Oleh: Ahmad Kalamullah
Tanbihun.com-Banyak berita yang mengungkapkan tentang kecurangan manusia, terutama dalam sektor dagang. Ada orang yang demi keuntungan banyak, ia rela memakai formalin (zat kimia pengawet mayat) untuk mengawetkan mie dan bakso. Pedagang lain menggunakan zat pewarna pakaian untuk mewarnai cincau. Tidak hanya perdagangan yang menggunakan jurus curang untuk mengangguk keuntungan. Kecurangan juga berlaku dalam politik (money politic). Memakai dana kucuran dari luar negeri untuk memenangkan pemilu juga merupakan bentuk kecurangan.
Indonesia mulai memasuki tahun-tahun krisis pangan disebabkan karena pemimpinnya curang. Indikasi ini dapat dilihat bagaimana negara seharusnya berdaulat mengelola sumber daya alamnya, tetapi pada kenyataannya malah kewajiban itu diserahkan kepada perusahaan-perusahaan multinasional. Laksana maling yang dipersilahkan oleh tuan rumahnya.
Curang pada dasarnya hilangnya kejujuran dan ketulusan seseorang demi mencapai kelebihan kebutuhan materiil atau demi tercapainya kebutuhan-kebutuhan jangka pendek. Maka tak heran apabila Allah sampai misuhi dengan kata-kata wailun (celakalah)
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang
Dalam Tafsir Ibnu Kastir ada satu riwayat An-Nasa’I, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas menerangkan bahwa kedatangan Nabi ke Madinah disambut dengan keadaan masyarakat yang curang dalam perdagangan. Mereka sering mengurangi berat timbangan. Kemudian menyusul turun surat al-Mutaffifin. Setelah rentetan ayat itu turun, masyarakat madinah mulai memperbaiki pola perdagangannya, menjadi lebih jujur.[1]
Wailun kata ini diterangkan dalam Tafsir Jalalain sebagai kata ancaman, tetapi bisa juga diartikan sebagai salah satu jurang, atau lembah yang ada di neraka jahannam. Orang yang berbuat celaka, ia diancam akan dimasukkan di neraka wel. Dalam Tafsir al-Azhar, Hamka mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut juga bisa berarti manusia apabila berbuat curang sama juga menciptakan neraka di dunia, karena ia tak akan dipercaya oleh masyarakat dan bahkan tak jarang yang membencinya.[2]
Kata Tatfif berarti mengurangi ukuran dan timbangan. Dalam kata selanjutnya berarti bahwa ia selalu minta tambah ketika ia membeli dan mengurangi timbangan atau ukuran ketika ia menjual. Ayat kedua menerangkan ayat pertama. Curang yang dimaksud disitu diterangkan dengan ayat
الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُواْ عَلَى النَّاسِ يستوفون
(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi
وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
Dan apabila mereka menakar atau menimbang mereka mengurangi
Maka pencurang ini di peringatkan oleh ayat 35 dalam Surat al-Isra.
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذا كِلْتُمْ وَزِنُواْ بِالقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar. Dan timbanglah dengan neraca yang benar
Dagang yang dicampuri dengan kecurangan hanya mampu bertahan dalam jangka pendek. Ia tak mungkin bertahan lama. Walau orang yang dicurangi pada awalnya tidak tahu, tetapi pada saatnya ia pasti akan tahu juga. Seperti kata pepatah serapat-rapatnya bangkai disimpan pasti tercium juga. Adagium Jawa kuno juga mengajarkan Becik ketitik ala ketoro.
Dalam sistem yang lebih luas kita dapat mengaitkan hal ini dengan sistem kapitalisme yang selama dua ratus tahun menguasai sistem perekonomian dunia. Kapitalisme merupakan bentuk sistem ekonomi curang, karena ia memandang manusia hanya sekedar sebagai makhluk yang mempunyai kebutuhan fisiologi (makan, minum, seks, dan hal-hal yang bersifat materi). Ajaran Adam Smith ini tidak menghormati kebutuhan manusia yang lebih mulia berupa kebutuhan kasih sayang (afeksi), emosional, pengakuan, intelektual, kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan, aktualisasi diri dan kebutuhan spiritual (batin).[3] Kapitalisme menyembah kepada akumulasi kapital atau kebebasan pasar. Peran individu, perusahaan diberi kebebasan seluas-luasnya untuk bersaing dalam dunia ekonomi dan sektor yang lainnya. peran negara dipersempit perannya, sehingga negara yang seharusnya mempunyai peran melindungi rakyat dia akan tersingkirkan oleh persaingan dunia pasar. Sosialisme juga tidak mempercayai dunia setelah dunia fana ini (akherat). Keduanya dikenal sebagai paham materialisme. Dalam konteks ini ayat selanjutnya menerangkan.
Abraham Maslow membuat piramida kebutuhan manusia. Semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula kebutuhannya. Pada tingkat yang paling bawah, manusia hanya memenuhi kebutuhan makan dan minum. Ia hanya memuaskan kebutuhan biologisnya. Bila kebutuhan biologis itu sudah terpenuhi, kebutuhannya akan naik pada tingkat selanjutnya. Kebutuhan di atasnya adalah kebutuhan akan kasih sayang, ketentraman dan rasa aman. Lebih atas lagi adalah kebutuhan akan perhatian dan pengakuan. Lebih tinggi daripada itu adalah kebutuhan akan self actualization atau aktualisasi diri. Di dalam Islam, hal itu disebut kebutuhan akan al-takamul al-ruhani, proses penyempurnaan spiritual. Itulah tingkat yang paling tinggi dalam kebutuhan manusia.
Dari uraian tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa semakin dewasa seseorang, semakin abstrak kebutuhannya. Kebutuhan yang paling tinggi adalah ketika orang berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ruhaniahnya, bukan kebutuhan-kebutuhan jasmaniahnya. Itulah orang yang sudah sangat dewasa. [4]
[1] http://www.quran4u.com/Tafsir%20Ibn%20Kathir/083%20Mutaffifin.htm. Didownload pada 19 Mei 2008
[2] Hamka, Tafsir al-Azhar Juz XXX, (Jakarta: Panjimas, 1988), hlm. 72
[3] Ian Marshall, Spiritual Capital, (Bandung: Mizan, 2006), hlm.
[4] Jalaluddin Rahmat, Madrasah Ruhaniah, Berguru pada Ilahi pada Bulan Suci, (Bandung: Mizan, 2005) hlm. 25.
curang dalam islam,tafsir surat al mutaffifin,tafsir surat al mutoffifin,curang menurut islam,jangan curang al mutoffifin


