Sebuah Refleksi tentang Hawa Nafsu
Pencarian sahabat sejati memang sulit,apalagi guru yang mampu membimbing dan memberikan makna sejati tentang jiwa manusia.namun sekiranya anda membutuhkan untuk menjadi sebuah tauladan pada diri anda dan pada setiap detik hidiup kita ini. Ibnu atta’illah As-Sakandary mengatakan : ” wahai manusia engkau berguru atau mencari sahabat yang bodoh, yang ia tidak menuruti hawa nafsunya, itu lebih baik dari pada engkau berguru pada orang alim yang merelakan dirinya untuk mengikuti hawa nafsunya. Lalu ilmu macam apa yang ada pada orang alim yang mengikuti hawa nafsunya itu ? dan disebut kebodohan macam apa jika orang itu mampu tidak menuruti hawa nafsunya?” setidaknya inilah etika yang menjadi penuntun, tatkala jiwa kita mencari sesosok manusia yang mampu memberikan atau menunjukan jalan kepada kesejatian jiwa. Kepentingan hawa nafsu seringkali dijadikan umpan setan untuk berselingkuh dengan ilmu pengetahuan,kebenaran,agama dan hal-hal yang suci. Maka berhati-hatilah dan waspada, jauhi tiga kreteria orang berikut ini :
- Orang yang apabila membaca Alqur’an penuh dengan kepameran
- Orang-orang alim yang bodoh
- Seorang pemimpin yang lupa diri.
Niscaya engkau akan menemukan dirimu yang sejati. amin
Kesejatian jiwa (1)





