Tanbihun- Sofia masih ingat betul saat pertama kali ditanya oleh seseorang (yang sekarang jadi suaminya) “maukah kamu menjadi istriku?”, bagi wanita desa seperti sofia pertanyaan itu sungguh mengagetkan, meski kalau dilihat rangkaian kalimatnya sangat sederhana, kalimat jujur yang keluar dari seorang pria yang terkenal lugas, tapi sofia tidak mudah menemukan jawaban untuk mewakili kata “iya” yang berbunga dihatinya.
Pria didepannya pun tak harus menunggu jawaban keluar dari lisan sofia, wajah yang menunduk malu sudah mengisyarakat penerimaannya, pun demikian tidak lantas membuatnya bahagia, jauh didasar hatinya dia bertanya-tanya “apakah suatu hari sofia akan kecewa,mendapati dirinya yang serba kekurangan, sanggupkah sofia menemani hidupnya yang tak pernah sepi dari ujian?” pertanyaan-pertanyaan serupa terus saja berngiang direlung hatinya, hingga saatnya dia pamit pulang, sesampainya di rumah pun pertanyaan-pertanyaan itu kian gencar, apalagi ketika dia duduk dikursi butut peninggalan kakeknya.
Sebuah rumah mungil sangat sederhana, rumah yang kadang diejek oleh orang-orang kampung, sebuah rumah kecil ditengah-tengah masyarakat yang rumahnya megah-megah, tiang yang menyangga rumahnya yang ada diteras yang berjumlah empat, kalau dikumpulkan jadi satu masih belum sanggup mengalahkan besarnya tiang rumah rata-rata masyarakat dikampungnya pria tersebut.
Suatu sore si pria miskin ini mengutarakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah berhari-hari menghantuinya “yang sofia lihat masih belum seberapa,banyaklah kekurangan-kekuranganku, aku tidak cukup memenuhi syarat untuk dikatakan ahli ilmi yang rejekinya dijamin dipenuhi oleh Alloh, aku pun tiada cukup memiliki semangat, keahlian dalam bidang pekerjaan”. Sofia hanya diam seperti hari-hari kemarin.
Akhirnya mereka berdua sampai juga dipintu maghligai rumah tangga, akad nikah sederhana berlangsung dengan singkat, hanya dihadiri oleh beberapa sahabat, nyaris tak terlihat satu pun saudara calon pengantin pria, mungkin mereka malu mengahdiri akad nikah yang tidak seperti adat kebiasaan kampung seetempat, dimana dikampung itu acara pernikahan artinya acara pesta besar-besaran.
Satu yang menjadi pelajaran diantara hikmah-hikmah yang tersembunyi dibalik semua prosesi pernikahan itu, si suami tambah iman dan keyakinannya, apaapun wujud dan keadaan kita, janganlah berkecil hati, pasrahkan semuanya kepada Alloh, termasuk jodoh, kalau DIA yang dipasrahi, apapun bisa terjadi, dan pasti itu akan berjalan dengan baik, melalui proses yang baik dan berakhir dengan baik pula.
Satu rangkaian kalaimat yang masih diiangat oleh sofia,kalimat itu dianggap mahar yang paling indah, mahar yang akan menjadi kekuatan saat goyah, mahar yang menjadi kekuatan saat diterpa musibah,kalimat sederhana yang diucapkan suaminya, tepat saat mereka bertemu sebagai suami-istri yang sah “Cinta bukan hanya ucapan sayang dan siap hidup bersama, melainkan juga mau menerima dan memberi apa adanya,selalu siap dan berusaha berjuang, sebab masa sulit pasti ada”.
Kehidupan selalu bergulir, ada masanya dalam rumah tangga mengalami cobaan, salah paham,cekcok konon adalah bumbu dalam kehidupan suami-istri, itulah pentingnya kerja keras, saat pasangan tidak bisa seperti yang kita harapkan, kita harus berjuang,berusaha untuk menerima itu, paling tidak berusaha tidak mengadakan konfrontasi atau bereaksi keras atas kenyataan yang tidak kita senangi. Bicara kekurangan berarti bicara soal akal, faktanya tiap kita punya kekuarangan yang tersembunyi, kekurangan itu baru akan terkuak satu demi satu seiring usia pernikahan yang berjalan perlahan. Bicara akal berarti bicara soal kendali,diantara suami dan istri suamilah yang punya banyak akal secara fitrahnya. Maka slah satu cara mengetahui apakah suami (lelaki) itu benar-benar sanggup hidup bersamamu, adalah dengan melihat, apakah akalnya cukup kuat untuk menerima hantaman yang diakibatkan oleh kekurangan-kekurangan istrinya. Jika dia terkapar, besar kemungkinan sebenarnya ia sedang mengangkat bendera putih tanda menyerah. Dalam kondisi seperti ini, mau tidak mau wanita atau istri harus berani mengambil alih keadaan.
Dalam situasi genting, kebanyakan wanita lebih kuat dan sanggup menjalani kehidupan sulit dibandingkan pria. Itulah salah satu kelebihan yang Alloh berikan kepada kaum wanita, meski lahirnya Nampak lemah lembut, ternyata menyimpan kekuatan super yang tidak dimilki pria, kekuatan tersebut adalah “sabar dan ikhlash”. Kalau kurang percaya lihat saja ibu kita, apa saja keburukan yang telah kita berikan sampai detik ini? Namun beliau tetap tersenyum saat menatap kita anak-anaknya.(zid)





