2:17 pm - Wednesday May 15, 2013

Relativitas Claim Kebenaran

Tuesday, 16 November 2010 10:52 | Hikmah | 1 Comment | Read 519 Times

Tanbihun.com – Ada cerita menarik dari guru ngaji penulis waktu di kampung dulu, dan baru sekarang penulis bisa mencerna sesuatu yang tersimpan dibalik cerita hikmah tersebut , bahwa “sebuah kebenaran itu relative adanya, tergantung dari sudut pandang mana kita memotretnya”.

Cerita beliau begini, Pada suatu malam, ketika nabi muhammad lari dari kejaran orang-orang Quraisy makah, ikutlah Abu bakar menemani beliau. Dalam perjalanan menuju gua tsur, Abu bakar kadang berjalan di depan nabi kadang berjalan dibelakangnya, kadang di sebelah kiri dan kadang di sebelah kanan, nabipun merasa heran dengan perilaku sahabat yang satu ini, lalu beliau bertanya: ”Apa ini Abu bakar? aku tidak mengerti apa yang kamu kerjakan”, Abu bakarpun menjawab: “wahai Rasulullah, saat aku teringat ada orang yang mengintai kita, maka aku berjalan di depanmu, namun saat aku teringat bahwa ada orang yang mengejar kita, aku berjalan di belakangmu, demikian juga saat aku teringat ada yang mengintai dari sebelah kanan dan sebelah kiri, aku lakukan ini hingga aku merasa bahwa kita benar-benar aman. Tidak hanya itu, saat Abu bakar melihat nabi berjalan dengan kaki telanjang, dengan susah payah Abu bakar menggendong beliau sampai ke gua tsur.

Sebelum memasuki gua tersebut, Abu bakar menurunkan nabi dari gendongannya dan berkata:” Demi Dzat yang telah mengutusmu wahai nabi, janganlah engkau masuk kecuali aku masuk duluan sehingga jika ada sesuatu yang ingin menyakiti engkau biarlah aku yang terkena. Ketika Abu bakar merasa didalalam gua tersebut tidak ada hal yang mencurigakan, nabipun di gendong kembali untuk memasuki gua tersebut. Namun saat keduanya beristirahat dan nabi merebahkan kepalanya dipangkuan Abu bakar, ternyata di dalam gua tersebut terdapat kain yang ada ularnya. Abu bakar khawatir ular tersebut akan menggigit nabi sehingga tanpa pikir panjang ia julurkan kakinya untuk menutupi lubang kain tersebut dan ular pun menggigitnya. Abu bakar tidak mengeluh maupun meringis karna khawatir nabi akan terbangun. Akan tetapi karena ia tidak kuat menahan rasa sakitnya, tanpa terasa ia meneteskan air mata dan air mata tersebut jatuh mengenai pipi nabi, Nabipun terbangun dan beliau bertanya perihal kesedihan sahabatnya dan berkata “Ya Aba bakar, La Tahzan innallaha ma’ana” (wahai Abu bakar janganlah engkau bersedih, Allah bersama kita), Abu bakarpun menjelaskan perihal sengatan ular tersebut. Kemudian nabi memanggil ular tersebut dan menanyakan kenapa ia menggigit sahabatnya, ularpun menjawab:”Tidak wahai kekasih Allah, aku tidak bermaksud menggigitnya, namun aku lakukan semua ini demi rasa rinduku padamu, dan bisa memandangmu tapi ternyata ada kaki yang menghalangiku, maka terpaksa aku menggigitnya”.

Lalu, Apa hubungannya cerita ini dengan relativitas claim kebenaran?

Disinilah yang perlu kita renungkan cerita ini, terlepas apakah riwayat ini dhoif atau shahih, penulis tidak mau berpolemik didalamnya, hanya yang ingin penulis sampaikan dalam tulisan ini adalah hikmah yang terkandung didalamnya bahwa sebagai bukti kecintaannya kepada nabi, Abu bakar rela digigit ular asal nabi selamat. Sedangkan Ular, untuk memenuhi hasratnya memandang nabi, ia gigit setiap penghalang termasuk kaki Abu bakar. Abu bakar beranggapan bahwa ular tersebut akan mencelakai nabi, sedang ular menganggap Abu bakar sebagai penghalang. Yang satu dengan yang lainnya saling menyalahkan, walaupun pada hakikatnya mereka sebenarnya sama-sama benar dari sudut pandang yang berbeda. Hanya saja yang perlu kita sikapi, ketika ada yang memposisikan dirinya paling benar dan yang lain dianggap salah, maka yang perlu diperhatikan adalah dampak dari claim tersebut. Dalam cerita ini, walaupun keduanya sama-sama benar tapi kita menyayangkan ulah ular tersebut, dimana bentuk keyakinannya dalam sebuah kebenaran ia implementasikan dalam sebuah aksi yang membuat orang lain menjadi korban. Sedangkan bentuk claim kebenarannya abu bakar diimplementasikan dengan cara membela dan berkorban tanpa harus melukai orang lain.

‘Ala kulli hal, kita harus banyak belajar dari cerita di atas, kita seringkali merasa paling benar dan orang lain dianggap selalu salah, padahal kadang sebenarnya kitalah yang salah. Kita lebih bisa menyalahkan orang lain ketimbang diri sendiri, dan kita jarang sekali intropeksi diri siapakah sebenarnya yang benar, Apakah kita atau mereka, atau sebenarnya kita sama-sama benar hanya saja pradigma yang kita pakai dalam bingkai perspektif yang berbeda. Disinilah dibutuhkan kearifan kita, bahwa walaupun kita mengclaim orang lain salah, namun tidak sepantasnya kita berlaku jumawa dan merasa kita yang paling benar. Mungkin yang perlu kita jadikan pegangan adalah ungkapan salah satu imam mujtahid ”Pendapatku benar tapi bisa saja salah dan sebaliknya pendapat orang lain salah tapi bisa saja pendapat itu yang benar”. Jadi sekali lagi kebenaran itu relative adanya tergantung dari sudut pandang mana kita memotretnya. selama tidak ada nash qoth’I yang melegitimasi kebenaran tersebut, kitah sah-sah saja berbeda pendapat. Wallahu a’lam bissawab.

Oleh : A. Wafi Muhaimin

Penulis adalah: mahsiswa jurusan Islam Revealed Khowledge And Heritage (Fiqh And Usul Fiqh) International Islamic University Malaysia dan Pengurus FUSSI (Forum Ukhuwah Sarjana Studi Islam)

Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site