lain dan lingkungannya. Maka tak heran apabila Islam itu adalah agama rahmatan lil alamiiin. Dari sini aku mulai memikirkan tentang keselamatan pengikut agama lain kelak di akherat sana. Minimal selamat menurut pengertian mereka sendiri. Amin

___________________________________________________________________________

Paesan, 13 September 2009

Ahmad Saifullah

Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :

About


Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Tags: